LOGINChika dan kedua temannya saling berpandangan sejenak dengan mata berbinar-binar. Membayangkan bisa masuk ke dalam pesta konglomerat kelas atas di Jakarta adalah impian mereka. Tanpa berpikir panjang tentang apa rencana asli Lexi, mereka langsung mengangguk setuju dengan penuh semangat. "Deal ya, Mas!" seru Chika kegirangan sambil bertepuk tangan pelan. Dua temannya pun ikut tersenyum lebar, membayangkan megahnya pesta orang kaya yang baru saja dijanjikan oleh Lexi. Namun, bukan Chika namanya jika melewatkan kesempatan untuk menggoda pria jangkung di sebelahnya. Gadis itu kembali mencondongkan tubuhnya, menatap Lexi dengan tatapan sayu yang sarat akan godaan. "Tapi Mas Lexi, urusan pesta minggu depan kan masih lama. Berarti tawaran kami yang tadi untuk main berempat siang ini masih berlaku dong? Masa kamu tega menolak tiga wanita cantik sekaligus?" celetuk Chika dengan nada manja. Temannya yang berambut pendek ikut mengangguk setuju. "Iya, Mas. Main permainan di pest
Deg! Pertanyaan Angel yang tiba-tiba membuat senyum Lexi langsung berhenti seketika. Sepasang matanya berkedip beberapa kali, menatap lurus ke arah Nyonya mudanya yang kini sedang menyipitkan mata di balik kacamata hitam besar. 'Kacau ini kalau sampai ketahuan,' batin Lexi. Dia melihat senyum di wajah Angel pun mulai hilang, semenjak kejadian du Bandung dan di hotel, Lexi bisa merasakannya, wanita itu menjadi sedikit lebih posesif dan cemburuan, padahal hubungan mereka kan bukan hubungan emosional yang sewajarnya. Namun, bukan Lexi namanya kalau langsung panik hanya karena interogasi dadakan seperti ini. Dia segera mengubah ekspresi di wajahnya memberikan senyuman tipis yang menyebalkan sekaligus menggoda. Lexi melangkah maju satu langkah, sengaja memangkas jarak di antara mereka. Dia sedikit menundukkan kepala, menatap lekat-lekat bibir merah Angel. "Nyonya Sayang, kamu ini lagi cemburu ya?" tanya Lexi, Lalu memainkan kedua alisnya. Bukannya langsung menjawab, Ange
"Hm, cuma kompres muka doang, Nyonya? Mau aku kasih servis yang lain nggak sebagai bentuk terimakasih, biar makin cepet keisi anak?" goda Lexi sembari mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, menatap Angel dengan tatapan menggoda.'Cantik banget nih manusia depan gue, bikin gue jadi kepingin ngajak bobo bareng tanpa baju lagi,' gumam Lexi dalam hati. Angel yang baru saja memeras kain kompres hangat dari dalam mangkuk seketika menghentikan gerakannya. Wajah cantiknya kembali merona tersipu mendengar kalimat mesum tanpa filter yang meluncur mulus dari mulut supir pribadinya. "Alexis berengsek! Bisa tidak mulutmu itu dikasih libur sehari saja?!" ketus Angel, meskipun tangannya tetap bergerak menempelkan kain hangat itu perlahan ke pipi kanan Lexi yang masih terlihat merah. "Ssshh...." Lexi sedikit meringis saat rasa hangat beradu dengan sisa nyeri di kulitnya akibat servis kilat dari Viona kemarin sore. "Pelan-pelan dong, Nyonya Cantik. Ini aset berharga milik Nyonya juga lho. Kalau muk
Lexi memandangi anak tangga yang kosong tempat Angel baru saja menghilang di balik belokan dengan sisa senyum yang masih mengembang di bibirnya. Dia mengusap pinggang bekas cubitan maut Nyonya mudanya itu, merasakan sisa-sisa kehangatan interaksi mereka yang selalu sukses mengalihkan kepeningannya. Namun, begitu langkah kakinya berputar menuju lorong belakang yang mengarah ke paviliun khusus pekerja rumah tangga, senyuman di wajah tampan itu perlahan memudar, runtuh dalam hitungan detik. Garis wajahnya kembali menegang kaku, digantikan oleh sepasang mata elang yang menatap lurus ke depan dengan tatapan yang terlihat dingin dan datar. Langkah kaki Lexi bergema pelan di lorong yang sunyi. Pikirannya kembali ke sekitaran rencana apa yang direncanakan Abraham dan Viona. Selain persiapan yang matang, dia harus memikirkan cara kabur begitu mengantar Baron dan Angel ke acara pesta tersebut. “Aki-aki itu sama Mbak Vio bener-bener gilanya tingkat dewa,” umpat Lexi dalam hati sembari
"Aku mau pergi bersamamu asalkan gundik alay itu tidak kau ajak!" lanjut Angel sembari melayangkan tatapan tajam setajam silet yang langsung menusuk lurus ke arah Luna. Begitu mendengar syarat yang diberikan Angel pada Baron, lelaki itu langsung terdiam sejenak. Bagaimana mungkin dia harus meninggalkan Luna? Di sampingnya, Luna membelalakkan kedua matanya saat mendengar kalimat Angel yang begitu tajam. Wajah cantiknya yang tadinya sudah mulai kembali cerah pasca-merayu Baron, kini kembali merah padam menahan rasa malu yang teramat sangat dahsyat karena dikatai 'gundik alay' di depan dua pria tampan secara bersamaan. "Angel! Jaga ucapanmu ya! Kamu—" "Apa? Mau protes?" potong Angel cepat tanpa memberikan celah bagi Luna untuk membela diri. "Pilihan ada di tanganmu, Baron Van Holden yang terhormat. Kamu mau istrimu yang sah, berkelas, dan bermartabat ini berdiri di sampingmu mendampingi kesepakatan triliunan dengan Permana Group?" "Atau kamu lebih memilih membawa gundik alay be
"Tuan Baron, hati-hati, siapa tahu bodi dan suara menipu, tahu-tahu Tuan dapet barang KW," lanjut Lexi sembari melayangkan senyum mengejek.Kata-kata yang baru saja dilontarkan Lexi itu membuat seisi ruangan mendadak senyap, Baron, Angel, dan Luna langsung terdiam.Wajah Luna langsung memerah seperti tomat busuk, bayangkan lah, masa bodi montok depan belakang, terus wajah cantik persis salah satu selebgram terkenal kayak gini dibilang KW? Hidung Luna langsung kembang kempis menahan emosi, kalau saja Lexi itu jelek, dia pasti sudah menempeleng mulutnya yang kurang ajar. Sayangnya, Lexi itu memang kelewat ganteng di mata Luna, dan Luna merasa tidak tega."Sembarangan kamu, Mas! Masa aku dibilang barang KW? Apa perlu aku buktikan ke kamu?" cecar Luna saking emosinya, tapi tidak sadar kalau kata-katanya barusan membuat Baron bertanduk. Mendengar kalimat murahan itu keluar begitu lancang dari mulut wanita yang dia cintai di depan mata kepalanya sendiri, Baron terkejut.Wajah Baron langs
"Lexi kok selalu mual setiap ada kamu, heh, Gundik?" tanya Angel sembari kedua matanya melotot gahar ke arah Luna dan Baron. Mendengar sebutan 'gundik' dilemparkan begitu telak di depan wajahnya, senyum genit Luna langsung lenyap tanpa sisa. Wajah cantiknya berubah merah padam, sementara Baron
Lexi memijat pangkal hidungnya, entah kenapa mendadak saja hatinya terasa tidak nyaman, ada resah, juga gelisah yang sulit dia gambarkan dengan kata-kata. Rasanya, bisa dia bayangkan hari di mana dia harus melangkahkan kakinya pergi dari kediaman Keluarga Baron setelah tugasnya selesai. Meninggalk
"Lho, Tasya! Kurang ajar kamu ya, nyumpahin bapakmu sendiri mau mati!" sembur Abraham dengan mata melotot sempurna. Wajahnya yang tadi terlihat putus asa seketika memerah padam menahan dongkol karena saran ngaco dari putri keduanya ini. Pria paruh baya itu sampai menepuk sandaran tangan sofa
Mendengar tuduhan tidak beralasan dari wanita di hadapannya, yang dia tidak tahu siapanya Lexi, seketika membuat darah Angel mendidih.Wajah cantiknya mengeras menahan emosi yang bergejolak. Dia yang sejak tadi sudah dibuat kesal oleh drama keluarga kampungan Lexi di Kafe Acacia, ditambah lagi bada







