Share

Bab 44. Ditelan Semua

Penulis: Nona Muda
last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 22:27:27

Beberapa menit kemudian, nampaknya Angel sudah semakin lihai.

Dia mempercepat gerakannya. Mulutnya yang mungil bekerja lebih keras. Lidahnya lebih berani. Tangannya yang tadinya hanya bertumpu di paha Lexi, kini ikut bergerak, meremas pangkalnya dengan lembut setiap kali kepalanya turun, menciptakan tekanan ekstra yang membuat Lexi mengerang pelan.

"Angel," panggil Lexi, suaranya nyaris seperti rintihan.

"Angel, kalau kamu teruskan ...."

Angel tidak berhenti.

Dia justru mempercepat l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 128. Aku Menunggu Kamu....

    Mendengar kata-kata wanita murahan keluar dari bibir Clarissa yang tersenyum penuh kemenangan, emosi di dada Angel yang semula hancur lebur mendadak terbakar hebat. Rasa duka dan penyesalan karena sempat menyakiti Lexi seketika melebur menjadi amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.Angel tidak sudi lagi menahan diri. Harga dirinya yang diinjak-injak oleh wanita asing di depan pria yang dicintainya benar-benar memicu instingnya untuk membalas, dia pun mengangkat satu tangannya dan.... Plak!Suara tamparan yang keras dan nyaring bergaung hebat memecah keheningan koridor VIP rumah sakit. Tamparan telak dari telapak tangan Angel mendarat dengan tepat di pipi mulus Clarissa Kensington, membuat kepala gadis blasteran London itu terkesiap menoleh ke samping kanan.Kekuatan tamparan Angel yang didorong oleh rasa cemburu dan amarah benar-benar sanggup membuat cengkeraman tangan Clarissa di pinggang Lexi terlepas seketika. Clarissa terhuyung mundur satu langkah sembari memegangi pipinya ya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 127. Diusir

    Mobil mewah Angel berdecit keras saat berhenti tepat di pelataran depan lobi utama Rumah Sakit Pusat Jakarta. Sinar matahari siang yang terik menyengat kulitnya begitu dia melompat turun dari balik kemudi.Dengan mantel panjang yang berkibar menutupi gaun tidur sutra di balik pakaian kasualnya, Angel melangkah lebar dengan napas memburu. Penampilannya acak-acakan, matanya merah berselimut sisa air mata, dan dadanya bergemuruh hebat menahan rindu serta ketakutan yang memuncak.Angel menerobos pintu kaca otomatis lobi rumah sakit, lalu berlari cepat menuju lift khusus lantai VIP tempat ruang ICU Alexis Permana berada. Begitu pintu lift emas terbuka di lantai atas, Angel melangkah keluar dengan terburu-buru.Namun, baru tiga langkah kakinya memijak permukaan lantai marmer lorong steril tersebut, tubuhnya langsung diadang paksa. Dua orang pengawal bertubuh tinggi besar dengan setelan jas hitam formal dan emblem platinum Permana Group di kerah mereka mendadak melangkah maju, memasang badan

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 126. Keputusan Angel

    Lexi hanya mengangguk pelan. Dia membiarkan Clarissa merapatkan tubuh ke lengannya. Tatapan matanya lurus menatap langit-langit putih kamar rawat. Isi di dalam kepalanya terasa begitu hampa. Setiap kali dia mencoba mengingat garis waktu beberapa tahun terakhir, hanya rasa pening luar biasa yang dia dapatkan. Ada sensasi aneh di dadanya, seperti ada sesuatu yang hilang dan tertinggal di luar sana. Namun, konfirmasi dari Viona dan senyuman penuh kemenangan Clarissa mengunci semua keraguannya untuk saat ini. "Ya, aku dengar," sahut Lexi datar, suaranya parau dan tanpa riak emosi. Clarissa menyeringai tipis, merasa berada di atas angin. Baginya, hilangnya ingatan Lexi adalah karpet merah untuk menguasai takhta Permana Group dan mengubur nama Angel selamanya. ...... Sementara itu, di belahan kota Jakarta yang lain, atmosfer kesedihan yang begitu pekat menyelimuti kediaman Van Holden di Menteng. Angel sedang berdiri mematung di kamar tidur utamanya. Di hadapannya, sebuah koper besar

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 125. Kehilangan Memori Beberapa Tahun Lalu

    "Maaf, Nyonya Viona. Ini adalah hasil pemeriksaan yang paling objektif berdasarkan cedera kepala yang dialami Tuan Muda," jawab dokter utama itu dengan kepala yang tertunduk makin dalam, tidak berani menentang langsung tatapan menghunjam dari putri sulung Abraham Permana. Dokter itu menghela napas berat, mencoba menjelaskan kerusakan medis di dalam tempurung kepala Lexi dengan seuniversal mungkin agar mudah dipahami. "Benturan keras pada lobus temporal kiri akibat hantaman beton pembatas jalan semalam telah memicu trauma kontusi cerebral yang cukup parah. Pendarahan hebat yang sempat kita bersihkan di ruang operasi kemarin menekan jaringan saraf yang menyimpan memori jangka pendek dan jangka menengah." Viona menarik napas tajam. Keangkuhan alaminya sebagai pemimpin operasional Permana Group yang biasanya selalu kaku dan tenang, mendadak goyah. Dia melangkah maju satu tindak, mencengkeram besi ranjang tempat Lexi berbaring kaku. "Maksud Dokter, memori beberapa tahun belakangan i

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 124. Amnesia?

    Jtak! Rian memukul meja komputer dengan kepalan tangannya yang kuat, matanya membelalak saat data pelacakan satelit selesai memproses sinkronisasi akhir. Namun, detik berikutnya, senyum smirk di wajah Rian lenyap tanpa sisa. Keningnya berkerut dalam, menatap baris kode enkripsi yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah di layar monitor. "Sialan! Ini data fiktif!" umpat Rian beringas, giginya bergemeletuk menahan dongkol. Rupanya, nomor ponsel rahasia yang sempat terhubung dengan menara pemancar jalan layang Pusat itu sengaja dirancang menggunakan sistem pengalihan IP ganda dari London. Begitu Rian mencoba membongkar server intinya, seluruh data digital itu hancur secara otomatis dan memantulkan identitas acak yang sama sekali tidak merujuk pada nama Clarissa Kensington ataupun pengawal pribadinya. Tim hacker bayaran dari Inggris benar-benar sudah membersihkan seluruh jejak pembantaian tersebut dengan sangat rapi tanpa cacat. "Hebat banget lo, Kensington. Bersih banget mainnya,

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 123. Berisik!

    "Cukup! Jaga mulut kalian berdua!" potong Viona tegas, melayangkan tatapan sedingin es yang membuat Clarissa dan Angel bungkam seketika. "Kalian berdua sama saja. Hanya peduli pada ego masing-masing saat Alexis bertaruh nyawa di dalam."Viona memutar tubuhnya menghadap Hendra. Wajahnya mengeras tanpa kompromi. "Hendra, amankan koridor ini. Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang luar yang boleh mendekati ruang ICU tanpa izin tertulis dariku atau Bapak. Siapa pun itu."Mendengar perintah mutlak The Ice Queen, Clarissa menyeringai menang ke arah Angel. Namun, senyumnya langsung lenyap saat Viona berbalik menatapnya dengan tajam."Itu termasuk kamu, Clarissa," sambung Viona kaku, suaranya ketat tanpa keraguan. "Statusmu belum resmi. Jadi, kamu juga orang luar di sini. Lebih baik kamu kembali ke hotel bersama ayahmu sampai tim dokter memberikan perkembangan terbaru mengenai Alexis."Clarissa melongo tidak percaya, wajah cantiknya memerah menahan malu. "Tapi Mbak Vio, aku ini calon tun

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 8. Salah Remas

    "Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 7. Tinggal Ngadon Lagi, Enak Kan?

    Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 6. Surat Perjanjian Menghamili

    Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 5. Sugar Mommy

    Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status