مشاركة

Part 9 ONS yang Kedua?

مؤلف: Atika
last update تاريخ النشر: 2026-05-21 19:45:11

Perkara satu malam saja, masalahnya bisa sepanjang ini. Kilaara akui, dari semua orang yang dia kenal selama dua puluh tiga tahun, Adrian Sachdev adalah pria yang paling merepotkan, menyebalkan, dan ingin menang sendiri. Pokoknya Kilaara serba salah menghadapinya.

Belum cukup untuk membuatnya pusing memikirkan bagaimana cara bertanggung jawab atas malam itu, kini Kilaara semakin linglung karena Adrian seenaknya memindahkan dia ke kantor pusat.

Kilaara tidak tahu maksud dan tujuan Adrian melakukan itu, mungkin memang benar dugaannya kalau Adrian sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Jika tidak, alasan apa lagi coba? Tidak mungkin kan Adrian ingin mengikat dirinya supaya tidak lari kemana-mana.

“Parah sih kalo bener, ngeri ah,” batin Kilaara.

Dia ingin berpikir positif saja saat ini. Bahkan bagus dong kalau dia dipindahtugaskan ke kantor pusat, karirnya akan lebih berkembang dan ia bisa bertemu orang-orang baru yang lebih profesional.

"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?"

Aduh, Kilaara lupa kalau dia sedang berada di dalam mobil bersama dalang atas perubahan hidupnya ini. Adrian, si CEO yang paling arogan.

Ya, beberapa saat lalu telah diputuskan bahwa dia dan orang yang duduk di samping pak sopir di depan adalah pegawai yang pindah ke pusat. Anehnya, Adrian bilang pada staf di kantor kalau perpindahan itu bisa langsung dilakukan hari ini juga dengan mengikutinya ke sana. Aneh bin ajaib, memang suka-suka pak Ceo deh.

"Siapa yang senyum? Gak tuh," ujar Kilaara tak acuh sambil melengos ke luar kaca mobil.

Leo, yang kebetulan menjadi teman pindahnya saat ini sangat terkejut mendengar ucapan Kilaara. Gila atau stres si Kilaara menjawab omongan Adrian dengan penuh kesombongan. Dia yang duduk di depan bareng sopir saja tidak berani mengucapkan satu patah kata pun.

Atau jangan-jangan, Kilaara memang sedekat itu dengan Pak Ceo? Berarti dia tidak bohong dong kalau kemarin numpang di mobil Adrian. Sebuah konspirasi yang menarik nih, ada hubungan apa teman dekatnya itu dengan pemimpin di perusahaan mereka bekerja.

Adrian mendelik tidak suka dengan jawaban Kilaara. Dia makin gusar saat wanita itu hanya fokus melihat ke jalanan seolah tidak memperhatikan kalau ada dia di sini, di sampingnya. "Sudah pikirkan jawaban dari pertanyaan saya semalam?"

Akhirnya Kilaara pun menoleh ke arah si penanya. Sungguh keberuntungan yang sial. Mau dilihat berapa kali pun, wajah Adrian memang tipe dia banget. Kalau Adrian bukan duda, Kilaara pasti jatuh cinta pada pria itu.

"Sudah, Pak." Kilaara menjawab dengan mantap. Meskipun Adrian tidak bicara langsung, namun dia yakin bahwa pria itu sedang menagih tanggung jawab yang konyol tentang malam panas mereka.

Alih-alih bertanya, Adrian justru menaikkan sebelah alisnya saat menuntut jawaban dari Kilaara.

"Saya bersedia jadi simpenan bapak," lanjut Kilaara membuat Leo batuk mendadak. Bukan cuma Leo saja, pak sopir yang usianya setengah abad itu saja tersedak saat mendengar ucapannya.

Lain lagi dengan respon Adrian, pria itu malah tertawa mengejek. Tawanya yang tidak niat itu membuat Kilaara sangat kesal. Apa-apaan pria ini sih, nyebelin banget!!

Kilaara tidak peduli dengan reaksi Adrian yang menertawakannya, toh dia memang bicara asal.

"Kamu kira saya mau menyimpan kamu?" Adrian melihat Kilaara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu membuat Kilaara terasa seperti ditelanjangi.

Brengsek nih bos satu! Gak ngerti lagi aku mau gimana.

Kilaara membatin kesal, "ya sudah kalau bapak gak mau. Bagaimana kalau saya jadi fwb bapak?" tawarnya tanpa malu. Lagi-lagi, batuk akibat kaget terdengar dari mulut Leo.

"Sudah saya bilang, saya tidak mau lagi melakukan itu dengan kamu." Adrian menolak Kilaara mentah-mentah. Dia tidak percaya dengan tawaran Kilaara yang terdengar sangat bodoh itu.

Dia kira, karena Kilaara masih perawan malam itu, Kilaara akan bersikap seperti gadis baik-baik yang menyesal telah melakukannya. Tapi wanita yang di sampingnya ini justru sebaliknya.

Memang tidak bisa dipungkiri, Adrian merasakan sesuatu yang aneh saat bercinta dengan Kilaara. Ia menjadi pria pertama untuk wanita itu.

Pria pertama yang masuk ke liang kenikmatan tiada tara yang telah lama Adrian tidak rasakan. Sensasi dijepit oleh lubang yang ketat dan tungkai Kilaara yang seksi saat ia menghujamnya dengan keras, membuat jantungnya berdebar kencang.

Apakah begini rasanya bercinta dengan seorang perawan? Sangat memuaskan. Adrian tidak pernah merasakan kenikmatan yang sama, bahkan dengan mendiang istrinya. Kalau mau diingat, saat Adrian menikah, istrinya juga tidak perawan lagi.

Waktu itu, Adrian sedikit merasa terkhianati karena keperjakaannya yang berharga, tlah hilang oleh wanita yang memberikan kehormatan pertama kalinya untuk pria lain. Namun karena Adrian sangat mencintai istrinya, masalah itu langsung termaafkan.

Sebenarnya Adrian berbohong tidak mau bercinta lagi dengan Kilaara. Dia juga berbohong saat mengaku Kilaara yang agresif menyerangnya hingga mengajaknya sampai tiga ronde.

Yang terjadi pada malam itu ialah Kilaara pingsan akibat kelelahan saat Adrian tidak berhenti membuatnya orgasme. Sebelum pingsan, Kilaara memohon sambil menangis pada Adrian untuk berhenti namun pria itu tidak bisa karena nafsunya yang tertahan selama ini.

Untung saja Kilaara tidak ingat apa-apa tentang malam itu.

"Pak Adrian!" Kilaara memukul tangan Adrian. Ia tidak menyangka kalau Adrian bicara sejujur itu sedangkan ada dua orang di depan yang mendengarkan mereka. Kilaara beringsut lebih dekat dan berbisik ke telinga Adrian, "bapak sengaja ya buat mereka tau kalau kita sudah wik wik?"

Bisikan super halus dan menggelitik itu membuat Adrian merinding. Tangannya terkepal kuat demi menahan gejolak gairah yang timbul tiba-tiba saat bibir Kilaara menyentuh telinganya.

Ia kembali mengingat tentang sesi percintaan mereka dimana Kilaara suka menciumi telinga dan lehernya. Ahh, Adrian ingin merasakannya sedikit lagi.

"Kenapa kamu malu?" Adrian juga berbisik di telinga Kilaara. Dia sengaja menelusupkan satu jari tangannya ke helai rambut Kilaara.

Kilaara berjengkit kaget saat bibir Adrian menyentuh halus daun telinganya. Ia pun menggosok-gosok bagian itu guna menghilangkan rasa geli.

Gak bener nih, gak bener! Kok aku ngerasa Adrian sengaja kayak mau cium telinga gitu. Apa dia nantangin aku? Mau bales dendem? Oke kalau gitu aku jabanin.

Kilaara melihat senyum miring Adrian yang membuat ketampanan pria itu sudah diluar batas wajar. Terlihat licik seolah sedang merencanakan sesuatu. Entah kenapa, Kilaara merasa kalau pak bosnya ini bermuka dua.

Kilaara kembali mendekat dan terus mendekat hingga tubuhnya menghimpit Adrian. Anehnya Adrian tidak bergeming atau mundur, dia bahkan membiarkan Kilaara masuk ke jangkauan tangannya.

Kini Kilaara berbisik lagi di telinga Adrian, "gak juga, aku gak terlalu peduli sih." Ucapannya biasa saja, tapi tindakan yang Kilaara lakukan justru bertolak belakang. Dia menarik jas Adrian dan mencium singkat pipi pria itu.

"Kamu menggoda saya?" Kali ini mereka tidak lagi saling berbisik di telinga. Adrian berbisik tepat di depan bibir Kilaara.

"Gak tuh. Inget? Pak Adrian kemarin dorong saya karena tidak mau saya cium." Kilaara juga berbisik pelan di depan wajah Adrian sambil mengusap rahang tegas milik pria itu. Hanya dorongan sedikit saja, mereka akan berciuman.

"Itu karena kamu mencium saya tiba-tiba, jadi saya refleks mendorong kamu," kata Adrian tersenyum kecil seraya mengecup singkat bibir Kilaara.

Kilaara melotot sempurna saat itu. Ia tidak menyangka kalau Adrian akan menciumnya. Dasar buaya darat! Kukira cupu, ternyata kau suhu. Berani-beraninya Adrian mempermainkannya seperti ini. Kemarin sok jual mahal, sekarang? Arghh, dia tidak akan kalah.

Kilaara mendekat lagi hingga dadanya menempel dengan dada bidang Adrian, "kalau begitu sekarang aku minta izin nih. Aku cium ya?"

Tanpa jawaban dari Adrian, Kilaara menempelkan bibirnya dan mencecap bibir Adrian dengan lembut. Kilaara merasa Adrian sedang tersenyum saat ini. Tak lama menunggu, Adrian membalas ciumannya.

Dia menangkup wajah Kilaara, mengambil alih ciuman lembut itu menjadi ciuman panas. Bunyi cecapan bibir terdengar begitu intens saat mereka saling memagut satu sama lain.

Kilaara tak tahan untuk berdesah ketika tangan Adrian menyusup ke dalam blusnya dan menemukan payudaranya. Adrian meremasnya dengan lembut sembari menelusuri lebih dalam ciumannya.

Dunia terasa milik mereka berdua, hingga tidak memedulikan orang di depannya yang tampak mematung gugup mendengar pergulatan bibir mereka.

Entah sudah berapa menit mereka berciuman, Adrian akhirnya melepaskan sejenak bibir mereka untuk Kilaara mengambil napas. Ia menyadari jika mobil yang mereka kendarai sudah memasuki parkiran basement.

"Parkir di paling sudut," suruh Adrian seraya mencium lagi bibir Kilaara.

"Baik Pak." Pak sopir yang melihat adegan panas secara live dari spion tengah hanya bisa meneguk ludahnya. Sementara Leo, dia ingin sekali melihat ke belakang namun ketakutannya pada Adrian membuat dia mati kutu.

Setelah mobil terparkir, Adrian melepaskan lagi ciumannya. Kilaara mengatur napasnya yang ngos-ngosan di pundak Adrian. Ia bahkan tak percaya kalau sekarang dia sedang berada di atas pangkuan Adrian. Lah sejak kapan?

"Kalian berdua keluar, biarkan mobilnya menyala," ucap Adrian sembari memeluk pinggang Kilaara dengan erat. Tanpa disuruh dua kali, Leo dan pak sopir pun keluar dan meninggalkan mereka berdua saja di parkiran bawah tanah yang sepi dan agak gelap. Apalagi mobil mereka terparkir di paling sudut.

"Eh eh pak Adrian--umhh..." Kilaara menutup matanya rapat-rapat saat Adrian kembali memagut bibirnya, namun kali ini lebih basah dah panas. Kilaara kewalahan membalas ciuman itu hingga dia tidak tahan untuk mengerang.

"Kita... baru saja mulai Ara sayang," bisik Adrian di sela-sela ciuman mereka. Kilaara terkesiap saat Adrian membuka satu per satu kancing kemejanya.

"Pak Adrian, tunggu. Jangan bilang kalau kita..."

"Seperti yang kau pikirkan."

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 10 Malam yang Panas

    Kilaara tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Adrian terus menciuminya seolah-olah ciuman itu adalah napas terakhirnya untuk hidup. Ciumannya begitu menuntut, bergairah, dan membuatnya gerah. Kilaara kira, Adrian hanya berbohong saja saat dia bilang ciuman ini cuma permulaan, ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya.Adrian mengecup kulit leher Kilaara berkali-kali namun dia tidak mencecapnya. Dia hanya mengecup dan menjilat sedikit demi sedikit hingga Kilaara menggelinjang geli. Entah sudah berapa kali Kilaara mendesah di dalam mobil yang terparkir di area basement sepi itu."Pak Adrian..." Kilaara meremas rambut Adrian yang lembut saat pria itu membuka kancing kemejanya satu per satu. Seolah sudah handal melakukannya, tangan Adrian merambat ke punggung Kilaara dan membuka pengait bra milik Kilaara. "Eh Pak Adrian. Gak. Saya malu.. Ahh..." Adrian tidak melepaskan bra Kilaara namun ia hanya menaruhny

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 9 ONS yang Kedua?

    Perkara satu malam saja, masalahnya bisa sepanjang ini. Kilaara akui, dari semua orang yang dia kenal selama dua puluh tiga tahun, Adrian Sachdev adalah pria yang paling merepotkan, menyebalkan, dan ingin menang sendiri. Pokoknya Kilaara serba salah menghadapinya. Belum cukup untuk membuatnya pusing memikirkan bagaimana cara bertanggung jawab atas malam itu, kini Kilaara semakin linglung karena Adrian seenaknya memindahkan dia ke kantor pusat. Kilaara tidak tahu maksud dan tujuan Adrian melakukan itu, mungkin memang benar dugaannya kalau Adrian sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Jika tidak, alasan apa lagi coba? Tidak mungkin kan Adrian ingin mengikat dirinya supaya tidak lari kemana-mana. “Parah sih kalo bener, ngeri ah,” batin Kilaara. Dia ingin berpikir positif saja saat ini. Bahkan bagus dong kalau dia dipindahtugaskan ke kantor pusat, karirnya akan lebih berkembang dan ia bisa bertemu orang-orang baru yang lebih profesional. "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Aduh, K

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 8 Akal-akalan Adrian

    "Apa kamu sudah gila?" Adrian mendorong bahu Kilaara hingga punggung wanita itu menabrak pintu mobil di belakangnya. Adrian refleks melakukan itu karena Kilaara yang tiba-tiba mencium dirinya. "Aw, kasar banget sih." Kilaara mengaduh kesakitan sembari mengusap punggungnya sesekali. Dari sorot matanya yang khawatir, Adrian tampak merasa bersalah sudah menyakiti Kilaara, namun ia segera mengganti ekspresinya menjadi tak acuh. Adrian berdeham singkat sebelum melanjutkan ucapannya, "itu salah kamu sendiri yang tiba-tiba menyergap saya." "Tapi gak usah sekeras itu juga kali Pak dorong saya sampe kepentok pintu. Masih nyeri tau." Kilaara paham kalau tindakan Adrian terlalu spontan akibat dia terkejut setelah Kilaara menyerangnya. Namun tetap saja Adrian tak perlu sekasar itu. Adrian segera mengalihkan pembicaraan sebelum Kilaara mengoceh lagi, "saya tidak peduli caranya seperti apa, yang jelas kamu harus tanggung jawab." "Berarti bapak setuju kalau kita wik-wik lagi gitu?" timpa

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 7 - Bayar aku juga biar impas!

    Benarkah pria yang tidur dengannya malam itu adalah bosnya sendiri? Itu tidak mungkin terjadi kan. Bukankah kebetulan yang sangat menyenangkan—ah maksud Kilaara, kebetulan yang sangat sial itu hanya terjadi di novel romansa saja. Tetapi kalau mereka tidak melakukannya, tidak akan mungkin Adrian yang terkenal angkuh dan sombong ini berani mencium karyawannya sendiri. Apalagi Adrian memegang teguh pendirian bahwa tidak boleh ada skandal antara bos dan bawahnnya di kantor. Kepala Kilaara pusing memikirkan itu, ditambah lagi dengan sapuan lembut di bibirnya yang sudah lenyap saat tubuh Adrian menjauh dari sisinya. Kilaara hanya bisa menghirup rakus aroma parfum maskulin setelahnya. Entah perasaan darimana, Kilaara ingin dicium lagi. Astaga, tidak-tidak! Kilaara sontak menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja dia harapkan? "Hm. Ehmm.." Kilaara memulai percakapan karena Adrian memilih diam setelah mencium bibirnya, "maksud bapak— yang semalam itu, saya yang menghabiskan satu

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 6 - Ketahuan

    Gak enak. Kaku. Tegang. Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev tersebut, dan mereka mulai berpikir jika ada seseorang yang membuat beliau marah pada pesta tadi malam. Tanpa sepengetahuan Adrian yang berdiri di depan pintu dengan gaya angkuh—kedua tangan terlipat di depan dada dan kakinya yang menyilang—beberapa karyawan yang sepertinya tampak sibuk akan pekerjaan mereka di depan komputer, ternyata heboh mengetik hujatan dan tuduhan di grup. "Ngaku aja deh siapa yang bikin bos marah? Sumpah daritadi gue gak tenang!" "Bukannya lo yang paling kurang ajar semalem? Kan lo yang ngajak pak bos karoke?" "Gue ajak beliau juga kan ditolak." "Gue sama sekali gak ngapa-ngapain ya. Gue cuman nyapa beliau. Udah." "Iyaaaa!! Bukannya bos juga ngilang setelah hampi

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 5 - Bos Pelit

    Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukannya berdesir karena jatuh hati, melainkan rasa takut. Yang benar saja, pahanya bergetar lirih saking ingin kabur dari lantai yang ia pijak saat ini. "Se-selamat pagi Pak Adrian," gagap Kilaara sembari menundukkan kepalanya dengan sopan. Dalam hati, dia berdoa dan berharap jika Adrian tidak menyadari betapa kusut penampilannya. Dibandingkan dengannya, sosok Adrian berhasil membuatnya terpukau. Kilaara akui, bosnya yang berstatus duda tampan ini memiliki kharisma yang luar biasa. Padahal Adrian hanya diam saja, tetapi auranya itu lho meluap-luap sampai tumpah."You look different," ucap Adrian lirih sehingga Kilaara susah mendengarnya."Hah?" Kilaara spontan menutup mulutnya. Bodoh! Bodoh! Ken

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status