Share

Bab 3

Penulis: Ceri
Sepanjang perjalanan yang berguncang, Ratna akhirnya tiba di rumah sakit dan langsung didorong ke ruang gawat darurat.

Para dokter dengan sigap mengambil alih brankarnya, lalu berbalik hendak membawa Arman untuk perawatan luka bakar.

Arman langsung mendorong perawat itu menjauh, panik hingga hampir kehilangan kendali.

"Nggak usah urusin aku. Aku nggak bakal mati! Selamatkan istriku dulu! Dia nggak punya penyakit bawaan, baru sebulan lalu melahirkan, golongan darahnya A!"

Beberapa saat kemudian, usai memeriksa luka Ratna, dokter tampak serba salah.

"Kapten Arman, istri Kapten kehilangan terlalu banyak darah dan butuh transfusi segera. Tapi, stok darah di rumah sakit kami sudah kosong. Mengambil stok cadangan butuh waktu seminggu, istri Kapten pasti nggak akan sanggup menunggu selama itu! Bagaimana kalau Kapten menggunakan jasa militer Kapten untuk mengambil darah dari bank darah cadangan kesatuan? Masih sempat!"

Namun, Arman justru terdiam lama.

Ratna mengerahkan sisa tenaganya untuk membuka matanya sedikit, lalu melihat sang ajudan berbisik pelan.

"Kapten, masih ragu apa lagi? Lihat tuh, darah Kak Ratna udah mengalir sampai ke lantai! Cepat keluarkan perintah, Kapten!"

Arman memejamkan mata, suaranya terdengar berat dan parau.

"Gimana caranya aku mau ngasih perintah? Kamu lupa ya, waktu aku ngasih bayi Ratna ke Linda, aku udah pakai jasa militer buat nyuruh semua orang di rumah sakit ini tutup mulut?"

"Urusan administrasi anak itu aja belum beres. Kalau nggak ada aku yang ngatur semuanya, terus gimana kalau ketahuan? Nanti Linda bakal tahu kebenarannya. Dia 'kan seorang ibu, mana kuat nanggung sakitnya kehilangan anak buat kedua kalinya? Aku nggak bakal biarin dia nanggung risiko itu! Aku juga nggak tega!"

Ucapan itu dingin bagai pisau, seketika merobek jantung Ratna.

'Arman, kok kamu bisa sekejam ini ....'

Nyawanya sendiri sedang di ujung tanduk, tetapi yang dikhawatirkan pria itu justru Linda akan kehilangan anak!

Lalu, bagaimana dengan dirinya?

Padahal, jauh sebelum kehilangan bayi kali ini, Ratna sudah dua kali mengalami keguguran.

Semua karena dia kekurangan gizi dan tubuhnya terlalu lemah. Begitu kehamilannya terdeteksi, janin itu langsung gugur dan hanya menyisakan genangan darah ....

Dia takut Arman akan merasa bersalah dan pekerjaannya ikut terganggu jika tahu, jadi dia memilih bungkam, menelan semua rasa sakit dan kepedihannya seorang diri.

Dan sekarang ... apakah dia juga harus berakhir menjadi genangan darah, mati tepat sebelum berhasil pergi?

Ratna merasakan darahnya menetes demi tetes, membawa pergi sisa kehangatan tubuhnya, hingga dia hampir menyerah pada keputusasaan.

Tepat saat itu, Linda buru-buru datang. Tanpa ragu dia menyingsingkan lengan bajunya. "Dokter, ambil darahku! Golongan darahku cocok sama Kak Ratna, aku bisa selamatin dia!"

Arman mengerutkan kening, buru-buru menarik tangan Linda.

"Linda, kamu ngapain sih?"

"Kamu baru aja lahiran, badanmu belum pulih total. Mana boleh donor darah!"

Linda keras kepala menepis tangan Arman, tatapannya tegas.

"Kak Arman, biarin aku donor. Kak Ratna jadi begini 'kan gara-gara masakin aku sup! Dia lagi dalam bahaya, mana mungkin aku diem aja!"

Mata Arman langsung memerah karena merasa iba.

Saat pria itu masih terpaku, Linda sudah mengikuti brankar Ratna dan para perawat masuk ke ruang gawat darurat. Dia menoleh dan tersenyum tipis pada Ratna.

"Kak Ratna, kebaikan Kak Arman ke aku selama ini selalu aku ingat. Anggap aja ini cara aku membalas sedikit kebaikanmu."

Darah mengalir lewat selang, masuk sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Ratna. Dia seolah merasakan sedikit tenaga kembali, dan secercah rasa syukur pun tumbuh di hatinya.

Kebohongan itu memang perbuatan Arman. Bagaimanapun, hal itu tidak ada kaitannya dengan Linda.

Ratna membuka matanya, hendak mengucapkan terima kasih pada wanita itu.

Namun tiba-tiba, dia tanpa sadar menggigil.

Detik berikutnya, dadanya sesak seolah ditindih batu besar. Wajah Ratna seketika pucat pasi, napasnya pun terasa makin berat!

Perawat itu buru-buru mencabut selang transfusi dan berteriak panik.

"Anda! Anda bohong soal golongan darah, ya?!"

"Dokter! Dokter! Pasien mengalami reaksi hemolisis, butuh pertolongan darurat!"

Saat perawat itu berlari keluar mencari bantuan, Linda yang tadi masih tampak lembut dan anggun, tiba-tiba menyunggingkan senyum jahat. Dia menatap Ratna dan berbisik, kata demi kata, "Mati ... aja ... kamu!"

"Cuma kalau kamu mati, Kak Arman bakal selamanya baik padaku seorang!"

Mata Ratna membelalak ngeri!

Linda ... sengaja melakukannya!

Namun, dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Seluruh tubuhnya kejang, pandangannya gelap, dan dia pun pingsan tak sadarkan diri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 22

    Orang-orang menjerit dan berlarian menyelamatkan diri ke segala arah. Debu beterbangan, suasana seketika kacau balau.Raut wajah Arman mengeras, instingnya mengambil alih segalanya.Dengan sigap, dia berteriak memberi perintah."Menyebar! Semua anggota, lindungi rekan perempuan!"Mendengar teriakannya, pemuda pengacau itu mengumpat marah. Matanya merah menyala sambil mengacungkan belati dan menerjang ke arah mereka.Arman bertindak sigap. Dengan gerakan cepat, dia mengelak sedikit, lalu mencengkeram pergelangan tangan salah satu pemuda dan melumpuhkannya.Ratna menatap belati yang berkilat dingin itu, ingatan tentang masa lalu saat dia disayat empat puluh kali kembali menyeruak di benaknya.Tubuhnya gemetar tak terkendali. Sambil memeluk erat anaknya, dia terus mundur.Namun, dia tak sengaja tersandung batu dan terjatuh keras ke tanah.Melihat hal itu, pemuda yang satunya menajamkan tatapan, dan tanpa banyak bicara langsung menusukkan belati ke arahnya!Ratna tak bisa mengelak lagi.Di

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 21

    Usai berkata seperti itu, Ratna berbalik dan langsung melangkah pergi, tetapi tubuhnya menabrak dada bidang seseorang.Hendra tersenyum tipis di sudut bibirnya, mengambil alih barang bawaan dari tangan Ratna."Ayo jalan, waktunya mepet."Apa Hendra ... mendengar ucapannya barusan?Ratna terpaku, membiarkan Hendra menuntunnya naik ke mobil.Mobil melaju dengan tenang, Ratna saking gugupnya bahkan tak berani mengangkat kepala.Setelah menahan diri cukup lama, barulah dia berhasil mengeluarkan sepatah kata, "Dokter Hendra, kamu ... kamu datangnya kapan?"Suara Hendra terdengar lembut dan menenangkan."Semua yang kamu bilang tadi, aku udah denger."Napas Ratna tercekat. "Bukan, maksud aku bukan gitu ....""Justru itu maksudku."Hendra memotongnya, nadanya serius dan tulus."Aku ingin menjalin hubungan yang serius sama kamu. Hubungan yang tujuannya menikah, bukan sekadar iseng.""Ratna, aku tahu kamu pernah terluka. Tapi, aku beda dengan Arman. Aku sudah memutuskan buat milih kamu. Di hatik

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 20

    Masuk ke kamar dan menutup pintu, jantung Ratna berdebar kencang.Rekan sekamarnya melihat pipinya yang merah dan langsung mendekat dengan penuh rasa ingin tahu."Ratna, ada apa nih? Kamu ngobrolin rahasia sama Dokter Hendra, atau gara-gara cowok yang tiba-tiba nyerbu panggung tadi? Dia itu siapa sih?"Ratna langsung masuk ke balik selimutnya. "Udah, jangan nanya lagi! Pokoknya bukan gara-gara cowok itu!"Rekannya itu mengangguk pelan seolah mengerti. "Oh, berarti gara-gara Dokter Hendra ya ...."Ratna mengubur kepalanya di balik selimut. Untuk sesaat, pikirannya melayang. Ratna yang dulu, yang memikul gentong air, menggotong batu bara, memusingkan setiap keping uang, dan menghabiskan hari-harinya hanya untuk menunggu suami ... pasti tak pernah menyangka kalau suatu hari nanti dia masih bisa memiliki kehidupan yang begitu berwarna, penuh semangat, dan kembali hidup layaknya seorang gadis muda. Hari itu, dia menyeret tubuhnya yang penuh luka melarikan diri dari kuburan tua dan tiba di

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 19

    Arman tiba-tiba mendongak. "Kamu siapa?"Pria itu berpostur tegap, berperawakan lembut dan tampak terpelajar. "Halo, Pak Arman. Namaku Hendra, dokter rombongan kesenian ini, dan juga ... teman terdekat Ratna."Tatapan Hendra kepadanya sarat akan rasa jijik dan permusuhan, tetapi saat menatap Ratna, tatapannya begitu lembut dan penuh kasih.Bagaimana mungkin Arman tidak menyadari perasaan pria itu terhadap Ratna dan provokasi terang-terangannya?Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dan menutupi keterpurukannya. "Ini urusan pribadiku dan Ratna. Dokter Hendra, meski teman dekat Ratna, tetap saja orang luar. Kurasa Dokter nggak berhak ikut campur."Hendra tersenyum tipis."Urusan pribadi yang Pak Arman maksud, adalah mengejar dan menghadang seseorang yang nggak ingin menemuimu, membuat keributan di tempat pertunjukan, memaksa orang lain, dan sama sekali nggak tahu diri?"Dia tersenyum, tetapi setiap katanya setajam pisau, menusuk Arman hingga tak sanggup membela diri.

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 18

    Ratna terdiam sejenak.Ternyata, Arman sama sekali belum tahu soal perceraian mereka.Wajar saja.Pria itu toh tak pernah mencintainya, jadi segala hal tentang dirinya memang tak pernah dia pedulikan.Namun, Ratna yang sekarang takkan pernah lagi membiarkan hatinya hancur dan menitikkan air mata seperti dulu.Dia melanjutkan ucapannya dengan ekspresi datar, seolah sedang menceritakan kisah orang lain."Alasan aku bisa ngilang sejauh ini karena aku udah lolos seleksi rombongan kesenian luar daerah. Terus, pakai surat keterangan dari mereka, aku ngajuin perceraian sepihak ke Catatan Sipil. Buku cerai punyaku udah lama aku terima.""Buku cerai kamu mungkin nyelip di tumpukan berkas di kantor kamu, atau mungkin pihak Catatan Sipil lupa nganterin ke kesatuan. Tapi, mau kamu tahu atau nggak, hubungan pernikahan kita udah resmi berakhir.""Selamat ya, akhirnya kamu bisa bebas sama Linda, sama anak kita ... Eh bukan, anak kalian, secara terang-terangan."Saat menyebut anak yang tak pernah bena

  • Bunga Paulownia Berguguran, Musim Semi Enggan Berlalu   Bab 17

    Semua terjadi terlalu mendadak.Sesaat sebelumnya Ratna masih menari. Namun, pada detik berikutnya, sepasang tangan yang kuat tiba-tiba menariknya. "Ratna ... ini beneran kamu!"Arman mencengkeram tangan wanita itu erat-erat, seolah menggenggam seluruh dunianya."Kamu masih hidup! Kamu benar-benar masih hidup! Kalau kamu masih hidup, kenapa nggak balik nyari aku? Selama ini kamu di mana? Kamu tahu nggak, aku udah ngadain pemakaman buat kamu. Aku pikir akulah yang menyebabkan kematianmu ...."Sudah lama tak berjumpa, Arman seolah berubah menjadi orang lain.Sosoknya yang dulu gagah dan penuh semangat kini telah lenyap.Mata yang dulu selalu tajam dan penuh wibawa itu kini dipenuhi kebingungan dan kehampaan. Postur tubuhnya yang tegap pun kini tampak sedikit membungkuk.Jika diperhatikan dengan saksama, di pelipisnya ... ternyata sudah tumbuh beberapa helai uban.Sosok Arman yang seperti ini terasa begitu asing.Ratna sebenarnya sudah bersiap kalau akan bertemu Arman saat tampil di sin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status