Share

Bab 68

Author: Khai Tsan
last update publish date: 2026-11-03 23:48:24

Akhirnya, dalam hati Tono merasa mantap untuk mengambil peluang emas berjualan sayur di ruko tersebut. Ia tersenyum puas lalu mulai membungkuk untuk menutup kembali gembok besi pintu ruko.

Tiba-tiba, sebuah suara lembut mendadak menyapa dari arah belakang. Ada sebuah tepukan pelan yang mendarat di pundaknya saat ia masih setengah jongkok.

Tono pun terperanjat kaget bukan kepalang. Ia langsung berdiri dan berbalik menghadap ke sumber suara.

"Eh... Iya, Mbak... Haduh, bikin kaget saja," ucap Tono
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 73

    "Apa yang dilakukan anak ini...?" batin Tono saat menyaksikan dengan jelas Amel yang sedang memainkan tangannya di dalam celana dalam sambil menyaksikan video dewasa dari layar ponselnya.Pintu samping ruko itu bahkan sama sekali tidak dikunci dari dalam. Tono yang merasa serba salah berniat pergi dan meletakkan gelas kopi di atas meja terdekat.Cling!Suara benturan sendok saat Tono meletakkan cangkir seketika memecah keheningan ruangan itu. Suara nyaring tersebut membuat kegiatan rahasia Amel terhenti seketika."Siapa itu?!" teriak Amel panik dari balik tirai pembatas."Maling, ya?! Ada maling!" jerit Amel beruntun mulai histeris.Mendengar Amel mulai berteriak kencang, Tono refleks berlari menghampirinya dan langsung membekap mulut gadis itu erat-erat."Emmmmmm...!" teriakan Amel tersekat di telapak tangan Tono, sementara badannya meronta-ronta ketakutan."Mel... Mel! Tenang dulu, ini aku, Tono!" bisik Tono setengah berteriak di dekat telinganya."Emmmmb...! Lepasin, aku enggak bis

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 72

    "Mas... Mas Tono, jangan, Mas! Banyak orang di luar sana," jawab Amel salah tingkah sambil mencoba mundur."Oooh, jadi kalau enggak ada orang di sini, berarti enggak apa-apa, ya?" tanya Tono.Wajah Tono semakin mendekat ke wajah Amel. Tangannya perlahan terulur untuk membelai lembut rambut hitam gadis itu."Tenang saja, Mel... Mas pelan-pelan kok," bisik Tono menggoda."Ma... Mas Tono..." gumam Amel pasrah sambil memejamkan mata rapat-rapat.Ia tampak sangat gugup dan salah tingkah. Tono tiba-tiba tersenyum geli melihat reaksi Amel, kemudian mengambil gelas kopi dari tangan Amel."Makasih ya, Mel, buat kopinya," ucap Tono ramah.Tono langsung berbalik badan dan kembali melanjutkan pekerjaannya merakit kayu. Amel yang merasa malu tidak mengatakan apa-apa lagi.Gadis itu langsung membalikkan badan dan berlari kecil keluar kios. Tono tertawa pelan melihat tingkah Amel.Sikap malu-malu Amel itu membuat Tono jadi teringat pada Rini. Ia lantas mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk m

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 71

    Tono tersungkur jatuh ke atas tanah berdebu akibat hantaman tinju tersebut. Namun sebenarnya ia berhasil menahan pukulan orang itu dengan tangannya.Ia sengaja memilih pura-pura tersungkur agar para preman itu merasa puas dan lekas pergi dari tempatnya."Baru kena satu pukulan saja sudah KO, hahaha!" ejek salah seorang dari preman tersebut."Kita habisi saja sekalian, Bos, biar kapok," usul preman yang lain."Jangan," jawab sang bos dengan suara berat. "Ini hanya sekadar peringatan awal untuknya.""Kalau setelah ini dia masih berani melawan, bukan cuma badannya yang akan kubuat roboh, tapi kios ini pasti akan kuhancurkan sekalian!" ancam pemimpin preman itu sambil tertawa. "Ayo semuanya, kita pergi dari sini!"Sekelompok preman itu akhirnya beranjak pergi meninggalkan area ruko. Tono langsung bangkit berdiri begitu situasi dirasa sudah sepi dan aman.Ia menepuk-nepuk celananya yang kotor terkena debu jalanan. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah belakang."Mas..."

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 70

    "Mau dibawa ke mana orang itu?! Kembalikan dia!" bentak Tono keras dalam mimpinya."Kalau kamu masih mau mencampuri urusan kami, terpaksa aku juga menangkapmu!" ancam salah satu pria berbadan besar itu."Aku tanya sekali lagi, mau dibawa ke mana orang itu? Kembalikan segera!" desak Tono tak kenal takut.Seolah mengabaikan kata-kata Tono, pria bertubuh besar itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah cambuk berduri. Ia langsung mengayunkan cambuk itu dengan kuat ke arah Tono.Tono refleks mengangkat tangannya untuk dijadikan perisai. Sabetan cambuk itu mendarat telak hingga membuat kulit tangannya terluka dan berdarah.Rasa sakit yang teramat sangat langsung menjalar ke seluruh lengannya. Tono yang diliputi rasa ketakutan hebat akhirnya memutuskan untuk berbalik dan melarikan diri."Kejar orang itu! Tangkap dia, jangan sampai lolos!"Terdengar suara pria itu memerintahkan anak buahnya untuk mengejar dan menangkap Tono hidup-hidup. Tono berlari kencang menerobos kabut, namun sialnya di hadapanny

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 69

    Tono mematung, menatap layar ponselnya berkali-kali. Ia sama sekali tidak menyangka pesan seberani itu datang dari Rini.Selama ini, Rini dikenal sebagai gadis desa yang santun, tertutup, dan berpenampilan sangat polos.Ya, walaupun waktu itu Rini sempat memberikan servis intim dengan mulutnya, tetap saja aku kaget dia seberani ini menunjukkan bagian tubuhnya, gumam Tono dalam hati."Kalau Mas ikut, nanti mandinya malah jadi lama, Rin," balas Tono mengetik pesan di layar ponselnya."Emangnya ngapain saja, Mas, kok jadi lama?" tanya Rini cepat."Hmmmb... Kura-kura makan batu, pura-pura enggak tahu," balas Tono disusul emotikon tertawa."Hahahaha!" Rini mengirim balasan tawa beruntun. "Keras dong, Mas, kalau yang dimakan batu.""Ada lho yang lebih keras selain batu, Rin," balas Tono mengikuti alur Rini."Apaan, Mas?" tanya Rini penasaran."Pisang Ambonku," balas Tono usil."Ahahaha! Beneran deh itu pisang Ambon, sampai enggak muat di mulut Rini," balas Rini memancing."Jadi pengen lagi

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 68

    Akhirnya, dalam hati Tono merasa mantap untuk mengambil peluang emas berjualan sayur di ruko tersebut. Ia tersenyum puas lalu mulai membungkuk untuk menutup kembali gembok besi pintu ruko.Tiba-tiba, sebuah suara lembut mendadak menyapa dari arah belakang. Ada sebuah tepukan pelan yang mendarat di pundaknya saat ia masih setengah jongkok.Tono pun terperanjat kaget bukan kepalang. Ia langsung berdiri dan berbalik menghadap ke sumber suara."Eh... Iya, Mbak... Haduh, bikin kaget saja," ucap Tono mengusap dadanya."Ehehe, maaf ya, Mas... Ini Masnya kok bisa buka toko ini, mau mulai jualan di sini, ya?" tanya wanita itu ramah."Oh, iya, Mbak... Aku baru saja sewa, makanya ini tadi mau lihat-lihat dulu, sekalian mau dibersihkan besok pagi," jawab Tono beralasan sesuai pesan dari Anggi.Perempuan berparas manis itu tersenyum simpul dengan malu-malu. Ia lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Tono."Kenalin, aku Amel. Jangan panggil Mbak, ya, kayaknya usiaku masih lebih muda dari Masnya," kat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status