MasukPertanyaan Lexi yang bergetar hebat itu menggantung di udara koridor rumah sakit yang dingin. Atmosfer sunyi di lantai VIP Mount Elizabeth Hospital mendadak terasa begitu pekat dan mencekik.Angel menatap Lexi lurus-lurus. Detik-detik awal keterkejutan di matanya dengan sangat cepat digantikan oleh dinding pertahanan yang luar biasa kokoh. Keangkuhan alaminya sebagai mantan majikan juga putri seorang pengusaha kaya, dipaksa bangkit sepenuhnya untuk menutupi gemuruh di dadanya. Wajah cantiknya kembali berubah menjadi sedingin es, tanpa riak emosi sedikit pun. Dengan gerakan yang anggun, ia menurunkan tangannya dari perut buncitnya, berdiri tegak di hadapan pria yang kini telah menjelma menjadi penguasa baru di Jakarta itu."Bukan urusan Anda, Pak Lexi Permana," jawab Angel, suaranya terdengar begitu datar, formal, dan kosong dari getaran luka masa lalu. "Saya rasa, status medis maupun kehidupan pribadi saya di Singapura sama sekali tidak ada hubungannya dengan ekspansi bisnis Axis I
Pagi itu, Mount Elizabeth Hospital tampak begitu tenang dengan arsitektur modernnya yang megah. Jam dinding di lobi utama menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit ketika mobil sedan mewah milik Axis International berhenti tepat di depan lobi VIP drop-off.Lexi Permana melangkah turun dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan potongan rambut yang klimis, memancarkan aura wibawa seorang penguasa bisnis baru yang disegani. Tidak ada raut kelelahan di wajah tampannya, meski dia hanya tidur beberapa jam setelah memikirkan strategi ekspansi Axis semalam."Pak Lexi, perwakilan manajemen rumah sakit sudah menunggu di lantai atas untuk mengantar Anda ke ruang Executive Screening," ujar sekretaris lokalnya yang membukakan pintu mobil dengan sikap hormat."Baik. Rian, kamu tunggu di lobi bawah bersama tim legal. Jika ada pesan yang masuk dari tim, langsung kabari saya," perintah Lexi dingin, suaranya yang bariton terdengar begitu tegas tanpa bantahan.Lexi melangkah masuk menembus pintu
Viona Permana tidak membuang waktu. Kejengkelannya yang memuncak setelah ditegur keras oleh Abraham justru memicu kepanikan yang membuatnya bertindak nekat. Baginya, jika Lexi dibiarkan terus mendominasi pasar Jakarta dan memperluas cakar bisnisnya hingga ke Singapura, posisinya di Permana Group akan runtuh total dalam hitungan bulan."Hendra, kamu berangkat ke Singapura malam ini juga," perintah Viona dingin, suaranya merendah menjadi bisikan yang sarat akan racun."Gunakan paspor sekundermu. Jangan sampai ada satu pun mata-mata Tasya atau Rian di bandara yang mencium keberangkatanmu."Hendra menegakkan posisinya, menatap Viona dengan patuh. "Baik, Ibu Viona. Apa fokus utama saya di sana?""Wanita bernama Angel," desis Viona, matanya berkilat kejam. "Cari tahu di mana apartemennya, apa saja aktivitasnya, dan siapa saja yang dia temui selain Bramantya.""Mantan Nyonya Van Holden itu tidak mungkin mendadak pindah ke Singapura dan melepas proyek Surabaya begitu saja tanpa ada alasan yan
Di dalam ruang kerja utama kantor pusat Permana Group di Jakarta, suasana terasa begitu mencekam hingga para staf administrasi di luar ruangan tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.BRAK!Viona Permana membanting sebuah map dokumen tebal ke atas meja kerja mahoninya dengan sangat kasar, membuat cangkir teh porselen di sudut meja berdenting nyaring. Wajah cantiknya yang biasa terpoles rapi dengan ekspresi sedingin es kini tampak memerah, menyiratkan kejengkelan dan kemurkaan yang sudah berada di ambang batas."Bagaimana mungkin kita bisa kalah lagi dari Axis Infrastructure, Hendra?!" suara Viona mendesis tajam, matanya menyipit dengan kilatan amarah yang membakar. "Ini proyek tender perluasan sirkuit logistik nasional! Kita sudah memegang jalur ini selama lima tahun! Kenapa kementerian justru meloloskan proposal perusahaan bentukan kemarin sore itu?!"Hendra yang berdiri tegak di hadapan Viona hanya bisa menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya. Pelipis kepala keamanan itu tampak
Bulan-bulan berikutnya menjadi saksi bisu bagaimana Axis Infrastructure bermutasi menjadi monster korporasi baru yang paling ditakuti di ibu kota. Lexi benar-benar menutup diri dari segala bentuk kehidupan sosial di Jakarta. Pria itu menenggelamkan dirinya dalam tumpukan berkas megaproyek, lembar saham, dan ruang rapat pleno dari fajar hingga larut malam.Kehilangan takhta Permana Group tidak membuatnya menjadi pria yang melunak. Sebaliknya, tanpa adanya kekangan dari aturan kaku ayahnya, Abraham Permana, Lexi justru bertarung di lapangan dengan cara yang jauh lebih agresif, cerdas, dan mematikan.Sore itu, hujan deras mengguyur kawasan SCBD. Di dalam ruang rapat utama Axis, suasana terasa begitu intens. Di atas meja kaca, tergeletak draf final pengambilalihan proyek pembangunan jalur logistik pelabuhan strategis yang selama ini menjadi urat nadi pendapatan utama Permana Group."Tanda tangan di sini, Lex," ujar Tasya, menyodorkan sebuah pena hitam dengan binar mata yang memancarkan ke
Lima bulan berlalu di bawah langit Singapura yang bersih dan teratur.Di sebuah apartemen penthouse mewah kawasan Orchard Road, Angel sedang berdiri di tepi balkon lantai atas, menatap hamparan panorama kota yang modern. Usia kandungannya kini telah menginjak tujuh bulan. Perutnya yang dulu rata kini telah membuncit dengan sangat jelas di balik maternity dress berbahan sutra longgar berwarna pastel yang dikenakannya.Tangan kanannya bergerak lembut, mengusap permukaan perutnya dengan ritme yang tenang. Anehnya, Angel merasa biasa saja seolah rasa sakit dan cinta membara untuk Lexi itu tak pernah ada dalam hidupnya. Waktu, jarak, dan keangkuhan alaminya sebagai putri sulung telah berhasil membekukan hatinya dengan sempurna. Dia tidak lagi menangis di tengah malam. Dia tidak lagi meratapi nasib. Baginya, Lexi Permana hanyalah selembar halaman usang dari masa lalu yang sudah selesai dibakar. Fokus hidupnya kini murni hanya untuk bayi di rahimnya.Ting.Pintu lift privat apartemen terbu
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke







