Share

Bab 18. Masih Perawan

Penulis: Nona Muda
last update Tanggal publikasi: 2026-05-28 01:46:29

"S-Sakit ... Lexi," ulang Angel dengan suara yang nyaris seperti rengekan anak kecil.

Lexi terdiam sejenak, lalu keningnya mengerut, ada sesuatu yang aneh, iya, aneh.

Meski dia sudah memberikan pemanasan lebih dulu, lalu Angel pun sudah benar-benar basah, seharusnya pelumas alami itu melancarkan jalannya.

Tapi ini?

Sempit.

Betul-betul sangat sempit!

Seperti gadis perawan yang belum pernah dijamah oleh sentuhan lelaki manapun.

Tapi Lexi memilih diam, tidak berkata apa-apa. Mungkin Angel memang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 150. Hati Yang Tertinggal di Masa Lalu

    Begitu mobil mewah itu berhenti dengan sempurna di drop-off lobi safe house, Kevin langsung turun terlebih dahulu untuk memastikan area steril, diikuti oleh beberapa pengawal yang berjaga di perimeter luar.Bramantya turun lebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Angel. Sikapnya yang begitu protektif dan penuh perhatian—memastikan kepala Angel tidak terbentur pintu mobil—justru membuat dada Angel semakin terasa terhimpit batu besar. Rasa sesak itu kini telah menjalar hingga ke kerongkongannya, memicu denyut rasa bersalah yang tak tertahankan."Mari masuk, Angel. Udara malam Surabaya mulai tidak bagus untuk kondisimu," ucap Bramantya lembut, mencoba menuntun siku Angel.Angel menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan harga diri tertingginya. Dia melepaskan tangan Bramantya secara perlahan namun pasti."Bram... bisa kita bicara di ruang kerja pribadimu sekarang? Berdua saja," ujar Angel, suaranya terdengar datar namun sarat akan ketegasan yang

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 149. Sesuatu yang Direnggut Paksa

    Bramantya merapatkan rangkulannya, membawa tubuh Angel semakin dekat ke dalam dekapannya seolah ingin meyakinkan wanita itu bahwa dunia luar yang kejam tidak akan bisa menyentuhnya lagi.Tangan kokohnya bergerak lembut, mengusap helai demi helai rambut Angel yang harum, menyalurkan kehangatan yang begitu tulus."Istirahatlah, Angel," bisik Bramantya dekat di telinganya, suaranya terdengar sehalus beledu. "Perjalanan kita hari ini cukup menguras tenagamu. Mulai sekarang, kamu tidak perlu memikul beban ini sendirian lagi. Biarkan aku yang berdiri di depanmu."Bramantya lalu menurunkan tangannya secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah takut mengejutkannya—telapak tangan pria itu mendarat di atas perut Angel yang masih rata. Tidak ada tuntutan di sana, hanya sebuah janji perlindungan yang sunyi dari seorang pria yang siap menjadi pelindung bagi anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.Momen itu terasa begitu manis, begitu sempurna. Sentuhan Bramantya adalah def

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 148. Akan Mengubur Kenangan

    Viona mematung dengan rahang mengeras, sementara napasnya memburu menahan amarah yang membakar ulu hatinya.Bisikan Angel bukan sekadar gertakan; itu adalah pernyataan perang terbuka yang langsung menusuk harga diri Keluarga Permana.Sebelum Viona sempat membalas, Angel sudah memundurkan langkahnya, kembali ke samping Bramantya. Penguasa bisnis Surabaya itu langsung melingkarkan tangan kokohnya di pinggang Angel, sebuah gestur posesif yang mempertegas posisi Angel yang kini berada di bawah perlindungan penuh seorang Bramantya."Ayo, Angel. Waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan di ruangan sekotor ini," ucap Bramantya dingin, matanya melirik meremehkan ke arah Kepala Dinas yang kini menunduk lesu sambil memegangi kepalanya yang pening.Bramantya dan Angel berbalik, melangkah keluar dari ruang pertemuan privat dengan langkah tegap, meninggalkan Viona yang masih gemetar di tempatnya berdiri."Ibu Viona... ini... bagaimana dengan bukti aliran dana itu? Karier saya bisa hancur kalau

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 147. Mulai Berontak

    Bramantya menegakkan tubuhnya, memancarkan aura dominasi yang selama ini menjadikannya penguasa bisnis di Jawa Timur.Sorot matanya yang tajam beralih kembali kepada Angel, melembut seketika hanya untuk wanita itu."Kevin, kerjakan sekarang. Jangan biarkan tim hukum kita tidur sebelum gugatan itu selesai," perintah Bramantya tanpa menoleh."Dimengerti, Pak Bram. Aku akan pastikan mereka bergerak cepat," sahut Kevin penuh semangat, langsung membalikkan badan dan keluar dari ruangan dengan langkah mantap. Kehadiran Bramantya yang begitu kokoh memberikan suntikan kepercayaan diri yang besar bagi pemuda itu.Kini, ruangan kerja itu kembali hening. Angel menatap Bramantya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa sangat terhina oleh sabotase kejam yang dilakukan Viona. Di sisi lain, tawaran komitmen Bramantya yang sempat tertunda beberapa jam lalu kini terasa kian mendesak di tengah kepungan badai ini.Bramantya duduk di samping Angel, dengan lembut merapikan anak rambut yang m

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 146. Perang Dingin

    Di dalam kamar presidential suite yang kini terasa kosong, tangis Clarissa langsung mereda begitu pintu tertutup.Rasa tersinggungnya kini mengkristal menjadi kepanikan yang luar biasa. Ia tahu, jika Lexi sudah mulai menjaga jarak secara fisik dan menolak kendalinya, itu adalah alarm bahaya bahwa ingatan pria itu sedang berada di ambang pintu untuk kembali.Dengan tangan gemetar, Clarissa mengabaikan Viona yang sedang sibuk di luar, dan memilih untuk langsung menghubungi sang otoritas tertinggi, Abraham Permana.Telepon berdering tiga kali sebelum suara berat dan berwibawa milik Abraham menyahut di seberang sana."Halo, Clarissa. Bagaimana situasi di Surabaya? Viona sudah mendarat, bukan?""Om Abraham...," Clarissa terisak, sengaja mendramatisasi suaranya agar terdengar sebagai pihak yang paling tidak berdaya. "Lexi, Om..., Lexi sudah benar-benar tidak bisa dikontrol lagi!"Mendengar nada suara Clarissa yang histeris, Abraham di ruang kerjanya di Jakarta langsung menegakkan punggung.

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 145. Hasil Penyelidikan

    Setelah pintu kamar suite tertutup rapat mengiringi kepergian Viona dan Hendra, keheningan yang canggung kembali menyelimuti ruangan mewah itu. Clarissa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengulas senyum termanisnya demi mencairkan suasana. Ia melangkah mendekati sofa, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk memeluk lengan Lexi. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh kain kemeja pria itu, Lexi sudah lebih dulu berdiri. Ia melangkah menjauh menuju meja kerja di sudut ruangan, menghindari kontak fisik dari Clarissa untuk kesekian kalinya. Penolakan yang begitu terang-terangan itu membuat senyum di wajah Clarissa langsung lenyap. Rasa cemas yang sejak semalam ia tahan kini berubah menjadi rasa tersinggung yang membakar egonya. "Sampai kapan, Lexi?" tanya Clarissa, suaranya melengking tajam, tidak mampu lagi menahan kekesalannya. "Mbak Viona sudah menjelaskan semuanya! Wanita itu penipu, dia masa lalu yang buruk untukmu! Tapi kenapa setelah mendengar itu semua, sikapmu padaku

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 7. Tinggal Ngadon Lagi, Enak Kan?

    Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 8. Salah Remas

    "Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 6. Surat Perjanjian Menghamili

    Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 5. Sugar Mommy

    Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status