Share

Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru
Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru
Penulis: Ani

Bab 1

Penulis: Ani
Saat usia kehamilan Rania Kavi menginjak empat bulan, suaminya, Aris Wijaya, tiba-tiba membawa sekretaris mudanya yang juga sedang hamil pulang ke rumah.

"Rania, suaminya Ghea Pandya baru saja meninggal. Aku nggak tenang kalau dia sendirian di rumah, jadi biar dia menginap di sini dulu beberapa hari. Kamu hamil empat bulan, dia tujuh bulan. Kalian berdua bisa saling nemenin."

Rania sangat memercayai Aris. Dia tidak berpikir macam-macam, hatinya luluh dan langsung setuju.

Selama dua bulan berikutnya, Rania memperlakukan gadis itu dengan sangat tulus. Mulai dari krim wajah khusus ibu hamil sampai sarang burung walet untuk suplemen, Rania tidak pernah pelit.

Sampai sore itu, dia sengaja pergi ke area parkir untuk menjemput Aris, tetapi malah memergoki adegan yang menjijikkan.

Mobil Aris terparkir di tempatnya dengan kaca jendela yang terbuka setengah. Seorang wanita tampak duduk di pangkuan Aris dengan pakaian yang sudah berantakan ....

Juga, ekspresi penuh gairah serta tenggelam dalam nikmat di wajah Aris itu adalah ekspresi yang tidak pernah Rania lihat lagi sejak dia hamil.

Seluruh darahnya terasa membeku. Di otak Rania hanya tersisa satu pikiran, Aris selingkuh.

Dia melangkahkan kaki dengan kaku, berjalan mendekat selangkah demi selangkah karena ingin melihat jelas siapa wanita itu.

Tiba-tiba, wanita di dalam mobil itu mengibaskan rambutnya, memperlihatkan profil samping wajah yang sangat Rania kenali.

Ternyata itu Ghea! Sekretaris yang baru direkrut Aris belum genap setahun.

Ternyata Ghea, orang yang sudah tinggal di rumahnya selama dua bulan dan selalu memanggilnya Kak Rania dengan manis!

Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Rania menggigit bibirnya kuat-kuat, merasakan jantungnya yang berdenyut sakit, bahkan perutnya pun mulai ikut terasa nyeri.

"Aris, kamu kapan mau bilang ke istrimu kalau anak di perutku ini anakmu?"

Ghea mengulurkan tangan, menarik dasi pria itu dengan suara yang terdengar sangat manja. "Aku sekarang sudah hamil delapan bulan, lho, sebentar lagi mau melahirkan! Kalau terus disembunyikan, lama-lama juga bakal ketahuan."

Aris mengangkat tangannya, mengelus pipi wanita itu dengan nada bicara yang sangat lembut.

"Sebentar lagi. Dia sekarang lagi hamil, nggak boleh kena stimulasi. Nanti kalau anakmu dan anak dia sudah lahir semua, baru aku kasih tahu. Saat waktu itu tiba, dia juga nggak bakal bisa apa-apa."

"Bener juga sih, dia 'kan cinta banget sama kamu. Walaupun tahu anak di perutku ini anakmu, dia nggak bakal berbuat macam-macam." Wanita itu menarik sudut bibirnya, lalu tertawa. "Terus menurutmu, siapa yang lebih hebat? Aku atau dia? Kata dia, sejak dia hamil, kamu nggak pernah sentuh dia, tapi kenapa kamu malah sentuh aku? Aku 'kan sudah mau melahirkan, tapi masih saja kamu siksa begini!"

"Ya jelas kamu yang lebih hebat. Aku suka banget sama kamu, itu karena badanmu bagus. Kamu lihat dia, baru hamil empat bulan saja sudah kayak bola."

Pantas saja. Pantas saja setelah Rania hamil, Aris tidak pernah lagi menyentuhnya. Ternyata Aris merasa jijik padanya!

Akan tetapi, Ghea sudah hamil delapan bulan, sudah mau melahirkan, dan mereka masih sempat-sempatnya selingkuh di dalam mobil!

Hatinya hancur berkeping-keping saat itu juga. Rania merasa dunianya seolah berputar hebat, seakan dia akan jatuh terjerembab ke lantai.

Dia segera berpegangan pada pilar di sampingnya agar bisa tetap berdiri tegak.

Rasa mual khas awal kehamilan tiba-tiba menyerang, membuatnya langsung mual dan ingin muntah.

Suara gaduh itu sontak menarik perhatian Aris dan Ghea.

Begitu melihat sosok Rania, wajah keduanya langsung berubah pucat.

Aris buru-buru merapikan pakaiannya dan berlari menghampiri dengan nada panik.

"Rania, kamu nggak apa-apa? Kamu ngapain di sini? 'Kan sudah aku bilang di luar dingin, tunggu aku pulang di rumah saja!"

"Iya, Kak Rania. Tadi aku 'kan sudah bilang kalau Pak Aris ada urusan malam ini dan bakal pulang agak telat."

Saat mereka berdua mendekat, bahkan celana Aris pun belum terkancing dengan benar.

Ghea berjalan mendekat dengan santai sambil sengaja membusungkan perut buncitnya, benar-benar menunjukkan gestur seorang pemenang.

Melihat Rania yang mualnya makin parah, Aris melangkah maju hendak memegangnya, tetapi Rania mendadak mundur selangkah.

"Jangan sentuh aku!"

Aris baru saja berhubungan dengan wanita lain, Rania merasa suaminya itu sangat kotor!

"Rania, dengarkan aku dulu." Aris takut istrinya akan makin syok, jadi dia langsung berusaha menjelaskan. "Ini cuma kecelakaan. Ghea hamil anakku, aku nggak mungkin lepas tangan. Kalian berdua sama-sama hamil, jadi ada teman, 'kan? Ini hal bagus. Aku lihat selama ini kalian juga akrab-akrab saja."

"Ada teman?"

Rania menatap pria di depannya dengan penuh keterkejutan. Bagaimana bisa Aris mengucapkan kata-kata sejahat itu?

"Kamu sudah gila, ya? Kamu sadar nggak sih ngomong apa? Kamu selingkuh, menghamili orang lain, terus dengan nggak tahu malunya bilang kalau ini supaya aku ada teman? Aku lagi mengandung anakmu, Aris! Sudah enam bulan, tapi ini cara kamu memperlakukan aku?"

"Aduh, Kak Rania, kok ngomongnya gitu? Aku saja nggak masalah, kok. Aku juga nggak bakal rebut posisi kamu sebagai Nyonya Wijaya. Aku cuma mau dampingi Kak Aris dalam diam dan membesarkan anaknya, itu saja sudah cukup buat aku. Jadi, Kak Rania jangan marah lagi, ya?"

Ghea melangkah maju dan tiba-tiba mencengkeram lenganku.

"Pergi kamu! Ghea, aku sudah anggap kamu kayak saudara sendiri, tapi kamu malah tega begini? Kamu senang ya lihat aku kayak orang bodoh yang kamu permainkan terus?"

Rania menepis tangan Ghea, tetapi tiba-tiba Ghea malah terjatuh ke belakang.

Ghea menjerit kesakitan, "Ah! Aris, perutku sakit banget. Apa aku bakal keguguran? Huhu, aku takut ...."

"Jangan takut, Ghea. Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang, anak kita pasti nggak apa-apa."

Aris segera menggendong Ghea ke dalam mobil. Sebelum pergi, dia sempat memelototi Rania dengan tajam.

"Rania, 'kan sudah dibilang ini cuma kecelakaan! Kamu mau ribut sampai kapan, sih? Aku peringatkan ya, kamu berdoa saja supaya anak ini nggak kenapa-kenapa! Kalau sampai terjadi sesuatu, aku akan menceraikanmu!"

Cerai? Heh, itu memang yang dia harapkan.

Melihat mobil itu melesat pergi, Rania teringat kembali hari pertama dia bertemu dengan Aris.

Waktu itu dia ikut kakaknya pergi ke sebuah perjamuan bisnis dan melihat Aris yang memakai kemeja putih sedang membawa proposal proyek perusahaannya, sibuk mencari orang untuk berinvestasi.

Akan tetapi, setiap bos besar yang Aris temui selalu memandang rendah perusahaan kecilnya dan menolak mentah-mentah.

Walaupun sudah ditolak berkali-kali, Aris tetap tidak mau menyerah.

Rania sempat menghitungnya. Malam itu, Aris mendatangi total 35 bos besar, tetapi yang mau bicara dengannya bahkan tidak sampai lima orang.

Lalu, kakaknya menghampiri, menyadari arah pandangannya, dan bertanya penasaran, "Kenapa? Kamu suka?"

"Aku rasa dia orang yang menarik. Kak, bukannya kakak balik ke sini memang mau investasi di beberapa perusahaan kecil? Kasih dia kesempatan, ya?"

Setelah itu, kakaknya berinisiatif mendatangi Aris dan memberikan kartu namanya.

Beberapa bulan kemudian, kakaknya bilang padanya kalau pemuda ini sangat hebat dan berbakat.

Karena sudah jatuh hati, Rania mulai menyembunyikan identitas aslinya dan bekerja di perusahaan Aris.

Selama tahun-tahun tersulit perusahaan, Rania selalu mendampingi Aris melewatinya.

Di hari perusahaan Grup Wijaya resmi melantai di bursa saham, Aris berlutut di hadapan Rania di depan semua orang di kantor.

"Rania, kamu mau nggak menikah denganku, jadi Nyonya Wijaya seumur hidup? Aku bersumpah! Seumur hidup aku nggak akan pernah menceraikanmu! Kalau aku langgar, biarkan aku disambar petir dan biarkan perusahaan yang aku bangun ini hancur jadi debu!"

Masa-masa setelah menikah benar-benar terasa bahagia, sampai akhirnya Rania didiagnosis menderita penyakit lambung. Aris menyuruhnya beristirahat di rumah, melarangnya pergi bekerja ke kantor lagi, dan merekrut seorang sekretaris baru.

Awalnya Aris sangat perhatian, jadi Rania tidak ambil pusing.

Akan tetapi, lama-kelamaan, Aris pulang makin larut dan aroma parfum di tubuhnya tercium makin menyengat.

Meski begitu, Rania tidak pernah mencurigainya. Dia hanya berpikir Aris sedang sibuk menjamu klien, jadi hal-hal seperti itu tidak terelakkan.

Bahkan sampai Aris membawa Ghea ke rumah pun, Rania tetap memercayainya.

Selama dua bulan itu, ada beberapa malam di mana Aris tiba-tiba menghilang. Rania hanya mengira suaminya sedang sibuk mengurus pekerjaan.

Akan tetapi, kalau dipikir-pikir sekarang, suara-suara mesra yang dia dengar di tengah malam itu jelas-jelas suara Aris dan Ghea yang sedang bercumbu di berbagai sudut rumah mereka!

Dia memang terlalu bodoh. Kakaknya pernah bilang kalau menikah dengan laki-laki panjat sosial tidak akan berakhir baik, tetapi Rania tidak mau dengar. Sekarang, Rania kena batunya.

Karena Aris sendiri yang minta cerai, ya sudah, cerai saja.

Bahkan anak di dalam kandungannya ini pun, Rania sudah tidak mau lagi!

Sambil menahan rasa sakit di hatinya, Rania mengeluarkan ponsel dan melakukan dua panggilan telepon.

Panggilan pertama, ditujukan kepada kakaknya yang merupakan seorang konglomerat di luar negeri. "Kak, Aris selingkuh. Aku mau cerai, aku mau ke tempat Kakak."

Panggilan kedua, ditujukan ke rumah sakit. "Aku mau buat janji jadwalkan operasi aborsi secepatnya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 24

    Suara sirine polisi akhirnya berhenti tepat di depan restoran. Begitu melihat polisi menyerbu masuk dan meringkus Ghea, Reza akhirnya bisa bernapas lega sebelum akhirnya jatuh pingsan sepenuhnya."Reza!"Rania panik. Dia merangkak mendekati Reza, air matanya terus mengalir melihat kondisi pria itu yang sudah sekarat."Pak Polisi, tolong selamatkan dia!""Kenapa kalian menangkapku? Lepaskan! Aku nggak salah, lepaskan aku! Aku harus membunuhnya! Rania, aku akan membunuhmu!"Meski sudah ditangkap polisi, Ghea tetap mencengkeram tongkat bisbolnya dan menolak melepaskannya."Kami peringatkan, segera letakkan senjatamu atau kami akan melakukan tindakan tegas!"Polisi memberi peringatan keras, tetapi Ghea sama sekali tidak gentar."Aku akan membunuh Rania! Rania, aku akan membunuhmu!"Baru setelah polisi mengeluarkan pistol, Ghea akhirnya berhenti berteriak.Dia dibawa pergi oleh polisi, tetapi matanya tetap menatap tajam ke arah Rania."Lebih baik jangan biarkan aku keluar, kalau nggak Rania

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 23

    "Kamu sudah gila? Kamu mau membunuhku? Apa kamu nggak tahu kalau ini melanggar hukum?"Rania tahu kakaknya sudah tersambung di telepon. Sekarang dia hanya perlu mengulur waktu sampai kakaknya mengirim bantuan untuk menyelamatkan mereka."Melakukan hal yang melanggar hukum bukan pertama kalinya bagiku, 'kan?"Ghea menatap tajam ke arah Rania yang berada di bawah meja, sorot matanya penuh dengan kebencian."Sudah kubilang, aku nggak akan melepaskanmu! Lihat, sekarang waktunya sudah tiba, 'kan?"Ghea bertepuk tangan dan seketika lampu di seluruh ruangan menyala.Cahaya yang menyilaukan membuat Rania sempat tidak bisa membuka mata. Saat dia mulai terbiasa dan melihat sekitar, dia baru menyadari bahwa semua pengunjung yang tidak berkepentingan telah menghilang, entah sejak kapan mereka semua dibawa pergi.Rania mendongak, menatap wanita di depannya dengan tangan mengepal kuat.Saat ini, dia lebih membenci Aris.Jika bukan karena pria itu, Ghea tidak akan melakukan hal sejauh ini kepadanya.

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 22

    Entah karena suasana hati yang terlanjur rusak oleh kehadiran Ghea, makan malam mereka setelah itu terasa sama sekali tidak menyenangkan.Tepat saat mereka hendak bangkit berdiri untuk membayar tagihan.Lampu restoran tiba-tiba padam. Kerumunan orang mulai berteriak histeris dan seseorang berteriak, "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mati lampu?""Restoran semewah ini, bagaimana mungkin bisa melakukan kesalahan amatir seperti ini?""Harap semuanya tenang! Kami sudah mengirim petugas untuk melakukan perbaikan. Mohon tetap duduk di tempat masing-masing dan jangan bergerak!"Melihat restoran yang gelap gulita, Rania seketika merasakan firasat yang sangat buruk.Reza pun merasa khawatir, dia berbisik pelan, "Rania, kamu di situ?""Iya, aku di sini.""Berikan tanganmu padaku."Baru setelah mendengar suaranya dan menggenggam telapak tangannya, Reza merasa sedikit tenang.Dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan lampu senter.Baru saja dia hendak memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba pin

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 21

    "Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?" Aris menatapnya dengan raut penuh kekecewaan. "Kamu masih belum menyesal juga?""Diam!" Ghea mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan keras ke wajah Aris. "Beraninya kamu menceramahiku? Kalau bukan karenamu, mana mungkin aku sampai .... Aris, hari ini aku memberimu tiga pilihan. Pertama, bayar ganti rugi. Kedua, berlutut dan minta maaf padaku. Ketiga, masuk penjara."Aris menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Dia tidak punya uang, tetapi kalau harus berlutut, itu benar-benar mustahil baginya."Kalau begitu, aku terpaksa menjebloskanmu ke penjara. Tapi, ingat, kamu nggak akan pernah bisa melihat Rania lagi seumur hidupmu karena malam ini juga aku akan membunuhnya."Setelah berkata demikian, Ghea hendak melangkah pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara bruk! Aris berlutut di hadapannya."Aku yang salah, Ghea. Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu. Asalkan kamu nggak menyentuh Rania sedikit pun, aku nggak keberatan bersujud minta maaf

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 20

    Ghea menghabiskan banyak tenaga dan pikiran demi membuat Iwan senang.Iwan benar-benar berbeda dari semua pria yang pernah dia temui sebelumnya. Dia sangat suka memainkan permainan kecil yang menyimpang.Jika bukan karena pengalaman Ghea sebelumnya, dia mungkin tidak akan sanggup bertahan melewati satu malam saja.Saat Ghea terbangun, Iwan sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa sambil merokok.Dia sedang menatap tabletnya. Begitu melihat Ghea bangun, dia berkata dengan perlahan, "Mulai sekarang, ikutlah denganku."Ghea mengerti betul apa maksud dari perkataan pria itu.Ini berarti, mulai hari ini, dia telah resmi menjadi wanita milik Iwan."Oke, aku mengerti."Ghea turun dari tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur sutranya."Aku mau mandi dulu."Melangkah masuk ke kamar mandi, Ghea menanggalkan pakaiannya. Saat menatap bayangan dirinya di cermin, yang dipenuhi memar dan luka di sekujur tubuh, air matanya jatuh membasahi pipinya.Dia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dia harus

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 19

    Setelah tinggal di kediaman Keluarga Pratama selama hampir satu bulan, suasana hati Rania pun menjadi jauh lebih baik.Reza memikirkan berbagai cara untuk menghiburnya. Setiap hari dia membawa Rania pergi ke berbagai tempat untuk menenangkan pikiran, bahkan sampai jarang mengurusi masalah perusahaannya.Hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah pulang dengan membawa seekor anak kucing di tangannya.Seekor kucing berwarna keemasan berkaki pendek yang sangat menggemaskan.Melihat anak kucing itu, Rania menutup mulutnya dengan heran. "Kok ada anak kucing? Apa kamu yang membelinya?""Iya. Beberapa hari lalu aku lihat kamu sering menonton berbagai video kucing, aku tebak kamu pasti suka, jadi aku pergi carikan satu untukmu. Kamu suka?"Reza meletakkan anak kucing itu di lantai dan tak disangka, si kucing langsung berlari menghampiri Rania.Melihat kucing itu begitu menyukainya, Rania tidak tahan untuk tidak membungkuk dan menggendongnya ke dalam pelukan."Lucu banget, bulunya lembut. Jadi, sekar

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 6

    "Mati?" Rania menatap wanita di depannya dengan tatapan kosong. "Apa urusannya denganku kalau dia mati? Bukannya kamu sendiri yang membekap anakmu sampai mati?""Apa kamu bilang? Kamu masih berani memfitnahku! Mana mungkin aku membunuh anakku sendiri! Huhu ... Aris, kamu harus tuntut keadilan buat a

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 5

    Melihat adegan itu, wajah Rania seketika berubah pucat pasi."Apa yang kamu lakukan? Itu anakmu sendiri!"Rania bergegas maju, hendak merebut bantal itu.Akan tetapi, Ghea selangkah lebih cepat. Dia justru memberikan bantal tersebut ke tangan Rania."Jangan! Kak Rania, aku mohon jangan perlakukan an

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 4

    Setelah operasi aborsi, kondisi fisik Rania sangat lemah.Dia menelepon ke rumah, meminta asisten rumah tangganya untuk memasakkan sup ayam dan mengantarkannya ke rumah sakit untuk dia minum.Saat si asisten sudah selesai memasak dan membawa sup ayam tersebut ke rumah sakit, dia malah berpapasan den

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 3

    Semua orang yang ada di sana seketika menarik napas cepat karena terkejut mendengar ucapan itu.Hanya sudut bibir Ghea yang melengkung membentuk senyum kemenangan.Pandangan semua orang kini tertuju pada Rania, seolah-olah mereka sedang menunggu tontonan drama yang seru.Akan tetapi, Rania justru me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status