ログイン"Kamu sudah makan?" Tanya Fakhri.
"Sudah," jawab Ayyana. "Kayaknya Bapak lebih baik ikut mereka deh.""Kamu mau ditinggal sendiri?""Iya, enggak apa-apa. Saya juga udah ngantuk, pengen tidur.""Ya sudah, tidur saja. Saya nggak akan ganggu."Ayyana lantas berbalik memunggungi Fakhri dan segera menutup mata, tapi sialnya ia tidak bisa tidur sama sekali."Nggak usah dipaksa kalau memang belum bisa tidur," ucap Fakhri. "Bangun sini saya kupasin buah.""Mau buah apa kam"Inget, jangan capek-capek." Peringat Fakhri setelah Ayyana menyalami tangannya dan hendak masuk ke kantor. "Siap Pak Bos." Canda Ayyana. "Dasar kamu." Fakhri mengakhiri obrolan mereka dengan mencubit pelan pipi sang istri kemudian ia sendiri beranjak masuk ke mobil dan menuju perusahaannya. Ayyana sendiri masih merasa belum terlalu fit, tapi ia bosan jika harus tinggal di rumah lebih lama, jadi ia memutuskan berangkat ke kantor saja hari ini, meski harus melewati perdebatan cukup panjang dengan suaminya. Karena itulah, saat ia sampai, Dita justru sudah duduk serius di meja kerjanya dengan alis terangkat sebelah saat Ayyana masuk. "Tumben telat Bu?" Dita tahu perempuan itu sedang tidak sehat karena memang Ayyana sudah izin dua hari, tetapi biasanya bahkan setelah sakit yang lebih parah pun tidak ada dalam sejarah dia telat masuk kantor. "Tadi Mas Fakhri ngajak debat dulu, dia masih ngelarang gue berangkat ke kanto
Di kamarnya saat ini Ayyana berbaring nyaman di kasur dengan masih mengenakan mukena yang belum sempat ia lepas setelah sholat subuh tadi.Sementara di dekatnya ada Fakhri yang sibuk mengemasi barang-barangnya untuk di bawa pulang."Ada satu lagi baju aku di keranjang," instruksi Ayyana mengingat baju yang dipakainya kemarin ke kantor dengan suara agak serak.Entah kenapa begitu bangun subuh tadi perempuan itu merasa tidak enak badan dan justru malah berakhir demam.Fakhri sendiri sudah menawarkan agar mereka menginap semalam lagi disana, setidaknya sampai Ayyana merasa agak baikan. Tapi Ayyana menolak dengan alasan sudah merindukan rumahnya.Setelah mengemasi semua barang sang istri, Fakhri beranjak menghampiri Ayyana, mengecek suhu tubuhnya kembali."Yakin mau pulang? Nanti di jalan malah pusing." Kata Fakhri mengusap lembut kepala sang istri.Ayyana hanya membalas dengan gumaman lalu bergerak memindahkan kepalanya dari bantal ke paha Fakhri dan kembali
Sekitar jam sebelas malam, Fakhri tiba di kediaman mertuanya. Kali ini ia pulang tanpa memberitahu Ayyana, ia tidak ingin merepotkan sang istri untuk menjemputnya di bandara tengah malam seperti ini. "Mampir dulu Bay," tawar Fakhri pada Bayu sebelum turun dari mobil. "Lain kali deh, nggak enak bertamu selarut ini." Tolak Bayu. Fakhri pun mengucapkan terima kasih pada teman sekaligus sekretarisnya itu kemudian beranjak turun yang di timpali Bayu dengan peringatan agar sang bos tidak lupa mengirimkan bonus uang lembur sebagai upah telah menjemputnya. "Siap." Jawab Fakhri enteng lalu memasuki gerbang setelah Bayu melesat pergi lebih dulu. Tak lupa ia menjawab sapaan satpam yang berjaga, menanggapi sedikit pertanyaan beliau seputar kedatangannya yang tiba-tiba sebelum masuk. Tapi ada satu hal yang mencuri perhatian Fakhri, selain mobil Ayyana, ada satu lagi mobil lain yang terparkir di halaman itu, mobil berwarna hitam yang terasa cukup asing baginya. Dan saat mengetuk pintu, rasa
"Aku nggak mau!" Sentak Jihan keras, bahkan sebelum Daffa menyelesaikan penjelasannya ia sudah menyela tanpa ragu.Jihan menunjuk Fakhri dengan tajam, "Kak Fakhri benar-benar nggak bertanggung jawab. Aku cuma minta nikah apa susahnya?""Saya sudah menikah Jihan!""Pria bisa menikah lebih dari sekali.""Tapi saya tidak akan menduakan istri saya." Tegas Fakhri sekali lagi.Jihan menyugar rambut acak-acakannya dan tersenyum miring. "Mentang-mentang Kak Fakhri udah bahagia sama perempuan lain jadi sekarang Kakak seenaknya mau lempar aku ke Kak Daffa.""Gue yang mau nikahin lo sendiri Jihan, ini bukan permintaan Fakhri." Jelas Daffa angkat suara."Aku nggak mau Kak!" Balas Jihan cepat, "Aku hanya akan menikah dengan Kak Fakhri.""Gue sama Fakhri nggak ada bedanya.""Beda."Fakhri bangkit menengahi, "Pilihannya hanya dua, menikah dengan Daffa atau tanda tangani surat itu dan masuk keluarga kami sebagai anak angkat. Hanya itu tawaran yang bisa kami b
"Lo gila ya!" Sentak Fakhri, bukan pada Jihan tapi pada Daffa.Setelah berhasil menghentikan aksi nekat Jihan dan mengurungnya di kamar, Fakhri beralih menyeret Daffa untuk bicara berdua."Gue udah pikirin semuanya semalam dan ini keputusan yang terbaik." Jelas Daffa. "Lo sama Aya udah seharusnya melanjutkan hidup dengan normal, dan Jihan? Yang dia tuntut cuman orang yang mau nikahin dia kan? Jadi, biar gue yang ambil peran itu."Fakhri tak habis pikir dengan jalan pikiran Daffa, "Kenapa lo selalu mengorbankan diri buat jadi tameng di masalah ini Daf?"Kedua tangan Fakhri mencengkeram sisi lengan Daffa, "Lo lupa sama Dita hah? Lo nggak pengen nikah sama cewek yang lo suka?"Daffa tersenyum miris, "Dita udah nolak gue Fakhri, dan mungkin nggak akan lama lagi dia akan nikah sama laki-laki pilihan orang tuanya.""Jadi karena itu lo mau ngorbanin diri untuk nikah sama Jihan?" Itu bukan pilihan yang tepat menurut Fakhri. "Kalau sejak dulu lo pernah sekali ajah men
"Menurut Kak Fakhri, apa masih ada laki-laki yang mau menghabiskan sepanjang hidupnya bersama perempuan sebatang kara dan cacat kayak aku?" Seru Jihan. Ia menepuk perutnya berkali-kali, "Aku cacat, udah nggak sempurna Kak. Di dalam sana udah nggak ada lagi rahim yang bisa menjadikan aku seorang ibu, lalu apa alasan yang bisa membuat aku melepas Kak Fakhri?" Jihan percaya, selain Fakhri jelas tak akan ada pria lain yang berniat menikahinya. Tak mungkin ada pria bodoh yang akan dengan sadar mengorbankan hidup untuk bersama perempuan yang tidak akan bisa memberinya keturunan. Hanya Fakhri, dengan dalih sebagai pertanggung jawaban juga sekaligus sebagai pelampiasan rasa bersalahnya sendiri. "Tapi saya sudah menikah Jihan." Jihan menyeka air matanya dan menatap Fakhri serius, "Kalau Kak Fakhri ceraikan perempuan itu, aku nggak akan mempermasalahkan status Kakak. Aku terima Kak Fakhri kembali dengan senang hati."
"Bagaimana keadaan Jihan?" Tanya Papi Fakhri sembari menikmati secangkir kopi di ruang tengah."Dia baik." Singkat Fakhri."Papi dengar dia sakit?"Fakhri menautkan alis, "Papi tahu dari mana?"Seingatnya, ia tidak pernah membicarakan soal itu dengan sang Papi. Atau mungkin Daffa yang memberi tahu.
Ayyana yang sedang sibuk merapikan peralatan sholat teralihkan oleh dering panggilan masuk di ponselnya.Senyum perempuan itu merekah melihat nama Fakhri muncul sebagai penelfon, tapi bukannya ini masih tengah malam di sana?"Assalamu'alaikum Mas.""Wa'alaikumussalam. S
Ayyana menggeleng, "Nggak apa-apa, itu kan tanggung jawab kamu." Fakhri menurunkan badan, berlutut di depan Ayyana yang duduk di kasur. Ia menatap Ayyana dengan perasaan bersalah yang amat dalam. "Maaf Aya," ucapnya meraih tangan Ayyana. Kalimat itu bu
"Nah, kamu nginap disini aja sampai suamimu pulang, jangan tinggal di rumah sendiri." Ucap Winda begitu mereka sampai di rumahnya. Mertuanya itu mengajak Ayyana ke rumahnya tanpa menerima penolakan, kesal dengan tindakan Fakhri yang menurutnya sangat tidak bertanggung jawab.







