Home / Romansa Pria / (Bukan) Selingkuhan Biasa / Bab 54. Abraham Dan Rencananya

Share

Bab 54. Abraham Dan Rencananya

Author: Nona Muda
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-16 22:07:08
"Masih sempit aja, padahal ini udah yang ke berapa kali aku gempur, Nyonya," kata Lexi sembari mengerling nakal ke arah wajah Angel yang sudah memerah padam akibat hantaman kepuasan yang datang bertubi-tubi.

Pria itu mengerang rendah saat ia merasakan miliknya dijepit begitu kuat, hangat, dan menggelitik oleh milik Angel.

"Nghhh... Lexi, diam jangan kebanyakan bicara!" omel Angel di sela desahan yang keluar dari mulutnya.

Tubuh moleknya bergetar hebat di atas tepian jacuzzi berlapis marm
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 182. Jangan Sentuh Wanita Gue!

    Tanpa membuang waktu satu detik pun, Lexi menghantam pintu besi tangga darurat dengan bahunya hingga terbuka kasar. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu pantofel mahal berdentum brutal, menggema di sepanjang lorong tangga beton yang sunyi dan pengap.Napasnya memburu hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang, bukan karena kelelahan mendaki belasan lantai, melainkan karena ketakutan setengah mati yang mendadak mencengkeram ulu hatinya. Bayangan perut buncit Angel di rumah sakit pagi tadi terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Naluri seorang ayah yang baru saja bangkit dari kegelapan amnesia mendorong tubuh tegapnya melampaui batas fisik."Lex! Tunggu, Lex! Jangan nekat sendirian!" teriak Rian yang suaranya sudah terdengar tersengal-sengal, tertinggal beberapa lantai di bawahnya.Lexi tidak memedulikan seruan sahabatnya. Fokusnya terkunci mutlak pada lantai penthouse. Setiap kali kakinya menghentak anak tangga, kemurkaannya pada Abraham dan Viona kian membakar darahnya. Mere

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 181. Panik Semua

    Hendra menyeringai tipis di balik kegelapan ruangan, sama sekali tidak memedulikan rintihan Kevin yang masih terkapar di lantai marmer. Isyarat tangannya bergerak tegas, memerintahkan dua pria berbadan tegap untuk segera membopong Angel yang terus memberontak dengan sisa-sisa tenaganya."Bawa dia sekarang. Jangan buang-buang waktu," desis Hendra dingin.Cengkeraman di kedua pergelangan tangan Angel mengencang. Rasa sakit yang menjalar dari perut bawahnya kian menyiksa, memicu kepanikan yang sangat bagi keselamatan bayi di rahimnya. Namun, di tengah keputusasaan yang mencekik itu, sepasang mata Angel secara refleks melirik ke sudut atas langit-langit dekat pilar mahoni—pada sebuah lensa kecil dengan pendar lampu inframerah yang masih menyala samar berkat daya baterai cadangan independen.CCTV pemantau sensor gerak. Kamera privat yang dipasang khusus oleh Bramantya, langsung terhubung secara real-time ke ponsel pribadi sang penguasa Surabaya."Lepasin gue! Bajingan kalian semua!" teria

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 180. Digrebek

    Di belahan kota Singapura yang diguyur hujan deras, Alexis Permana tidak lagi memedulikan jalannya rapat pleno bersama Temasek yang seharusnya menjadi tonggak sejarah ekspansi Axis International. Pria itu duduk di ruang tengah apartemen privatnya di Claymore District dengan mata merah menyala, memandangi layar laptop yang terhubung langsung dengan sistem cadangan peretas independen sewaan Tasya [Freshness Guidelines]."Lex, kuncinya udah kebuka," suara Tasya bergetar hebat di samping adiknya. Jemarinya yang gemetar menunjuk ke arah baris rekam medis digital Mount Elizabeth Hospital yang baru saja ditembus paksa.Di sana tertera dengan sangat jelas: Nama Pasien: AngelUsia Kandungan: 28 Minggu (Trimester Ketiga).Deg!Hantaman fakta medis itu seketika meruntuhkan sisa-sisa amnesia di ulu hati Lexi. Logika bisnisnya kini berganti menjadi naluri seorang ayah yang mendadak bangkit secara brutal."Dia... dia bohong," bisik Lexi, suaranya parau, rendah, namun sarat akan kemurkaan tertinggi

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 179. Murka

    Lexi mematung di tengah koridor rumah sakit, napasnya memburu pendek dan kasar. Kedua telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemuruh di dadanya yang serasa mau meledak. Hantaman kalimat Angel—dan visual perut buncitnya—bagaikan bom atom yang meruntuhkan seluruh dominasi dan ketenangan yang ia bangun selama enam bulan ini."Pak Lexi, Anda baik-baik saja?" perawat senior di sampingnya bertanya dengan raut cemas yang pekat, melihat perubahan drastis pada wajah sang CEO."Minggir," desis Lexi dingin, suaranya terdengar begitu rendah namun bergetar hebat oleh amarah.Tanpa memedulikan jadwal pemeriksaan kesehatannya yang batal total, Lexi memutar tubuhnya kasar. Langkah kakinya yang tegap kini menghentak lantai koridor dengan cepat, membelah lobi rumah sakit dan langsung menerobos keluar menuju area parkir VIP drop-off."Lex! Lo kenapa? Rapat sama Temasek satu jam lagi—" Rian yang sedang memeriksa draf di lobi bawah langsung bangkit berdiri panik,

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 178. Diacuhkan

    Pertanyaan Lexi yang bergetar hebat itu menggantung di udara koridor rumah sakit yang dingin. Atmosfer sunyi di lantai VIP Mount Elizabeth Hospital mendadak terasa begitu pekat dan mencekik.Angel menatap Lexi lurus-lurus. Detik-detik awal keterkejutan di matanya dengan sangat cepat digantikan oleh dinding pertahanan yang luar biasa kokoh. Keangkuhan alaminya sebagai mantan majikan juga putri seorang pengusaha kaya, dipaksa bangkit sepenuhnya untuk menutupi gemuruh di dadanya. Wajah cantiknya kembali berubah menjadi sedingin es, tanpa riak emosi sedikit pun. Dengan gerakan yang anggun, ia menurunkan tangannya dari perut buncitnya, berdiri tegak di hadapan pria yang kini telah menjelma menjadi penguasa baru di Jakarta itu."Bukan urusan Anda, Pak Lexi Permana," jawab Angel, suaranya terdengar begitu datar, formal, dan kosong dari getaran luka masa lalu. "Saya rasa, status medis maupun kehidupan pribadi saya di Singapura sama sekali tidak ada hubungannya dengan ekspansi bisnis Axis I

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 177. Anak Siapa?

    Pagi itu, Mount Elizabeth Hospital tampak begitu tenang dengan arsitektur modernnya yang megah. Jam dinding di lobi utama menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit ketika mobil sedan mewah milik Axis International berhenti tepat di depan lobi VIP drop-off.Lexi Permana melangkah turun dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan potongan rambut yang klimis, memancarkan aura wibawa seorang penguasa bisnis baru yang disegani. Tidak ada raut kelelahan di wajah tampannya, meski dia hanya tidur beberapa jam setelah memikirkan strategi ekspansi Axis semalam."Pak Lexi, perwakilan manajemen rumah sakit sudah menunggu di lantai atas untuk mengantar Anda ke ruang Executive Screening," ujar sekretaris lokalnya yang membukakan pintu mobil dengan sikap hormat."Baik. Rian, kamu tunggu di lobi bawah bersama tim legal. Jika ada pesan yang masuk dari tim, langsung kabari saya," perintah Lexi dingin, suaranya yang bariton terdengar begitu tegas tanpa bantahan.Lexi melangkah masuk menembus pintu

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 8. Salah Remas

    "Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 7. Tinggal Ngadon Lagi, Enak Kan?

    Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 6. Surat Perjanjian Menghamili

    Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 5. Sugar Mommy

    Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status