مشاركة

Part 10 Malam yang Panas

مؤلف: Atika
last update تاريخ النشر: 2026-05-22 00:11:27

Kilaara tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Adrian terus menciuminya seolah-olah ciuman itu adalah napas terakhirnya untuk hidup. Ciumannya begitu menuntut, bergairah, dan membuatnya gerah.

Kilaara kira, Adrian hanya berbohong saja saat dia bilang ciuman ini cuma permulaan, ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya.

Adrian mengecup kulit leher Kilaara berkali-kali namun dia tidak mencecapnya. Dia hanya mengecup dan menjilat sedikit demi sedikit hingga Kilaara menggelinjang geli.

Entah sudah berapa kali Kilaara mendesah di dalam mobil yang terparkir di area basement sepi itu.

"Pak Adrian..." Kilaara meremas rambut Adrian yang lembut saat pria itu membuka kancing kemejanya satu per satu.

Seolah sudah handal melakukannya, tangan Adrian merambat ke punggung Kilaara dan membuka pengait bra milik Kilaara. "Eh Pak Adrian. Gak. Saya malu.. Ahh..."

Adrian tidak melepaskan bra Kilaara namun ia hanya menaruhnya di atas payudara Kilaara. Tanpa membuang waktu, Adrian mencuri satu puting Kilaara untuk dimakannya.

"Kenapa kamu harus malu? Saya sudah melihat tubuhmu bahkan tanpa pakaian sialan ini." Adrian mengangkat Kilaara untuk lebih tepat berada dipangkuannya. Dia semakin ganas melahap bukit surga milik wanita yang sedang mengerang kenikmatan.

"Tapi.. tapi itu pas saya lagi mabuk. Saya aja gak ingat." Kilaara masih enggan untuk mengekspos seluruh dadanya pada Adrian. Ia bergerak menghindar, hendak turun dari atas paha Adrian yang kokoh dan kuat, tetapi dia kalah tenaga dengan pria itu.

Adrian menahan satu tangan dan pinggang Kilaara supaya tidak kemana-mana. Ia lalu mencium bibir Kilaara lagi, dengan sedikit gigitan dan jilatan.

"Uhmm.. Pak.. Kayaknya jangan diteruskan. Ini... ahh.." Kilaara merasa tidak bisa bicara dengan normal karena Adrian menyerangnya dengan liar. Sikapnya yang buas ini sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang sok keren saat menolak dirinya.

Namun Kilaara yakin, inilah Adrian yang sebenarnya. Dia salah satu pria tsundere yang paling parah.

Kilaara menangkup wajah Adrian demi bisa melepaskan diri dari ciuman Adrian yang sangat menuntut. Napas Kilaara dan Adrian saling beradu satu sama lain, dekapan intens yang membuat dada Adrian menekan payudaranya membuat suasana semakin panas.

"Ara.."

Jantung Kilaara mencelos saat nama kecilnya disebut oleh Adrian dengan sangat lembut, bahkan hampir terdengar seperti bisikan. Kilaara menatap mata Adrian yang menatap lurus ke arahnya, dengan kabut gairah dan nafsu yang terang-terangan.

Tangan Adrian tidak tinggal diam, dia bergerak ke bawah dan menarik rok Kilaara semakin ke atas hingga ke batas pinggang Kilaara.

"Pak Adrian!" Kilaara berjengkit kaget. Ia tidak menyangka kalau CEO di depannya ini sangat agresif. "Bapak serius ingin bercinta di sini?!" katanya sambil melihat-lihat ke area sekitar dari kaca mobil.

Memang kawasan parkir ini sangat sepi, benar-benar tidak ada orang, apalagi mobilnya yang terparkir di paling sudut, di tempat yang sangat minim terkena cahaya lampu.

Adrian tersenyum miring, entah kenapa sedikit membuat Kilaara takut. Sensor di otaknya ingin berbunyi dan menandakan ada makhluk berbahaya yang begitu dekat dengannya.

Tetapi semuanya sudah terlambat, Kilaara tidak bisa lepas lagi dari kurungan tubuh Adrian yang kuat dan gagah, bahkan ukurannya dua kali lipat dari tubuhnya. Kilaara merasa begitu kecil berada dalam dekapan Adrian.

"Saya terima," kata Adrian tiba-tiba.

"Hah?"

Setelah menjilat puting Kilaara, Adrian memandang wanita itu dengan senyum kecil di wajahnya, "saya terima kamu menjadi simpanan saya."

****

Gak waras, ini gila. Ini gak benar. Padahal Kilaara cuma iseng saja saat mengajukan penawaran itu, tetapi Adrian sangat serius menanggapinya.

Kilaara ingin menolak dengan keras karena Adrian tidak bisa berubah pikiran, dia tadi tidak sudi dengan gagasan itu, kenapa sekarang ia ingin menjadikan Kilaara sebagai simpanannya. Kan plin plan.

Tetapi sayang, saat Kilaara hendak menolak dan protes akan ucapan Adrian, Adrian segera mengambil alih pergulatan panas mereka dengan cara memakan payudara Kilaara lagi, dan satunya lagi menelusup ke dalam celana daam milik wanita itu.

Kilaara bahkan tidak sadar kalau Adrian sudah merobek celana pendek yang melindungi CD-nya.

"Pak Adrian. Ahh. Ini geli." Kilaara hampir berteriak saat Adrian memainkan klitorisnya dengan dua jari, sedangkan mulutnya masih mencecap puting Kilaara.

Payudara Kilaara yang basah dan memerah di mana-mana membuat Adrian semakin bernafsu dan ingin segera membebaskan miliknya yang sudah mendesak di bawah.

"Ara.. buka celana saya." Adrian berbisik di telinga Kilaara, sesekali menjilatnya hingga membuat Kilaara kewalahan menerima semua rangsangan yang diberikan oleh Adrian.

"Hm.." Kilaara merasa bodoh karena menuruti perintah Adrian begitu saja. Dengan tangan gemetar, ia membuka pengait tali pinggang Adrian, lalu membuka resleting celana dasarnya, dan menurunkannya hingga batas maksimal. Adrian sedikit beranjak dari duduknya supaya Kilaara mudah menurunkan celananya.

Adrian mengerang saat tangan Kilaara mengelus miliknya yang masih dibalut oleh celana dalam. Miliknya yang sudah sekeras batu itu meronta ingin dibebaskan.

"Pegang Sayang. Begini." Adrian menuntun tangan Kilaara untuk membuka celana dalam miliknya yang berwarna hitam, dan seketika.... Astaga, Kilaara tak percaya ini, milik Adrian yang menjulang tegak itu sangat besar dan panjang!

"Pak Adrian, besar banget!" Kilaara melotot saat melihatnya. Ia spontan membayangkan, apakah muat sebesar itu masuk ke dalam miliknya? Apalagi ketika mereka melakukannya pada malam itu, dia masih perawan. Pantas saja Kilaara merasakan sakit dan perih yang luar biasa di esok harinya.

Adrian tersenyum lebar saat Kilaara memuji kejantanannya. Dia mengerang dan mendesah saat Kilaara mengelus miliknya dengan perlahan. Rasanya sangat nikmat dan menggelitik.

Entah kenapa Kilaara merasakan kepuasan tersendiri melihat Adrian yang mendesah hebat saat ia memainkan miliknya seperti ini. Dia senang melihatnya seolah Adrian sangat menginginkan sentuhannya.

Bagaimana kalau Kilaara mempraktekkan apa yang dia lihat di video vulgar atau novel dewasa yang pernah dibacanya?

Adrian merasa kehilangan saat Kilaara menghentikan belaian tangannya dan beranjak dari pangkuannya. Namun sedetik kemudian, matanya terbelalak besar saat Kilaara turun dari jok mobil dan berjongkok di bawahnya. Ia terkejut, tetapi Adrian sangat menyukainya setengah mati ketika Kilaara membuka mulutnya dan.... hap.. memakan miliknya.

"Ara..." Adrian kembali mengerang nikmat saat Kilaara mengulum miliknya dan memainkannya dengan lidah. Dia mengusap rambut Kilaara, memberikan apresiasi untuk wanita itu.

"Ah, ini sangat nikmat.." Kepala Adrian menengadah dan membiarkan Kilaara mengeksplorasi miliknya. Namun hanya sebentar saja, Kilaara sudah sangat mahir melakukannya.

"Ara, Ara.. cukup Sayang. Jangan begitu. Saya tidak mau keluar di dalam mulutmu." Adrian segera menghentikan kepala Kilaara yang naik turun ketika mengemut miliknya. Dengan cepat, Adrian mengangkat kembali tubuh Kilaara ke atas pangkuannya.

"Saya masukkan ya." Adrian menciumi seluruh area wajah Kilaara saat ia bergerak memasukkan batang kejantannya ke dalam liang surga dunia milik Kilaara.

"Argh.." Kilaara meremas pundak Adrian kala merasakan sakit karena ukuran Adrian yang terlalu besar, seolah sebentar lagi akan meledak.

"Pak Adrian.. gak muat." Kilaara menggigit bibir bawahnya sembari memejamkan matanya lekat-lekat. Adrian menurunkan tubuh Kilaara perlahan-lahan, sambil tetap mencoba memasukkan miliknya lebih dalam.

"Kamu masih sangat ketat Ara."

Adrian segera mengalihkan kesakitan Kilaara dengan cara mencumbu bibirnya, menautkan lidahnya dengan lidah Kilaara supaya wanita itu sedikit tenang agar miliknya terbenam dengan sepenuhnya ke dalam tubuh Kilaara.

"Pelan-pelan. Ah, sakit Pak Adrian. Jangan bergerak dulu," kata Kilaara. Adrian menuruti ucapannya dan hanya diam seraya mengusap wajah Kilaara.

Wanita itu masih meringis, memosisikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri supaya lebih nyaman saat milik Adrian memenuhi miliknya. Kilaara merasa sesak. Sayangnya, pergerakannya itu malah membuat Adrian mengerang keenakan.

"Sudah tenang?" Adrian merengkuh tubuh Kilaara untuk dipeluk. Sesekali ia menciumi area dada Kilaara.

Masih memejamkan mata, Kilaara menganggukkan kepala. Awalnya memang sakit, tapi kenapa lama-kelamaan kok enak. Kilaara mencoba untuk bergerak perlahan, bokongnya naik turun mengikuti ritme yang diberikan Adrian. Keduanya pun mendesah.

"Pintar sekali," puji Adrian dengan mengusap pipi Kilaara karena wanita itu mengambil alih. "Kalau kamu bergerak cepat begitu, saya akan cepat keluar, Ara."

"Keluarkan saja, Pak. Ahh, Pak Adrian gak adil." Kilaara mencubit kedua pipi Adrian. Sedangkan bagian bawahnya masih memijit milik Adrian dengan lihainya.

"Tidak adil kenapa?" tanya Adrian.

"Gak adil karena mempermainkan saya dari kemarin-kemarin! Padahal Pak Adrian sendiri yang nafsuan sama saya." Kilaara pun menggigit bibir bawah Adrian hingga pria itu berdesis.

Adrian hanya menanggapi sindirian itu dengan senyuman, "kalau tidak begitu, nanti kamu lari dari saya."

"Pak Adrian yang ambil perawan saya lho, kenapa saya yang lari! Ahh, kok punya bapak nambah gede?!" Kilaara tidak tahan untuk berteriak saat Adrian meremas pantatnya sekaligus menghisap payudaranya.

"Karena itu, kamu milik saya ya." Adrian berbicara di tengah-tengah bukit kembar Kilaara.

"Apa? Argh... gak kedengaran.." Kilaara bergelinjang menikmati adegan panas mereka yang semakin liar saja. Namun tiba-tiba, Adrian berhenti menggerakkan tubuhnya hingga membuat Kilaara kehilangan, "Pak!! Tanggung!" protesnya.

"Saya bilang, ini punya saya." Adrian memainkan klitoris Kilaara, "ini juga." Ia lalu melahap puting Kilaara bergantian, "dan ini juga." Adrian meraup bibir Kilaara dengan lumatan yang basah. Kilaara tidak tahan untuk tidak menggerakkan tubuhnya.

"Pak Adrian..." keluh Kilaara karena Adrian menahan pinggangnya supaya diam. Tubuhnya terasa tersiksa saat Adrian menahan gairahnya seperti ini.

"Jawab dulu, kamu milik saya."

"Gak!!" Kilaara ingin melepaskan tangan Adrian yang menahan pinggangnya, tapi lagi-lagi tenaganya kalah kuat dari Adrian. "Akh Pak Adrian. Sakit!" Dia pun meringis kesakitan saat Adrian meremas pinggangnya dengan kuat.

"Mana jawabannya Ara?" tuntut pria itu.

"Iya iya terserah deh. Saya milik bapak! Milik Pak Adrian Sachdev. Puas kan?" jawab Kilaara sambil mendengus kesal.

"Bagus. Ara milik saya. Tidak boleh ada pria lain yang menyentuhmu seperti ini selain saya," ujar Adrian begitu posesif.

"Iya Pak Adrian."

Kilaara berteriak keras ketika Adrian mendorong tubuhnya hingga berguling di atas jok mobil. Pria itu mengangkat satu kaki Kilaara ke atas dan mendorong batang kejantanannya dengan keras dan cepat sampai membuat Kilaara mendesah hebat.

Adrian tidak membuang waktu untuk membawa Kilaara melayang dalam kenikmatan dengan terus-menerus menghujam miliknya begitu cepat.

Hingga akhirnya Adrian memanggil nama Kilaara berkali-kali dan meledakkannya ke dalam milik Kilaara. Masih belum melepaskan miliknya, Adrian mengangkat tubuh Kilaara kembali dan memeluknya erat.

Adrian lalu mengusap punggung Kilaara, sementara mereka sibuk mengatur napas satu sama lain. Debaran jantung mereka beradu ketika mereka berpelukan seperti ini, membuat Adrian merasakan sensasi yang aneh. Sensasi yang mengatakan kalau Kilaara ialah miliknya seorang, dan tidak ada yang boleh memilikinya selain dia.

"Eh eh, bentar Pak. Kok gini..."

Kilaara merasakan miliknya kembali penuh setelah sepuluh menit mereka diam karena orgasme yang melanda. Tetapi kenapa itu Adrian menegang lagi. Gila banget deh, berapa besar nafsu Adrian pada dirinya sih.

Adrian pun terkekeh, "sekali lagi ya Ra?"

"Emoh!!!"

******

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 10 Malam yang Panas

    Kilaara tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Adrian terus menciuminya seolah-olah ciuman itu adalah napas terakhirnya untuk hidup. Ciumannya begitu menuntut, bergairah, dan membuatnya gerah. Kilaara kira, Adrian hanya berbohong saja saat dia bilang ciuman ini cuma permulaan, ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya.Adrian mengecup kulit leher Kilaara berkali-kali namun dia tidak mencecapnya. Dia hanya mengecup dan menjilat sedikit demi sedikit hingga Kilaara menggelinjang geli. Entah sudah berapa kali Kilaara mendesah di dalam mobil yang terparkir di area basement sepi itu."Pak Adrian..." Kilaara meremas rambut Adrian yang lembut saat pria itu membuka kancing kemejanya satu per satu. Seolah sudah handal melakukannya, tangan Adrian merambat ke punggung Kilaara dan membuka pengait bra milik Kilaara. "Eh Pak Adrian. Gak. Saya malu.. Ahh..." Adrian tidak melepaskan bra Kilaara namun ia hanya menaruhny

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 9 ONS yang Kedua?

    Perkara satu malam saja, masalahnya bisa sepanjang ini. Kilaara akui, dari semua orang yang dia kenal selama dua puluh tiga tahun, Adrian Sachdev adalah pria yang paling merepotkan, menyebalkan, dan ingin menang sendiri. Pokoknya Kilaara serba salah menghadapinya. Belum cukup untuk membuatnya pusing memikirkan bagaimana cara bertanggung jawab atas malam itu, kini Kilaara semakin linglung karena Adrian seenaknya memindahkan dia ke kantor pusat. Kilaara tidak tahu maksud dan tujuan Adrian melakukan itu, mungkin memang benar dugaannya kalau Adrian sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Jika tidak, alasan apa lagi coba? Tidak mungkin kan Adrian ingin mengikat dirinya supaya tidak lari kemana-mana. “Parah sih kalo bener, ngeri ah,” batin Kilaara. Dia ingin berpikir positif saja saat ini. Bahkan bagus dong kalau dia dipindahtugaskan ke kantor pusat, karirnya akan lebih berkembang dan ia bisa bertemu orang-orang baru yang lebih profesional. "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Aduh, K

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 8 Akal-akalan Adrian

    "Apa kamu sudah gila?" Adrian mendorong bahu Kilaara hingga punggung wanita itu menabrak pintu mobil di belakangnya. Adrian refleks melakukan itu karena Kilaara yang tiba-tiba mencium dirinya. "Aw, kasar banget sih." Kilaara mengaduh kesakitan sembari mengusap punggungnya sesekali. Dari sorot matanya yang khawatir, Adrian tampak merasa bersalah sudah menyakiti Kilaara, namun ia segera mengganti ekspresinya menjadi tak acuh. Adrian berdeham singkat sebelum melanjutkan ucapannya, "itu salah kamu sendiri yang tiba-tiba menyergap saya." "Tapi gak usah sekeras itu juga kali Pak dorong saya sampe kepentok pintu. Masih nyeri tau." Kilaara paham kalau tindakan Adrian terlalu spontan akibat dia terkejut setelah Kilaara menyerangnya. Namun tetap saja Adrian tak perlu sekasar itu. Adrian segera mengalihkan pembicaraan sebelum Kilaara mengoceh lagi, "saya tidak peduli caranya seperti apa, yang jelas kamu harus tanggung jawab." "Berarti bapak setuju kalau kita wik-wik lagi gitu?" timpa

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 7 - Bayar aku juga biar impas!

    Benarkah pria yang tidur dengannya malam itu adalah bosnya sendiri? Itu tidak mungkin terjadi kan. Bukankah kebetulan yang sangat menyenangkan—ah maksud Kilaara, kebetulan yang sangat sial itu hanya terjadi di novel romansa saja. Tetapi kalau mereka tidak melakukannya, tidak akan mungkin Adrian yang terkenal angkuh dan sombong ini berani mencium karyawannya sendiri. Apalagi Adrian memegang teguh pendirian bahwa tidak boleh ada skandal antara bos dan bawahnnya di kantor. Kepala Kilaara pusing memikirkan itu, ditambah lagi dengan sapuan lembut di bibirnya yang sudah lenyap saat tubuh Adrian menjauh dari sisinya. Kilaara hanya bisa menghirup rakus aroma parfum maskulin setelahnya. Entah perasaan darimana, Kilaara ingin dicium lagi. Astaga, tidak-tidak! Kilaara sontak menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja dia harapkan? "Hm. Ehmm.." Kilaara memulai percakapan karena Adrian memilih diam setelah mencium bibirnya, "maksud bapak— yang semalam itu, saya yang menghabiskan satu

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 6 - Ketahuan

    Gak enak. Kaku. Tegang. Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev tersebut, dan mereka mulai berpikir jika ada seseorang yang membuat beliau marah pada pesta tadi malam. Tanpa sepengetahuan Adrian yang berdiri di depan pintu dengan gaya angkuh—kedua tangan terlipat di depan dada dan kakinya yang menyilang—beberapa karyawan yang sepertinya tampak sibuk akan pekerjaan mereka di depan komputer, ternyata heboh mengetik hujatan dan tuduhan di grup. "Ngaku aja deh siapa yang bikin bos marah? Sumpah daritadi gue gak tenang!" "Bukannya lo yang paling kurang ajar semalem? Kan lo yang ngajak pak bos karoke?" "Gue ajak beliau juga kan ditolak." "Gue sama sekali gak ngapa-ngapain ya. Gue cuman nyapa beliau. Udah." "Iyaaaa!! Bukannya bos juga ngilang setelah hampi

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 5 - Bos Pelit

    Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukannya berdesir karena jatuh hati, melainkan rasa takut. Yang benar saja, pahanya bergetar lirih saking ingin kabur dari lantai yang ia pijak saat ini. "Se-selamat pagi Pak Adrian," gagap Kilaara sembari menundukkan kepalanya dengan sopan. Dalam hati, dia berdoa dan berharap jika Adrian tidak menyadari betapa kusut penampilannya. Dibandingkan dengannya, sosok Adrian berhasil membuatnya terpukau. Kilaara akui, bosnya yang berstatus duda tampan ini memiliki kharisma yang luar biasa. Padahal Adrian hanya diam saja, tetapi auranya itu lho meluap-luap sampai tumpah."You look different," ucap Adrian lirih sehingga Kilaara susah mendengarnya."Hah?" Kilaara spontan menutup mulutnya. Bodoh! Bodoh! Ken

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status