로그인Mungkin karena kehilangan terlalu banyak darah, tangannya tidak terasa sekuat dulu lagi."Bodoh, aku belum mati. Jangan menangis, aku jadi ikut sedih."Mendengar suara lemahnya di telingaku, beban berat di hatiku perlahan terangkat.Sejak hari itu, aku tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisi Vincent.Penglihatanku pun berangsur-angsur membaik. Jarak pandangku semakin luas dan segala sesuatu yang kulihat menjadi semakin jelas.Tapi, aku tidak memberi tahu Vincent. Aku ingin memberinya kejutan!Sayangnya, pada hari dia pulang dari rumah sakit, penglihatanku menjadi benar-benar buta."Keira, nggak apa-apa. Aku tetap mencintaimu!"Aku memukul lengannya dan tertawa lepas sampai ingusku keluar."Kalau kamu berani meninggalkanku, wanita mana lagi di dunia ini yang mau mengobati kesepianmu dan menemanimu hingga akhir hidupmu?""Ya, Keira cinta sejatiku!"Sejak pertempuran itu, Vincent bekerja sama dengan Timur atas saranku.Dia menyediakan dana, Timur menyediakan teknologi.Mereka sepakat
"Tapi aku sudah nggak butuh lagi ...."Aku menarik tanganku dari genggamannya, yang kini terasa sakit.Wajahku tenang, suaraku datar ....Tapi dia tetap tidak menyerah.Bahkan menyelipkan boneka harimau yang sudah lama kubuang ke tanganku."Keira, lihat. Aku menemukan ini di tempat sampah. Aku sudah memperbaikinya. Sama seperti hubungan kita, pasti bisa diperbaiki!"Mendengar suaranya yang hampir gila, aku menelan kata-kata menyakitkan yang hampir kuucapkan.Aku menenangkan diri dan mencoba menjawab dengan lembut."Ardha, kamu lihat kehidupan kita yang sebelumnya? Berarti kamu harusnya paham, hadiah terbaik yang bisa kita berikan satu sama salin adalah nggak saling mengganggu lagi. Kamu mengerti, 'kan?"Ardha menggelengkan kepalanya, memelukku erat-erat seolah ingin menyatukan diriku ke dalam tubuhnya."Nggak, nggak begitu! Ayo kita pulang.""Lupakan semua yang ada di sini. Aku akan mencintaimu, menyayangimu, dan melindungimu dengan sepenuh hatiku. Aku akan seratus kali, seribu kali, s
Mereka berterima kasih atas donasi dan tempat tinggal yang dia berikan.Pada saat itulah aku menyadari bahwa setiap anak, dan bahkan setiap orang, mengenakan lencana dengan huruf "V" di atasnya.Seseorang menjelaskan kepadaku bahwa lencana ini setara dengan paspor bagi mereka.Di mana pun mereka berada, akan selalu ada seseorang yang membawa mereka pulang dan melindungi mereka.Aku menatap Vincent, yang dikelilingi anak-anak dengan senyuman kaku.Wajahku tanpa sadar tersipu.Saat mata kami bertemu, seolah-olah ada sesuatu yang tidak perlu dikatakan di antara kami.Malam itu adalah malam di mana aku tertawa paling lepas sejak terlahir kembali.Aku minum sampai terlalu mabuk dan bicara tidak karuan.Bahkan beberapa kali merebut ayam panggang di piring Vincent.Mungkin aku salah lihat lagi, tapi Vincent sepertinya menundukkan kepala seolah ingin menciumku.Pada saat itu, aku sangat berharap waktu bisa berhenti.Tapi, segala sesuatu di dunia ini sering kali tidak berjalan sesuai rencana..
"Kalau kamu bisa cabut minimal satu helai rambutnya, aku akan mengizinkanmu kembali ke markas Dokter Lintas Batas!""Janji?"Aku memotong ucapannya sebelum dia selesai.Hal ini memicu sentakan kaget dan teriakan marah dari orang-orang yang menyaksikan.karena bagi orang-orang berambut pirang dan bermata biru itu, seorang wanita Timur sepertiku, yang lemah dan pincang dengan kaki terluka, berada di sini tak ubahnya adalah vonis mati.Tapi, apa peduliku? Siapa bilang aku siap bertarung sampai mati?Vincent memandang gadis dengan wajah percaya diri di bawahnya itu.Entah mengapa dia tiba-tiba merasa penuh antisipasi dan juga tegang.Antisipasi bahwa wanita itu mungkin akan menang.Tegang karena, apa yang akan terjadi kalau benar-benar mati?Begitu gembok kandang besi dibuka, beruang itu langsung menyerbu ke arahku dengan penuh semangat.Vincent, karena khawatir pemandangannya terlalu mengerikan, memejamkan matanya dan berdoa untuk gadis itu.Tapi, suara daging terkoyak dan dicabik-cabik t
"Sebaiknya kamu cari orang lain yang bisa jadi dokter pribadi!"Aku berbalik, mengambil barang bawaanku dan bersiap untuk pergi.Lalu sebutir peluru mendarat di tanah tepat di samping kakiku.Tapi, aku sudah pernah menghadapi kematian sekali. Ancaman semacam itu tidak mempan bagiku.Aku membungkuk dengan lincah, menarik sebuah pisau lipat yang indah dan menusukkannya ke arah Vincent."Apa semua perempuan dari Timur pasti sombong dan bodoh?"Tatapan mata Vincent tampak tak acuh dan tidak peduli, tapi sedingin es."Kamu punya sedikit keberanian, tapi masih belum cukup!"Sebelum dia selesai berbicara, sebutir peluru lain melesat di samping pelipisku.Rasa sakit yang membakar seketika menyebar ke seluruh tubuhku. Pisauku terlepas dari genggaman dan jatuh berderak di lantai.Mungkin dia menganggap ini belum cukup untuk memberi pelajaran.Vincent mengangkat tangannya dan menembak lagi ke betisku.Meski tidak akan menyebabkan kecacatan permanen, lukanya cukup dalam hingga terlihat tulang yang
Dalam sekejap, semua penjaga mengarahkan senjata mereka ke arah Ardha.Khawatir dia akan gegabah dan menghancurkan karier militernya.Wajah Jihan pucat pasi. Dia tidak menyangka Ardha berani melakukan hal sejauh ini demi Keira.Saat wanita itu bersiap untuk mengulangi trik lamanya, pusat komando mengeluarkan pemberitahuan peringatan tingkat tinggi."Pertempuran kembali meletus di wilayah Galle selatan. Jumlah korban tewas melonjak!""Semua personel Dokter Lintas Batas yang dikirim lebih awal sudah tewas. Semua wilayah diharapkan mengirim tambahan tenaga medis untuk membantu Galle!"Mendengar suara siaran itu, Ardha terdiam.Tiba-tiba, kilasan ingatan dari kehidupan sebelumnya melintas di benaknya. Bayangan saat dia dan Keira hancur berkeping-keping akibat ledakan bom.Tidak! Kenapa bisa begini!Keira sangat mencintainya. Mana mungkin dia tega meninggalkannya begitu saja!Tanpa memedulikan citranya lagi, Ardha melempar pistolnya dan segera mengajukan permohonan kepada markas.Masih dala






