LOGINDi balik kain gorden yang baru saja dirapatkan, Angel menyandarkan punggungnya pada dinding kamar. Tubuhnya perlahan merosot hingga ia terduduk di atas lantai yang dingin, memeluk kedua lututnya sendiri. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah dalam kesunyian kamar yang pengap. Tangannya berpindah, mengusap perutnya dengan usapan yang gemetar. "Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama karena harus membuat papamu terluka," batin Angel meratapi nasibnya yang begitu malang. Keangkuhan alaminya sebagai putri konglomerat runtuh total di kamar itu, menyisakan seorang wanita rapuh yang sedang hancur lebur dihantam kenyataan. Dia tahu, jika dia membiarkan Lexi mendekat sekarang, Keluarga Permana tidak akan segan-segan menguliti hidupnya dan merebut bayinya. Mengabaikan Lexi adalah satu-satunya tameng paling kejam yang harus ia pasang. Sementara itu, di halaman depan vila, atmosfer pertempuran masih terasa begitu mencekam. Lexi terbatuk, menyemburkan sisa darah dari sudut bibirnya ke
Semburat merah keunguan baru saja memecah langit subuh di lereng Prigen ketika sebuah mobil sewaan hitam berhenti dengan decitan kasar tepat di depan gerbang kayu kokoh vila pribadi Bramantya. Kabut tebal yang dingin bergulung-gulung, menyelimuti sosok Lexi yang melangkah turun dari mobil dengan napas memburu yang mengembun di udara.Penampilannya berantakan. Jaket hitamnya kusut, dan sepasang mata kelamnya memerah sempurna akibat amarah, frustrasi, dan denyut sakit kepala yang kian menggila di dalam tempurung kepalanya. Sisa waktu menuju jam sembilan pagi di Jakarta tinggal hitungan jam, dan jiwanya menolak untuk menyerah pada takdir yang sedang mempermainkannya."Buka gerbangnya!" teriak Lexi, suaranya parau memecah keheningan subuh pegunungan. Dia menghantamkan tubuhnya ke gerbang kayu itu dengan nekat. "Angel! Keluar kamu! Gue tahu lo di dalam!"Dua penjaga perimeter satu milik Bramantya langsung berlari menghadang, mencoba mengunci pergerakan Lexi. Namun, Lexi yang sudah kehila
Pagi hari di Jakarta, atmosfer di dalam ruang kerja pribadi kediaman megah Keluarga Permana terasa begitu sunyi dan menekan. Jam dinding antik berdentang pelan menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit, menyisakan waktu tiga puluh menit lagi sebelum pengumuman pencabutan hak waris itu resmi ditandatangani di depan notaris keluarga.Di balik meja kerja mahoni yang kokoh, Abraham Permana duduk terdiam. Surat-surat legalitas yang dibawa oleh tim hukum dan Viona sejak subuh tadi tergeletak rapi di hadapannya. Pena emas miliknya sudah berada di dalam cengkeraman jemarinya yang mulai berkerut dimakan usia, namun anehnya, ujung pena itu tak kunjung menyentuh kertas.Viona yang berdiri di dekat jendela besar dengan blazer marunnya yang kaku, mulai menangkap kegelisahan sang ayah. Ia melangkah mendekati meja kerja, matanya menyipit tajam."Bapak, waktu kita tidak banyak. Notaris sudah menunggu di ruang depan," tegur Viona dengan nada suara yang ditekan, mencoba mempertahankan ketegasan
Pukul dua dini hari, lereng bukit Prigen diselimuti kabut tebal yang bergulung-gulung ditiup angin gunung yang membekukan. Di dalam kamar utama vila, Angel kembali terbangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup brutal secara abnormal. Kram di perut bawahnya tidak lagi terasa, namun dadanya mendadak terasa begitu hampa dan sesak, seolah-olah ada ikatan batin tak kasat mata yang sedang ditarik paksa dari kejauhan. Angel bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju balkon kamar dengan gaun hamil katunnya. Di ujung ruangan, Bramantya yang selalu sensitif terhadap pergerakan Angel langsung terjaga dari sofa panjangnya. Pria itu menyelimuti bahu Angel dengan selimut tebal dari belakang, dengan gestur manis yang protektif. "Ada apa, Angel? Firasatmu buruk lagi?" tanya Bramantya lembut, suaranya yang berat memecah keheningan kabut. "Bram, dadaku sakit sekali," bisik Angel, air matanya perlahan menetes tanpa sebab yang jelas. "Aku merasa... aku merasa malam ini ada sesuatu yang
Lexi mematung di kursinya, menatap nanar pintu ruang rapat yang baru saja tertutup rapat.Keheningan yang ditinggalkan oleh Bramantya dan Kevin terasa begitu pekat, seolah mencekik seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya. Urat-urat di pelipisnya menegang hebat seiring dengan rasa pening yang kembali menghantam kepalanya dengan brutal.Lagi-lagi dia gagal. Selisih waktu, benteng hukum, dan barikade proteksi Bramantya selalu berhasil memotong jalurnya tepat sebelum dia bisa menjangkau Angel."Lex." Tasya menyentuh lengan adiknya dengan lembut, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam melihat tubuh Lexi yang perlahan bergetar menahan gejolak emosi."Kita balik ke Dharmahusada dulu, ya? Kamu butuh istirahat.""Nggak, Mbak," desis Lexi, suaranya terdengar begitu parau, serak, dan pecah akibat keputusasaan yang sudah berada di ambang batas. Ia menepis tangan Tasya perlahan, lalu mencengkeram tepi meja oval mahoni itu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.Tiba
Malam itu, di dalam ruang tengah rumah singgah Dharmahusada, suasana terasa begitu sunyi dan dingin.Jam digital di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Lexi masih duduk tegak di depan laptopnya. Berkas-berkas legalitas Permana Infrastructure berserakan di atas meja, menjadi satu-satunya senjata hukum yang ia miliki untuk memaksa Angel keluar besok pagi.Di kursi seberang, Tasya menatap adiknya dengan tatapan iba. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana gurat kelelahan dan frustrasi yang amat mendalam mencengkeram wajah tampan Lexi. Pria itu berulang kali memijat pangkal hidungnya, menahan denyut nyeri di kepala yang kian menyiksa setiap kali dia mencoba menggali ingatan masa lalunya yang kosong."Lex, mending kamu tidur dua jam," tegur Tasya lembut, menggeser segelas air putih hangat ke dekat Lexi. "Kalau besok kamu tumbang di meja pleno, Bramantya bakal dengan mudah menguliti kamu hidup-hidup di depan umum."Lexi mengepalkan tangannya di atas meja, napasnya keluar
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m







