LOGINKeesokan paginya di Surabaya, suasana di dalam safe house terasa begitu tenang, kontras dengan badai yang mulai berkecamuk di kantor pusat Permana Group di Jakarta.Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden ruang makan, memantulkan cahaya di atas meja makan yang dipenuhi oleh menu sarapan sehat. Angel turun dengan langkah pelan. Pagi ini, ia sengaja mengenakan dress hamil berbahan katun lembut yang longgar dan nyaman. Wajahnya yang biasa dipasang sekaku es kini tampak sedikit rileks setelah meluapkan seluruh isi hatinya semalam.Di meja makan, Bramantya sudah duduk tegak sambil memeriksa beberapa dokumen tablet. Begitu menyadari kehadiran Angel, pria itu langsung meletakkan perangkat elektroniknya. Senyuman hangat—sesuatu yang hanya ia tunjukkan secara eksklusif untuk Angel—terukir di wajah tegasnya."Selamat pagi, Angel," sapa Bramantya, suaranya terdengar berat namun sangat lembut. Ia langsung bangkit berdiri, dengan sigap menarik kursi kayu berukir itu ag
Lexi berdiri mematung di bawah terik matahari pagi Surabaya yang mulai menyengat.Cengkeraman tangannya pada jeruji besi gerbang perlahan mengendur. Kata-kata Bramantya melubangi dadanya, meninggalkan rasa hampa sekaligus murka yang luar biasa. Dia benci ketidakberdayaan ini. Dia benci kenyataan bahwa otaknya sendiri menolak bekerja sama, sementara semua orang di sekelilingnya tampak memegang kendali atas jalan hidupnya."Sialan!" desis Lexi, memukul tiang beton gerbang dengan sisa tenaganya hingga buku-buku jarinya memerah.Dia membalikkan badan dengan langkah gontai, berjalan menjauhi kompleks privat itu. Mobil taksi yang membawanya tadi sudah pergi atas perintahnya. Kini, sang pewaris mahkota ratusan triliun itu berjalan menyusuri trotoar jalanan Surabaya sendirian, terombang-ambing oleh teka-teki yang sengaja dikunci rapat oleh keluarganya sendiri. Namun, di balik rasa frustrasinya, kilat kemarahan di mata Lexi tidak padam. Jika di Surabaya dia menemui jalan buntu karena perlind
Bramantya langsung meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan dentingan keras yang memutus keheningan di ruang makan. Aura intimidasi dari sang penguasa bisnis Surabaya itu seketika naik, memenuhi ruangan dengan ketegangan yang pekat. Dia menoleh ke arah Angel, mendapati wajah wanita itu kembali menegang meski tangannya mengepal kuat di atas pangkuan—mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhan yang baru saja ia bangun kembali pagi ini. "Tetap di sini, Angel. Jangan keluar dari ruangan ini sedikit pun," perintah Bramantya, suaranya rendah namun sarat akan otoritas yang tidak boleh dibantah. Bramantya kemudian beralih menatap Kevin yang sudah ikut berdiri dengan emosi yang menyala di matanya. "Kevin, jaga Kakakmu di dalam. Biar aku yang mengurus pria dari Jakarta itu di luar." "Siap, Pak Bram," sahut Kevin cepat, langsung mengambil posisi berdiri di dekat pintu penghubung ruang makan, memastikan tidak ada celah bagi siapa pun untuk masuk. Bramantya melangkah lebar keluar dari
Jemari staf administrasi itu gemetar hebat di atas papan tik.Di bawah tatapan mata Alexis yang menghujam tajam bak belati, pria muda itu berulang kali menekan tombol enter. Namun, layar monitor berukuran besar itu hanya berkedip lambat sebelum akhirnya menampilkan sebuah baris kalimat dengan latar belakang merah menyala.[DATA NOT FOUND — ACCESS RESTRICTED]Alexis tertegun. Alisnya bertaut rapat. "Apa maksudnya data tidak ditemukan? Aku dirawat di rumah sakit ini selama berminggu-minggu setelah kecelakaan itu! Buka sistem cadangannya!""M-maaf, Pak Alexis..." Staf itu menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Sistem cadangan otomatis server pusat baru saja dienkripsi ulang subuh tadi. Seluruh log aktivitas kunjungan harian, data penjamin swasta, hingga rekam medis Anda di ruang ICU pada periode tersebut, semuanya telah dihapus bersih secara permanen dari sistem operasional kami."Alexis mundur satu langkah, rahangnya mengeras hingga urat-urat di leh
Begitu mobil mewah itu berhenti dengan sempurna di drop-off lobi safe house, Kevin langsung turun terlebih dahulu untuk memastikan area steril, diikuti oleh beberapa pengawal yang berjaga di perimeter luar.Bramantya turun lebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Angel. Sikapnya yang begitu protektif dan penuh perhatian—memastikan kepala Angel tidak terbentur pintu mobil—justru membuat dada Angel semakin terasa terhimpit batu besar. Rasa sesak itu kini telah menjalar hingga ke kerongkongannya, memicu denyut rasa bersalah yang tak tertahankan."Mari masuk, Angel. Udara malam Surabaya mulai tidak bagus untuk kondisimu," ucap Bramantya lembut, mencoba menuntun siku Angel.Angel menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan harga diri tertingginya. Dia melepaskan tangan Bramantya secara perlahan namun pasti."Bram... bisa kita bicara di ruang kerja pribadimu sekarang? Berdua saja," ujar Angel, suaranya terdengar datar namun sarat akan ketegasan yang
Bramantya merapatkan rangkulannya, membawa tubuh Angel semakin dekat ke dalam dekapannya seolah ingin meyakinkan wanita itu bahwa dunia luar yang kejam tidak akan bisa menyentuhnya lagi.Tangan kokohnya bergerak lembut, mengusap helai demi helai rambut Angel yang harum, menyalurkan kehangatan yang begitu tulus."Istirahatlah, Angel," bisik Bramantya dekat di telinganya, suaranya terdengar sehalus beledu. "Perjalanan kita hari ini cukup menguras tenagamu. Mulai sekarang, kamu tidak perlu memikul beban ini sendirian lagi. Biarkan aku yang berdiri di depanmu."Bramantya lalu menurunkan tangannya secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah takut mengejutkannya—telapak tangan pria itu mendarat di atas perut Angel yang masih rata. Tidak ada tuntutan di sana, hanya sebuah janji perlindungan yang sunyi dari seorang pria yang siap menjadi pelindung bagi anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.Momen itu terasa begitu manis, begitu sempurna. Sentuhan Bramantya adalah def
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su







