로그인"Aku butuh berpikir jernih, kenapa Lexi bisa menjadi seperti itu," gumam Angel pelan di sela-sela isak tangisnya yang mulai mereda. Begitu dia melangkah masuk ke dalam ruang tamu raksasa berlantai marmer Italia tersebut, sepasang paruh baya berpenampilan aristokrat langsung bangkit dari sofa mewah mereka dengan raut wajah panik. Mereka adalah Haryo dan Rosa, Papa dan Mama kandung Angel yang merupakan pengusaha properti kelas kakap di Jakarta. "Angel! Astaga, kamu kenapa, Sayang?!" pekik Rosa langsung berlari memeluk tubuh gemetar putri tunggalnya. Dia mengusap punggung Angel yang masih terbalut mantel panjang, sementara Haryo menatap tajam dengan dahi berkerut dalam. "Papa sudah dengar semua kekacauan di pesta gala semalam, Angel! Si Baron berengsek itu benar-benar mempermalukan keluarga kita karena skandal wanita jadi-jadiannya!" geram Haryo dengan suara berat penuh wibawa. "Tapi kenapa penampilanmu sekusut ini? Dan kenapa matamu sembap seperti ini?!" Angel menggelengkan kepala
"Lexi, are you okay?" tanya Clarissa dengan wajah panik, berusaha meraih kembali lengan kekar pria itu.Lexi tidak menjawab. Denyut nyeri di kepalanya terasa begitu menyiksa, seolah ada palu raksasa yang menghantam batok kepalanya berulang kali dari dalam. Sepasang matanya berkedip kaku, menatap kosong ke ujung lorong sepi tempat aroma sabun mawar dan bayangan gaun zamrud Angel baru saja lenyap. Jantungnya berdegup brutal, memicu rasa sesak yang mencekik di dadanya."Ugh!"" Lexi mengerang rendah, tangannya bergerak kaku memegangi pelipisnya yang berbalut perban putih tebal.Pandangannya mendadak buram dan berputar liar. Kekosongan di dalam otaknya seolah menolak keras klaim kebohongan yang baru saja ditanamkan oleh Clarissa. Sebelum tubuh tegapnya sempat bertumpu pada dinding, kekuatan di kedua kaki jangkungnya lenyap total.Bruk!Tubuh tinggi besar Alexis Permana ambruk pingsan, jatuh terkapar di atas lantai marmer dingin koridor rumah sakit tepat di hadapan Viona dan Clarissa."Al
Mendengar kata-kata wanita murahan keluar dari bibir Clarissa yang tersenyum penuh kemenangan, emosi di dada Angel yang semula hancur lebur mendadak terbakar hebat. Rasa duka dan penyesalan karena sempat menyakiti Lexi seketika melebur menjadi amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.Angel tidak sudi lagi menahan diri. Harga dirinya yang diinjak-injak oleh wanita asing di depan pria yang dicintainya benar-benar memicu instingnya untuk membalas, dia pun mengangkat satu tangannya dan.... Plak!Suara tamparan yang keras dan nyaring bergaung hebat memecah keheningan koridor VIP rumah sakit. Tamparan telak dari telapak tangan Angel mendarat dengan tepat di pipi mulus Clarissa Kensington, membuat kepala gadis blasteran London itu terkesiap menoleh ke samping kanan.Kekuatan tamparan Angel yang didorong oleh rasa cemburu dan amarah benar-benar sanggup membuat cengkeraman tangan Clarissa di pinggang Lexi terlepas seketika. Clarissa terhuyung mundur satu langkah sembari memegangi pipinya ya
Mobil mewah Angel berdecit keras saat berhenti tepat di pelataran depan lobi utama Rumah Sakit Pusat Jakarta. Sinar matahari siang yang terik menyengat kulitnya begitu dia melompat turun dari balik kemudi.Dengan mantel panjang yang berkibar menutupi gaun tidur sutra di balik pakaian kasualnya, Angel melangkah lebar dengan napas memburu. Penampilannya acak-acakan, matanya merah berselimut sisa air mata, dan dadanya bergemuruh hebat menahan rindu serta ketakutan yang memuncak.Angel menerobos pintu kaca otomatis lobi rumah sakit, lalu berlari cepat menuju lift khusus lantai VIP tempat ruang ICU Alexis Permana berada. Begitu pintu lift emas terbuka di lantai atas, Angel melangkah keluar dengan terburu-buru.Namun, baru tiga langkah kakinya memijak permukaan lantai marmer lorong steril tersebut, tubuhnya langsung diadang paksa. Dua orang pengawal bertubuh tinggi besar dengan setelan jas hitam formal dan emblem platinum Permana Group di kerah mereka mendadak melangkah maju, memasang badan
Lexi hanya mengangguk pelan. Dia membiarkan Clarissa merapatkan tubuh ke lengannya. Tatapan matanya lurus menatap langit-langit putih kamar rawat. Isi di dalam kepalanya terasa begitu hampa. Setiap kali dia mencoba mengingat garis waktu beberapa tahun terakhir, hanya rasa pening luar biasa yang dia dapatkan. Ada sensasi aneh di dadanya, seperti ada sesuatu yang hilang dan tertinggal di luar sana. Namun, konfirmasi dari Viona dan senyuman penuh kemenangan Clarissa mengunci semua keraguannya untuk saat ini. "Ya, aku dengar," sahut Lexi datar, suaranya parau dan tanpa riak emosi. Clarissa menyeringai tipis, merasa berada di atas angin. Baginya, hilangnya ingatan Lexi adalah karpet merah untuk menguasai takhta Permana Group dan mengubur nama Angel selamanya. ...... Sementara itu, di belahan kota Jakarta yang lain, atmosfer kesedihan yang begitu pekat menyelimuti kediaman Van Holden di Menteng. Angel sedang berdiri mematung di kamar tidur utamanya. Di hadapannya, sebuah koper besar
"Maaf, Nyonya Viona. Ini adalah hasil pemeriksaan yang paling objektif berdasarkan cedera kepala yang dialami Tuan Muda," jawab dokter utama itu dengan kepala yang tertunduk makin dalam, tidak berani menentang langsung tatapan menghunjam dari putri sulung Abraham Permana. Dokter itu menghela napas berat, mencoba menjelaskan kerusakan medis di dalam tempurung kepala Lexi dengan seuniversal mungkin agar mudah dipahami. "Benturan keras pada lobus temporal kiri akibat hantaman beton pembatas jalan semalam telah memicu trauma kontusi cerebral yang cukup parah. Pendarahan hebat yang sempat kita bersihkan di ruang operasi kemarin menekan jaringan saraf yang menyimpan memori jangka pendek dan jangka menengah." Viona menarik napas tajam. Keangkuhan alaminya sebagai pemimpin operasional Permana Group yang biasanya selalu kaku dan tenang, mendadak goyah. Dia melangkah maju satu tindak, mencengkeram besi ranjang tempat Lexi berbaring kaku. "Maksud Dokter, memori beberapa tahun belakangan i
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke







