공유

Bab 3

작가: Bobo
Apa yang dulunya menjadi sumber ketenangan, kini menjadi pisau tajam yang menusuk hatiku, mengenai sisi yang paling dalam.

Mata Ardha berkedip menyesal saat menyadari apa yang telah dia katakan.

"Tapi kamu suruh orang untuk merusak reputasi Jihan. Kamu harus tanggung akibatnya!"

"Cepat ikut aku minta maaf sama Jihan, lalu gantikan dia bertugas Dokter Lintas Batas. Aku bisa pura-pura ini nggak pernah terjadi!"

Aku memejamkan mata erat-erat.

"Bukan aku yang melakukan, kenapa aku harus minta maaf?"

"Dalam tiga hari lagi, dia nggak akan ada dalam hidup kita lagi!"

Pikiran Ardha masih sepenuhnya terfokus pada Jihan di rumah sakit. Dia bahkan tidak menyadari makna di balik kata-kataku.

Dia hanya melontarkan makian "kejam, tidak punya hati" kepadaku dan bergegas ke rumah sakit untuk merawat Jihan.

Aku menatap boneka harimau di atas meja. Hatiku hancur. Lalu aku membuangnya ke tempat sampah.

Ardha, hidup kita akan segera berjalan persis seperti yang kamu inginkan!

...

Keesokan harinya, begitu aku membuka pintu, ada sebuah kotak hadiah yang diletakkan di pintu masuk.

Tanpa perlu membukanya pun, aku sudah tahu ini adalah permintaan maaf dari Ardha.

Setelah tujuh tahun menikah, aku sangat kenal sifatnya.

Aku mengambilnya dan langsung melemparnya ke tempat sampah di sebelahku.

Kemudian, aku mendongak dan tiba-tiba bertemu pandang dengan Ardha.

Melihat tindakanku, sebuah senyum getir tersungging di bibirnya.

Aku memaksa diri untuk mengabaikannya, memanggil taksi ke rumah sakit untuk mengemasi barang-barangku di kantor.

Aku ingin memberi kejutan kepada Ardha. Untuk menebus perbuatanku yang egois dan terlalu memaksa di kehidupan sebelumnya.

Oleh karena itu, aku merahasiakan dari semua orang soal pengunduran diriku sebagai direktur rumah sakit dan keputusanku pergi mengikuti program Dokter Lintas Batas.

Kecuali Jihan.

Aku membayangkan apa yang akan terjadi besok.

Begitu Ardha sadar adiknya yang menyebalkan sudah pergi, dia pasti senang setengah mati. Akhirnya bisa mencintai Jihan dengan bebas.

Saat melewati taman di luar rumah sakit, perhatianku tertuju pada sosok seorang pria dan wanita.

Itu adalah Ardha, menemani Jihan yang sedang pemulihan keluar untuk berjemur.

Dia berjongkok di depan bangku membelakangiku, memijat betis Jihan dengan lembut.

Suaranya menenangkan.

"Di sini sakit nggak? Kamu mungkin kekurangan kalsium."

"Di Timur Tengah nanti, jangan memaksakan diri. Aku sudah minta temanku untuk menjagamu."

Adegan ini sungguh menyakitkan mata.

Begitu Jihan melihatku, matanya sekilas berputar mencari akal, lalu senyumnya berubah penuh provokasi. Dengan suara yang dibuat-buat manja, dia merintih, "Sedikit ke atas lagi ... pahaku agak sakit."

Ardha tampak serbasalah dan canggung karena berusaha menjaga jarak demi menghindari gosip.

Memanfaatkan momen saat dia ragu, Jihan mencengkeram lengannya dan mendekatkan diri untuk menciumnya.

Wanita itu masih menatapku.

Tatapan matanya mengungkapkan tekad yang kuat untuk merebut Ardha.

Tapi, aku tidak meledak seperti biasanya.

Aku hanya memalingkan muka lebih dulu, tertawa dingin, lalu berbalik pergi.

Ardha tiba-tiba menoleh, tapi yang tertangkap oleh matanya hanyalah garis wajahku yang menegang serta punggungku yang perlahan menjauh.

Dia menyusulku sambil terengah-engah dan menjelaskan, "Keira, jangan salah paham."

"Nggak ada apa-apa di antara kami. Aku nggak tahu dia tiba-tiba ... menciumku."

Melihat butiran keringat di dahinya karena gugup, aku tersenyum tenang.

"Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa."

Ardha mengerutkan kening. Meskipun aku menuruti kata-katanya seperti yang selalu dia harapkan, dia merasa seperti telah kehilangan sesuatu.

Sebelum dia sempat berkata apa pun lagi, aku berbalik dan pergi.

Meninggalkan tatapan penuh kebencian Jihan.

...

Keesokan harinya, sebelum pesawat lepas landas, aku menerima telepon dari nomor asing.

Suara nyaring Jihan menusuk telingaku.

"Perempuan murahan! Beraninya kamu kemarin berlagak hebat di depanku. Kamu pikir Kak Ardha masih suka kamu? Dasar konyol!"

"Biar kuberi tahu, di hatinya cuma ada aku. Dia cuma menganggapmu adik. Kamu harus tahu diri dan menjauh darinya."

Aku mendengarkan suaranya yang agak histeris dan gila. Tawa sinis meluncur dari bibirku.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 10

    Mungkin karena kehilangan terlalu banyak darah, tangannya tidak terasa sekuat dulu lagi."Bodoh, aku belum mati. Jangan menangis, aku jadi ikut sedih."Mendengar suara lemahnya di telingaku, beban berat di hatiku perlahan terangkat.Sejak hari itu, aku tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisi Vincent.Penglihatanku pun berangsur-angsur membaik. Jarak pandangku semakin luas dan segala sesuatu yang kulihat menjadi semakin jelas.Tapi, aku tidak memberi tahu Vincent. Aku ingin memberinya kejutan!Sayangnya, pada hari dia pulang dari rumah sakit, penglihatanku menjadi benar-benar buta."Keira, nggak apa-apa. Aku tetap mencintaimu!"Aku memukul lengannya dan tertawa lepas sampai ingusku keluar."Kalau kamu berani meninggalkanku, wanita mana lagi di dunia ini yang mau mengobati kesepianmu dan menemanimu hingga akhir hidupmu?""Ya, Keira cinta sejatiku!"Sejak pertempuran itu, Vincent bekerja sama dengan Timur atas saranku.Dia menyediakan dana, Timur menyediakan teknologi.Mereka sepakat

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 9

    "Tapi aku sudah nggak butuh lagi ...."Aku menarik tanganku dari genggamannya, yang kini terasa sakit.Wajahku tenang, suaraku datar ....Tapi dia tetap tidak menyerah.Bahkan menyelipkan boneka harimau yang sudah lama kubuang ke tanganku."Keira, lihat. Aku menemukan ini di tempat sampah. Aku sudah memperbaikinya. Sama seperti hubungan kita, pasti bisa diperbaiki!"Mendengar suaranya yang hampir gila, aku menelan kata-kata menyakitkan yang hampir kuucapkan.Aku menenangkan diri dan mencoba menjawab dengan lembut."Ardha, kamu lihat kehidupan kita yang sebelumnya? Berarti kamu harusnya paham, hadiah terbaik yang bisa kita berikan satu sama salin adalah nggak saling mengganggu lagi. Kamu mengerti, 'kan?"Ardha menggelengkan kepalanya, memelukku erat-erat seolah ingin menyatukan diriku ke dalam tubuhnya."Nggak, nggak begitu! Ayo kita pulang.""Lupakan semua yang ada di sini. Aku akan mencintaimu, menyayangimu, dan melindungimu dengan sepenuh hatiku. Aku akan seratus kali, seribu kali, s

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 8

    Mereka berterima kasih atas donasi dan tempat tinggal yang dia berikan.Pada saat itulah aku menyadari bahwa setiap anak, dan bahkan setiap orang, mengenakan lencana dengan huruf "V" di atasnya.Seseorang menjelaskan kepadaku bahwa lencana ini setara dengan paspor bagi mereka.Di mana pun mereka berada, akan selalu ada seseorang yang membawa mereka pulang dan melindungi mereka.Aku menatap Vincent, yang dikelilingi anak-anak dengan senyuman kaku.Wajahku tanpa sadar tersipu.Saat mata kami bertemu, seolah-olah ada sesuatu yang tidak perlu dikatakan di antara kami.Malam itu adalah malam di mana aku tertawa paling lepas sejak terlahir kembali.Aku minum sampai terlalu mabuk dan bicara tidak karuan.Bahkan beberapa kali merebut ayam panggang di piring Vincent.Mungkin aku salah lihat lagi, tapi Vincent sepertinya menundukkan kepala seolah ingin menciumku.Pada saat itu, aku sangat berharap waktu bisa berhenti.Tapi, segala sesuatu di dunia ini sering kali tidak berjalan sesuai rencana..

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 7

    "Kalau kamu bisa cabut minimal satu helai rambutnya, aku akan mengizinkanmu kembali ke markas Dokter Lintas Batas!""Janji?"Aku memotong ucapannya sebelum dia selesai.Hal ini memicu sentakan kaget dan teriakan marah dari orang-orang yang menyaksikan.karena bagi orang-orang berambut pirang dan bermata biru itu, seorang wanita Timur sepertiku, yang lemah dan pincang dengan kaki terluka, berada di sini tak ubahnya adalah vonis mati.Tapi, apa peduliku? Siapa bilang aku siap bertarung sampai mati?Vincent memandang gadis dengan wajah percaya diri di bawahnya itu.Entah mengapa dia tiba-tiba merasa penuh antisipasi dan juga tegang.Antisipasi bahwa wanita itu mungkin akan menang.Tegang karena, apa yang akan terjadi kalau benar-benar mati?Begitu gembok kandang besi dibuka, beruang itu langsung menyerbu ke arahku dengan penuh semangat.Vincent, karena khawatir pemandangannya terlalu mengerikan, memejamkan matanya dan berdoa untuk gadis itu.Tapi, suara daging terkoyak dan dicabik-cabik t

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 6

    "Sebaiknya kamu cari orang lain yang bisa jadi dokter pribadi!"Aku berbalik, mengambil barang bawaanku dan bersiap untuk pergi.Lalu sebutir peluru mendarat di tanah tepat di samping kakiku.Tapi, aku sudah pernah menghadapi kematian sekali. Ancaman semacam itu tidak mempan bagiku.Aku membungkuk dengan lincah, menarik sebuah pisau lipat yang indah dan menusukkannya ke arah Vincent."Apa semua perempuan dari Timur pasti sombong dan bodoh?"Tatapan mata Vincent tampak tak acuh dan tidak peduli, tapi sedingin es."Kamu punya sedikit keberanian, tapi masih belum cukup!"Sebelum dia selesai berbicara, sebutir peluru lain melesat di samping pelipisku.Rasa sakit yang membakar seketika menyebar ke seluruh tubuhku. Pisauku terlepas dari genggaman dan jatuh berderak di lantai.Mungkin dia menganggap ini belum cukup untuk memberi pelajaran.Vincent mengangkat tangannya dan menembak lagi ke betisku.Meski tidak akan menyebabkan kecacatan permanen, lukanya cukup dalam hingga terlihat tulang yang

  • Bunga Mawar di Tengah Asap Perang   Bab 5

    Dalam sekejap, semua penjaga mengarahkan senjata mereka ke arah Ardha.Khawatir dia akan gegabah dan menghancurkan karier militernya.Wajah Jihan pucat pasi. Dia tidak menyangka Ardha berani melakukan hal sejauh ini demi Keira.Saat wanita itu bersiap untuk mengulangi trik lamanya, pusat komando mengeluarkan pemberitahuan peringatan tingkat tinggi."Pertempuran kembali meletus di wilayah Galle selatan. Jumlah korban tewas melonjak!""Semua personel Dokter Lintas Batas yang dikirim lebih awal sudah tewas. Semua wilayah diharapkan mengirim tambahan tenaga medis untuk membantu Galle!"Mendengar suara siaran itu, Ardha terdiam.Tiba-tiba, kilasan ingatan dari kehidupan sebelumnya melintas di benaknya. Bayangan saat dia dan Keira hancur berkeping-keping akibat ledakan bom.Tidak! Kenapa bisa begini!Keira sangat mencintainya. Mana mungkin dia tega meninggalkannya begitu saja!Tanpa memedulikan citranya lagi, Ardha melempar pistolnya dan segera mengajukan permohonan kepada markas.Masih dala

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status