INICIAR SESIÓNUap air masih melayang tipis di udara kamar mandi. Agus menekan punggungnya ke dinding keramik dingin, napasnya tertahan. Matanya terpaku pada celah pintu yang sedikit terbuka.
Langkah kaki berat Pak Surya menghentak lantai kayu di luar. Berhenti tepat di depan pintu kamar mandi. "Marni! Buka sekarang!" Suaranya menggelegar, kasar dan tak sabar. "Saya tahu ada orang di dalam!" Marni terdengar menarik napas panjang, berusaha menahan getar di suaranya. "Bapak dengar salah, saya sendirian di sini." "Sendirian?" Pak Surya mendengus kasar. "Kalau sendirian, buka pintunya. Saya mau pastikan sendiri." Agus mencengkeram tepi wastafel. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Kalau pintu itu dibuka, semuanya berantakan. Bukan cuma urusan upah, tapi juga nama baik Marni. "Pak, tolong jangan..." Marni suaranya makin lemah, tapi tetap mencoba menahan. "Saya belum selesai bersih-bersih, berantakan di dalam." "Urusanmu berantakan atau tidak, itu bukan urusan saya." Bunyi kunci beradu di luar pintu. "Saya punya kunci cadangan. Kalau kamu nggak mau buka, saya yang buka sendiri." Derit pintu terdengar perlahan terbuka. Agus mundur pelan-pelan, menyusut ke sudut paling gelap di balik pintu yang terbuka itu. Pak Surya melangkah masuk. Matanya menyapu ruangan yang sempit itu, dari lantai hingga ke langit-langit. Tatapannya tajam, menelusuri setiap sudut. "Kosong," gumamnya, lalu menatap tajam ke arah Marni yang berdiri di ambang pintu, tangan masih memegang handuk di tubuhnya. "Kamu bilang ada orang? Mana?" Marni menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah berusaha tenang. "Saya sudah bilang, Bapak dengar salah. Mungkin suara dari televisi." Pak Surya melangkah mendekat, jarak mereka tinggal beberapa jengkal. Ia menatap wajah Marni lama sekali, seakan mencari jejak kebohongan di sana. "Televisi..." Pak Surya tertawa pendek sinis. "Kamu pikir saya bodoh, Marni? Saya kenal suara laki-laki. Dan saya tahu kapan kamu bohong." "Saya tidak bohong, Pak." Marni menatap balik, walau matanya jelas terlihat cemas. "Kalau memang tidak bohong, di mana upah sewa bulan ini?" Pak Surya mengubah nada, langsung ke inti. "Sudah telat tiga hari. Kalau hari ini tidak ada uang, jangan harap kamu bisa tinggal di sini lagi." Marni terdiam. Bibirnya bergetar. "Saya... saya belum punya, Pak. Tapi tolong beri waktu sampai minggu depan. Saya janji pasti lunas." "Janji lagi?" Pak Surya mendekat lagi, suaranya merendah tapi makin mengancam. "Janjimu bulan lalu juga sama. Bulan sebelumnya juga begitu. Kamu pikir saya mau terus menunggu?" Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Marni kasar. Marni menegang, tubuhnya kaku seketika, tapi tidak menepis. Hanya menunduk, menahan napas. Agus mengepal tangan di balik pintu. Ia ingin melangkah keluar, menahan tangan pria itu. Tapi ia tahu kalau muncul sekarang, situasi bakal makin buruk buat Marni. "Kalau tidak ada uang," suara Pak Surya berubah halus yang justru lebih mengerikan, "kita bisa cari jalan lain untuk melunasi utangmu, kan?" Marni menepis tangan pria itu pelan tapi tegas. "Jangan begitu, Pak. Saya akan cari uangnya, saya janji." Pak Surya menatapnya lama, lalu menarik tangannya perlahan. Wajahnya mengeras. "Baik. Saya beri waktu sampai hari Minggu." Ia melangkah mundur ke arah pintu, tapi berhenti sejenak di ambang pintu, menatap tajam ke sudut ruangan tempat Agus bersembunyi. "Tapi ingat, Marni. Kalau sampai saya tahu ada laki-laki lain di rumah ini... atau kalau sampai hari Minggu uangnya belum ada... jangan salahkan saya kalau saya bawa kamu pergi dari sini dengan cara saya sendiri." Ia melangkah keluar. Pintu depan tertutup dengan bunyi yang keras dan mengancam. Hening. Marni masih berdiri di tempatnya, tubuh masih tegang. Napasnya pendek dan cepat. Perlahan ia merosot turun, duduk di tepi bak mandi, menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya bergoyang pelan. Agus melangkah keluar dari balik pintu. Kakinya berat, tapi ia mendekat pelan-pelan. "Mbak Marni..." suaranya lembut, berusaha tidak mengejutkan. Marni mengangkat wajah perlahan. Matanya merah, pipinya basah. Ia mencoba tersenyum, tapi senyumnya pecah. "Kamu... kamu sudah lihat semuanya, ya?" Agus mengangguk pelan, duduk di sampingnya, menjaga jarak sedikit tapi tetap dekat. "Maaf... saya nggak bisa bantu apa-apa tadi." "Bukan salah kamu." Marni menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Dia pemilik tanah ini. Kalau saya lawan, saya bisa diusir. Lalu ke mana saya harus pergi?" Suaranya pecah lagi. Ia menunduk, kedua tangannya meremas ujung handuk. Agus ragu sejenak, lalu perlahan mengulurkan tangan, menyentuh punggungnya pelan. "Kalau boleh saya bantu... saya cari kerja tambahan. Saya bantu kumpulkan uangnya." Marni menggeleng lemah. "Banyak sekali, Agus. Kamu nggak akan sanggup cuma dari kerja di sawah." "Kita coba dulu." Agus mendekat sedikit lagi. Tanpa sadar tangannya merambat ke bahu Marni, lalu menariknya perlahan ke pelukannya. "Tenang dulu ya... dia sudah pergi. Dia nggak bisa ganggu kamu sekarang." Marni menegang sejenak, lalu perlahan tubuhnya yang tadi kaku melunak di pelukan Agus. Ia menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu, napasnya mulai teratur pelan. Tangan yang tadi meremas handuk kini mencengkeram baju Agus di bagian dada. "Terima kasih..." bisiknya pelan, suaranya tertahan di bahu Agus. "Kalau kamu nggak ada di sini, saya pasti..." "Saya tahu." Agus menepuk punggungnya pelan, lembut. "Saya nggak akan biarkan dia semena-mena sama kamu." Mereka berdua diam begitu saja. Di ruangan yang sempit itu, di antara uap yang perlahan hilang, jarak di antara mereka seakan menyusut sampai tak tersisa. Bau sabun melati bercampur dengan wangi keringat Agus yang khas. Detak jantung mereka berdua terdengar saling, berpacu dengan irama yang sama. Marni mengangkat wajah perlahan. Matanya menatap lurus ke mata Agus, jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. "Agus..." bisiknya pelan. Agus menelan ludah. Ia bisa merasakan napas hangat Marni menyentuh bibirnya. Tangan yang tadi menepuk punggung kini berhenti di punggungnya, memeluk erat tanpa sadar. "Iya..." suaranya serak. "Kamu... kamu mau bantu saya?" "Selama saya mampu." "Kalau begitu..." Marni menatapnya dalam-dalam, matanya masih berkaca-kaca tapi kini ada kilatan lain di sana. "Kamu mau tinggal di sini sementara waktu? aku takut pak Surya datang lagi." Agus tertegun. Ia datang cuma untuk menagih upah. Tapi sekarang, berdiri begitu dekat dengan Marni, mendengar permintaannya yang lembut namun penuh kecemasan. "Di sini?" tanyanya pelan. "Tinggal bersama kamu?" Marni mengangguk pelan, bibirnya hampir menyentuh telinga Agus. "Hanya sampai hari Minggu. Saya akan bayar kamu." Agus menatapnya lama. "Saya nggak minta bayaran, Mbak." "Terus apa yang kamu mau?" Agus menatap bibir Marni sesaat, lalu kembali menatap matanya. "Yang saya mau...Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dibandingkan saat berangkat. Sepanjang jalan Eny menatap ke luar jendela, pikirannya tak tenang. Ia berusaha menenangkan diri — mungkin hanya kesalahan catatan, mungkin sekadar salah paham. Begitu sampai, diperiksa, beres, lalu bisa kembali ke desa. Begitu harapannya. Tapi saat melangkah masuk ke gedung Agus Supermart, suasana tak seperti yang dibayangkan. Wajah-wajah tegang menyambutnya. Ria menyambut di pintu, matanya merah sembab. "Eny..." suaranya bergetar. "Kamu datang... syukurlah kamu datang." "Sudah berapa lama begini?" tanya Eny cepat, meletakkan tasnya di meja. "Sudah tiga hari. Sejak seseorang datang, mengaku... mengaku sebagai tunanganmu," jawab Ria pelan. Eny mengerutkan kening. "Tunanganku? Siapa?" Ria menunduk, tak berani menatap. "Dika." Nama itu membuat darah Eny mendidih sekaligus dingin menjalar ke sekujur tubuh. Dika. Mantan pacarnya. Pria yang dulu meninggalkannya tanpa pamit, yang pernah menyakitinya begitu dalam, y
Tiga hari berlalu begitu indah — terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri. Setiap pagi mereka bangun berpelukan, setiap hari berbagi segala hal, setiap malam tidur berdampingan tanpa lagi ada jarak di antara mereka. Di desa yang tenang itu, tak ada urusan toko, tak ada laporan, tak ada kesibukan kota — hanya mereka berdua, hidup sederhana, bahagia sepenuhnya. Agus hampir lupa bahwa dunia lain masih ada di luar sana — tempat di mana ia bukan sekadar pria yang dicintai, melainkan pemilik usaha, orang yang diandalkan, sosok yang punya tanggung jawab besar. Sore ketiga hari itu, langit mulai kemerahan. Mereka baru saja selesai makan sore di beranda, Eny sedang menyusun rencana menanam bunga di halaman depan — tiba-tiba ponsel yang ditaruh di meja bergetar kencang, bunyinya nyaring memecah keheningan. Eny menoleh, lalu meraihnya. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit — Ria, wakil manajer di toko. "Permisi sebentar ya," ucapnya pelan, lalu mengangkat. "Halo, Ria?" Wajahnya
Cahaya matahari pagi menyelinap pelan lewat celah jendela, menyentuh wajah mereka yang masih berpelukan di atas tempat tidur. Agus yang pertama membuka mata — tubuhnya terasa ringan, lelah semalam hilang tak berbekas. Di sampingnya, Eny masih tertidur pulas, kepalanya bersandar di dada bidangnya, tangan melingkar di pinggangnya. Napasnya teratur, hangat menyentuh kulitnya. Agus tersenyum lembut, membelai rambut panjang itu pelan. Rasanya damai sekali — bangun pagi bukan lagi sendirian di rumah yang sepi, melainkan ada seseorang di sampingnya, seseorang yang dicintainya, yang tulus menyayanginya. "emmmuah" Ia mencium ubun-ubun wanita itu pelan, tak berniat membangunkannya, hanya ingin menunjukkan betapa berharganya ia. Eny bergerak pelan, matanya perlahan terbuka. Melihat wajah Agus di dekatnya, senyumnya langsung merekah — murni, bahagia, tanpa ragu sedikit pun. "Sudah pagi..." bisiknya lembut, merapatkan tubuhnya makin dekat. "Iya, Sayang," jawab Agus pelan, tangannya mengusap p
Langit masih gelap pekat, fajar belum menyingsing saat Agus melangkah pulang. Kakinya terasa berat, pakaiannya berdebu, keringat kering menempel di dahi. Sepanjang malam warga menyisir hutan, pematang sawah, jalan keluar desa — tak ada jejak pencuri. Tak ada motor, tak ada barang, tak ada siapa pun yang dicurigai. Seakan mereka lenyap ditelan bumi. Warga pulang satu per satu dengan wajah kecewa dan cemas. Agus yang paling akhir ikut berkeliling, akhirnya berjalan pulang sendirian saat udara subuh mulai terasa dingin menusuk tulang. Di depan rumah, ia mengetuk pelan — pola yang sudah disepakati: dua ketukan pendek, satu ketukan lagi. Hening. Tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras. "Eny... aku pulang." Masih tak ada suara. Agus merogoh saku "krincing" — kunci cadangan yang disimpan di sana sejak dulu, kini terasa begitu berharga. Ia memasukkan ke lubang kunci, memutar perlahan "klik" Pintu terbuka senyap. Ruangan dalam gelap, cahaya samar dari langit timur me
Semuanya sudah begitu dekat. Ruangan itu terasa hangat, hanya diterangi cahaya matahari sore yang meluncur lembut lewat celah tirai. Napas mereka menyatu, jantung berdetak serentak sama cepatnya, tangan Agus perlahan menyentuh pinggang Eny, menariknya makin mendekat — bibir mereka hampir kembali bertemu, dan segala keraguan perlahan luruh, berganti keinginan untuk menyatu sepenuhnya.Tiba-tiba — ketukan keras memecah keheningan begitu tajam hingga mereka berdua tersentak kaget serentak."TOK! TOK! TOK!"Suara itu bergema di seluruh ruangan, memutus momen indah seketika."Agus! Gus! Ada di dalam? Buka pintunya!" suara lantang terdengar dari luar, disertai ketukan lain yang makin cepat.Agus meloncat bangun seketika, wajahnya memucat. Jantungnya berdebar kencang — bukan karena rindu lagi, melainkan karena kaget dan cemas.Ia menoleh ke arah jendela, lalu ke arah pintu. "Siapa pula ini..." bisiknya pelan, tangannya gemetar meraih pakaian yang tergeletak di lantai.Eny juga duduk buru-bur
Angin sore berhembus pelan, menyisir rambut mereka yang duduk berdampingan di teras belakang. Hening yang manis terasa di antara keduanya — sampai tiba-tiba Eny bergerak mendekat, merangkul pinggang Agus, dan memeluknya dengan erat sekali. Agus tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Ia tak menyangka sama sekali. Tangan yang tadi tergeletak di pangkuan terangkat perlahan, tak tahu harus diletakkan di mana — sampai ia merasakan betapa erat pelukan itu, betapa tubuh wanita itu menempel sepenuhnya padanya, seakan tak ingin berjarak sedikit pun. "dug. dug ." Jantungnya berpacu kencang sekali. Ia bisa merasakan detak jantung Eny yang sama cepatnya di dadanya. Napas hangat wanita itu menyentuh lehernya, membuat bulu kuduk berdiri dan wajahnya memerah perlahan. Perlahan, rasa kaget itu luntur, berganti rasa hangat yang meluap-luap. Tangan Agus akhirnya bergerak — melingkar lembut di punggung Eny, membalas pelukan itu dengan kehati-hatian namun penuh kerinduan yang tak terucap. E







