แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Ani
Semua orang yang ada di sana seketika menarik napas cepat karena terkejut mendengar ucapan itu.

Hanya sudut bibir Ghea yang melengkung membentuk senyum kemenangan.

Pandangan semua orang kini tertuju pada Rania, seolah-olah mereka sedang menunggu tontonan drama yang seru.

Akan tetapi, Rania justru mengangguk. "Oke, aku setuju."

"Benaran?" Ghea memeluk Aris dengan gembira. "Aris, aku benaran bisa nikah sama kamu? Nggak apa-apa, walaupun nanti harus cerai lagi, aku nggak masalah, yang penting aku pernah memilikimu saja sudah cukup."

"Rania, terima kasih banyak, ya."

Melihat tatapan penuh syukur dari Aris, Rania tersenyum. "Nggak perlu sungkan, sudah seharusnya begitu."

"Ya ampun, istrinya Pak Aris sabar banget, ya? Rela banget kasih posisinya buat pelakor."

"Kalau aku jadi anak yang di dalam perutnya, aku sih mending nggak usah lahir sekalian. Punya ibu nggak berdaya kayak gitu, memalukan banget."

Beberapa karyawan mulai berbisik-bisik, tetapi Rania tidak memedulikan mereka. "Siapkan surat cerainya dan kasih ke aku, nanti langsung aku tanda tangani."

Dia berbalik, tetapi saat hendak pergi, ponselnya tiba-tiba berdering.

"Halo, dengan Nona Rania? Jadwal operasi aborsi Anda sudah dijadwalkan untuk jam tiga sore ini. Apa Anda ada waktu untuk datang sekarang?"

"Ya, aku ada waktu. Aku segera ke sana."

"Apa suami Anda akan ikut mendampingi?"

"Aku nggak punya suami."

Rania menutup teleponnya. Aris mengernyitkan dahi. "Kamu teleponan sama siapa? Mau ke mana? Apa maksudnya nggak punya suami? Bukannya aku suamimu?"

"Aku cuma mencoba beradaptasi lebih awal dengan status baruku nanti, memangnya nggak boleh?" Rania tersenyum tipis ke arahnya. "Temani istrimu baik-baik, aku pergi dulu."

Kata-katanya membuat Aris merasa sangat tidak nyaman.

Melihat punggung Rania yang menjauh tanpa ragu, hatinya terasa sesak tak keruan.

Saat dia hendak mengejar, Ghea tiba-tiba mencubit bayi di dalam bedongan itu dengan keras.

Bayi itu menangis kencang, membuat Aris seketika berbalik dan sibuk menenangkan anaknya.

...

Di luar pintu, Rania menyeka air mata di sudut matanya dan berjalan menuju ruang dokter.

'Aris, ingat ini baik-baik. Semua yang terjadi hari ini adalah pilihanmu sendiri, jadi jangan menyesal.'

Sembari menunggu jadwal operasi, Rania menerima pesan dari kakaknya.

Kakaknya bilang tiket sudah dibeli dan dia sangat menantikan pertemuan mereka di luar negeri satu bulan lagi.

Melihat informasi tiket pesawat itu, suasana hati Rania akhirnya sedikit membaik.

Baru saja dia hendak menyimpan ponselnya, sebuah pesan WhatsApp masuk dari Ghea.

Isinya beberapa foto. Ghea dan Aris sedang berbaring di atas ranjang yang sama, dengan si bayi tidur di tengah-tengah mereka.

Aris tampak tidur sangat nyenyak, sementara senyum di wajah Ghea terlihat begitu bahagia.

Keluarga kecil yang utuh. Betapa bahagianya mereka.

Padahal, seharusnya kebahagiaan itu milik Rania.

Hatinya terasa sangat perih. Rania mengangkat tangan, mengelus perutnya sendiri, dan berbisik pelan, "Sayang, maafkan Ibu, ya."

[Rania, sebenarnya suamimu sudah lama nggak cinta sama kamu. Kamu mungkin nggak tahu ya, dia malas menyentuhmu karena merasa kamu nggak bisa memuaskannya.]

[Katanya kamu itu terlalu kaku, cuma tahu gaya itu-itu saja di ranjang. Aku beda, aku bisa melakukannya di mana saja, kapan saja.]

[Tapi, aku tetap berterima kasih. Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan punya kesempatan ini untuk jadi Nyonya Wijaya.]

Pesan demi pesan terus bermunculan, tetapi Rania hanya menatapnya dengan tatapan kosong tanpa niat untuk membalas sedikit pun.

Perawat masuk dan memanggilnya, "Nona Rania, operasinya akan segera dimulai."

"Baik."

Dia meletakkan ponselnya, menarik napas dalam-dalam, lalu mengikuti perawat masuk ke ruang operasi.

Di atas meja operasi, saat dokter memintanya untuk membuka kedua kakinya, tubuh Rania gemetar karena ketakutan.

Melihatnya begitu tegang, dokter anestesi mencoba menenangkannya, "Nggak apa-apa, ini akan berlangsung cepat dan nggak akan terasa sakit."

Saat jarum suntik yang dingin menusuk kulitnya, kesadarannya perlahan mulai kabur.

Akan tetapi, di detik alat medis itu menyentuh tubuhnya, air matanya tetap luruh.

'Maafkan Ibu, Sayang. Ibu berharap kamu bisa terlahir kembali di keluarga yang lebih baik.'

'Kamu harus lebih jeli memilih orang tua nanti, begitu juga dengan Ibu.'

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 24

    Suara sirine polisi akhirnya berhenti tepat di depan restoran. Begitu melihat polisi menyerbu masuk dan meringkus Ghea, Reza akhirnya bisa bernapas lega sebelum akhirnya jatuh pingsan sepenuhnya."Reza!"Rania panik. Dia merangkak mendekati Reza, air matanya terus mengalir melihat kondisi pria itu yang sudah sekarat."Pak Polisi, tolong selamatkan dia!""Kenapa kalian menangkapku? Lepaskan! Aku nggak salah, lepaskan aku! Aku harus membunuhnya! Rania, aku akan membunuhmu!"Meski sudah ditangkap polisi, Ghea tetap mencengkeram tongkat bisbolnya dan menolak melepaskannya."Kami peringatkan, segera letakkan senjatamu atau kami akan melakukan tindakan tegas!"Polisi memberi peringatan keras, tetapi Ghea sama sekali tidak gentar."Aku akan membunuh Rania! Rania, aku akan membunuhmu!"Baru setelah polisi mengeluarkan pistol, Ghea akhirnya berhenti berteriak.Dia dibawa pergi oleh polisi, tetapi matanya tetap menatap tajam ke arah Rania."Lebih baik jangan biarkan aku keluar, kalau nggak Rania

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 23

    "Kamu sudah gila? Kamu mau membunuhku? Apa kamu nggak tahu kalau ini melanggar hukum?"Rania tahu kakaknya sudah tersambung di telepon. Sekarang dia hanya perlu mengulur waktu sampai kakaknya mengirim bantuan untuk menyelamatkan mereka."Melakukan hal yang melanggar hukum bukan pertama kalinya bagiku, 'kan?"Ghea menatap tajam ke arah Rania yang berada di bawah meja, sorot matanya penuh dengan kebencian."Sudah kubilang, aku nggak akan melepaskanmu! Lihat, sekarang waktunya sudah tiba, 'kan?"Ghea bertepuk tangan dan seketika lampu di seluruh ruangan menyala.Cahaya yang menyilaukan membuat Rania sempat tidak bisa membuka mata. Saat dia mulai terbiasa dan melihat sekitar, dia baru menyadari bahwa semua pengunjung yang tidak berkepentingan telah menghilang, entah sejak kapan mereka semua dibawa pergi.Rania mendongak, menatap wanita di depannya dengan tangan mengepal kuat.Saat ini, dia lebih membenci Aris.Jika bukan karena pria itu, Ghea tidak akan melakukan hal sejauh ini kepadanya.

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 22

    Entah karena suasana hati yang terlanjur rusak oleh kehadiran Ghea, makan malam mereka setelah itu terasa sama sekali tidak menyenangkan.Tepat saat mereka hendak bangkit berdiri untuk membayar tagihan.Lampu restoran tiba-tiba padam. Kerumunan orang mulai berteriak histeris dan seseorang berteriak, "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mati lampu?""Restoran semewah ini, bagaimana mungkin bisa melakukan kesalahan amatir seperti ini?""Harap semuanya tenang! Kami sudah mengirim petugas untuk melakukan perbaikan. Mohon tetap duduk di tempat masing-masing dan jangan bergerak!"Melihat restoran yang gelap gulita, Rania seketika merasakan firasat yang sangat buruk.Reza pun merasa khawatir, dia berbisik pelan, "Rania, kamu di situ?""Iya, aku di sini.""Berikan tanganmu padaku."Baru setelah mendengar suaranya dan menggenggam telapak tangannya, Reza merasa sedikit tenang.Dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan lampu senter.Baru saja dia hendak memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba pin

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 21

    "Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?" Aris menatapnya dengan raut penuh kekecewaan. "Kamu masih belum menyesal juga?""Diam!" Ghea mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan keras ke wajah Aris. "Beraninya kamu menceramahiku? Kalau bukan karenamu, mana mungkin aku sampai .... Aris, hari ini aku memberimu tiga pilihan. Pertama, bayar ganti rugi. Kedua, berlutut dan minta maaf padaku. Ketiga, masuk penjara."Aris menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Dia tidak punya uang, tetapi kalau harus berlutut, itu benar-benar mustahil baginya."Kalau begitu, aku terpaksa menjebloskanmu ke penjara. Tapi, ingat, kamu nggak akan pernah bisa melihat Rania lagi seumur hidupmu karena malam ini juga aku akan membunuhnya."Setelah berkata demikian, Ghea hendak melangkah pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara bruk! Aris berlutut di hadapannya."Aku yang salah, Ghea. Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu. Asalkan kamu nggak menyentuh Rania sedikit pun, aku nggak keberatan bersujud minta maaf

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 20

    Ghea menghabiskan banyak tenaga dan pikiran demi membuat Iwan senang.Iwan benar-benar berbeda dari semua pria yang pernah dia temui sebelumnya. Dia sangat suka memainkan permainan kecil yang menyimpang.Jika bukan karena pengalaman Ghea sebelumnya, dia mungkin tidak akan sanggup bertahan melewati satu malam saja.Saat Ghea terbangun, Iwan sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa sambil merokok.Dia sedang menatap tabletnya. Begitu melihat Ghea bangun, dia berkata dengan perlahan, "Mulai sekarang, ikutlah denganku."Ghea mengerti betul apa maksud dari perkataan pria itu.Ini berarti, mulai hari ini, dia telah resmi menjadi wanita milik Iwan."Oke, aku mengerti."Ghea turun dari tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur sutranya."Aku mau mandi dulu."Melangkah masuk ke kamar mandi, Ghea menanggalkan pakaiannya. Saat menatap bayangan dirinya di cermin, yang dipenuhi memar dan luka di sekujur tubuh, air matanya jatuh membasahi pipinya.Dia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dia harus

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 19

    Setelah tinggal di kediaman Keluarga Pratama selama hampir satu bulan, suasana hati Rania pun menjadi jauh lebih baik.Reza memikirkan berbagai cara untuk menghiburnya. Setiap hari dia membawa Rania pergi ke berbagai tempat untuk menenangkan pikiran, bahkan sampai jarang mengurusi masalah perusahaannya.Hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah pulang dengan membawa seekor anak kucing di tangannya.Seekor kucing berwarna keemasan berkaki pendek yang sangat menggemaskan.Melihat anak kucing itu, Rania menutup mulutnya dengan heran. "Kok ada anak kucing? Apa kamu yang membelinya?""Iya. Beberapa hari lalu aku lihat kamu sering menonton berbagai video kucing, aku tebak kamu pasti suka, jadi aku pergi carikan satu untukmu. Kamu suka?"Reza meletakkan anak kucing itu di lantai dan tak disangka, si kucing langsung berlari menghampiri Rania.Melihat kucing itu begitu menyukainya, Rania tidak tahan untuk tidak membungkuk dan menggendongnya ke dalam pelukan."Lucu banget, bulunya lembut. Jadi, sekar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status