Share

Bab 2

Author: Ceri
Tak lama setelah Ratna tiba di rumah, Arman pun pulang.

Dia meletakkan susu formula impor dan ginseng yang harganya selangit di atas meja, lalu menarik 600 ribu dari saku dan menyodorkannya ke tangan Ratna.

Ratna menatapnya datar. "Ini apa-apaan? Kompensasi?"

Arman terdiam sejenak. "Iya."

"Soal bayi itu, aku memang salah. Aku menyembunyikan identitasku karena takut kamu marah kalau tahu Linda dapat hak dan fasilitas istri kapten. Tapi, mau gimana lagi, aku wajib menjaga dia. Mulai sekarang, seluruh gajiku bakal kuserahkan ke kamu. Aku janji bakal bikin kamu jadi istri kapten yang paling disegani!"

Ratna hanya menyunggingkan senyum pahit. Hatinya terasa begitu getir.

Sebanyak apa pun uang yang diberikan, takkan bisa menghidupkan kembali hatinya yang telah mati, maupun mengembalikan anaknya.

Lagi pula, selama lima tahun menikah, yang dia inginkan sama sekali bukan jabatan atau harta Arman.

Dia masih teringat badai salju lima tahun lalu, saat dia pingsan kedinginan di jalan desa. Arman lah yang menyelimutinya dengan mantel dan menggendongnya keluar dari maut, bagaikan secercah cahaya yang menerangi hidupnya.

Selama sebulan masa tanggap bencana, dia rajin mengantar air panas setiap hari, sekaligus membawakan syal dan sarung tangan rajutan buatannya sendiri untuk pria itu.

Cinta seorang gadis remaja memang begitu polos dan murni. Dia hanya ingin bisa menatap pria itu lebih lama, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.

Tak disangka, menjelang kepulangan, seorang pria yang lebih tua menyadari gelagatnya dan bercanda, bertanya apakah dia bersedia menikah dengan Arman dan ikut dengannya tinggal di kota.

Ratna berkedip polos. "Aku mau!"

Suasana tenda langsung riuh oleh tawa.

Arman pun ikut tertawa. "Kamu aja nggak tahu namaku siapa, jabatanku apa. Ya kalau ternyata aku cuma operator telepon biasa gimana?"

Ratna menunduk malu, pipinya merona. "Tetap mau kok."

Selama lima tahun pernikahannya, dia sungguh mengira Arman hanyalah seorang operator telepon biasa.

Saat Arman sibuk bekerja, dia belajar mengurus segala urusan rumah.

Saat gaji Arman pas-pasan, dia berhemat seolah setiap koin begitu berharga.

Arman juga pernah menunjukkan perhatian dengan caranya yang canggung, menyiapkan botol air panas saat Ratna sedang haid, membelikannya sekotak krim wajah saat hari jadi pernikahan, mengisi penuh gentong air dan memperbaiki lampu yang mati saat sedang libur di rumah ....

Dengan polosnya Ratna mengira, selama ada cinta, kehidupan pasti akan makin membaik.

Namun siapa sangka, pada akhirnya semua itu hanyalah perasaannya sendiri. Di hati Arman, dari awal sampai akhir, hanya ada Linda seorang.

Dulu Arman bersikap baik padanya karena Linda masih bersuami.

Kini, setelah suami Linda gugur, Arman tak lagi berpura-pura. Dia bahkan sudah malas berpura-pura.

Ratna tak menjawab. Dia hanya meletakkan uang itu sembarangan ke dalam laci, lalu berkata pelan, "Ayo tidur."

"Ratna!"

Arman mengerutkan kening, tampak kesal.

Status sebagai istri kapten, uang, ganti rugi, sampai perhatian ... semuanya sudah dia berikan. Kenapa Ratna masih saja membuat masalah tanpa henti?!

Tepat saat itu, pintu kamar tiba-tiba diketuk. Suara sang ajudan terdengar tergesa-gesa dari luar, "Kapten, Nona Linda bilang dia ingin minum sup telur gula merah buatan Kak Ratna seperti biasanya!"

Hati Ratna bergetar hebat.

Dulu, setiap kali Arman akan kembali ke markas, dia selalu membuatkan sup telur gula merah untuk bekal pria itu.

Gula merah saat itu langka, telur pun mahal. Dia berhemat seketat mungkin, bahkan tak pernah sekali pun mencicipinya.

Namun siapa sangka, ketulusan yang dia anggap begitu berharga itu, dengan mudahnya Arman berikan kepada Linda.

Arman mendesak, "Ratna, urusan kita dibahas nanti aja. Tolong cepet buatin supnya dulu."

"Gula merah sama telurnya nanti aku beliin lagi buat kamu. Tapi, harus cepet ya. Linda 'kan baru lahiran, badannya masih lemah. Jangan bikin dia nunggu lama."

Pria itu benar-benar lupa, Ratna dan Linda melahirkan di hari yang sama.

Padahal, tubuh Ratna juga masih sangat lemah.

Ratna menelan rasa perih di dadanya, lalu berbalik masuk ke dapur.

Arang susah sekali dinyalakan. Suara langkah Arman yang mondar-mandir gelisah di luar terdengar mencekam bak hitungan mundur menuju ajal, membuat Ratna akhirnya nekat menuang sedikit minyak tanah ke tungku untuk memancing api.

Naas, baru saja dia menyalakan korek api dan mendekat, duar! Api langsung meledak dahsyat!

Ratna terhempas oleh gelombang panas, kepala belakangnya terbentur keras ke dinding!

Tepat saat api hendak melahap tubuhnya, sesosok bayangan melesat datang dan melindunginya!

"Ratna! Kamu nggak apa-apa? Jawab aku ...."

Matanya merah karena panik, suaranya nyaris terdengar seperti raungan.

Pria itu bahkan tak menyadari punggungnya sendiri mengalami luka bakar yang sangat luas.

Darah mengalir deras dari leher Ratna tanpa henti. Dia menatap Arman dengan pandangan kabur, tak punya tenaga untuk menjawab. Dunia di sekitarnya perlahan memudar dalam kegelapan ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 22

    Orang-orang menjerit dan berlarian menyelamatkan diri ke segala arah. Debu beterbangan, suasana seketika kacau balau.Raut wajah Arman mengeras, instingnya mengambil alih segalanya.Dengan sigap, dia berteriak memberi perintah."Menyebar! Semua anggota, lindungi rekan perempuan!"Mendengar teriakannya, pemuda pengacau itu mengumpat marah. Matanya merah menyala sambil mengacungkan belati dan menerjang ke arah mereka.Arman bertindak sigap. Dengan gerakan cepat, dia mengelak sedikit, lalu mencengkeram pergelangan tangan salah satu pemuda dan melumpuhkannya.Ratna menatap belati yang berkilat dingin itu, ingatan tentang masa lalu saat dia disayat empat puluh kali kembali menyeruak di benaknya.Tubuhnya gemetar tak terkendali. Sambil memeluk erat anaknya, dia terus mundur.Namun, dia tak sengaja tersandung batu dan terjatuh keras ke tanah.Melihat hal itu, pemuda yang satunya menajamkan tatapan, dan tanpa banyak bicara langsung menusukkan belati ke arahnya!Ratna tak bisa mengelak lagi.Di

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 21

    Usai berkata seperti itu, Ratna berbalik dan langsung melangkah pergi, tetapi tubuhnya menabrak dada bidang seseorang.Hendra tersenyum tipis di sudut bibirnya, mengambil alih barang bawaan dari tangan Ratna."Ayo jalan, waktunya mepet."Apa Hendra ... mendengar ucapannya barusan?Ratna terpaku, membiarkan Hendra menuntunnya naik ke mobil.Mobil melaju dengan tenang, Ratna saking gugupnya bahkan tak berani mengangkat kepala.Setelah menahan diri cukup lama, barulah dia berhasil mengeluarkan sepatah kata, "Dokter Hendra, kamu ... kamu datangnya kapan?"Suara Hendra terdengar lembut dan menenangkan."Semua yang kamu bilang tadi, aku udah denger."Napas Ratna tercekat. "Bukan, maksud aku bukan gitu ....""Justru itu maksudku."Hendra memotongnya, nadanya serius dan tulus."Aku ingin menjalin hubungan yang serius sama kamu. Hubungan yang tujuannya menikah, bukan sekadar iseng.""Ratna, aku tahu kamu pernah terluka. Tapi, aku beda dengan Arman. Aku sudah memutuskan buat milih kamu. Di hatik

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 20

    Masuk ke kamar dan menutup pintu, jantung Ratna berdebar kencang.Rekan sekamarnya melihat pipinya yang merah dan langsung mendekat dengan penuh rasa ingin tahu."Ratna, ada apa nih? Kamu ngobrolin rahasia sama Dokter Hendra, atau gara-gara cowok yang tiba-tiba nyerbu panggung tadi? Dia itu siapa sih?"Ratna langsung masuk ke balik selimutnya. "Udah, jangan nanya lagi! Pokoknya bukan gara-gara cowok itu!"Rekannya itu mengangguk pelan seolah mengerti. "Oh, berarti gara-gara Dokter Hendra ya ...."Ratna mengubur kepalanya di balik selimut. Untuk sesaat, pikirannya melayang. Ratna yang dulu, yang memikul gentong air, menggotong batu bara, memusingkan setiap keping uang, dan menghabiskan hari-harinya hanya untuk menunggu suami ... pasti tak pernah menyangka kalau suatu hari nanti dia masih bisa memiliki kehidupan yang begitu berwarna, penuh semangat, dan kembali hidup layaknya seorang gadis muda. Hari itu, dia menyeret tubuhnya yang penuh luka melarikan diri dari kuburan tua dan tiba di

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 19

    Arman tiba-tiba mendongak. "Kamu siapa?"Pria itu berpostur tegap, berperawakan lembut dan tampak terpelajar. "Halo, Pak Arman. Namaku Hendra, dokter rombongan kesenian ini, dan juga ... teman terdekat Ratna."Tatapan Hendra kepadanya sarat akan rasa jijik dan permusuhan, tetapi saat menatap Ratna, tatapannya begitu lembut dan penuh kasih.Bagaimana mungkin Arman tidak menyadari perasaan pria itu terhadap Ratna dan provokasi terang-terangannya?Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dan menutupi keterpurukannya. "Ini urusan pribadiku dan Ratna. Dokter Hendra, meski teman dekat Ratna, tetap saja orang luar. Kurasa Dokter nggak berhak ikut campur."Hendra tersenyum tipis."Urusan pribadi yang Pak Arman maksud, adalah mengejar dan menghadang seseorang yang nggak ingin menemuimu, membuat keributan di tempat pertunjukan, memaksa orang lain, dan sama sekali nggak tahu diri?"Dia tersenyum, tetapi setiap katanya setajam pisau, menusuk Arman hingga tak sanggup membela diri.

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 18

    Ratna terdiam sejenak.Ternyata, Arman sama sekali belum tahu soal perceraian mereka.Wajar saja.Pria itu toh tak pernah mencintainya, jadi segala hal tentang dirinya memang tak pernah dia pedulikan.Namun, Ratna yang sekarang takkan pernah lagi membiarkan hatinya hancur dan menitikkan air mata seperti dulu.Dia melanjutkan ucapannya dengan ekspresi datar, seolah sedang menceritakan kisah orang lain."Alasan aku bisa ngilang sejauh ini karena aku udah lolos seleksi rombongan kesenian luar daerah. Terus, pakai surat keterangan dari mereka, aku ngajuin perceraian sepihak ke Catatan Sipil. Buku cerai punyaku udah lama aku terima.""Buku cerai kamu mungkin nyelip di tumpukan berkas di kantor kamu, atau mungkin pihak Catatan Sipil lupa nganterin ke kesatuan. Tapi, mau kamu tahu atau nggak, hubungan pernikahan kita udah resmi berakhir.""Selamat ya, akhirnya kamu bisa bebas sama Linda, sama anak kita ... Eh bukan, anak kalian, secara terang-terangan."Saat menyebut anak yang tak pernah bena

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 17

    Semua terjadi terlalu mendadak.Sesaat sebelumnya Ratna masih menari. Namun, pada detik berikutnya, sepasang tangan yang kuat tiba-tiba menariknya. "Ratna ... ini beneran kamu!"Arman mencengkeram tangan wanita itu erat-erat, seolah menggenggam seluruh dunianya."Kamu masih hidup! Kamu benar-benar masih hidup! Kalau kamu masih hidup, kenapa nggak balik nyari aku? Selama ini kamu di mana? Kamu tahu nggak, aku udah ngadain pemakaman buat kamu. Aku pikir akulah yang menyebabkan kematianmu ...."Sudah lama tak berjumpa, Arman seolah berubah menjadi orang lain.Sosoknya yang dulu gagah dan penuh semangat kini telah lenyap.Mata yang dulu selalu tajam dan penuh wibawa itu kini dipenuhi kebingungan dan kehampaan. Postur tubuhnya yang tegap pun kini tampak sedikit membungkuk.Jika diperhatikan dengan saksama, di pelipisnya ... ternyata sudah tumbuh beberapa helai uban.Sosok Arman yang seperti ini terasa begitu asing.Ratna sebenarnya sudah bersiap kalau akan bertemu Arman saat tampil di sin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status