分享

42. MALAM HANGAT

作者: Mystique
last update publish date: 2026-09-13 22:52:12

Paris terburu-buru meraih gelas kaca berisi minuman berwarna ungu gradasi di depannya, berusaha mengalihkan perhatian dari hangatnya rona merah yang kini menjalar hingga ke lehernya.

Sentuhan singkat jemari Adrian saat menyeka busa minuman di sudut bibirnya tadi masih meninggalkan sensasi aneh yang membuat jantungnya berdegup tak karuan.

Adrian, yang menyadari salah tingkahnya gadis di hadapannya, hanya tersenyum tipis. Dengan gestur yang sangat dewasa, ia tidak menggoda Paris lebih jauh. Pria
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    44. SOROT MATA YANG PATAH

    Pintu kayu rumah Paris terkunci rapat dengan bunyi klik yang tegas, menyisakan keheningan malam yang menusuk. Di balik gembok pagar besi yang baru saja dibantingnya, Paris bersandar sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang maraton. Rasa hangat dari perhatian Adrian tadi malam sengaja ia simpan rapat-rapt di dadanya, dijadikan perisai kokoh agar bayangan kemarahan dan cengkeraman kasar River tak lagi sanggup melukainya.Malam itu, Paris tidur dengan tenang. Setelah sekian lama, ia tak lagi menunggu denting notifikasi ponsel yang hanya berisi pesan singkat penuh ketidakpastian.Pagi harinya di area kampus, atmosfer mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.River, pria paling populer di kampus, sosok kharismatik yang selalu mengumbar senyum menawan, hari itu tampil berbeda. Aura dominan yang biasanya terpancar penuh percaya diri kini meredup, tergantikan oleh sikap yang jauh lebih pendiam dan dingin.Pria itu berjalan

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    43. MILIKKU SUDAH PERGI

    Malam di kompleks perumahan itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Rasa hangat dari sentuhan lembut Adrian di puncak kepalanya, serta kebahagiaan sederhana saat menerima kotak macaron rasa vanila tadi, seketika menguap tanpa sisa.Digantikan oleh gelombang tegang yang menusuk hingga ke tulang.Paris membeku. Langkah kakinya terkunci rapat di atas aspal dingin tepat di depan gerbang rumahnya yang sepi.Dari balik pohon mangga, sosok yang terduduk di samping motor sport hitam itu perlahan bangkit. River melangkah maju. Jaket kulit hitam yang dikenakannya tampak kusam, rambutnya berantakan diterpa angin malam, dan matanya, mata yang dulu selalu memancarkan keegoisan kini merah membara, dipenuhi gabungan antara cemburu, amarah, dan rasa tidak berdaya yang bergejolak."Bagus ya," suara River terdengar parau, penuh akan sarkasme yang tajam. Pria itu terus melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Baru sebentar gue nggak ada, lo udah bisa senyum serenyah itu sama cowok lain?"Par

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    42. MALAM HANGAT

    Paris terburu-buru meraih gelas kaca berisi minuman berwarna ungu gradasi di depannya, berusaha mengalihkan perhatian dari hangatnya rona merah yang kini menjalar hingga ke lehernya.Sentuhan singkat jemari Adrian saat menyeka busa minuman di sudut bibirnya tadi masih meninggalkan sensasi aneh yang membuat jantungnya berdegup tak karuan.Adrian, yang menyadari salah tingkahnya gadis di hadapannya, hanya tersenyum tipis. Dengan gestur yang sangat dewasa, ia tidak menggoda Paris lebih jauh. Pria itu justru menyandarkan punggungnya santai ke sandaran kursi katun cream, memberi Paris ruang untuk bernapas."Jadi, bagaimana menurut kritikus terbaik saya?" tanya Adrian, mengalihkan obrolan dengan nada suara rendah yang tenang. "Rasa lavender dan lemonnya terlalu kuat, atau justru pas?"Paris berdeham pelan, mencoba menetralkan degup dadanya sebelum kembali menatap gelas cantik itu. "Rasa asam lemonnya langsung kerasa di awal, tapi setelah ditelan, ada aroma lavender yang manis dan menenangka

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    41. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

    "Aduh, Par, lo bisa santai dikit nggak sih? Eh salah, maksud gue, kok lo bisa santai banget sih?!" Febby bolak-balik merapikan kerah sweter Paris yang sebenarnya sudah sangat rapi.Gadis itu berkali-kali melirik jam tangan digitalnya, lalu menatap jalanan di depan gerbang kampus dengan binar mata yang lebih heboh daripada orang yang mau kencan.Paris hanya terkekeh pelan, bersandar santai pada tiang halte sembari memegang ponselnya. "Feb, dia cuma mau jemput buat minta pendapat menu minuman baru. Bukan mau ngajak gue ke pelaminan, tolong ya kondisikan mukanya.""Halah, kedok itu mah! Mana ada pengusaha muda bela-belain jemput anak kuliahan sore-sore cuma buat nanya rasa sirup," timpal Manda yang berdiri di sebelah mereka, melipat tangan dengan senyum penuh arti. "Tapi gue dukung penuh sih. Minimal, kalau lo sama Adrian, gizi lo perbaikan, Par.""Bener! Dan yang paling penting, bebas dari polusi udara bernama River," sahut Febby berapi-api, yang langsung dihadiahi cubitan gemas di leng

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    40. MENIKMATI MAKAN SIANG

    Aroma gurih nan mewah dari Creamy Mushroom Pasta berlumur saus truffle langsung menguasai seluruh penjuru ruang kelas begitu Febby membuka penutup wadah premiumnya. Tidak ketinggalan, kotak berisi Warm Apple Pie dengan wadah es krim vanila terpisah yang dikemas khusus agar tidak cepat mencair, ditata rapi di tengah meja yang kini disulap menjadi area piknik dadakan."Sumpah ya, ini wangi jamur sama keju premiumnya benar-benar merusak iman diet gue," cerocos Febby sembari menelan ludah, matanya berbinar menatap porsi makanan yang ternyata cukup banyak itu. "Tuan Adrian ini tahu aja kalau anak kuliahan jam segini lambungnya udah demo.""Bentar, bentar! Jangan disentuh dulu!" seru Manda cepat, menepis pelan tangan Kenzie yang sudah bersiap mencomot sendok. Manda menoleh ke arah Paris dengan cengiran usil. "Artis kita harus mendokumentasikan ini dulu sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban kepada pihak sponsor."Paris tertawa kecil, pipinya merona mendengar ledekan Manda. Namun, ia teta

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    39. SKAKMAT

    Kurir makanan itu pamit pergi setelah memberikan secarik struk pengantaran yang langsung diterima oleh Paris. Pintu kelas kembali tertutup, namun atmosfer di dalam ruangan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mencair. Keheningan yang sempat mencekam kini pecah menjadi kasak-kusuk riuh dari ujung ke ujung bangku mahasiswa.River menatap paper bag mewah berbahan tebal dari Le Jardin Resto itu dengan rahang mengeras. Ia terkejut bukan main. Matanya yang tajam langsung menangkap secarik kartu ucapan kecil bernuansa emas yang terselip di tali tas kertas tersebut. Ada nama Adrian tertulis di sana dengan guratan pena yang rapi.Rasa cemburu yang membakar seketika membuat akal sehat River menguap. Tangannya bergerak cepat, berniat merebut kartu ucapan itu untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Namun, Febby yang sejak tadi waspada bergerak jauh lebih cekatan. Ia menyambar paper bag tersebut ke arah tubuhnya, menjauhkannya dari jangkauan jemari River."Adrian

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status