Mag-log in"Lo yakin, Rin?" Ayyana menggenggam erat sabuk pengamannya ketika menatap gedung menjulang di hadapan mereka."Percaya sama gue." Ririn membukakan sabuk pengaman Ayyana dan menarik perempuan itu keluar."Selamat pagi Bu Ayyana, Bu Ririn," sambut resepsionis kantor tersebut dengan ramah meski sempat menampilkan guratan wajah bingung saat mereka mendekat.Mungkin heran karena biasanya jika Ayyana datang, ia akan langsung naik saja ke ruangan Fakhri tanpa perlu melalui perantara mereka.Begitu pula dengan Ririn yang biasanya akan langsung disambut oleh Bayu. Tapi kali ini mereka justru mendatangi resepsionis lebih dulu."Pak Bayu ada?" tanya Ririn basa basi.Si resepsionis mengangguk sopan, "Ada, Ibu. Mau saya panggilkan, atau Ibu ingin langsung naik saja?""Nggak usah. Kalau Pak Fakhri?" tanya Ririn lagi."Oh, kalau Pak Fakhri, beliau tadi keluar menjelang makan siang, Bu. Katanya sih, ada keperluan ke kantor pusat."Kantor pusat yang dimaksud adalah kantor yang dipimpin langsung oleh P
"Loh, Ibu habis keluar?" tanya Ayyana mencomot satu potong brownies coklat yang ada diatas meja makan.Dari packaging-nya, Ayyana bisa tahu bahwa itu adalah kue dari toko langganan keluarga mereka. Tapi tumben-tumbenan Ibunya keluar membeli kue sepagi ini?Ayu mengulas senyum tipis seraya menyimpan nasi goreng yang baru dibuatnya ke atas meja, duduk berhadapan dengan Ayyana seraya menjawab, "Itu kiriman suami mu.""Mas Fakhri?""Iya," angguk Ayu. Tatapannya lalu beralih ke sebuah meja dekat dinding masuk ruang makan, "Itu, dia bawa bunga juga buat kamu."Ayyana mengikuti arah yang ditunjuk Ibunya, ada sebuah buket berukuran lumayan besar disana. Buket berwarna hijau dengan bunga mawar putih didalamnya."Kapan Mas Fakhri ke sini?" Ayyana bertanya seraya beranjak mendekati buket tersebut."Tadi. Dia mampir sebelum berangkat ke kantor."Dengusan pelan terdengar dari Ayyana. Apa sih yang ada di pikiran suaminya itu?
Setelah melepas mukena yang ia pakai untuk sholat Isya, Ayyana menghempaskan tubuh ke ranjang, berbaring dengan tatapan tertuju pada langit-langit kamar.Dulu tempat ini selalu menjadi ruang favoritnya, Ayyana bisa menghabiskan waktu seharian di kamar tanpa merasa jenuh atau bosan.Tapi sekarang semuanya berbeda, tempat ini sudah tergantikan oleh tempat lain bahkan pun ia merasa kamar ini sudah sangat amat membosankan.Ayyana justru malah merindukan suasana kamar dan rumah yang ditempatinya bersama Fakhri setelah menikah, padahal rumah itu baru ia tempati.Ditengah suasana hatinya yang makin kesini makin tak karuan, panggilan masuk dari sang suami terdengar.Ayyana beranjak untuk meraih ponselnya yang tergeletak asal di sofa, menekan tombol jawab atas panggilan video yang Fakhri lakukan tanpa berniat memakai hijab lebih dulu."Assalamu'alaikum, sayang," sapa pria itu dengan senyum manis.Melihat Fakhri yang tampak nyaman
"Gimana kondisi, lo?" tanya Ilham duduk berseberangan dengan Ayyana di sofa ruang tengah.Sejak kembali dari rumah sakit, Ilham memang baru sempat datang ke sana lantaran juga sibuk dengan tugas utamanya sebagai dokter dan tugas tambahan untuk menjadi dokter Jihan, plus membantu Fakhri menemukan Haikal beberapa waktu lalu."Alhamdulillah, baik. Gue bahkan udah masuk kantor beberapa hari ini.""Kalau kondisi hati?" usil Ilham.Ayyana mendelik pelan, "Menurut lo?""Kayaknya lagi butuh perawatan intens," tanggap pria itu disertai kekehan. "Obat sama dokternya kan udah sepaket, kenapa belum sembuh juga?""Gue nggak pernah disamperin sama dokternya, jadi gimana mungkin gue bisa konsumsi obatnya?""Lah, Pak Fakhri nggak pernah temuin lo?" Alis Ilham bertaut dalam."Nggak," sungut Ayyana. "Nggak tau deh itu suami gue kena virus apa, dia setiap saat nelpon gue bilang kangen tapi nggak sekalipun datang ke sini."
Menyanggupi tantangan Adrie dengan percaya diri seakan bukan hal besar, untuk mempertahankan harga dirinya di depan pria itu, nyatanya Fakhri seolah menenggelamkan diri sendiri ke dasar lautan paling dalam.Bayangkan saja, baru tiga hari semenjak kesepakatan untuk tidak menemui Ayyana, kondisi hati Fakhri sudah makin amburadul.Parahnya, Adrie membebani uji kelayakan sebagai adik ipar ini dengan melepas jeratan pada Ayyana.Perempuan yang berstatus sebagai istri sahnya itu, dibebaskan oleh Adrie untuk bisa keluar rumah, bahkan bebas berangkat bekerja dan beraktivitas seperti biasa.Fakhri rasanya sudah mau gila dan butuh borgol seperti Jihan untuk tidak kelepasan menginjak gas mobil dan menghampiri istrinya ke kantor milik perempuan itu."Udah lah, temui ajah, dari pada lo gila sendiri." Daffa yang menyaksikan sendiri kondisi Fakhri yang dipaksa melakukan hubungan Long Distance Marriage atau LDM–padahal jelas jarak diantara mereka sama se
Di minggu pagi ini, ia sudah memantapkan diri untuk datang ke rumah mertuanya, berharap bisa bicara baik-baik dengan Adrie.Kedatangan Fakhri cukup disambut baik oleh kedua mertuanya, meski tanggapan Ayah Ayyana tak sehangat dulu. Hal yang cukup bisa Fakhri pahami mengingat kualifikasinya sebagai menantu yang tidak cukup memuaskan.Meski demikian, Ayu tetap tak berubah. Mertua perempuannya itu dengan senyum merekah menyambutnya masuk dan menyajikan minuman.“Om Fakhri.”Fakhri yang sejak tadi cukup tegang, merasa sedikit mencair kala kehadiran Gio memecah suasana canggung disana."Hai, sayang." Fakhri meraih tubuh Gio dan mendekapnya sebentar.Dengan tatapan berbinar, Gio bertanya, "Om Fakhri udah berhasil menyelesaikan misi?"Senyum Fakhri merekah sedikit, "Hampir. Gio sendiri bagaimana?""Gio berhasil dong," katanya bangga. "Tante Aya, aman sama Gio."Namun obrolan keduanya disela oleh suara tajam dari Adrie di ujung tangga, "Gue harap kedatangan lo kali ini untuk memenuhi permintaa
Ayyana yang sedang sibuk merapikan peralatan sholat teralihkan oleh dering panggilan masuk di ponselnya.Senyum perempuan itu merekah melihat nama Fakhri muncul sebagai penelfon, tapi bukannya ini masih tengah malam di sana?"Assalamu'alaikum Mas.""Wa'alaikumussalam. S
"Capek, tapi hasilnya memuaskan kan?" Seru Ayyana bangga. "Jujur saja, saya nggak kepikiran kalau perabotan rumah akan sebanyak ini. Kirain saya cuma sofa, meja, lemari, televisi, udah cukup." "Itu cuma kebutuhan dasar, perintilannya masih banyak. Ini ajah masih bany
Huufftt... Ayyana menghela nafas begitu memasuki rumah, ia menyimpan beberapa kantong belanjaan di lantai dekat sofa, tubuhnya seakan remuk setelah seharian mengelilingi mall mencari perabotan. Dibelakangnya, Fakhri menyusul dengan barang bawaan yang tidak kalah banyak. Ayyana rasanya ingin sege
"Baru juga seminggu nikah Rin," ucap Daffa menengahi. "Tau, lo ajah yang udah lumayan lama baru tiga bulan hamilnya," balas Ayyana. "Kita kan memang sengaja nunda dulu Ayy. Tapi saran gue sih kalian langsung punya anak ajah, supaya nanti anak kita umurnya nggak jauh beda," Ririn berucap







