LOGINPasé cinco años reuniendo pruebas para destruir al intocable CEO Adrian Sterling, el hombre que arruinó a mi familia. Cuando por fin lo acorralo con la evidencia, no me ruega ni se disculpa. Me ofrece un trato retorcido: un matrimonio de conveniencia de doce meses a cambio de limpiar el nombre de mi padre. Acepto, planeando vengarme desde dentro de su imperio. Pero lo que descubro es que el escándalo corporativo nunca fue por dinero. Fue para ocultar un secreto mortal que mi padre murió protegiendo. Ahora, los verdaderos monstruos me están cazando, y el hombre que juré odiar es el único capaz de mantenerme con vida. Adrian es arrogante, controlador y peligrosamente magnético. Pero mientras fingimos ser la pareja perfecta, la línea entre el odio y el deseo se vuelve mortal. Firmé un contrato para destruirlo, pero caer en su juego podría significar perder mi corazón... o mi vida.
View More"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"
Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. "Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut. Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. "Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter. Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”Adrian Sterling emergió de las sombras con las manos en alto, su silueta recortada por la luz de los reflectores. Caminó lentamente hacia el centro del almacén, con los ojos fijos en el hombre de las cicatrices, pero su mirada se desvió hacia mí por un segundo. Solo un segundo, pero fue suficiente para que yo entendiera el mensaje: *Confía en mí*."El chico de oro se rinde", se burló el hombre de las cicatrices, dando una palmada lenta y sarcástica. "Nunca pensé que vería el día.""Suelta a las mujeres y llévame a mí", dijo Adrian, con una voz gélida. "Soy el que tiene el libro. Ellas no son más que lastre.""Adrian, no", susurré, pero mi voz se perdió en el rugido de la sangre en mis oídos.El hombre de las cicatrices se rio, un sonido desagradable que rebotó en las paredes metálicas. "Eres un mentiroso, Sterling. Siempre lo has sido. El libro está en la chica. Lo sé. Mi jefe lo sabe. Y si no nos lo das ahora, empezaremos a cortar dedos."Hizo un gesto a uno de sus hombres, que se ac
La hora siguiente fue un torbellino de movimientos frenéticos y decisiones imposibles. Adrian me llevó a una de sus casas de seguridad, un ático de lujo en el centro de la ciudad que parecía más un búnker militar que una vivienda. Hombres armados patrullaban los pasillos, y las ventanas estaban equipadas con cristales blindados.Me senté en un sofá de cuero negro, con una manta sobre los hombros y un vaso de whisky en la mano que no dejaba de temblar. Adrian estaba de pie frente a una mesa de mapas, rodeado de sus hombres de confianza, trazando un plan."La dirección es un almacén en el puerto", dijo uno de los hombres, un tipo corpulento con cicatrices de guerra. "Es una zona abierta, sin muchos escondites. Si entramos, nos verán venir.""Entonces no vamos a entrar", dijo Adrian, con una calma que me erizó la piel. "Vamos a hacer que ellos salgan.""¿Cómo?"Adrian se giró hacia mí, y en sus ojos había una determinación fría y letal. "El libro. Necesitamos el libro.""¿Qué?", me levan
El sonido del gas venenoso entrando por las rejillas de ventilación era un silbido fino y letal, el tipo de ruido que te dice que te quedan segundos de vida. El aire ya empezaba a picarme en la garganta, un olor dulzón y metálico que anunciaba la muerte."Isabella, al suelo", ordenó Adrian, su voz cortando la oscuridad absoluta de la bóveda. "El gas es más pesado que el aire. Tápate la boca y la nariz con la ropa. Respira lo más superficialmente que puedas."Me dejé caer de rodillas, arrastrando a mi madre conmigo. El suelo de la bóveda estaba frío, y el terror hacía que mis manos temblaran mientras me cubría la cara con el cuello de mi camisa. A mi lado, escuché a Adrian moverse con una eficiencia aterradora. No estaba entrando en pánico. Estaba trabajando."¿Qué estás haciendo?", logré jadear, mientras mis pulmones empezaban a arder."La puerta tiene un sistema de bloqueo de emergencia", respondió, su voz amortiguada por la tela. "Pero ese bastardo debe haberlo anulado desde el exte
El ruido de las aspas del helicóptero era ensordecedor. Los haces de luz blanca atravesaban las ventanas polvorientas del almacén, cegando al hombre de las cicatrices. Su arma temblaba contra la sien de mi madre."¡No te muevas, Sterling!", gritó el secuestrador, con la voz rota por el pánico. "¡El jefe quiere el libro! ¡No te atreverás a disparar!""No estés tan seguro", susurré, con el corazón martilleando en mi pecho.La puerta principal del almacén estalló hacia adentro. No fue un disparo, sino una carga explosiva. El humo y el polvo llenaron el aire, y entre la bruma, vi a Adrian. Entró como un fantasma vengativo, con un chaleco antibalas y un rifle en las manos. Detrás de él, una docena de hombres armados hasta los dientes."Suelta a la mujer", ordenó Adrian, su voz amplificada por un comunicador. "Tienes cinco segundos antes de que ordene abrir fuego."El hombre de las cicatrices dudó. En ese instante de distracción, me lancé hacia un lado, arrastrando a mi madre conmigo detrás






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.