LOGINSuara sirine polisi akhirnya berhenti tepat di depan restoran. Begitu melihat polisi menyerbu masuk dan meringkus Ghea, Reza akhirnya bisa bernapas lega sebelum akhirnya jatuh pingsan sepenuhnya."Reza!"Rania panik. Dia merangkak mendekati Reza, air matanya terus mengalir melihat kondisi pria itu yang sudah sekarat."Pak Polisi, tolong selamatkan dia!""Kenapa kalian menangkapku? Lepaskan! Aku nggak salah, lepaskan aku! Aku harus membunuhnya! Rania, aku akan membunuhmu!"Meski sudah ditangkap polisi, Ghea tetap mencengkeram tongkat bisbolnya dan menolak melepaskannya."Kami peringatkan, segera letakkan senjatamu atau kami akan melakukan tindakan tegas!"Polisi memberi peringatan keras, tetapi Ghea sama sekali tidak gentar."Aku akan membunuh Rania! Rania, aku akan membunuhmu!"Baru setelah polisi mengeluarkan pistol, Ghea akhirnya berhenti berteriak.Dia dibawa pergi oleh polisi, tetapi matanya tetap menatap tajam ke arah Rania."Lebih baik jangan biarkan aku keluar, kalau nggak Rania
"Kamu sudah gila? Kamu mau membunuhku? Apa kamu nggak tahu kalau ini melanggar hukum?"Rania tahu kakaknya sudah tersambung di telepon. Sekarang dia hanya perlu mengulur waktu sampai kakaknya mengirim bantuan untuk menyelamatkan mereka."Melakukan hal yang melanggar hukum bukan pertama kalinya bagiku, 'kan?"Ghea menatap tajam ke arah Rania yang berada di bawah meja, sorot matanya penuh dengan kebencian."Sudah kubilang, aku nggak akan melepaskanmu! Lihat, sekarang waktunya sudah tiba, 'kan?"Ghea bertepuk tangan dan seketika lampu di seluruh ruangan menyala.Cahaya yang menyilaukan membuat Rania sempat tidak bisa membuka mata. Saat dia mulai terbiasa dan melihat sekitar, dia baru menyadari bahwa semua pengunjung yang tidak berkepentingan telah menghilang, entah sejak kapan mereka semua dibawa pergi.Rania mendongak, menatap wanita di depannya dengan tangan mengepal kuat.Saat ini, dia lebih membenci Aris.Jika bukan karena pria itu, Ghea tidak akan melakukan hal sejauh ini kepadanya.
Entah karena suasana hati yang terlanjur rusak oleh kehadiran Ghea, makan malam mereka setelah itu terasa sama sekali tidak menyenangkan.Tepat saat mereka hendak bangkit berdiri untuk membayar tagihan.Lampu restoran tiba-tiba padam. Kerumunan orang mulai berteriak histeris dan seseorang berteriak, "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mati lampu?""Restoran semewah ini, bagaimana mungkin bisa melakukan kesalahan amatir seperti ini?""Harap semuanya tenang! Kami sudah mengirim petugas untuk melakukan perbaikan. Mohon tetap duduk di tempat masing-masing dan jangan bergerak!"Melihat restoran yang gelap gulita, Rania seketika merasakan firasat yang sangat buruk.Reza pun merasa khawatir, dia berbisik pelan, "Rania, kamu di situ?""Iya, aku di sini.""Berikan tanganmu padaku."Baru setelah mendengar suaranya dan menggenggam telapak tangannya, Reza merasa sedikit tenang.Dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan lampu senter.Baru saja dia hendak memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba pin
"Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?" Aris menatapnya dengan raut penuh kekecewaan. "Kamu masih belum menyesal juga?""Diam!" Ghea mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan keras ke wajah Aris. "Beraninya kamu menceramahiku? Kalau bukan karenamu, mana mungkin aku sampai .... Aris, hari ini aku memberimu tiga pilihan. Pertama, bayar ganti rugi. Kedua, berlutut dan minta maaf padaku. Ketiga, masuk penjara."Aris menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Dia tidak punya uang, tetapi kalau harus berlutut, itu benar-benar mustahil baginya."Kalau begitu, aku terpaksa menjebloskanmu ke penjara. Tapi, ingat, kamu nggak akan pernah bisa melihat Rania lagi seumur hidupmu karena malam ini juga aku akan membunuhnya."Setelah berkata demikian, Ghea hendak melangkah pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara bruk! Aris berlutut di hadapannya."Aku yang salah, Ghea. Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu. Asalkan kamu nggak menyentuh Rania sedikit pun, aku nggak keberatan bersujud minta maaf
Ghea menghabiskan banyak tenaga dan pikiran demi membuat Iwan senang.Iwan benar-benar berbeda dari semua pria yang pernah dia temui sebelumnya. Dia sangat suka memainkan permainan kecil yang menyimpang.Jika bukan karena pengalaman Ghea sebelumnya, dia mungkin tidak akan sanggup bertahan melewati satu malam saja.Saat Ghea terbangun, Iwan sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa sambil merokok.Dia sedang menatap tabletnya. Begitu melihat Ghea bangun, dia berkata dengan perlahan, "Mulai sekarang, ikutlah denganku."Ghea mengerti betul apa maksud dari perkataan pria itu.Ini berarti, mulai hari ini, dia telah resmi menjadi wanita milik Iwan."Oke, aku mengerti."Ghea turun dari tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur sutranya."Aku mau mandi dulu."Melangkah masuk ke kamar mandi, Ghea menanggalkan pakaiannya. Saat menatap bayangan dirinya di cermin, yang dipenuhi memar dan luka di sekujur tubuh, air matanya jatuh membasahi pipinya.Dia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dia harus
Setelah tinggal di kediaman Keluarga Pratama selama hampir satu bulan, suasana hati Rania pun menjadi jauh lebih baik.Reza memikirkan berbagai cara untuk menghiburnya. Setiap hari dia membawa Rania pergi ke berbagai tempat untuk menenangkan pikiran, bahkan sampai jarang mengurusi masalah perusahaannya.Hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah pulang dengan membawa seekor anak kucing di tangannya.Seekor kucing berwarna keemasan berkaki pendek yang sangat menggemaskan.Melihat anak kucing itu, Rania menutup mulutnya dengan heran. "Kok ada anak kucing? Apa kamu yang membelinya?""Iya. Beberapa hari lalu aku lihat kamu sering menonton berbagai video kucing, aku tebak kamu pasti suka, jadi aku pergi carikan satu untukmu. Kamu suka?"Reza meletakkan anak kucing itu di lantai dan tak disangka, si kucing langsung berlari menghampiri Rania.Melihat kucing itu begitu menyukainya, Rania tidak tahan untuk tidak membungkuk dan menggendongnya ke dalam pelukan."Lucu banget, bulunya lembut. Jadi, sekar







