MasukDi belahan kota Singapura yang diguyur hujan deras, Alexis Permana tidak lagi memedulikan jalannya rapat pleno bersama Temasek yang seharusnya menjadi tonggak sejarah ekspansi Axis International. Pria itu duduk di ruang tengah apartemen privatnya di Claymore District dengan mata merah menyala, memandangi layar laptop yang terhubung langsung dengan sistem cadangan peretas independen sewaan Tasya [Freshness Guidelines]."Lex, kuncinya udah kebuka," suara Tasya bergetar hebat di samping adiknya. Jemarinya yang gemetar menunjuk ke arah baris rekam medis digital Mount Elizabeth Hospital yang baru saja ditembus paksa.Di sana tertera dengan sangat jelas: Nama Pasien: AngelUsia Kandungan: 28 Minggu (Trimester Ketiga).Deg!Hantaman fakta medis itu seketika meruntuhkan sisa-sisa amnesia di ulu hati Lexi. Logika bisnisnya kini berganti menjadi naluri seorang ayah yang mendadak bangkit secara brutal."Dia... dia bohong," bisik Lexi, suaranya parau, rendah, namun sarat akan kemurkaan tertinggi
Lexi mematung di tengah koridor rumah sakit, napasnya memburu pendek dan kasar. Kedua telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemuruh di dadanya yang serasa mau meledak. Hantaman kalimat Angel—dan visual perut buncitnya—bagaikan bom atom yang meruntuhkan seluruh dominasi dan ketenangan yang ia bangun selama enam bulan ini."Pak Lexi, Anda baik-baik saja?" perawat senior di sampingnya bertanya dengan raut cemas yang pekat, melihat perubahan drastis pada wajah sang CEO."Minggir," desis Lexi dingin, suaranya terdengar begitu rendah namun bergetar hebat oleh amarah.Tanpa memedulikan jadwal pemeriksaan kesehatannya yang batal total, Lexi memutar tubuhnya kasar. Langkah kakinya yang tegap kini menghentak lantai koridor dengan cepat, membelah lobi rumah sakit dan langsung menerobos keluar menuju area parkir VIP drop-off."Lex! Lo kenapa? Rapat sama Temasek satu jam lagi—" Rian yang sedang memeriksa draf di lobi bawah langsung bangkit berdiri panik,
Pertanyaan Lexi yang bergetar hebat itu menggantung di udara koridor rumah sakit yang dingin. Atmosfer sunyi di lantai VIP Mount Elizabeth Hospital mendadak terasa begitu pekat dan mencekik.Angel menatap Lexi lurus-lurus. Detik-detik awal keterkejutan di matanya dengan sangat cepat digantikan oleh dinding pertahanan yang luar biasa kokoh. Keangkuhan alaminya sebagai mantan majikan juga putri seorang pengusaha kaya, dipaksa bangkit sepenuhnya untuk menutupi gemuruh di dadanya. Wajah cantiknya kembali berubah menjadi sedingin es, tanpa riak emosi sedikit pun. Dengan gerakan yang anggun, ia menurunkan tangannya dari perut buncitnya, berdiri tegak di hadapan pria yang kini telah menjelma menjadi penguasa baru di Jakarta itu."Bukan urusan Anda, Pak Lexi Permana," jawab Angel, suaranya terdengar begitu datar, formal, dan kosong dari getaran luka masa lalu. "Saya rasa, status medis maupun kehidupan pribadi saya di Singapura sama sekali tidak ada hubungannya dengan ekspansi bisnis Axis I
Pagi itu, Mount Elizabeth Hospital tampak begitu tenang dengan arsitektur modernnya yang megah. Jam dinding di lobi utama menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit ketika mobil sedan mewah milik Axis International berhenti tepat di depan lobi VIP drop-off.Lexi Permana melangkah turun dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan potongan rambut yang klimis, memancarkan aura wibawa seorang penguasa bisnis baru yang disegani. Tidak ada raut kelelahan di wajah tampannya, meski dia hanya tidur beberapa jam setelah memikirkan strategi ekspansi Axis semalam."Pak Lexi, perwakilan manajemen rumah sakit sudah menunggu di lantai atas untuk mengantar Anda ke ruang Executive Screening," ujar sekretaris lokalnya yang membukakan pintu mobil dengan sikap hormat."Baik. Rian, kamu tunggu di lobi bawah bersama tim legal. Jika ada pesan yang masuk dari tim, langsung kabari saya," perintah Lexi dingin, suaranya yang bariton terdengar begitu tegas tanpa bantahan.Lexi melangkah masuk menembus pintu
Viona Permana tidak membuang waktu. Kejengkelannya yang memuncak setelah ditegur keras oleh Abraham justru memicu kepanikan yang membuatnya bertindak nekat. Baginya, jika Lexi dibiarkan terus mendominasi pasar Jakarta dan memperluas cakar bisnisnya hingga ke Singapura, posisinya di Permana Group akan runtuh total dalam hitungan bulan."Hendra, kamu berangkat ke Singapura malam ini juga," perintah Viona dingin, suaranya merendah menjadi bisikan yang sarat akan racun."Gunakan paspor sekundermu. Jangan sampai ada satu pun mata-mata Tasya atau Rian di bandara yang mencium keberangkatanmu."Hendra menegakkan posisinya, menatap Viona dengan patuh. "Baik, Ibu Viona. Apa fokus utama saya di sana?""Wanita bernama Angel," desis Viona, matanya berkilat kejam. "Cari tahu di mana apartemennya, apa saja aktivitasnya, dan siapa saja yang dia temui selain Bramantya.""Mantan Nyonya Van Holden itu tidak mungkin mendadak pindah ke Singapura dan melepas proyek Surabaya begitu saja tanpa ada alasan yan
Di dalam ruang kerja utama kantor pusat Permana Group di Jakarta, suasana terasa begitu mencekam hingga para staf administrasi di luar ruangan tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.BRAK!Viona Permana membanting sebuah map dokumen tebal ke atas meja kerja mahoninya dengan sangat kasar, membuat cangkir teh porselen di sudut meja berdenting nyaring. Wajah cantiknya yang biasa terpoles rapi dengan ekspresi sedingin es kini tampak memerah, menyiratkan kejengkelan dan kemurkaan yang sudah berada di ambang batas."Bagaimana mungkin kita bisa kalah lagi dari Axis Infrastructure, Hendra?!" suara Viona mendesis tajam, matanya menyipit dengan kilatan amarah yang membakar. "Ini proyek tender perluasan sirkuit logistik nasional! Kita sudah memegang jalur ini selama lima tahun! Kenapa kementerian justru meloloskan proposal perusahaan bentukan kemarin sore itu?!"Hendra yang berdiri tegak di hadapan Viona hanya bisa menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya. Pelipis kepala keamanan itu tampak
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m







