INICIAR SESIÓN
Uap air hangat masih melayang di udara, menyelimuti rumah kayu itu dengan aroma sabun bunga melati yang lembut namun memikat. Dari balik celah pintu kamar mandi yang tak tertutup rapat, Agus terpaku. Kakinya yang tadi melangkah pasti untuk menagih upah, kini seolah tertanam di lantai.
Marni keluar. Rambut hitamnya yang panjang terurai basah, meneteskan air di bahu yang tertutup handuk putih yang dililitkan pas di dada. Kulitnya tampak segar, berkilau karena sisa percikan air. Agus menelan ludah. Niatnya tadi hanya satu: selesai menggarap sawah milik Marni, datang ke rumahnya untuk melapor, lalu menerima bayaran yang sudah dijanjikan sejak seminggu lalu. Tapi sekarang, berdiri di ruang tamu yang sepi itu, kata-kata soal upah seakan menguap entah ke mana. Ia seharusnya mengetuk pintu, memanggil, memberi tahu kehadirannya. Tapi kakinya tak bergerak. Matanya tak bisa berpaling. Marni menoleh seketika. "Siapa di sana?" suaranya terdengar sedikit kaget, namun bukan marah. Agus tersentak, hampir saja melompat mundur. "Saya... saya, Mbak Marni. Agus." Marni tersenyum, bukan senyum yang terkejut atau malu. Justru senyum yang seakan sudah menunggu kedatangannya. Ia melangkah mendekat, handuk di tubuhnya terasa terlalu sedikit untuk menutupi semua yang Agus tahan untuk tidak dilihat. "Agus... Kamu datang cepat sekali hari ini," ucapnya lembut, matanya menatap lurus ke mata Agus, seakan tahu persis apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. "Saya... sawahnya sudah selesai, Mbak. Semua petak sudah dibajak dan ditanami padi. Saya datang mau lapor... dan mungkin... kalau Bapak atau Mbak berkenan, minta bayaran yang tadi..." suara Agus makin mengecil di akhir kalimat. Ia merasa konyol. Datang urusan duit, tapi matanya tak bisa berhenti melirik ke arah leher dan bahu Marni. Marni tertawa kecil, suara yang lembut namun membuat dada Agus berdebar lebih kencang daripada saat ia memanggul cangkul seharian di bawah terik. "Sudah selesai katanya? Bagus. Tapi masuk dulu, dong. Jangan berdiri di pintu seperti itu." Marni melangkah mundur sedikit, memberi ruang. "Aku belum pakai baju, jadi maaf kalau berantakan." Agus melangkah masuk dengan hati-hati, seakan lantai rumah itu terbuat dari kaca yang bisa pecah kalau ia salah injak. Bau melati makin kuat, bercampur dengan wangi alami yang khas milik Marni. Berbagai macam buah-buahan seperti melon, semangka, delima, apel dan lain-lain. Semuanya tersusun rapi dipojok ruangan. Marni adalah janda penjual buah dipasar desa tempat mereka tinggal. "Tadi kamu lihat, ya?" tanya Marni tiba-tiba, tanpa basa-basi, saat pintu sudah tertutup di belakang Agus. Agus menunduk, pipinya terasa panas. "Saya... nggak sengaja, Mbak. Maaf." "Maaf untuk apa?" Marni melangkah lebih dekat, jarak di antara mereka kini tinggal beberapa jengkal. Handuk di tubuhnya tampak semakin rapuh, seakan satu gerakan saja bisa membuatnya terurai. "Kamu nggak senang lihat?" Agus mengangkat wajah perlahan. Matanya bertemu dengan mata Marni. Di sana tak ada kemarahan. Justru ada sesuatu yang lain — ketertarikan yang sama besarnya dengan apa yang ia rasakan sendiri. "Saya..." Agus tak tahu harus berkata apa. Otaknya kosong. Lupa soal sawah, lupa soal upah, lupa semuanya. Yang ia tahu hanya detak jantungnya yang berisik sekali, dan betapa dekatnya Marni berdiri di hadapannya. "Sudah bekerja keras seharian, ya?" suara Marni berubah, lebih pelan, lebih dalam. Tangannya terulur, menyentuh lengan Agus yang masih berdebu dan berkeringat. "Kasihan sekali kamu. Capek, kan?" Agus mengangguk pelan, tak mampu bicara. "Mau istirahat dulu? Sebelum kita bicara soal bayaran..." jari Marni merambat naik perlahan dari lengan ke bahu, lalu ke leher Agus. "...boleh saja kamu dapat bonus." Napas Agus tertahan. "Bonus?" Marni tersenyum, bibirnya mendekat ke telinga Agus. "Tergantung seberapa bagus kerjamu. Dan seberapa bagus kamu..." suaranya berbisik, "...menghibur aku." Agus menelan ludah. Ia datang untuk meminta uang. Tapi berdiri begitu dekat dengan Marni, dengan tubuh yang memancarkan kehangatan dan wangi yang memabukkan, tujuannya tadi terasa sangat jauh. "Mbak Marni... ini..." "Shhh..." Marni meletakkan satu jari di bibir Agus. "Jangan banyak tanya. Ikut saja dulu." Ia menarik tangan Agus, membawanya melangkah lebih dalam ke rumah, menjauh dari pintu depan, menjauh dari dunia luar. Langkah kaki mereka berdua pelan, seakan waktu ikut melambat. Tapi tepat saat mereka hendak masuk ke kamar, suara ketukan yang keras terdengar dari luar pintu. Tok! Tok! Tok! "Marni! Kamu di dalam? Buka pintunya!" suara laki-laki terdengar dari luar, nada tak sabar dan kasar. Wajah Marni seketika berubah pucat. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Agus, kini mencengkeramnya erat dengan cemas. "Itu..." bibir Marni bergetar. "Itu suara Pak Surya. Dia seharusnya belum datang hari ini." Agus mengerutkan dahi. "Siapa Pak Surya?" Marni menatapnya dengan tatapan panik. "Kamu harus sembunyi. Sekarang. Kalau dia lihat kamu di sini, bisa berabe semuanya." "Kenapa? Saya cuma datang minta upah..." "Nanti aku jelaskan! Cepat, masuk ke kamar mandi, jangan bersuara!" Marni mendorong Agus cepat ke arah pintu kamar mandi yang tadi terbuka. "Tunggu sampai dia pergi. Jangan keluar apa pun yang terjadi!" Agus terdorong masuk ke ruangan yang masih penuh uap dan wangi sabun itu. Pintu tertutup rapat di depannya. Ia mendengar suara pintu depan terbuka, dan suara berat laki-laki itu masuk, terdengar marah. "Kamu lama sekali buka pintunya, Marni. Siapa yang ada di dalam?" Jantung Agus berdebar kencang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi, lalu menatap pintu yang memisahkannya dari ruang tamu. "Siapa yang sebenarnya datang? bukankah mbak Marni itu janda? Apa yang harus aku lakukan?" seribu pertanyaan menguasai pikiran Agus. Ia hanya berani mengintip dari lobang kunci pintu dengan jantung yang masih tak beraturan. "itu..itu.. siapa laki-laki itu? mau ngapain disini?".Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dibandingkan saat berangkat. Sepanjang jalan Eny menatap ke luar jendela, pikirannya tak tenang. Ia berusaha menenangkan diri — mungkin hanya kesalahan catatan, mungkin sekadar salah paham. Begitu sampai, diperiksa, beres, lalu bisa kembali ke desa. Begitu harapannya. Tapi saat melangkah masuk ke gedung Agus Supermart, suasana tak seperti yang dibayangkan. Wajah-wajah tegang menyambutnya. Ria menyambut di pintu, matanya merah sembab. "Eny..." suaranya bergetar. "Kamu datang... syukurlah kamu datang." "Sudah berapa lama begini?" tanya Eny cepat, meletakkan tasnya di meja. "Sudah tiga hari. Sejak seseorang datang, mengaku... mengaku sebagai tunanganmu," jawab Ria pelan. Eny mengerutkan kening. "Tunanganku? Siapa?" Ria menunduk, tak berani menatap. "Dika." Nama itu membuat darah Eny mendidih sekaligus dingin menjalar ke sekujur tubuh. Dika. Mantan pacarnya. Pria yang dulu meninggalkannya tanpa pamit, yang pernah menyakitinya begitu dalam, y
Tiga hari berlalu begitu indah — terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri. Setiap pagi mereka bangun berpelukan, setiap hari berbagi segala hal, setiap malam tidur berdampingan tanpa lagi ada jarak di antara mereka. Di desa yang tenang itu, tak ada urusan toko, tak ada laporan, tak ada kesibukan kota — hanya mereka berdua, hidup sederhana, bahagia sepenuhnya. Agus hampir lupa bahwa dunia lain masih ada di luar sana — tempat di mana ia bukan sekadar pria yang dicintai, melainkan pemilik usaha, orang yang diandalkan, sosok yang punya tanggung jawab besar. Sore ketiga hari itu, langit mulai kemerahan. Mereka baru saja selesai makan sore di beranda, Eny sedang menyusun rencana menanam bunga di halaman depan — tiba-tiba ponsel yang ditaruh di meja bergetar kencang, bunyinya nyaring memecah keheningan. Eny menoleh, lalu meraihnya. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit — Ria, wakil manajer di toko. "Permisi sebentar ya," ucapnya pelan, lalu mengangkat. "Halo, Ria?" Wajahnya
Cahaya matahari pagi menyelinap pelan lewat celah jendela, menyentuh wajah mereka yang masih berpelukan di atas tempat tidur. Agus yang pertama membuka mata — tubuhnya terasa ringan, lelah semalam hilang tak berbekas. Di sampingnya, Eny masih tertidur pulas, kepalanya bersandar di dada bidangnya, tangan melingkar di pinggangnya. Napasnya teratur, hangat menyentuh kulitnya. Agus tersenyum lembut, membelai rambut panjang itu pelan. Rasanya damai sekali — bangun pagi bukan lagi sendirian di rumah yang sepi, melainkan ada seseorang di sampingnya, seseorang yang dicintainya, yang tulus menyayanginya. "emmmuah" Ia mencium ubun-ubun wanita itu pelan, tak berniat membangunkannya, hanya ingin menunjukkan betapa berharganya ia. Eny bergerak pelan, matanya perlahan terbuka. Melihat wajah Agus di dekatnya, senyumnya langsung merekah — murni, bahagia, tanpa ragu sedikit pun. "Sudah pagi..." bisiknya lembut, merapatkan tubuhnya makin dekat. "Iya, Sayang," jawab Agus pelan, tangannya mengusap p
Langit masih gelap pekat, fajar belum menyingsing saat Agus melangkah pulang. Kakinya terasa berat, pakaiannya berdebu, keringat kering menempel di dahi. Sepanjang malam warga menyisir hutan, pematang sawah, jalan keluar desa — tak ada jejak pencuri. Tak ada motor, tak ada barang, tak ada siapa pun yang dicurigai. Seakan mereka lenyap ditelan bumi. Warga pulang satu per satu dengan wajah kecewa dan cemas. Agus yang paling akhir ikut berkeliling, akhirnya berjalan pulang sendirian saat udara subuh mulai terasa dingin menusuk tulang. Di depan rumah, ia mengetuk pelan — pola yang sudah disepakati: dua ketukan pendek, satu ketukan lagi. Hening. Tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras. "Eny... aku pulang." Masih tak ada suara. Agus merogoh saku "krincing" — kunci cadangan yang disimpan di sana sejak dulu, kini terasa begitu berharga. Ia memasukkan ke lubang kunci, memutar perlahan "klik" Pintu terbuka senyap. Ruangan dalam gelap, cahaya samar dari langit timur me
Semuanya sudah begitu dekat. Ruangan itu terasa hangat, hanya diterangi cahaya matahari sore yang meluncur lembut lewat celah tirai. Napas mereka menyatu, jantung berdetak serentak sama cepatnya, tangan Agus perlahan menyentuh pinggang Eny, menariknya makin mendekat — bibir mereka hampir kembali bertemu, dan segala keraguan perlahan luruh, berganti keinginan untuk menyatu sepenuhnya.Tiba-tiba — ketukan keras memecah keheningan begitu tajam hingga mereka berdua tersentak kaget serentak."TOK! TOK! TOK!"Suara itu bergema di seluruh ruangan, memutus momen indah seketika."Agus! Gus! Ada di dalam? Buka pintunya!" suara lantang terdengar dari luar, disertai ketukan lain yang makin cepat.Agus meloncat bangun seketika, wajahnya memucat. Jantungnya berdebar kencang — bukan karena rindu lagi, melainkan karena kaget dan cemas.Ia menoleh ke arah jendela, lalu ke arah pintu. "Siapa pula ini..." bisiknya pelan, tangannya gemetar meraih pakaian yang tergeletak di lantai.Eny juga duduk buru-bur
Angin sore berhembus pelan, menyisir rambut mereka yang duduk berdampingan di teras belakang. Hening yang manis terasa di antara keduanya — sampai tiba-tiba Eny bergerak mendekat, merangkul pinggang Agus, dan memeluknya dengan erat sekali. Agus tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Ia tak menyangka sama sekali. Tangan yang tadi tergeletak di pangkuan terangkat perlahan, tak tahu harus diletakkan di mana — sampai ia merasakan betapa erat pelukan itu, betapa tubuh wanita itu menempel sepenuhnya padanya, seakan tak ingin berjarak sedikit pun. "dug. dug ." Jantungnya berpacu kencang sekali. Ia bisa merasakan detak jantung Eny yang sama cepatnya di dadanya. Napas hangat wanita itu menyentuh lehernya, membuat bulu kuduk berdiri dan wajahnya memerah perlahan. Perlahan, rasa kaget itu luntur, berganti rasa hangat yang meluap-luap. Tangan Agus akhirnya bergerak — melingkar lembut di punggung Eny, membalas pelukan itu dengan kehati-hatian namun penuh kerinduan yang tak terucap. E







