Share

Bab 2

Author: Ani
Keesokan harinya, Ghea melahirkan seorang anak laki-laki.

Aris begitu bahagia sampai lupa diri. Dia bahkan mengunggahnya di status WhatsApp.

[Perjuangan sepuluh jam persalinan. Ghea, kamu sudah berjuang keras.]

Fotonya menampilkan Ghea yang sedang menggendong bayi sambil berbaring di ranjang rumah sakit.

Rania melihatnya dengan perasaan miris.

Cepat sekali, Aris sudah mulai mempublikasikan Ghea di status WhatsApp-nya.

Lalu, apa berikutnya? Apa dia sedang berencana menyuruh Rania memberikan posisinya untuk si pelakor itu?

Rania memberikan suka pada postingan itu dan tak lama kemudian, ponselnya berdering. Aris menelepon.

"Rania, kamu di mana? Kita perlu bicara."

"Oke."

Kebetulan, Rania juga ingin bicara dengannya soal perceraian.

Rania naik taksi menuju rumah sakit. Belum sempat dia masuk ke kamar rawat, dia melihat sekelompok karyawan kantor membawa tumpukan kado, berjalan menuju kamar rawat Ghea.

"Bener-bener nggak nyangka ya, Ghea sudah melahirkan saja."

"Nggak perlu kaget kali, 'kan memang sudah sembilan bulan. Yang aku nggak nyangka itu, ternyata itu anaknya Pak Aris. Menurut kalian, istrinya Pak Aris tahu nggak ya soal ini?"

"Harusnya tahu, sih. Kalau nggak tahu berarti dia bodoh banget! Siapa sih yang nggak tahu kalau dulu Pak Aris tiba-tiba nyuruh istrinya diam di rumah dan ganti sekretaris demi naruh Ghea di sisinya? Mahasiswi cantik yang baru lulus, kalau aku jadi Pak Aris, aku juga bakal suka."

"Pak Aris beruntung banget ya, siang main di kantor, malam lanjut di rumah, dapet giliran dua wanita sekaligus. Kalian tahu nggak? Aku sempat mergokin beberapa kali lho, di ruang kerja, di pantri, bahkan di toilet. Mainnya gila banget."

"Sudah, sudah, jangan ngomong sembarangan. Nanti saat di dalam, kalian semua tutup mulut ya."

Mereka pun masuk, meninggalkan Rania yang berdiri mematung sendirian di depan pintu.

Ternyata, dia sudah lama berhubungan dengan Ghea?

Ternyata seluruh karyawan kantor sudah tahu, hanya dia sendiri yang selama ini dibodohi.

Dengan sudut bibir yang gemetar, Rania mengangkat tangannya dan tetap mendorong pintu kamar rawat itu.

Begitu melihat kehadirannya, wajah semua orang seketika berubah pucat.

Hanya Ghea yang sedang berbaring di tempat tidur tampak senang melihat kedatangannya.

"Bu Rania, maaf ya, apa aku sudah bikin kamu kaget? Tapi, syukurlah, bayinya nggak apa-apa. Gimana kalau dia aku suruh memanggilmu Ibu Angkat? Nanti kalau anakmu sudah lahir, mereka bisa jadi teman, kita besarkan mereka seperti saudara kandung, pasti seru banget, 'kan?"

Mendengar itu, Rania rasanya ingin tertawa saking mirisnya.

Ini zaman apa? Bagaimana mungkin hal sekonyol ini bisa terjadi?

"Aris, kenapa kamu nyuruh aku datang ke sini?"

"Aku mau tanya, kamu sudah tenang belum?" Aris berjalan mendekat, suaranya sedikit melunak. "Aku sudah bilang, ini semua kecelakaan. Waktu itu aku mabuk di pesta, aku kira dia itu kamu, makanya sampai ngelakuin itu. Setelah itu, dia hamil. Aku nggak mungkin lepas tangan gitu aja. Percaya sama aku, orang yang paling aku sayang itu cuma kamu. Aku juga janji, posisi Nyonya Wijaya selamanya cuma milik kamu."

"Kamu pikir aku bersamamu karena aku butuh posisi Nyonya Wijaya itu?"

Rania menatapnya tajam. Sampai sekarang, Aris tidak pernah tahu identitas aslinya.

Aris mengira Rania hanyalah gadis dari keluarga biasa yang bekerja di perusahaannya, lalu jatuh cinta padanya dan menikahinya.

Aris pikir Rania beruntung bisa mendapatkan pria seperti Aris, padahal Aris tidak tahu kalau selama bertahun-tahun ini, banyak proyek besar perusahaannya didapat karena Rania yang meminta bantuan kakaknya.

Kakaknya dulu sempat bilang, saat anaknya lahir nanti, dia akan datang dari luar negeri untuk menemui Aris, sekaligus menyerahkan beberapa proyek domestik besar kepadanya.

Akan tetapi, sekarang, semua itu tidak perlu lagi. Karena anak ini tidak akan lahir dan Aris pun sudah tidak dia inginkan lagi.

"Terus kamu maunya apa?" Aris mulai kehilangan kesabaran. "Rania, hari ini hari bahagia, aku nggak mau ribut sama kamu."

"Pak Aris, Bu Ghea." Seorang perawat masuk ke kamar. "Waktunya mengurus akta kelahiran bayinya. Ayah dan ibunya harus datang bersama."

Begitu perawat itu pergi, Ghea tiba-tiba mulai menangis.

"Huhu ...."

"Kenapa, Ghea?" Aris berjalan menghampiri dengan panik, tetapi tangis Ghea malah makin pecah.

"Nggak apa-apa. Aku cuma takut orang-orang bilang bayiku anak haram. Urus akta, masuk ke Kartu Keluarga ... banyak orang yang lihat."

Begitu Ghea selesai bicara, Aris langsung mendongak menatap Rania.

"Rania, memang kenyataannya anak Ghea yang lahir duluan. Gimana kalau kita cerai dulu sekarang? Nanti setelah anakmu lahir, baru kita rujuk lagi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 24

    Suara sirine polisi akhirnya berhenti tepat di depan restoran. Begitu melihat polisi menyerbu masuk dan meringkus Ghea, Reza akhirnya bisa bernapas lega sebelum akhirnya jatuh pingsan sepenuhnya."Reza!"Rania panik. Dia merangkak mendekati Reza, air matanya terus mengalir melihat kondisi pria itu yang sudah sekarat."Pak Polisi, tolong selamatkan dia!""Kenapa kalian menangkapku? Lepaskan! Aku nggak salah, lepaskan aku! Aku harus membunuhnya! Rania, aku akan membunuhmu!"Meski sudah ditangkap polisi, Ghea tetap mencengkeram tongkat bisbolnya dan menolak melepaskannya."Kami peringatkan, segera letakkan senjatamu atau kami akan melakukan tindakan tegas!"Polisi memberi peringatan keras, tetapi Ghea sama sekali tidak gentar."Aku akan membunuh Rania! Rania, aku akan membunuhmu!"Baru setelah polisi mengeluarkan pistol, Ghea akhirnya berhenti berteriak.Dia dibawa pergi oleh polisi, tetapi matanya tetap menatap tajam ke arah Rania."Lebih baik jangan biarkan aku keluar, kalau nggak Rania

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 23

    "Kamu sudah gila? Kamu mau membunuhku? Apa kamu nggak tahu kalau ini melanggar hukum?"Rania tahu kakaknya sudah tersambung di telepon. Sekarang dia hanya perlu mengulur waktu sampai kakaknya mengirim bantuan untuk menyelamatkan mereka."Melakukan hal yang melanggar hukum bukan pertama kalinya bagiku, 'kan?"Ghea menatap tajam ke arah Rania yang berada di bawah meja, sorot matanya penuh dengan kebencian."Sudah kubilang, aku nggak akan melepaskanmu! Lihat, sekarang waktunya sudah tiba, 'kan?"Ghea bertepuk tangan dan seketika lampu di seluruh ruangan menyala.Cahaya yang menyilaukan membuat Rania sempat tidak bisa membuka mata. Saat dia mulai terbiasa dan melihat sekitar, dia baru menyadari bahwa semua pengunjung yang tidak berkepentingan telah menghilang, entah sejak kapan mereka semua dibawa pergi.Rania mendongak, menatap wanita di depannya dengan tangan mengepal kuat.Saat ini, dia lebih membenci Aris.Jika bukan karena pria itu, Ghea tidak akan melakukan hal sejauh ini kepadanya.

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 22

    Entah karena suasana hati yang terlanjur rusak oleh kehadiran Ghea, makan malam mereka setelah itu terasa sama sekali tidak menyenangkan.Tepat saat mereka hendak bangkit berdiri untuk membayar tagihan.Lampu restoran tiba-tiba padam. Kerumunan orang mulai berteriak histeris dan seseorang berteriak, "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mati lampu?""Restoran semewah ini, bagaimana mungkin bisa melakukan kesalahan amatir seperti ini?""Harap semuanya tenang! Kami sudah mengirim petugas untuk melakukan perbaikan. Mohon tetap duduk di tempat masing-masing dan jangan bergerak!"Melihat restoran yang gelap gulita, Rania seketika merasakan firasat yang sangat buruk.Reza pun merasa khawatir, dia berbisik pelan, "Rania, kamu di situ?""Iya, aku di sini.""Berikan tanganmu padaku."Baru setelah mendengar suaranya dan menggenggam telapak tangannya, Reza merasa sedikit tenang.Dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan lampu senter.Baru saja dia hendak memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba pin

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 21

    "Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?" Aris menatapnya dengan raut penuh kekecewaan. "Kamu masih belum menyesal juga?""Diam!" Ghea mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan keras ke wajah Aris. "Beraninya kamu menceramahiku? Kalau bukan karenamu, mana mungkin aku sampai .... Aris, hari ini aku memberimu tiga pilihan. Pertama, bayar ganti rugi. Kedua, berlutut dan minta maaf padaku. Ketiga, masuk penjara."Aris menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Dia tidak punya uang, tetapi kalau harus berlutut, itu benar-benar mustahil baginya."Kalau begitu, aku terpaksa menjebloskanmu ke penjara. Tapi, ingat, kamu nggak akan pernah bisa melihat Rania lagi seumur hidupmu karena malam ini juga aku akan membunuhnya."Setelah berkata demikian, Ghea hendak melangkah pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara bruk! Aris berlutut di hadapannya."Aku yang salah, Ghea. Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu. Asalkan kamu nggak menyentuh Rania sedikit pun, aku nggak keberatan bersujud minta maaf

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 20

    Ghea menghabiskan banyak tenaga dan pikiran demi membuat Iwan senang.Iwan benar-benar berbeda dari semua pria yang pernah dia temui sebelumnya. Dia sangat suka memainkan permainan kecil yang menyimpang.Jika bukan karena pengalaman Ghea sebelumnya, dia mungkin tidak akan sanggup bertahan melewati satu malam saja.Saat Ghea terbangun, Iwan sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa sambil merokok.Dia sedang menatap tabletnya. Begitu melihat Ghea bangun, dia berkata dengan perlahan, "Mulai sekarang, ikutlah denganku."Ghea mengerti betul apa maksud dari perkataan pria itu.Ini berarti, mulai hari ini, dia telah resmi menjadi wanita milik Iwan."Oke, aku mengerti."Ghea turun dari tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur sutranya."Aku mau mandi dulu."Melangkah masuk ke kamar mandi, Ghea menanggalkan pakaiannya. Saat menatap bayangan dirinya di cermin, yang dipenuhi memar dan luka di sekujur tubuh, air matanya jatuh membasahi pipinya.Dia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dia harus

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 19

    Setelah tinggal di kediaman Keluarga Pratama selama hampir satu bulan, suasana hati Rania pun menjadi jauh lebih baik.Reza memikirkan berbagai cara untuk menghiburnya. Setiap hari dia membawa Rania pergi ke berbagai tempat untuk menenangkan pikiran, bahkan sampai jarang mengurusi masalah perusahaannya.Hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah pulang dengan membawa seekor anak kucing di tangannya.Seekor kucing berwarna keemasan berkaki pendek yang sangat menggemaskan.Melihat anak kucing itu, Rania menutup mulutnya dengan heran. "Kok ada anak kucing? Apa kamu yang membelinya?""Iya. Beberapa hari lalu aku lihat kamu sering menonton berbagai video kucing, aku tebak kamu pasti suka, jadi aku pergi carikan satu untukmu. Kamu suka?"Reza meletakkan anak kucing itu di lantai dan tak disangka, si kucing langsung berlari menghampiri Rania.Melihat kucing itu begitu menyukainya, Rania tidak tahan untuk tidak membungkuk dan menggendongnya ke dalam pelukan."Lucu banget, bulunya lembut. Jadi, sekar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status