Se connecterLexi buru-buru mengetik balasan dengan penuh semangat. Dia tidak ingin Angel salah paham dan mengira dirinya benar-benar tertarik pada Luna. Bisa gawat kalau Nyonya mudanya itu mogok diajak proses menanam benih hanya karena cemburu buta. Lexi : [ Demi Tuhan, Nyonya Cantik, jangan salah paham dulu. Seleraku tidak serendah Tuan Baron. Aku nanya begitu karena sedang merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan gatalnya di dapur tadi. Aku mau bikin dia kapok dan enyah dari rumah ini. Percayalah pada supir pribadimu yang setia ini. ] Setelah menekan tombol kirim, Lexi menunggu dengan cemas. Tidak sampai satu menit, ponselnya kembali bergetar. Rupanya Angel masih terjaga di kamarnya, mungkin masih terlalu kesal untuk memejamkan mata. Nyonya Angel : [ Aku tidak tahu nama lengkap aslinya. Baron selalu mendaftarkan namanya di manifes perusahaan atau hotel hanya dengan nama Luna. Tapi aku tahu akun aplikasi PicGram miliknya.] [ Cari tahu saja sendiri di sana, itu akun media s
Mendengar ancaman telak dari Angel, Baron sama sekali tidak menunjukkan raut wajah takut atau panik.Sebaliknya, pria itu justru mendengus meremehkan. Tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang istri, Baron menunduk dan memapah tubuh lemas Luna dari lantai marmer yang dingin.Baron melingkarkan lengan kokohnya, memeluk pinggang Luna dengan protektif dan merapatkan tubuh wanita itu ke dadanya.Sikap itu sengaja dia tunjukkan pada Angel, seolah ingin mengatakan jika Angel tidak lebih berarti dibandingkan dengan Luna.Lexi yang melihat itu rasanya gemas sekali, kalau saja dia sedang tidak malas, dia pasti sudah menghajar Baron.Baru kali ini dia melihat seorang pria yang begitu bodoh, lebih tepatnya dungu, membela wanita yang menurut Lexi agak mencurigakan."Aku tidak peduli dengan ancamanmu, Angel. Jangan pernah sekali-kali kamu bermimpi bisa mengusir Luna dari rumah ini," jawab Baron.Luna yang berada di dalam pelukan Baron seketika menghentikan tangisnya. Dia langsung menatap Angel den
"Gas! Hajar terus Nyonya! Kasih paham biar nggak tuman!" seru Lexi penuh semangat dari sudut dapur, sepenuhnya melupakan rasa mualnya demi menonton pertandingan gratis antara Luna dan Angel.Mendengar dukungan dari supir pribadinya, semangat bertarung Angel semakin berkobar. Tarikan tangannya pada rambut panjang Luna kian mengencang. Angel benar-benar meluapkan seluruh kekesalannya, bukan hanya karena kelakuan gatal Luna malam ini, tapi juga akumulasi rasa dongkolnya pada Baron selama bertahun-tahun."Angel! Stop! Sakit banget, woy! Lepasin ... aaakh!" jerit Luna histeris. Kepalanya terombang-ambing mengikuti gerakan tangan Angel yang beringas."Nggak akan aku lepas sampai kamu sadar posisi kamu di rumah ini!" bentak Angel gahar, napasnya memburu pekat.Luna yang mulai kehabisan tenaga untuk membalas cengkeraman Angel akhirnya mulai menangis. Dia panik karena tarikan Angel mulai menyenggol area wajah dan pelipisnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Luna mencoba melindungi wajahnya deng
"Lexi, aku penasaran sama kamu, apa kamu kalau bercinta jauh lebih kuat dari Baron atau enggak, ya?" ucap Luna dengan nada genit, tidak sadar calon korban di depannya ini sudah ingin muntah.Mendengar kalimat yang menjijikkan itu, gejolak di perut Lexi benar-benar sudah sampai ke tenggorokan. Rasa mualnya melebih-lebihi rasa mual orang hamil! "Bisa nggak kamu itu nggak usah kegenitan sama kegatelan begini! Seumur hidup, kamu itu satu-satunya wanita yang bisa membuat aku alergi!" ketus Lexi, berharap Luna sadar diri dan bisa segera enyah dari hadapannya. "Alergi? Aku ini cantik, tidak kalah seksi dari Angel, kenapa kamu selalu menolak aku, Lex?" tanya Luna, merasakan gondok setengah mati, padahal dia sudah tidak tahan ingin merasakan seperti apa rasanya disentuh oleh Lexi. Lexi meletakkan kedua tangan di depan dada berusaha menghalau Luna untuk menjauh, tapi nampaknya usaha Lexi sia-sia saja. Luna mengulas senyum tipis yang sarat akan arti terselubung. Alih-alih mundur karena dibe
Mendengar instruksi gila yang baru saja meluncur dari mulut Lexi, suasana di meja bar itu mendadak hening seketika. Chika, Vina, dan Amel saling berpandangan. Otak mereka mencoba mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh supir pribadi berwajah tampan itu. "H-Hamil anak Alexis Permana?" ulang Amel dengan suara bergetar. Tiba-tiba, ekspresi wajah Amel berubah drastis. Gadis berambut cokelat itu terdiam seribu bahasa, matanya membelalak sempurna menatap lekat-lekat ke arah wajah Lexi. Sebagai gadis yang sudah lumayan lama merantau di Jakarta, telinganya tentu tidak asing dengan nama belakang yang sangat sakral tersebut. Chika yang menyadari perubahan raut wajah temannya langsung menyenggol lengan Amel, lalu beralih menatap Lexi dengan kening berkerut bingung. "Tunggu dulu, Mas Lexi... kok nama belakangmu... maksudku nama keluargamu itu mirip banget sama Pak Abraham Permana?" celetuk Chika dengan nada heran. "Itu lho, triliuner nomor satu Indonesia yang punya gedung-g
Chika dan kedua temannya saling berpandangan sejenak dengan mata berbinar-binar. Membayangkan bisa masuk ke dalam pesta konglomerat kelas atas di Jakarta adalah impian mereka. Tanpa berpikir panjang tentang apa rencana asli Lexi, mereka langsung mengangguk setuju dengan penuh semangat. "Deal ya, Mas!" seru Chika kegirangan sambil bertepuk tangan pelan. Dua temannya pun ikut tersenyum lebar, membayangkan megahnya pesta orang kaya yang baru saja dijanjikan oleh Lexi. Namun, bukan Chika namanya jika melewatkan kesempatan untuk menggoda pria jangkung di sebelahnya. Gadis itu kembali mencondongkan tubuhnya, menatap Lexi dengan tatapan sayu yang sarat akan godaan. "Tapi Mas Lexi, urusan pesta minggu depan kan masih lama. Berarti tawaran kami yang tadi untuk main berempat siang ini masih berlaku dong? Masa kamu tega menolak tiga wanita cantik sekaligus?" celetuk Chika dengan nada manja. Temannya yang berambut pendek ikut mengangguk setuju. "Iya, Mas. Main permainan di pest
"Aku mau pergi bersamamu asalkan gundik alay itu tidak kau ajak!" lanjut Angel sembari melayangkan tatapan tajam setajam silet yang langsung menusuk lurus ke arah Luna. Begitu mendengar syarat yang diberikan Angel pada Baron, lelaki itu langsung terdiam sejenak. Bagaimana mungkin dia harus meningg
"Tuan Baron, hati-hati, siapa tahu bodi dan suara menipu, tahu-tahu Tuan dapet barang KW," lanjut Lexi sembari melayangkan senyum mengejek.Kata-kata yang baru saja dilontarkan Lexi itu membuat seisi ruangan mendadak senyap, Baron, Angel, dan Luna langsung terdiam.Wajah Luna langsung memerah seper
"Lexi kok selalu mual setiap ada kamu, heh, Gundik?" tanya Angel sembari kedua matanya melotot gahar ke arah Luna dan Baron. Mendengar sebutan 'gundik' dilemparkan begitu telak di depan wajahnya, senyum genit Luna langsung lenyap tanpa sisa. Wajah cantiknya berubah merah padam, sementara Baron
"Lho, Tasya! Kurang ajar kamu ya, nyumpahin bapakmu sendiri mau mati!" sembur Abraham dengan mata melotot sempurna. Wajahnya yang tadi terlihat putus asa seketika memerah padam menahan dongkol karena saran ngaco dari putri keduanya ini. Pria paruh baya itu sampai menepuk sandaran tangan sofa







