แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Ani
Setelah operasi aborsi, kondisi fisik Rania sangat lemah.

Dia menelepon ke rumah, meminta asisten rumah tangganya untuk memasakkan sup ayam dan mengantarkannya ke rumah sakit untuk dia minum.

Saat si asisten sudah selesai memasak dan membawa sup ayam tersebut ke rumah sakit, dia malah berpapasan dengan Aris dan Ghea.

"Bibi Aminah, kenapa Bibi ada di sini?"

"Pak Aris, aku diminta Nyonya untuk menyiapkan sup ayam dan mengantarkannya ke rumah sakit."

"Oh, ya?" Aris mengernyitkan dahi. "Untuk apa dia minta Bibi menyiapkan ini?"

"Mungkin untuk diberikan kepadaku?"

Ghea langsung mengulurkan tangan dan merebut sup ayam itu dari tangan si asisten. "Wah, Kak Rania baik banget, ya. Dia selalu memikirkanku, sampai-sampai menyuruh orang rumah menyiapkan sup ayam supaya nutrisiku terpenuhi."

"Iya, dia memang sangat perhatian."

Aris mengangguk, bahkan dia berpesan kepada asisten rumah tangganya agar selama beberapa hari ke depan, dia harus terus menyiapkan sup ayam untuk Ghea.

"Tapi, ini ... Pak, ini sebenarnya Nyonya yang …."

"Sudah, jangan banyak alasan. Cuma semangkuk sup ayam saja, jangan-jangan kamu malas memasaknya? Aku kasih tahu ya, nanti aku yang jadi Nyonya Wijaya, jadi kamu juga harus dengar kata-kataku!"

Ghea mulai membentak, membuat si asisten tidak berani membantah dan hanya bisa mengangguk pasrah.

"Baik, Nona Ghea. Kalau begitu, aku permisi dulu."

"Tunggu, mumpung kamu di sini, sekalian bawa surat cerai ini dan berikan ke Rania. Bilang padanya, segera tanda tangani dan memberikannya padaku." Aris menambahkan, "Bilang juga padanya, orang yang paling aku cintai tetap dia. Begitu anaknya lahir nanti, aku akan langsung menikahinya lagi."

Di kamar rawat, Rania menunggu cukup lama, tetapi si asisten tidak kunjung datang.

Begitu akhirnya asisten itu muncul, Rania menyadari bahwa dia sama sekali tidak membawa sup ayam yang diminta.

"Ada apa?"

"Nyonya, sup ayamnya direbut paksa oleh Nona Ghea. Dia bersikeras bilang sup itu untuknya dan Pak Aris juga bilang begitu, jadi ...."

Rania mengernyit, raut wajahnya berubah menjadi sangat muram.

"Apa yang kamu bawa itu?"

"Ini surat cerai, Pak Aris yang titip untuk diberikan ke Nyonya. Pak Aris juga bilang, nanti dia akan menikahi Nyonya lagi."

"Cepat banget, ya?"

Belum genap satu hari, surat perjanjiannya sudah jadi.

Tanpa ragu, Rania mengambil pulpen di atas nakas dan langsung membubuhkan tanda tangannya di sana.

'Menikah lagi? Itu nggak akan pernah terjadi seumur hidupmu, Aris.'

Asisten rumah tangga itu berbisik pelan, "Kalau begitu, apa aku perlu pulang dan membuatkan sup ayam lagi untuk Nyonya?"

Rania tersenyum sinis. "Nggak perlu. Aku akan mendatangi Ghea dan mengambilnya kembali!"

Begitu sampai di depan kamar rawat Ghea, wanita itu sedang asyik menyeruput sup ayam sambil menelepon teman-temannya.

"Heh, Rania itu akhirnya kalah juga dariku. Dia dan Aris sudah menandatangani surat cerai. Mereka akan segera resmi berpisah."

"Tapi, aku dengar, dia juga sedang hamil empat bulan? Begitu anaknya lahir, apa Aris benar-benar akan menceraikanmu?"

"Kamu pikir aku akan membiarkan anak di perutnya itu lahir? Aku pasti akan cari cara supaya anaknya mati di dalam kandungan!"

Mendengar kalimat itu, Rania tidak bisa lagi membendung amarahnya.

Dia menendang pintu hingga terbuka lebar, menerobos masuk, lalu menjambak rambut wanita itu dengan kuat. Tak cukup sampai di situ, dia menyambar sup ayam di atas meja dan menyiramkan semuanya ke wajah Ghea.

"Ah! Rania, apa yang kamu lakukan?! Kamu sudah gila, ya!"

"Apa yang kulakukan? Iya, aku memang sudah gila! Hari ini aku akan tunjukkan padamu bagaimana nasib seorang pelakor!"

Rania menyeret wanita itu turun dari ranjang, menekan tubuhnya ke lantai, lalu menghujani wajahnya dengan tamparan bertubi-tubi.

"Suka sekali merebut barang milikku, ya? Merebut suamiku, merebut sup ayamku, bahkan berniat membunuh anakku? Aris benar-benar buta bisa menyukai wanita sepertimu!"

Tamparan demi tamparan mendarat di wajah Ghea. Dalam sekejap, pipinya bengkak memerah dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.

"Lepaskan aku! Berani-beraninya kamu memukulku, Aris nggak akan membiarkanmu lolos!"

"Aku sudah terlanjur memukulmu, memangnya apa yang bisa dia lakukan?" Rania mencengkeram dagu Ghea, lalu berkata dengan suara rendah dan berat, "Dengar ya, posisi Nyonya Wijaya itu bukan kamu yang rebut, tapi aku yang memberikannya padamu secara sukarela! Laki-laki macam dia, aku sudah nggak sudi lagi!"

Rania mendorong dagu Ghea dengan kasar, menepuk-nepuk tangannya seolah sedang membersihkan debu, lalu beranjak berdiri.

"Satu lagi, selama surat ceraiku dan Aris belum resmi keluar, aku masih Nyonya Wijaya! Pelayan di rumah Keluarga Wijaya bukan bawahan yang bisa kamu perintah sesuka hati! Sup ayam itu milikku, atas dasar apa kamu merebutnya?"

"Kamu! Rania! Aku akan membunuhmu!"

Ghea bangkit dari lantai. Baru saja dia hendak menerjang, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar pintu.

Seketika dia mengurungkan langkahnya lalu menoleh ke arah bayi di dalam kereta bayi.

Tanpa ragu sedikit pun, dia mengambil bantal di atas meja dan membekap wajah bayi itu kuat-kuat.

Bayi itu sempat menangis sekali, lalu setelahnya suara itu hampir menghilang sepenuhnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 24

    Suara sirine polisi akhirnya berhenti tepat di depan restoran. Begitu melihat polisi menyerbu masuk dan meringkus Ghea, Reza akhirnya bisa bernapas lega sebelum akhirnya jatuh pingsan sepenuhnya."Reza!"Rania panik. Dia merangkak mendekati Reza, air matanya terus mengalir melihat kondisi pria itu yang sudah sekarat."Pak Polisi, tolong selamatkan dia!""Kenapa kalian menangkapku? Lepaskan! Aku nggak salah, lepaskan aku! Aku harus membunuhnya! Rania, aku akan membunuhmu!"Meski sudah ditangkap polisi, Ghea tetap mencengkeram tongkat bisbolnya dan menolak melepaskannya."Kami peringatkan, segera letakkan senjatamu atau kami akan melakukan tindakan tegas!"Polisi memberi peringatan keras, tetapi Ghea sama sekali tidak gentar."Aku akan membunuh Rania! Rania, aku akan membunuhmu!"Baru setelah polisi mengeluarkan pistol, Ghea akhirnya berhenti berteriak.Dia dibawa pergi oleh polisi, tetapi matanya tetap menatap tajam ke arah Rania."Lebih baik jangan biarkan aku keluar, kalau nggak Rania

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 23

    "Kamu sudah gila? Kamu mau membunuhku? Apa kamu nggak tahu kalau ini melanggar hukum?"Rania tahu kakaknya sudah tersambung di telepon. Sekarang dia hanya perlu mengulur waktu sampai kakaknya mengirim bantuan untuk menyelamatkan mereka."Melakukan hal yang melanggar hukum bukan pertama kalinya bagiku, 'kan?"Ghea menatap tajam ke arah Rania yang berada di bawah meja, sorot matanya penuh dengan kebencian."Sudah kubilang, aku nggak akan melepaskanmu! Lihat, sekarang waktunya sudah tiba, 'kan?"Ghea bertepuk tangan dan seketika lampu di seluruh ruangan menyala.Cahaya yang menyilaukan membuat Rania sempat tidak bisa membuka mata. Saat dia mulai terbiasa dan melihat sekitar, dia baru menyadari bahwa semua pengunjung yang tidak berkepentingan telah menghilang, entah sejak kapan mereka semua dibawa pergi.Rania mendongak, menatap wanita di depannya dengan tangan mengepal kuat.Saat ini, dia lebih membenci Aris.Jika bukan karena pria itu, Ghea tidak akan melakukan hal sejauh ini kepadanya.

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 22

    Entah karena suasana hati yang terlanjur rusak oleh kehadiran Ghea, makan malam mereka setelah itu terasa sama sekali tidak menyenangkan.Tepat saat mereka hendak bangkit berdiri untuk membayar tagihan.Lampu restoran tiba-tiba padam. Kerumunan orang mulai berteriak histeris dan seseorang berteriak, "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mati lampu?""Restoran semewah ini, bagaimana mungkin bisa melakukan kesalahan amatir seperti ini?""Harap semuanya tenang! Kami sudah mengirim petugas untuk melakukan perbaikan. Mohon tetap duduk di tempat masing-masing dan jangan bergerak!"Melihat restoran yang gelap gulita, Rania seketika merasakan firasat yang sangat buruk.Reza pun merasa khawatir, dia berbisik pelan, "Rania, kamu di situ?""Iya, aku di sini.""Berikan tanganmu padaku."Baru setelah mendengar suaranya dan menggenggam telapak tangannya, Reza merasa sedikit tenang.Dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan lampu senter.Baru saja dia hendak memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba pin

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 21

    "Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?" Aris menatapnya dengan raut penuh kekecewaan. "Kamu masih belum menyesal juga?""Diam!" Ghea mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan keras ke wajah Aris. "Beraninya kamu menceramahiku? Kalau bukan karenamu, mana mungkin aku sampai .... Aris, hari ini aku memberimu tiga pilihan. Pertama, bayar ganti rugi. Kedua, berlutut dan minta maaf padaku. Ketiga, masuk penjara."Aris menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Dia tidak punya uang, tetapi kalau harus berlutut, itu benar-benar mustahil baginya."Kalau begitu, aku terpaksa menjebloskanmu ke penjara. Tapi, ingat, kamu nggak akan pernah bisa melihat Rania lagi seumur hidupmu karena malam ini juga aku akan membunuhnya."Setelah berkata demikian, Ghea hendak melangkah pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara bruk! Aris berlutut di hadapannya."Aku yang salah, Ghea. Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu. Asalkan kamu nggak menyentuh Rania sedikit pun, aku nggak keberatan bersujud minta maaf

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 20

    Ghea menghabiskan banyak tenaga dan pikiran demi membuat Iwan senang.Iwan benar-benar berbeda dari semua pria yang pernah dia temui sebelumnya. Dia sangat suka memainkan permainan kecil yang menyimpang.Jika bukan karena pengalaman Ghea sebelumnya, dia mungkin tidak akan sanggup bertahan melewati satu malam saja.Saat Ghea terbangun, Iwan sudah berpakaian rapi dan duduk di sofa sambil merokok.Dia sedang menatap tabletnya. Begitu melihat Ghea bangun, dia berkata dengan perlahan, "Mulai sekarang, ikutlah denganku."Ghea mengerti betul apa maksud dari perkataan pria itu.Ini berarti, mulai hari ini, dia telah resmi menjadi wanita milik Iwan."Oke, aku mengerti."Ghea turun dari tempat tidur dengan mengenakan gaun tidur sutranya."Aku mau mandi dulu."Melangkah masuk ke kamar mandi, Ghea menanggalkan pakaiannya. Saat menatap bayangan dirinya di cermin, yang dipenuhi memar dan luka di sekujur tubuh, air matanya jatuh membasahi pipinya.Dia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dia harus

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 19

    Setelah tinggal di kediaman Keluarga Pratama selama hampir satu bulan, suasana hati Rania pun menjadi jauh lebih baik.Reza memikirkan berbagai cara untuk menghiburnya. Setiap hari dia membawa Rania pergi ke berbagai tempat untuk menenangkan pikiran, bahkan sampai jarang mengurusi masalah perusahaannya.Hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah pulang dengan membawa seekor anak kucing di tangannya.Seekor kucing berwarna keemasan berkaki pendek yang sangat menggemaskan.Melihat anak kucing itu, Rania menutup mulutnya dengan heran. "Kok ada anak kucing? Apa kamu yang membelinya?""Iya. Beberapa hari lalu aku lihat kamu sering menonton berbagai video kucing, aku tebak kamu pasti suka, jadi aku pergi carikan satu untukmu. Kamu suka?"Reza meletakkan anak kucing itu di lantai dan tak disangka, si kucing langsung berlari menghampiri Rania.Melihat kucing itu begitu menyukainya, Rania tidak tahan untuk tidak membungkuk dan menggendongnya ke dalam pelukan."Lucu banget, bulunya lembut. Jadi, sekar

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 7

    Begitu telepon tersambung, Ghea langsung terisak. "Aris, Rania bilang aku nggak akan berani menyentuhnya. Dia bilang kalau aku macam-macam, dia akan membunuhku!""Aku tetap pada ucapanku, hukum dia sesukamu. Aku menelepon cuma ingin memberi tahu kalau nanti malam aku akan menjemputmu untuk makan mal

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 6

    "Mati?" Rania menatap wanita di depannya dengan tatapan kosong. "Apa urusannya denganku kalau dia mati? Bukannya kamu sendiri yang membekap anakmu sampai mati?""Apa kamu bilang? Kamu masih berani memfitnahku! Mana mungkin aku membunuh anakku sendiri! Huhu ... Aris, kamu harus tuntut keadilan buat a

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 5

    Melihat adegan itu, wajah Rania seketika berubah pucat pasi."Apa yang kamu lakukan? Itu anakmu sendiri!"Rania bergegas maju, hendak merebut bantal itu.Akan tetapi, Ghea selangkah lebih cepat. Dia justru memberikan bantal tersebut ke tangan Rania."Jangan! Kak Rania, aku mohon jangan perlakukan an

  • Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru   Bab 3

    Semua orang yang ada di sana seketika menarik napas cepat karena terkejut mendengar ucapan itu.Hanya sudut bibir Ghea yang melengkung membentuk senyum kemenangan.Pandangan semua orang kini tertuju pada Rania, seolah-olah mereka sedang menunggu tontonan drama yang seru.Akan tetapi, Rania justru me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status