ログイン"Makan dulu."Tawar Fakhri.
Saat ini hanya dia yang menemani Jihan di ruang rawatnya, Daffa dan Papinya sedang kembali ke apartemen untuk istirahat dan berganti pakaian."Aku nggak lapar Kak.""Kamu harus makan, supaya bisa cepat membaik.""Buat apa? Hidup aku udah nggak ada gunanya sekarang."Air mata gadis itu kembali luruh."Jihan, Allah itu baik dan semua ujian yang Allah kasih buat kamu selama ini bisa jadi sebagai bentuk cinta dari dia.""Nggak ada cintAyyana berusaha mengabaikan panggilan Fakhri, namun suaminya itu tak berhenti memanggil dan mengetuk. Ia yang sedang berbaring di kasur membalikkan tubuh, hingga tanpa sengaja menatap obat yang di dapatnya dari rumah sakit tadi. Perasaan bersalah menyeruak dalam hati Ayyana, ada getaran dalam dirinya yang mengingatkannya untuk menjadi ibu yang baik. Karena itulah ia bangkit dan keluar dari kamar. Hal pertama yang dilihatnya begitu membuka pintu, tentu saja Fakhri. Pria itu masih berdiri di sana, namun kali ini ada sebuah piring berisi makanan lengkap dengan segelas air ditangannya. Tanpa mengatakan apapun, Ayyana segera merebut kedua benda itu dan kembali menutup pintu. Tapi Fakhri berhasil menerobos masuk karena Ayyana kesulitan menguncinya. Fakhri berusaha mengulas senyum meski Ayyana menatapnya horor, lalu merebut piring dan gelas di tangan Ayyana, menyimpannya di atas meja depan sofa. "Makan dulu sayang," ajak Fakhri.
Untungnya Fakhri dengan sigap bisa mengentikan Jihan dan menahan tangannya untuk tidak bertindak lebih brutal.Ia lalu menyeret Jihan keluar dari sana, tidak ingin Ayyana kembali mendengar pertengkaran mereka."Lepas! Aku akan tinggal di sini sama perempuan itu, aku nggak mau pergi." Jerit Jihan seraya meronta, namun tenaga Fakhri masih lebih kuat.Fakhri mendorong tubuh Jihan memasuki mobil dengan sedikit kasar karena Jihan terus berontak, "Kalau kamu masih tidak bisa diam, saya nggak akan segan mengirim kamu pulang ke luar negeri sekarang juga."Ancaman itu berhasil, Jihan menyentak tangan Fakhri dan duduk dengan tenang di kursi belakang. Fakhri kembali mengambil koper Jihan dan memasukkannya ke bagasi sebelum membawa mobilnya menjauh dari sana.Kedatangan Jihan hari ini pun sama sekali diluar kendalinya, bahkan semalam pun Daffa tidak mengatakan apapun. Tiba-tiba saja beberapa saat setelah ia sampai di kantor, Daffa baru menghubunginya bahwa Jihan menghilang.
Bagai disambar petir di siang bolong, Ayyana tidak pernah menyangka pertemuan pertamanya dengan Jihan akan membawa fakta mengerikan seperti ini."Sayang jangan dengerin dia, itu semua fitnah, aku sama sekali nggak pernah melakukan hal seperti itu." Jelas Fakhri yang sama sekali tak bisa mengobati sesak di hati Ayyana.Dengan tangan bergetar, ia membolak balik kertas hasil pemeriksaan kesehatan Jihan dan juga beberapa hasil medis lain yang menyatakan bahwa perempuan itu pernah mengandung dan berakhir keguguran karena sebuah kecelakaan hingga akhirnya rahim Jihan harus di angkat karena cedera yang serius."Kalau kalian masih belum percaya, aku punya bukti lain." Jihan menarik senyum sinis dan mengeluarkan beberapa lembar foto dari tasnya.Hari ini adalah moment yang paling ia nantikan, ia akan merebut Fakhi kembali dengan cara apapun. Melihat Ayyana yang tidak berkutik di hadapannya membuat Jihan merasa di selimuti kemenangan, perempuan itu tampak lemah dan Jihan meras
Melihat kondisi Ayyana, Anggi paham betul apa yang dirasakannya. Ia mengelus pelan lengan Ayyana dan berucap, "Semuanya akan baik-baik ajah Ayyana, kamu nggak perlu terlalu khawatir."Anggi berusaha untuk meyakinkannya, meminta Ayyana untuk tidak terlalu banyak pikiran. Kemudian ia menjadwalkan pemeriksaan rutin untuk Ayyana lebih sering untuk memantau kondisinya secara ekstra.Untuk masalah fisik, Ayyana sebenarnya sudah baik-baik saja, bahkan pun rahimnya sudah normal dan siap untuk kembali hamil. Tetapi psikisnya yang tidak terlalu baik, trauma akan keguguran itu jelas bisa memicu stres yang dapat membuat tekanan darahnya naik.Setelah berkonsultasi lebih banyak, Ayyana pun memutuskan untuk kembali, berganti dengan pasien di antrian selanjutnya.Ia pun tidak kembali ke kantor lagi, Dita menyarankan agar ia pulang saja untuk beristirahat lebih banyak. Apalagi wajah perempuan itu sejak tadi tampak lebih pucat.Menyadari keterdiaman Ayyana sejak tadi, Dita yang sudah menghentikan mobi
"Inget, jangan capek-capek." Peringat Fakhri setelah Ayyana menyalami tangannya dan hendak masuk ke kantor. "Siap Pak Bos." Canda Ayyana. "Dasar kamu." Fakhri mengakhiri obrolan mereka dengan mencubit pelan pipi sang istri kemudian ia sendiri beranjak masuk ke mobil dan menuju perusahaannya. Ayyana sendiri masih merasa belum terlalu fit, tapi ia bosan jika harus tinggal di rumah lebih lama, jadi ia memutuskan berangkat ke kantor saja hari ini, meski harus melewati perdebatan cukup panjang dengan suaminya. Karena itulah, saat ia sampai, Dita justru sudah duduk serius di meja kerjanya dengan alis terangkat sebelah saat Ayyana masuk. "Tumben telat Bu?" Dita tahu perempuan itu sedang tidak sehat karena memang Ayyana sudah izin dua hari, tetapi biasanya bahkan setelah sakit yang lebih parah pun tidak ada dalam sejarah dia telat masuk kantor. "Tadi Mas Fakhri ngajak debat dulu, dia masih ngelarang gue berangkat ke kanto
Di kamarnya saat ini Ayyana berbaring nyaman di kasur dengan masih mengenakan mukena yang belum sempat ia lepas setelah sholat subuh tadi.Sementara di dekatnya ada Fakhri yang sibuk mengemasi barang-barangnya untuk di bawa pulang."Ada satu lagi baju aku di keranjang," instruksi Ayyana mengingat baju yang dipakainya kemarin ke kantor dengan suara agak serak.Entah kenapa begitu bangun subuh tadi perempuan itu merasa tidak enak badan dan justru malah berakhir demam.Fakhri sendiri sudah menawarkan agar mereka menginap semalam lagi disana, setidaknya sampai Ayyana merasa agak baikan. Tapi Ayyana menolak dengan alasan sudah merindukan rumahnya.Setelah mengemasi semua barang sang istri, Fakhri beranjak menghampiri Ayyana, mengecek suhu tubuhnya kembali."Yakin mau pulang? Nanti di jalan malah pusing." Kata Fakhri mengusap lembut kepala sang istri.Ayyana hanya membalas dengan gumaman lalu bergerak memindahkan kepalanya dari bantal ke paha Fakhri dan kembali
"Jadi gimana?"“Seperti kecurigaan kita selama ini, surat wasiat itu palsu dan nggak ada persyaratan yang mengharuskan Jihan menikah lebih dulu untuk dapat harta peninggalan keluarganya."Fakhri menghela nafas lega mendengar penjelasan Daffa dari balik panggilan, semua perkiraannya benar selama ini
Ayyana yang sadar akan tingkah memalukannya segera memalingkan wajah, ia bisa merasakan pipinya memanas saat ini.Setelah Bu Hasma mengambil foto lagi, Ayyana buru-buru beranjak mendekati perempuan itu dengan dalih ingin melihat hasilnya, padahal sebenarnya ia ingin menghindari Fakhri.
WR. Hotel.Ayyana menatap tulisan yang terpasang di depan bangunan beberapa lantai itu dengan wajah berseri."Ayo." Ajak Fakri masuk setelah menurunkan koper mereka dari bagasi, tak lupa pria itu memberi kunci mobilnya pada salah satu penjaga hotel disana untuk dibawa ke parkira
Jika biasanya sepulang kantor Ayyana akan langsung disambut dengan makanan jadi di meja makan, setelah menikah kebiasaan itu seakan hilang ditelan bumi. Kali ini semuanya harus ia siapkan sendiri, memasak, merapikan rumah, semuanya.Seperti sekarang, begitu sampai ia langsung bergegas ma







