LOGINSekitar jam sebelas malam, Fakhri tiba di kediaman mertuanya. Kali ini ia pulang tanpa memberitahu Ayyana, ia tidak ingin merepotkan sang istri untuk menjemputnya di bandara tengah malam seperti ini. "Mampir dulu Bay," tawar Fakhri pada Bayu sebelum turun dari mobil. "Lain kali deh, nggak enak bertamu selarut ini." Tolak Bayu. Fakhri pun mengucapkan terima kasih pada teman sekaligus sekretarisnya itu kemudian beranjak turun yang di timpali Bayu dengan peringatan agar sang bos tidak lupa mengirimkan bonus uang lembur sebagai upah telah menjemputnya. "Siap." Jawab Fakhri enteng lalu memasuki gerbang setelah Bayu melesat pergi lebih dulu. Tak lupa ia menjawab sapaan satpam yang berjaga, menanggapi sedikit pertanyaan beliau seputar kedatangannya yang tiba-tiba sebelum masuk. Tapi ada satu hal yang mencuri perhatian Fakhri, selain mobil Ayyana, ada satu lagi mobil lain yang terparkir di halaman itu, mobil berwarna hitam yang terasa cukup asing baginya. Dan saat mengetuk pintu, rasa
"Aku nggak mau!" Sentak Jihan keras, bahkan sebelum Daffa menyelesaikan penjelasannya ia sudah menyela tanpa ragu.Jihan menunjuk Fakhri dengan tajam, "Kak Fakhri benar-benar nggak bertanggung jawab. Aku cuma minta nikah apa susahnya?""Saya sudah menikah Jihan!""Pria bisa menikah lebih dari sekali.""Tapi saya tidak akan menduakan istri saya." Tegas Fakhri sekali lagi.Jihan menyugar rambut acak-acakannya dan tersenyum miring. "Mentang-mentang Kak Fakhri udah bahagia sama perempuan lain jadi sekarang Kakak seenaknya mau lempar aku ke Kak Daffa.""Gue yang mau nikahin lo sendiri Jihan, ini bukan permintaan Fakhri." Jelas Daffa angkat suara."Aku nggak mau Kak!" Balas Jihan cepat, "Aku hanya akan menikah dengan Kak Fakhri.""Gue sama Fakhri nggak ada bedanya.""Beda."Fakhri bangkit menengahi, "Pilihannya hanya dua, menikah dengan Daffa atau tanda tangani surat itu dan masuk keluarga kami sebagai anak angkat. Hanya itu tawaran yang bisa kami b
"Lo gila ya!" Sentak Fakhri, bukan pada Jihan tapi pada Daffa.Setelah berhasil menghentikan aksi nekat Jihan dan mengurungnya di kamar, Fakhri beralih menyeret Daffa untuk bicara berdua."Gue udah pikirin semuanya semalam dan ini keputusan yang terbaik." Jelas Daffa. "Lo sama Aya udah seharusnya melanjutkan hidup dengan normal, dan Jihan? Yang dia tuntut cuman orang yang mau nikahin dia kan? Jadi, biar gue yang ambil peran itu."Fakhri tak habis pikir dengan jalan pikiran Daffa, "Kenapa lo selalu mengorbankan diri buat jadi tameng di masalah ini Daf?"Kedua tangan Fakhri mencengkeram sisi lengan Daffa, "Lo lupa sama Dita hah? Lo nggak pengen nikah sama cewek yang lo suka?"Daffa tersenyum miris, "Dita udah nolak gue Fakhri, dan mungkin nggak akan lama lagi dia akan nikah sama laki-laki pilihan orang tuanya.""Jadi karena itu lo mau ngorbanin diri untuk nikah sama Jihan?" Itu bukan pilihan yang tepat menurut Fakhri. "Kalau sejak dulu lo pernah sekali ajah men
"Menurut Kak Fakhri, apa masih ada laki-laki yang mau menghabiskan sepanjang hidupnya bersama perempuan sebatang kara dan cacat kayak aku?" Seru Jihan. Ia menepuk perutnya berkali-kali, "Aku cacat, udah nggak sempurna Kak. Di dalam sana udah nggak ada lagi rahim yang bisa menjadikan aku seorang ibu, lalu apa alasan yang bisa membuat aku melepas Kak Fakhri?" Jihan percaya, selain Fakhri jelas tak akan ada pria lain yang berniat menikahinya. Tak mungkin ada pria bodoh yang akan dengan sadar mengorbankan hidup untuk bersama perempuan yang tidak akan bisa memberinya keturunan. Hanya Fakhri, dengan dalih sebagai pertanggung jawaban juga sekaligus sebagai pelampiasan rasa bersalahnya sendiri. "Tapi saya sudah menikah Jihan." Jihan menyeka air matanya dan menatap Fakhri serius, "Kalau Kak Fakhri ceraikan perempuan itu, aku nggak akan mempermasalahkan status Kakak. Aku terima Kak Fakhri kembali dengan senang hati."
Di ruang tengah apartemen, amukan Jihan kembali terjadi, kali ini sasarannya adalah Fakhri secara langsung.Setelah pria itu sampai, bahkan sebelum ia mengeluarkan sepatah kata pun Jihan sudah menodong dengan berbagai kalimat cacian dan makian.Bukan hanya itu, Jihan bahkan meraung dan menangis sejadi jadinya, tampak begitu kacau dan kecewa akan kebohongan yang telah Fakhri lakukan selama ini."KAK FAKHRI JAWAB!" Bentak Jihan memukuli tubuh Fakhri yang sejak tadi berusaha menenangkannya.Selain itu, juga ada Daffa yang entah sudah berapa banyak membentak Jihan balik tapi tetap tak dapat meredakan amukannya."Kita bicara baik-baik setelah kamu tenang." Seru Fakhri, tak akan ada penyelesaian jika Jihan terus saja mengamuk dan percuma juga ia menjelaskan.Daffa mencoba menarik Jihan lagi, "Kamu selalu pengen ketemu dan bicara sama Fakhri kan? Jadi tenangin diri kamu dulu."Tapi Jihan terus saja berontak, "Kak Fakhri bilang
Daffa tidak bisa terus menerus seperti ini, ia juga ingin bisa berdamai dengan dirinya, seperti Fakhri. Ia kembali mengambil ponsel dan mengirimkan pesan lagi pada Dita. 'Ayo kita nikah.' Isi pesannya. Singkat dan langsung to the point, tidak seperti pesan sebelumnya. Setelah itu, ia melempar ponselnya ke kasur dan meraup wajahnya sendiri. Apa yang akan di pikirkan Dita begitu melihat pesannya? Apakah ia akan dianggap gila? oOoOo Keesokannya, Daffa melakukan aktivitas seperti biasa, setelah membuat sarapan untuknya dan Jihan, ia duduk di meja makan dan kembali mengecek ponsel. Menanti pesan balasan dari Dita yang tak kunjung datng sejak semalam padahal pesannya sudah di baca. Helaan napas terdengar dari pria itu, namun baru saja meletakkan ponsel, benda itu tiba-tiba saja berdering. Ia terlonjak dengan semangat meraih ponselnya lagi, berharap itu panggilan dari orang yang ia tunggu-tunggu teta
"Selamat pagi Pak Bos." Sambut Bayu dari balik meja kerjanya dengan senyum semangat.Maklumlah, kemarin bosnya itu sudah masuk kantor tetapi ia malah izin untuk menemani sang istri entah mengapa tidak ingin ditinggal seharian.Selama hamil Ririn memang agak lain tingkahnya, jika kebanyaka
"Saya akan berusaha untuk jadi sosok Kakak yang baik untuk kamu Jihan, tapi jika itu menyangkut soal pernikahan, saya minta maaf karena saya tidak bisa menjanjikan hal itu."Jihan menggigit bibir bagian dalamnya, entah cara apalagi yang harus ia lakukan untuk bisa menaklukkan hati pria itu.
"Makan dulu."Tawar Fakhri. Saat ini hanya dia yang menemani Jihan di ruang rawatnya, Daffa dan Papinya sedang kembali ke apartemen untuk istirahat dan berganti pakaian. "Aku nggak lapar Kak." "Kamu harus makan, supaya bisa cepat membaik." "Buat apa? Hidup aku udah nggak ada gu
"Kamu beneran nggak apa-apa aku tinggal?" "Enggak apa-apa Mas." "Aku minta Kayla temenin kamu ya?" "Enggak usah." Selama ini, Ayyana memang selalu tinggal sendiri jika Fakhri pergi. Ia sudah jauh lebih berani dibanding saat pertama dulu, mungkin karena suda







