Compartir

Episode 3

Autor: El Barra
last update Fecha de publicación: 2026-09-13 16:37:58

Agus menjawab dengan suara pelan "yang saya mau..." Ia menatap wajah Marni yang masih basah oleh air mata, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Jarak di antara bibir mereka menyusut, hilang.

Bibirnya menyentuh bibir Marni. Lembut di awal, seakan memastikan ia boleh melakukannya. Lalu Agus mengulum bibir itu perlahan, merasakan kehangatan yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

Marni tersentak. Tubuhnya menegang sejenak di pelukan Agus, matanya terbelalak seakan tak percaya apa yang sedang terjadi. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Tapi ia tidak menjauh.

Detik berikutnya, tubuh Marni melunak. Matanya terpejam perlahan, tangannya yang tadi mencengkeram baju Agus kini merambat naik ke leher, menarik wajah pemuda itu makin dekat. Ciuman itu berubah — dari ragu menjadi penuh keinginan yang keduanya sembunyikan sejak tadi.

Uap air yang tersisa di kamar mandi seakan menyelimuti mereka. Suasana hening, hanya terdengar suara napas yang makin cepat dan berat.

Gerakan Agus pelan namun pasti. Tangannya yang tadi memeluk punggung kini merambat ke bawah, menyentuh pinggang Marni yang terasa hangat di balik kain handuk yang tipis itu. Kain itu terasa begitu rapuh, seakan satu gerakan saja bisa membuatnya terlepas.

Dan akhirnya, itu terjadi.

Saat mereka saling mendekat, kain itu meluncur pelan dari bahu, melewati pinggang, lalu jatuh perlahan ke lantai. Tak ada suara, hanya keheningan yang memeluk ruangan remang itu.

Marni tak menutupi dirinya. Ia hanya menunduk sejenak, pipinya merona merah, lalu perlahan mengangkat wajah. Di bawah cahaya lembut, bentuknya tampak indah — membulat di tempat yang seharusnya, ranum seperti buah yang baru matang di kebun. Dua buah manis tumbuh di dadanya, tegak dan bersih, segar seperti embun pagi yang belum tersentuh.

Agus menelan ludah. Matanya menatapnya bukan sekadar dengan keinginan, melainkan dengan kekaguman yang dalam. Ia melihat keindahan yang tak bisa diukur sekadar dengan mata — penuh, hangat, memancarkan kepercayaan yang begitu tulus.

Pandangannya perlahan beralih ke sudut ruangan. Di sana, cangkulnya berdiri tegak. Kayunya kokoh, matanya tajam, bersinar terawat — siap menancap, siap bekerja, siap membuahi tanah yang subur.

Marni mengikuti arah tatapannya. Tangan halusnya terulur menyentuh gagang cangkul itu, membelah bekas genggaman kuat yang tertinggal di sana.

"Cangkulmu..." bisiknya lembut, "ia terlihat tak pernah mengecewakan."

"Benar," jawab Agus, suaranya dalam, "di tanah keras sekalipun, ia menancap dalam. Di mana pun ia ditanam, selalu berbuah."

Marni tersenyum tipis, mendekat selangkah lagi. Napasnya memburu, tak teratur.

"Sawahku sudah lama tak disentuh," ucapnya, matanya tak lepas dari mata Agus, "rumput liar sudah tumbuh tinggi. Tanahnya subur, siap menerima apa pun yang kau tabur. Maukah kau... mengerjakannya?"

Agus mengangguk pelan, mendekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. "Dengan senang hati. Cangkul ini siap bekerja sekuat tenaga."

Ia merangkulnya perlahan, merasakan kehangatan yang menempel padanya. Bibirnya menyentuh kening Marni, terus mengalir sampai bibir mereka bertemu. rasa haus yang begitu mendalam seakan sirna terkena air yang begitu dingin.

Tangan Agus yg besar, meraih kedua buah melon dengan sigap namun lembut. setiap sentuhan membuat napas Marni semakin berat.

"Marni, bolehkan aku......" tanyaku pelan dengan penuh harap.

"Hmmmmm" tapi pelan-pelan ya Gus..

Tanpa basa-basi lagi, Aku membenamkan wajahku tepat ditengah-tengah buah melon itu. rasa hangat, manis, seakan bercampur sempurna. dengan gerakan perlahan, aku mengarahkan ujung buah melon itu ke mulutku yang sudah kering karena kehausan.

Setiap sentuhan, setiap gigitan, membuat jantungku berdegup semakin kencang.

Tiba-tiba ketukan terdengar di pintu.

Tok... tok... tok...

"Kak Marni? Kau di dalam?"

Suara itu terdengar dari luar rumah. Keduanya tersentak. Marni segera meraih kain, menutupi dirinya dengan wajah yang merah padam. Agus menahan napas, tangannya tak beranjak dari bahu Marni.

"Iya... sebentar!" jawab Marni, suaranya masih bergetar.

Keduanya saling berpandangan. Napas mereka masih memburu, jantung berdetak tak beraturan. Momen itu telah terhenti — tak selesai, tak dimulai sepenuhnya.

Agus mengusap rambutnya yang sedikit berantakan, menatapnya dalam. "Di sini. Di tempatmu. Selama kau mengizinkan."

Ia mengambil handuk yang tergeletak di lantai, lalu melingkarkannya kembali di tubuh Marni dengan hati-hati, seakan takut menyakiti wanita itu. perlahan Marni keluar menuju pintu, meninggalkan Aku dan cangkul yang kini berada di sudut ruangan, cangkul itu tetap berdiri tegak, kokoh, dan mengkilap terkena sinar matahari yang menyusup dari celah tembok.

cangkul itu selalu siap, hanya menunggu waktu yang tepat untuk bekerja.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 36

    Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dibandingkan saat berangkat. Sepanjang jalan Eny menatap ke luar jendela, pikirannya tak tenang. Ia berusaha menenangkan diri — mungkin hanya kesalahan catatan, mungkin sekadar salah paham. Begitu sampai, diperiksa, beres, lalu bisa kembali ke desa. Begitu harapannya. Tapi saat melangkah masuk ke gedung Agus Supermart, suasana tak seperti yang dibayangkan. Wajah-wajah tegang menyambutnya. Ria menyambut di pintu, matanya merah sembab. "Eny..." suaranya bergetar. "Kamu datang... syukurlah kamu datang." "Sudah berapa lama begini?" tanya Eny cepat, meletakkan tasnya di meja. "Sudah tiga hari. Sejak seseorang datang, mengaku... mengaku sebagai tunanganmu," jawab Ria pelan. Eny mengerutkan kening. "Tunanganku? Siapa?" Ria menunduk, tak berani menatap. "Dika." Nama itu membuat darah Eny mendidih sekaligus dingin menjalar ke sekujur tubuh. Dika. Mantan pacarnya. Pria yang dulu meninggalkannya tanpa pamit, yang pernah menyakitinya begitu dalam, y

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 35

    Tiga hari berlalu begitu indah — terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri. Setiap pagi mereka bangun berpelukan, setiap hari berbagi segala hal, setiap malam tidur berdampingan tanpa lagi ada jarak di antara mereka. Di desa yang tenang itu, tak ada urusan toko, tak ada laporan, tak ada kesibukan kota — hanya mereka berdua, hidup sederhana, bahagia sepenuhnya. Agus hampir lupa bahwa dunia lain masih ada di luar sana — tempat di mana ia bukan sekadar pria yang dicintai, melainkan pemilik usaha, orang yang diandalkan, sosok yang punya tanggung jawab besar. Sore ketiga hari itu, langit mulai kemerahan. Mereka baru saja selesai makan sore di beranda, Eny sedang menyusun rencana menanam bunga di halaman depan — tiba-tiba ponsel yang ditaruh di meja bergetar kencang, bunyinya nyaring memecah keheningan. Eny menoleh, lalu meraihnya. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit — Ria, wakil manajer di toko. "Permisi sebentar ya," ucapnya pelan, lalu mengangkat. "Halo, Ria?" Wajahnya

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 34

    Cahaya matahari pagi menyelinap pelan lewat celah jendela, menyentuh wajah mereka yang masih berpelukan di atas tempat tidur. Agus yang pertama membuka mata — tubuhnya terasa ringan, lelah semalam hilang tak berbekas. Di sampingnya, Eny masih tertidur pulas, kepalanya bersandar di dada bidangnya, tangan melingkar di pinggangnya. Napasnya teratur, hangat menyentuh kulitnya. Agus tersenyum lembut, membelai rambut panjang itu pelan. Rasanya damai sekali — bangun pagi bukan lagi sendirian di rumah yang sepi, melainkan ada seseorang di sampingnya, seseorang yang dicintainya, yang tulus menyayanginya. "emmmuah" Ia mencium ubun-ubun wanita itu pelan, tak berniat membangunkannya, hanya ingin menunjukkan betapa berharganya ia. Eny bergerak pelan, matanya perlahan terbuka. Melihat wajah Agus di dekatnya, senyumnya langsung merekah — murni, bahagia, tanpa ragu sedikit pun. "Sudah pagi..." bisiknya lembut, merapatkan tubuhnya makin dekat. "Iya, Sayang," jawab Agus pelan, tangannya mengusap p

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 33

    Langit masih gelap pekat, fajar belum menyingsing saat Agus melangkah pulang. Kakinya terasa berat, pakaiannya berdebu, keringat kering menempel di dahi. Sepanjang malam warga menyisir hutan, pematang sawah, jalan keluar desa — tak ada jejak pencuri. Tak ada motor, tak ada barang, tak ada siapa pun yang dicurigai. Seakan mereka lenyap ditelan bumi. Warga pulang satu per satu dengan wajah kecewa dan cemas. Agus yang paling akhir ikut berkeliling, akhirnya berjalan pulang sendirian saat udara subuh mulai terasa dingin menusuk tulang. Di depan rumah, ia mengetuk pelan — pola yang sudah disepakati: dua ketukan pendek, satu ketukan lagi. Hening. Tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras. "Eny... aku pulang." Masih tak ada suara. Agus merogoh saku "krincing" — kunci cadangan yang disimpan di sana sejak dulu, kini terasa begitu berharga. Ia memasukkan ke lubang kunci, memutar perlahan "klik" Pintu terbuka senyap. Ruangan dalam gelap, cahaya samar dari langit timur me

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 32

    Semuanya sudah begitu dekat. Ruangan itu terasa hangat, hanya diterangi cahaya matahari sore yang meluncur lembut lewat celah tirai. Napas mereka menyatu, jantung berdetak serentak sama cepatnya, tangan Agus perlahan menyentuh pinggang Eny, menariknya makin mendekat — bibir mereka hampir kembali bertemu, dan segala keraguan perlahan luruh, berganti keinginan untuk menyatu sepenuhnya.Tiba-tiba — ketukan keras memecah keheningan begitu tajam hingga mereka berdua tersentak kaget serentak."TOK! TOK! TOK!"Suara itu bergema di seluruh ruangan, memutus momen indah seketika."Agus! Gus! Ada di dalam? Buka pintunya!" suara lantang terdengar dari luar, disertai ketukan lain yang makin cepat.Agus meloncat bangun seketika, wajahnya memucat. Jantungnya berdebar kencang — bukan karena rindu lagi, melainkan karena kaget dan cemas.Ia menoleh ke arah jendela, lalu ke arah pintu. "Siapa pula ini..." bisiknya pelan, tangannya gemetar meraih pakaian yang tergeletak di lantai.Eny juga duduk buru-bur

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 31

    Angin sore berhembus pelan, menyisir rambut mereka yang duduk berdampingan di teras belakang. Hening yang manis terasa di antara keduanya — sampai tiba-tiba Eny bergerak mendekat, merangkul pinggang Agus, dan memeluknya dengan erat sekali. Agus tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Ia tak menyangka sama sekali. Tangan yang tadi tergeletak di pangkuan terangkat perlahan, tak tahu harus diletakkan di mana — sampai ia merasakan betapa erat pelukan itu, betapa tubuh wanita itu menempel sepenuhnya padanya, seakan tak ingin berjarak sedikit pun. "dug. dug ." Jantungnya berpacu kencang sekali. Ia bisa merasakan detak jantung Eny yang sama cepatnya di dadanya. Napas hangat wanita itu menyentuh lehernya, membuat bulu kuduk berdiri dan wajahnya memerah perlahan. Perlahan, rasa kaget itu luntur, berganti rasa hangat yang meluap-luap. Tangan Agus akhirnya bergerak — melingkar lembut di punggung Eny, membalas pelukan itu dengan kehati-hatian namun penuh kerinduan yang tak terucap. E

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status