Share

Bab 60

Author: Nadira Dewy
last update Last Updated: 2026-01-12 21:21:09

Davidson menatap Jonathan tajam. “Kontrol perkataanmu, Jonathan.”

Peringatan itu membuat Jonathan terdiam.

Dia masih tidak bisa memahami apalagi mengerti, sebenarnya kenapa Davidson begitu bertele-tele jika menyangkut tentang Helena.

Bahkan, pada saat Davidson dan Helena pergi ke pesta, Jonathan harus membantu kebohongan mereka.

Tahu Kalau nantinya Alex pasti akan menghubungi Helena, Jonathan sudah menyiapkan rekaman suara Helena supaya saat Alex menghubungi tetap merasa setelah terhubung
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 116

    Kirena menggenggam selimut di atas pangkuannya, matanya berkaca-kaca saat Davidson berdiri tegak di samping ranjang tanpa banyak ekspresi. Cahaya pagi menembus tirai, menciptakan suasana hening yang hampir menyakitkan untuknya. Davidson memang tidak banyak bicara, tapi kehadiran ria itu di sana sudah cukup menjelaskan bahwa kepedulian untuknya masih begitu besar. “David…” suara Kirena parau, nyaris bergetar. “Bolehkah aku… tinggal di sini untuk sementara waktu?” Davidson tidak menjawab langsung. Rahangnya mengeras, pandangannya tertuju ke arah jendela seolah ia sedang menahan diri agar tidak terbawa emosi. Keheningan itu membuat Kirena semakin gugup. “Aku akan mengatakan yang sebenarnya... aku pergi waktu itu bukan karena aku ingin meninggalkanmu,” lanjut Kirena. Air matanya jatuh dengan sendirinya. “Aku divonis menderita leukimia. Parah. Dokter bilang aku harus segera menjalani pengobatan intensif di luar negeri.” Davidson akhirnya menatapnya, tatapan gelap, menusuk, sulit dit

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 115

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke kamar, menerangi ruangan yang masih sunyi. Davidson duduk di kursi di samping ranjang, tubuhnya tegak, kedua lengan terlipat. Matanya tidak benar-benar terpejam semalaman, lebih tepatnya waspada dalam diamnya. Dia tidak menyentuh Kirena, tidak menggenggam tangan, tidak menunjukkan kelembutan berlebihan seperti kalanya mantan kekasih. Tapi dia memilih untuk tetap di sana, tidak beranjak sedikit pun. Ketika Kirena membuka mata untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa lemah. Pandangannya buram sebelum akhirnya fokus pada sosok yang duduk kaku di sampingnya. “…Davidson?” suaranya serak. Davidson membuka mata sepenuhnya. Ekspresinya tetap datar, dingin seperti biasa, tapi kilatan lega sekilas tampak, cukup cepat untuk mudah terlewat kalau tidak memperhatikannya. “Kau sudah sadar,” katanya singkat, suaranya rendah dan tegas. Kirena melihat sekeliling, tampak bingung. “Apa… yang terjadi?” “ Kau pingsan kemarin,” jawab Davidson, masih de

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 114

    Helena mulai merasa gelisah melihat reaksi Davidson. Sejak dokter pergi, ruang tamu itu terasa terlalu hening. Kirena sudah dibaringkan di kamar tamu, napasnya teratur namun lemah. Sementara Davidson… tampak seperti seseorang yang baru saja ditampar kenyataan yang begitu pahit. Helena memperhatikan gelagatnya. Pria itu berdiri kaku di depan pintu kamar Kirena, kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras, namun matanya… penuh kekhawatiran yang sulit untuk disembunyikan. Helena menghela napas dan mendekat pelan. “David…” panggilnya hati-hati. Davidson tak menjawab. Ia hanya menatap Kirena yang terbaring tak berdaya. Ada campuran marah, takut, dan bingung di wajahnya. Emosi yang bahkan Helena sendiri tak pernah lihat sebelumnya. “Kenapa dokter bilang dia sudah lama menjalani pengobatan? Apa kau tahu sesuatu?” tanya Helena pelan. Davidson menggeleng cepat, seperti menolak kenyataan. “Aku… aku tidak tahu apa pun. Dia tidak bilang apa-apa waktu datang. Dia cuma menangis dan bicara

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 113

    “Aku tahu aku dulu pengecut,” ucap Kirena, suaranya retak. “Aku tahu aku melukai mu dengan cara paling buruk. Tapi… aku juga manusia, David. Aku takut.” Davidson menghela napas panjang. “Takut apa maksudnya?” “Takut menikah dengan pria yang aku cintai… tapi yang waktu itu terlalu posesif sampai aku bahkan tak bisa bernapas.” Dia menatap Davidson penuh penyesalan. “Aku takut rumah tangga kita akan hancur sebelum dimulai. Aku takut kau tidak bisa berubah… dan aku salah karena pergi dengan cara seperti itu.” Hening. Davidson menatapnya tajam, tapi di balik tatapan itu, ada luka lama yang masih terasa. Kirena melanjutkan, suaranya menurun. Sungguh, dia tidak peduli dengan Helena yang justru menonton di sana. “Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Setiap tahun berlalu, aku tetap memikirkan mu. Kau mungkin berubah jadi lebih tenang, lebih dewasa. Tapi aku tetap dengan rasa bersalah yang sama.” Wajah Davidson sedikit melunak, meski dia belum mengatakan apa pun. Kirena membe

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 112

    Davidson menuruni anak tangga dengan langkah tenang namun wajahnya sudah berubah kaku sejak mendengar nama Kirena. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Helena sebelum turun, hanya satu kalimat singkat, “Aku ke bawah dulu. Kau mandilah.” Helena mengangguk dan tidak memaksa ikut, apalagi ia masih mengenakan pakaian Davidson. Ia masuk ke kamar mandi sementara Davidson turun ke lantai bawah. Begitu Davidson muncul, Kirena, seorang wanita muda dengan pakaian elegan dan riasan yang jelas dipersiapkan matang langsung berdiri. Matanya berbinar melihat sosok Davidson, lalu tanpa ragu sedikit pun ia melangkah cepat mendekat. “Davidson!” serunya. Sebelum Davidson sempat menahan, Kirena langsung memeluknya erat. Davidson terdiam. Tubuhnya kaku, kedua tangannya tidak bergerak satu sentimeter pun untuk membalas. Ia hanya berdiri tegak dengan tatapan datar, persis seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak menepis pelukan itu secara kasar. Kirena memejamkan mata, seolah rindu yang me

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 111

    Helena bangkit dari tempat tidur sambil memegangi bokongnya. Ia meringis menahan panas karena hukuman yang Davidson maksud benar-benar tidak masuk akal. “Orang gila. Dia pikir aku ini bocah? Hukuman macam apa sih sebenernya? Memukul bokong sampai panas begini,” gumam Helena. Tidak ada Davidson di sana, pria itu tengah sibuk dengan rapat dadakan yang diadakan secara daring di ruang kerjanya. Davidson masuk ke kamarnya, sebenarnya hanya berniat mengganti baju dan beristirahat setelah rapat dadakan itu. Tapi suara air yang mengalir dari kamar mandi membuat langkahnya terhenti. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, senyum yang hanya muncul setiap kali menyangkut Helena. Setelah menegaskan untuk fokus pada Davidson, Helena dengan patuh tinggal di kamarnya. Pintu kamar mandi tidak dikunci. Helena memang sering lupa kalau laki-laki itu tidak pernah tahu aturan privasi. Davidson mendorong pintu perlahan. Uap hangat langsung menguar keluar, memenuhi wajahnya. Helena sedang berdiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status