공유

Bab 2

작가: Bobo
"Keira, kamu mandiri, dan kemampuan medismu juga hebat. Bisa nggak kamu gantikan dia?"

Kekecewaan di hatiku meluap tak terkendali.

Aku pun mulai merenung, sejak kapankah tepatnya ...

Jihan menjadi sayatan yang mengoyak hubungan kami.

Wanita itu dulu tunangan rekan dekat Ardha di tentara, yang meninggal di luar negeri untuk melindungi Ardha.

Sebelum meninggal, rekannya memohon kepada Ardha dengan segenap nyawanya untuk menjaga Jihan.

Jadi, Ardha membuka jalur dalam dan mengatur agar Jihan ditempatkan di Rumah Sakit Pratama tempatku bekerja.

Bahkan membawanya tinggal di apartemennya.

Lambat laun, Jihan menggantikan peranku dan menjadi orang yang paling istimewa dalam hidup Ardha.

Aku tertawa sinis.

"Kenapa aku harus menanggung konsekuensi dari kesalahannya?"

Ardha menggenggam tanganku, matanya dipenuhi rasa bersalah.

"Keira, aku nggak mungkin masih hidup di sini kalau bukan karena Samuel."

"Anggap saja kamu bantu aku melunasi utang lamaku, oke?"

"Gantikan dia satu tahun. Waktu kamu pulang nanti, aku pindah dia ke luar negeri. Kita masih bisa seperti waktu kita kecil dulu. Oke?"

Menatap mata Ardha yang tulus, aku merasa sedikit terpaku.

Ucapannya memang terdengar jujur dari lubuk hati, tapi sayangnya, tidak ada sedikit pun dari kata-katanya yang mempertimbangkan perasaanku.

Jika bagi Jihan bahaya, apakah menurutnya aku akan aman dan selamat?

Aku mendengus, menarik tanganku dengan kasar. "Nggak usah."

"Kalau kamu khawatir dia terancam bahaya, silakan mengajukan permohonan untuk menemaninya."

"Aku ingat masih ada satu kuota kosong untuk pengawal!"

Ardha sempat terkejut setelah mendengar kata-kataku.

Tapi hanya sesaat. Setelah menenangkan diri, dia memberiku sebuah buku.

"Ini salinan buku kedokteran yang kamu cari. Aku menuliskannya untukmu selama dua hari aku istirahat."

Aku segera merebut buku itu, takut seluruh kesedihan yang telah kubendung akan tumpah ruah pada detik berikutnya.

Kembali ke kamarku, aku membolak-balik buku itu, membelai lembut tulisan tegas dan mantap di atasnya.

Satu-satunya salinan buku kedokteran ini dimiliki oleh seorang kolektor pribadi, dan hampir mustahil untuk dipinjam. Selain itu, wajib dikembalikan dalam waktu 24 jam.

Ardha mungkin begadang semalaman untuk menyalinnya.

Kebaikannya selalu menimbulkan ilusi di mataku.

Tapi sekarang, aku tidak membutuhkannya lagi.

...

Saat aku bangun, matahari terbenam menyelimuti kota.

Aku mulai mengemasi barang-barang.

Pandanganku tertuju pada boneka harimau dari kain yang diletakkan di meja samping tempat tidur.

Jahitannya jarang dan warnanya sudah pudar, tapi aku menjaganya dengan baik.

Itu hadiah yang dijahit tangan oleh Ardha sendiri untuk ulang tahunku yang kedelapan.

Aku mengerutkan bibir, ragu-ragu apakah harus membawanya atau tidak.

Pintu didobrak keras.

Wajah pria itu memerah marah, mulutnya melontarkan makian tanpa henti kepadaku.

"Jihan sudah bersedia menerima tugas itu, kenapa kamu masih saja nyuruh orang merusak reputasinya?"

"Orang tuamu pasti tahu kamu nggak punya hati dan moral, makanya mereka pergi meninggalkanmu. Nggak mau membawamu mati bersama."

"Kamu pantas dibuang!"

Aku membeku seolah tersambar petir.

Tubuhku mulai bergetar hebat, suaraku tajam dan melengking.

"Ardha! Kamu bicara pakai otak nggak?"

Air mata menggenang di mataku, menarikku ke dalam kenangan yang terkunci.

Orang tuaku, sama seperti Ardha dan aku, adalah pasangan yang tidak cocok dan penuh pertengkaran.

Saat terjadi pertengkaran hebat, ibuku sengaja memicu ledakan gas dan menyeret ayahku bersamanya. Mereka berdua tewas dalam kobaran api.

Aku tepat berada di jalan depan rumah, dengan gembira memegangi foto keluarga untuk tugas sekolah.

Sejak hari itu, setiap orang yang melihatku selalu mendesah iba.

Lalu berkata betapa menyedihkannya nasib anak buangan yang tidak diinginkan.

Hingga aku dewasa, perasaan "dibuang dan tidak diinginkan" adalah duri yang tertancap di hatiku.

Tapi Ardha muncul.

Dia menggenggam tanganku, bicara dengan suara lembut.

"Kamu bukan anak buangan. Mulai sekarang, kamu adikku."

"Kalau ada yang berani bilang begitu lagi, aku hajar mereka."

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 10

    Mungkin karena kehilangan terlalu banyak darah, tangannya tidak terasa sekuat dulu lagi."Bodoh, aku belum mati. Jangan menangis, aku jadi ikut sedih."Mendengar suara lemahnya di telingaku, beban berat di hatiku perlahan terangkat.Sejak hari itu, aku tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisi Vincent.Penglihatanku pun berangsur-angsur membaik. Jarak pandangku semakin luas dan segala sesuatu yang kulihat menjadi semakin jelas.Tapi, aku tidak memberi tahu Vincent. Aku ingin memberinya kejutan!Sayangnya, pada hari dia pulang dari rumah sakit, penglihatanku menjadi benar-benar buta."Keira, nggak apa-apa. Aku tetap mencintaimu!"Aku memukul lengannya dan tertawa lepas sampai ingusku keluar."Kalau kamu berani meninggalkanku, wanita mana lagi di dunia ini yang mau mengobati kesepianmu dan menemanimu hingga akhir hidupmu?""Ya, Keira cinta sejatiku!"Sejak pertempuran itu, Vincent bekerja sama dengan Timur atas saranku.Dia menyediakan dana, Timur menyediakan teknologi.Mereka sepakat

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 9

    "Tapi aku sudah nggak butuh lagi ...."Aku menarik tanganku dari genggamannya, yang kini terasa sakit.Wajahku tenang, suaraku datar ....Tapi dia tetap tidak menyerah.Bahkan menyelipkan boneka harimau yang sudah lama kubuang ke tanganku."Keira, lihat. Aku menemukan ini di tempat sampah. Aku sudah memperbaikinya. Sama seperti hubungan kita, pasti bisa diperbaiki!"Mendengar suaranya yang hampir gila, aku menelan kata-kata menyakitkan yang hampir kuucapkan.Aku menenangkan diri dan mencoba menjawab dengan lembut."Ardha, kamu lihat kehidupan kita yang sebelumnya? Berarti kamu harusnya paham, hadiah terbaik yang bisa kita berikan satu sama salin adalah nggak saling mengganggu lagi. Kamu mengerti, 'kan?"Ardha menggelengkan kepalanya, memelukku erat-erat seolah ingin menyatukan diriku ke dalam tubuhnya."Nggak, nggak begitu! Ayo kita pulang.""Lupakan semua yang ada di sini. Aku akan mencintaimu, menyayangimu, dan melindungimu dengan sepenuh hatiku. Aku akan seratus kali, seribu kali, s

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 8

    Mereka berterima kasih atas donasi dan tempat tinggal yang dia berikan.Pada saat itulah aku menyadari bahwa setiap anak, dan bahkan setiap orang, mengenakan lencana dengan huruf "V" di atasnya.Seseorang menjelaskan kepadaku bahwa lencana ini setara dengan paspor bagi mereka.Di mana pun mereka berada, akan selalu ada seseorang yang membawa mereka pulang dan melindungi mereka.Aku menatap Vincent, yang dikelilingi anak-anak dengan senyuman kaku.Wajahku tanpa sadar tersipu.Saat mata kami bertemu, seolah-olah ada sesuatu yang tidak perlu dikatakan di antara kami.Malam itu adalah malam di mana aku tertawa paling lepas sejak terlahir kembali.Aku minum sampai terlalu mabuk dan bicara tidak karuan.Bahkan beberapa kali merebut ayam panggang di piring Vincent.Mungkin aku salah lihat lagi, tapi Vincent sepertinya menundukkan kepala seolah ingin menciumku.Pada saat itu, aku sangat berharap waktu bisa berhenti.Tapi, segala sesuatu di dunia ini sering kali tidak berjalan sesuai rencana..

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 7

    "Kalau kamu bisa cabut minimal satu helai rambutnya, aku akan mengizinkanmu kembali ke markas Dokter Lintas Batas!""Janji?"Aku memotong ucapannya sebelum dia selesai.Hal ini memicu sentakan kaget dan teriakan marah dari orang-orang yang menyaksikan.karena bagi orang-orang berambut pirang dan bermata biru itu, seorang wanita Timur sepertiku, yang lemah dan pincang dengan kaki terluka, berada di sini tak ubahnya adalah vonis mati.Tapi, apa peduliku? Siapa bilang aku siap bertarung sampai mati?Vincent memandang gadis dengan wajah percaya diri di bawahnya itu.Entah mengapa dia tiba-tiba merasa penuh antisipasi dan juga tegang.Antisipasi bahwa wanita itu mungkin akan menang.Tegang karena, apa yang akan terjadi kalau benar-benar mati?Begitu gembok kandang besi dibuka, beruang itu langsung menyerbu ke arahku dengan penuh semangat.Vincent, karena khawatir pemandangannya terlalu mengerikan, memejamkan matanya dan berdoa untuk gadis itu.Tapi, suara daging terkoyak dan dicabik-cabik t

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 6

    "Sebaiknya kamu cari orang lain yang bisa jadi dokter pribadi!"Aku berbalik, mengambil barang bawaanku dan bersiap untuk pergi.Lalu sebutir peluru mendarat di tanah tepat di samping kakiku.Tapi, aku sudah pernah menghadapi kematian sekali. Ancaman semacam itu tidak mempan bagiku.Aku membungkuk dengan lincah, menarik sebuah pisau lipat yang indah dan menusukkannya ke arah Vincent."Apa semua perempuan dari Timur pasti sombong dan bodoh?"Tatapan mata Vincent tampak tak acuh dan tidak peduli, tapi sedingin es."Kamu punya sedikit keberanian, tapi masih belum cukup!"Sebelum dia selesai berbicara, sebutir peluru lain melesat di samping pelipisku.Rasa sakit yang membakar seketika menyebar ke seluruh tubuhku. Pisauku terlepas dari genggaman dan jatuh berderak di lantai.Mungkin dia menganggap ini belum cukup untuk memberi pelajaran.Vincent mengangkat tangannya dan menembak lagi ke betisku.Meski tidak akan menyebabkan kecacatan permanen, lukanya cukup dalam hingga terlihat tulang yang

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 5

    Dalam sekejap, semua penjaga mengarahkan senjata mereka ke arah Ardha.Khawatir dia akan gegabah dan menghancurkan karier militernya.Wajah Jihan pucat pasi. Dia tidak menyangka Ardha berani melakukan hal sejauh ini demi Keira.Saat wanita itu bersiap untuk mengulangi trik lamanya, pusat komando mengeluarkan pemberitahuan peringatan tingkat tinggi."Pertempuran kembali meletus di wilayah Galle selatan. Jumlah korban tewas melonjak!""Semua personel Dokter Lintas Batas yang dikirim lebih awal sudah tewas. Semua wilayah diharapkan mengirim tambahan tenaga medis untuk membantu Galle!"Mendengar suara siaran itu, Ardha terdiam.Tiba-tiba, kilasan ingatan dari kehidupan sebelumnya melintas di benaknya. Bayangan saat dia dan Keira hancur berkeping-keping akibat ledakan bom.Tidak! Kenapa bisa begini!Keira sangat mencintainya. Mana mungkin dia tega meninggalkannya begitu saja!Tanpa memedulikan citranya lagi, Ardha melempar pistolnya dan segera mengajukan permohonan kepada markas.Masih dala

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status