INICIAR SESIÓNPintu terbuka. Cahaya lampu ruang tamu masuk membelah remang kamar mandi.
"Ratna? Kamu ngapain di sini?" suara Marni terdengar, berusaha terdengar biasa, walau masih ada getar di sana. "Kak! Cepat ikut aku!" Suara Ratna terdengar cemas dan terengah-engah. "Bapak tadi ke kebun ambil kelapa muda, tiba-tiba jatuh dari tangga. Kepalanya kena batu, pingsan sebentar tadi. Sekarang sudah sadar tapi pusing sekali. Kami butuh bantuan, Kak." Marni terdiam sejenak. "Ke kebun? Sekarang? Tapi..." "Jangan tanya-tanya lagi, Kak! Ayo cepat!" Dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, Agus mendengar langkah kaki mereka menjauh menuju pintu depan. Suara pintu tertutup. Rumah menjadi hening kembali. Agus menghela napas panjang, bersandar ke dinding keramik dingin. Tangannya mengusap wajah. Jantungnya masih berdebar kencang — bukan karena takut ketahuan saja, tapi karena apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Ia menatap lantai di mana handuk itu tadi jatuh. Masih terbayang wajah Marni, tatapannya yang penuh percaya, bisikannya di telinganya. Semuanya terasa begitu nyata, begitu dekat, padahal rasanya baru beberapa menit saja sejak ia datang ke rumah ini sekadar untuk menagih upah. "Fokus, Agus," gumamnya pelan pada diri sendiri. "Pertama keluar tanpa ketahuan. Kedua, bantu mereka kalau memang butuh." Ia melangkah pelan ke arah jendela kamar mandi yang menghadap ke halaman belakang. Terbuka sedikit, angin sore menyelinap masuk. Dari sini ia bisa melihat sebagian halaman depan dan jalan setapak menuju kebun di belakang rumah. Dari celah jendela, ia melihat Marni dan Ratna berjalan cepat menuju jalan setapak. Ratna berjalan di depan, langkahnya tergesa-gesa. Marna mengikutinya, sesekali menoleh ke belakang — seakan memastikan tidak ada yang melihat, atau seakan mencari kehadiran seseorang yang tak terlihat. Agus menunggu beberapa menit lagi. Pastikan tidak ada siapa-siapa di sekitar rumah. Tidak ada tetangga lewat, tidak ada Pak Surya yang tiba-tiba kembali. Baru setelah merasa aman, ia membuka pintu kamar mandi pelan-pelan. Ruang tamu sepi, pintu depan tidak dikunci rapat. Ia melangkah keluar, menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan cepat menuju jalan setapak yang sama — seakan ia baru saja datang dari arah sawah, bukan dari dalam rumah. Langkah kakinya cepat, menyusul jejak kedua wanita itu. Semakin jauh ia berjalan, semakin terasa asap tipis yang mengepul dari arah kebun. Dan suara suara orang yang berbicara makin keras terdengar. "Kak, di sini! Bapak di sini!" suara Ratna terdengar cemas. Agus mempercepat langkah. Saat ia sampai di tepi kebun, ia melihat Marni sudah berlutut di samping seorang pria tua yang terbaring di atas tikar di bawah pohon kelapa. Kepala pria itu dibalut kain yang sudah mulai merah di bagian samping. "Paman Darto?" Agus menyapa pelan, seakan baru tiba di tempat itu. Marni menoleh cepat. Matanya bertemu dengan mata Agus. Ada keterkejutan sesaat, lalu kelegaan yang samar terlihat di wajahnya. "Agus..." ucapnya pelan, seakan tidak yakin harus berkata apa. Agus mengangguk, berusaha terlihat wajar. "Iya, mau pulang dari sawah lewat jalan belakang. Dengar ada yang bicara, ternyata Paman Darto. Bagaimana keadaannya?" Ia berlutut di sisi lain pria tua itu, menatap luka di kepala. "Tidak tahu," Ratna menjawab sambil menahan air mata. "Dia jatuh dari tangga bambu tadi. Tidak ada yang melihat, hanya terdengar bunyi keras. Saat kami temukan, dia sudah terbaring di tanah." "Harus dibawa ke klinik desa," kata Agus tegas. "Luka di kepala tidak boleh diremehkan. Kalau ada pendarahan di dalam, bisa berbahaya." "Tapi siapa yang mau bawa?" Ratna menatap mereka berdua bergantian. "Orang-orang di desa banyak yang sudah tidur atau pergi ke pasar malam. Kami tidak punya kendaraan." Marni menatap Ayahnya, lalu ke arah jalan setapak yang gelap. Wajahnya tampak bimbang. "Kalau kalian tidak keberatan..." Agus menatap Marni sekilas, lalu kembali menatap Paman Darto. "Saya bisa bantu menggendong. Saya kuat. Kita bawa ke klinik bersama." "Kamu mau bantu?" Ratna menatapnya dengan mata berbinar. "Padahal kamu kan baru selesai kerja seharian..." "Tidak apa-apa." Agus sudah merangkul tubuh Paman Darto dengan hati-hati. "Daripada menunggu di sini, lebih baik cepat ke dokter." Marni berdiri perlahan, menatap Agus yang sudah siap menggendong ayahnya. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya. Sejak tadi di rumah, tatapan itu bukan lagi sekadar pandangan antara pemilik tanah dan pekerja sawah. "Terima kasih, Agus," ucapnya lembut, cukup didengar oleh mereka bertiga saja. "Kamu benar-benar membantu kami." "Saya cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan," jawab Agus pelan, lalu mengangkat tubuh Paman Darto perlahan di pundaknya. "Ratna, bantu saya pegang sisi sebelah kiri supaya tidak goyang. Marni, kamu jalan di depan, kasih tahu kalau ada rintangan di jalan." Mereka bergerak pelan menuju jalan utama. Langkah Agus berat namun stabil. Di depannya, Marni berjalan menerangi jalan dengan senter kecil. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan semuanya baik-baik saja. Di tengah perjalanan, Ratna berbisik pelan kepada Marni, cukup terdengar oleh Agus. "Kak, kenapa dia begitu baik padahal baru kenal sebentar? Dan... kenapa dia tadi seakan sudah tahu di mana kita berada?" Marni terdiam sejenak sebelum menjawab pelan. "Mungkin... mungkin dia memang orang baik, Ratna." "Tapi aku lihat tadi pintu rumah kita terbuka sedikit waktu aku keluar. Apa dia..." "Sudah, jangan berprasangka dulu," potong Marni cepat, lalu menoleh ke arah Agus. Matanya menyiratkan kekhawatiran yang belum selesai. "Sekarang fokus saja bawa Bapak ke klinik. Nanti kita bicara lagi." Agus pura-pura tidak mendengar. Tapi hatinya berdebar lagi. Kalau Ratna saja sudah curiga, berarti dia harus lebih berhati-hati ke depannya. Satu kesalahan kecil, dan bukan hanya reputasi Marni yang hancur, tapi juga semua hal yang baru saja mulai terjalin di antara mereka. Tiba-tiba senter di tangan Marni berkedip-kedip, lalu mati. Jalan setapak di depan mereka seketika gelap gulita. "Kak? Senter mati?" Ratna bertanya cemas. "Ya, baterainya habis." Marni terdiam sejenak. "Tunggu... sepertinya ada orang datang ke arah kita. Lihat, ada cahaya lampu dari depan." Cahaya lampu sepeda motor semakin dekat. Suara knalpot terdengar nyaring memecah keheningan malam. Agus memperlambat langkahnya, mempersilakan lampu menerangi jalan mereka. Motor itu berhenti tepat di depan mereka. Pria di atas motor mematikan mesin, lalu menurunkan kaca helmnya. Wajahnya yang kasar tersenyum sinis di bawah cahaya bulan yang mulai muncul. "mau kemana cantik?" tanya laki-laki itu menatap tajam ke arah mereka. "Dan kenapa kamu masih berkeliaran malam-malam begini?".Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dibandingkan saat berangkat. Sepanjang jalan Eny menatap ke luar jendela, pikirannya tak tenang. Ia berusaha menenangkan diri — mungkin hanya kesalahan catatan, mungkin sekadar salah paham. Begitu sampai, diperiksa, beres, lalu bisa kembali ke desa. Begitu harapannya. Tapi saat melangkah masuk ke gedung Agus Supermart, suasana tak seperti yang dibayangkan. Wajah-wajah tegang menyambutnya. Ria menyambut di pintu, matanya merah sembab. "Eny..." suaranya bergetar. "Kamu datang... syukurlah kamu datang." "Sudah berapa lama begini?" tanya Eny cepat, meletakkan tasnya di meja. "Sudah tiga hari. Sejak seseorang datang, mengaku... mengaku sebagai tunanganmu," jawab Ria pelan. Eny mengerutkan kening. "Tunanganku? Siapa?" Ria menunduk, tak berani menatap. "Dika." Nama itu membuat darah Eny mendidih sekaligus dingin menjalar ke sekujur tubuh. Dika. Mantan pacarnya. Pria yang dulu meninggalkannya tanpa pamit, yang pernah menyakitinya begitu dalam, y
Tiga hari berlalu begitu indah — terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri. Setiap pagi mereka bangun berpelukan, setiap hari berbagi segala hal, setiap malam tidur berdampingan tanpa lagi ada jarak di antara mereka. Di desa yang tenang itu, tak ada urusan toko, tak ada laporan, tak ada kesibukan kota — hanya mereka berdua, hidup sederhana, bahagia sepenuhnya. Agus hampir lupa bahwa dunia lain masih ada di luar sana — tempat di mana ia bukan sekadar pria yang dicintai, melainkan pemilik usaha, orang yang diandalkan, sosok yang punya tanggung jawab besar. Sore ketiga hari itu, langit mulai kemerahan. Mereka baru saja selesai makan sore di beranda, Eny sedang menyusun rencana menanam bunga di halaman depan — tiba-tiba ponsel yang ditaruh di meja bergetar kencang, bunyinya nyaring memecah keheningan. Eny menoleh, lalu meraihnya. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit — Ria, wakil manajer di toko. "Permisi sebentar ya," ucapnya pelan, lalu mengangkat. "Halo, Ria?" Wajahnya
Cahaya matahari pagi menyelinap pelan lewat celah jendela, menyentuh wajah mereka yang masih berpelukan di atas tempat tidur. Agus yang pertama membuka mata — tubuhnya terasa ringan, lelah semalam hilang tak berbekas. Di sampingnya, Eny masih tertidur pulas, kepalanya bersandar di dada bidangnya, tangan melingkar di pinggangnya. Napasnya teratur, hangat menyentuh kulitnya. Agus tersenyum lembut, membelai rambut panjang itu pelan. Rasanya damai sekali — bangun pagi bukan lagi sendirian di rumah yang sepi, melainkan ada seseorang di sampingnya, seseorang yang dicintainya, yang tulus menyayanginya. "emmmuah" Ia mencium ubun-ubun wanita itu pelan, tak berniat membangunkannya, hanya ingin menunjukkan betapa berharganya ia. Eny bergerak pelan, matanya perlahan terbuka. Melihat wajah Agus di dekatnya, senyumnya langsung merekah — murni, bahagia, tanpa ragu sedikit pun. "Sudah pagi..." bisiknya lembut, merapatkan tubuhnya makin dekat. "Iya, Sayang," jawab Agus pelan, tangannya mengusap p
Langit masih gelap pekat, fajar belum menyingsing saat Agus melangkah pulang. Kakinya terasa berat, pakaiannya berdebu, keringat kering menempel di dahi. Sepanjang malam warga menyisir hutan, pematang sawah, jalan keluar desa — tak ada jejak pencuri. Tak ada motor, tak ada barang, tak ada siapa pun yang dicurigai. Seakan mereka lenyap ditelan bumi. Warga pulang satu per satu dengan wajah kecewa dan cemas. Agus yang paling akhir ikut berkeliling, akhirnya berjalan pulang sendirian saat udara subuh mulai terasa dingin menusuk tulang. Di depan rumah, ia mengetuk pelan — pola yang sudah disepakati: dua ketukan pendek, satu ketukan lagi. Hening. Tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras. "Eny... aku pulang." Masih tak ada suara. Agus merogoh saku "krincing" — kunci cadangan yang disimpan di sana sejak dulu, kini terasa begitu berharga. Ia memasukkan ke lubang kunci, memutar perlahan "klik" Pintu terbuka senyap. Ruangan dalam gelap, cahaya samar dari langit timur me
Semuanya sudah begitu dekat. Ruangan itu terasa hangat, hanya diterangi cahaya matahari sore yang meluncur lembut lewat celah tirai. Napas mereka menyatu, jantung berdetak serentak sama cepatnya, tangan Agus perlahan menyentuh pinggang Eny, menariknya makin mendekat — bibir mereka hampir kembali bertemu, dan segala keraguan perlahan luruh, berganti keinginan untuk menyatu sepenuhnya.Tiba-tiba — ketukan keras memecah keheningan begitu tajam hingga mereka berdua tersentak kaget serentak."TOK! TOK! TOK!"Suara itu bergema di seluruh ruangan, memutus momen indah seketika."Agus! Gus! Ada di dalam? Buka pintunya!" suara lantang terdengar dari luar, disertai ketukan lain yang makin cepat.Agus meloncat bangun seketika, wajahnya memucat. Jantungnya berdebar kencang — bukan karena rindu lagi, melainkan karena kaget dan cemas.Ia menoleh ke arah jendela, lalu ke arah pintu. "Siapa pula ini..." bisiknya pelan, tangannya gemetar meraih pakaian yang tergeletak di lantai.Eny juga duduk buru-bur
Angin sore berhembus pelan, menyisir rambut mereka yang duduk berdampingan di teras belakang. Hening yang manis terasa di antara keduanya — sampai tiba-tiba Eny bergerak mendekat, merangkul pinggang Agus, dan memeluknya dengan erat sekali. Agus tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Ia tak menyangka sama sekali. Tangan yang tadi tergeletak di pangkuan terangkat perlahan, tak tahu harus diletakkan di mana — sampai ia merasakan betapa erat pelukan itu, betapa tubuh wanita itu menempel sepenuhnya padanya, seakan tak ingin berjarak sedikit pun. "dug. dug ." Jantungnya berpacu kencang sekali. Ia bisa merasakan detak jantung Eny yang sama cepatnya di dadanya. Napas hangat wanita itu menyentuh lehernya, membuat bulu kuduk berdiri dan wajahnya memerah perlahan. Perlahan, rasa kaget itu luntur, berganti rasa hangat yang meluap-luap. Tangan Agus akhirnya bergerak — melingkar lembut di punggung Eny, membalas pelukan itu dengan kehati-hatian namun penuh kerinduan yang tak terucap. E







