LOGINKecelakaan yang dialami Jihan terbilang cukup parah, bahkan ia harus menjalani operasi karena menurut informasi dari dokter yang menanganinya, Jihan mengalami benturan keras di bagian perut sehingga mengakibatkan rahim perempuan itu rusak harus diangkat.
Daffa sebagai orang yang melihat dan mendengar langsung hal itu hanya bisa mencaci Jihan dalam hati. Ia begitu marah dengan tindakan yang diambil Jihan sampai merugikan diri perempuan itu sendiri.Di lain sisi, ia pun merasa bersalah"Kak Adrie, cukup!"Ayyana yang terkejut bukan main melihat keganasan Adrie, dengan segera bertindak untuk melerai keduanya.Tapi Adrie sama sekali tak berhenti, kekesalannya memuncak melihat Fakhri dengan santainya malah bermesraan dengan Ayyana di ruangan ini."Gue udah peringatin sama lo, buat nggak temuin Ayyan tapi sama sekali nggak lo indahkan," seru Adrie kembali menghantam wajah Fakhri.Disaat Ayyana masih terus berusaha menarik Adrie, Ayu dan Dania yang baru selesai sarapan pun sudah kembali.Kedua perempuan paruh baya itu pun langsung histeris berteriak dan ikut melerai perkelahian yang terjadi."Adrie, cukup!" Ayu memeluk tubuh sang anak erat, membuat pergerakan Adrie terbatas.Hal itu dimanfaatkan oleh Ayyana dan Dania untuk segera membantu Fakhri bangun."Mas, nggak apa-apa?" tanya Ayyana dengan suara serak dan tubuh sedikit bergetar akibat syok melihat kejadian tadi."Aku nggak apa-apa, sayang." Fakhri meraih Ayyana dalam pelukannya untuk menenangkan sang istri.Namun ha
"Assalamu'alaikum," salam Ayu dan Dania pelan ketika kembali ke ruang rawat Ayyana. Tempat itu kini tampak agak temaram dengan hanya dihiasi cahaya temaram.Saat Ayu langsung masuk ke toilet untuk buang air kecil, Dania sendiri menuju sofa meletakkan beberapa barang yang tadi sekalian dibelinya untuk keperluan selama disana."Maaf ya Ham, kita kelamaan soalnya tadi Kayla berulah maunya makan di resto luar," ucap Dania tak enak seraya menyajikan makanan yang dibawanya untuk Ilham.Namun tak ada sahutan sama sekali dari pria itu membuat Dania yang masih di tempatnya menengok sekilas hendak memastikan apakah mungkin saja Ilham tertidur saat menjaga Ayyana.Tapi saat memperhatikan baik-baik posisi Ayyana dan Ilham, jantung Dania seakan mencelos."Astagfirullah." Dania menutup mulutnya tak sanggup menahan keterkejutan yang amat sangat.Disaat bersamaan, Ayu juga keluar dari toilet."Kenapa, Mbak?" tanya Ayu sedikit menangkap suara terkejut Dania.Dania segera meraih lengan Ayu dan menunjuk
Ayyana tertegun mendengar ucapan suaminya, melihat tatapan tulus pria itu membuat hati Ayyana menjerit dengan rasa bersalah yang membuncah.Bagaimana bisa ia meragukan kepercayaannya pada pria itu? Fakhri mungkin memang sempat membuatnya kecewa karena menutupi pertemuannya dengan Jihan.Tetapi sampai detik ini pun, pria di hadapannya itu sama sekali tak pernah melayangkan kalimat cacian atau pun bentakan padanya.Fakhri tak pernah sekalipun bersikap kasar, tak pernah menuntutnya melakukan atau berbuat apapun.Sudah banyak hal yang selama ini mereka lewati bersama, tapi pria itu tak pernah menyerah untuk mempertahankan hubungan mereka.Bahkan ketika Ayyana dengan tindakan kekanakannya saat kabur tanpa kabar, Fakhri tetap tak menyalahkannya.Pria itu tetap memperlakukannya dengan baik dan masih saja melimpahkan semua kesalahan pada dirinya."Tolong jangan tinggalin aku, ya?" Fakhri mengecup dalam punggung tangan Ayyana, sebelum kembali menatap istrinya dengan tatapan memohon."Aku akan
"Kalau gitu gue duluan," pamit Dita mengacuhkan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Daffa. Lagian kenapa pula dia malah menatapnya seperti hendak menelan orang mentah-mentah? "Pulang sama aku," ajak Daffa dengan nada tak ingin dibantah. Entah kenapa hatinya panas melihat Dita mengukir senyum manis pada pria lain, padahal kan posisinya perempuan itu sudah menyandang status calon istrinya. "Apaan sih lo, gue bisa pulang sendiri." Dita segera beranjak menjauh, tak ingin berurusan dengan Daffa dan juga muak melihat Fakhri. "Gue tuh calon suami lo, jangan pura-pura amnesia," seru Daffa mengekorinya. Ilham yang mendengar hal itu hanya menatap mereka cengo, sementara Fakhri tak menunjukkan kepedulian sama sekali. Baginya, tak ada yang lebih penting dari apapun selain bisa bertemu istrinya saat ini. Mengingat keberadaan Fakhri, Ilham kemudian beralih padanya dan sebelum Fa
"Adik kamu masih berduka karena kehilangan calon anaknya, jangan memperkeruh suasana dulu," Ayu kembali menengahi.Syukurnya kali ini Adrie tak menanggapi lagi, ia memilih untuk mengambil tempat di sofa bersama Dita dan Kayla yang juga masih ada disana.Saat Ilham mengabari tentang Ayyana pada ibunya, Adrie kebetulan sekali sudah sampai bersama istri dan anaknya.Dan Ayu yang panik mendengar Ayyana pendarahan langsung mengajak Adrie untuk mengantarnya ke rumah sakit, sembari turut mengabari Ayah yang sedang berada di perusahaan untuk menyusul mereka.Adrie yang tak tahu apapun mulai mengulik semua hal pada ibunya, tetapi Ayu hanya sekedar menjelaskan bahwa Ayyana hamil dan memang usia kandungannya baru jadi masih belum banyak yang diberitahu.Ayu mencoba menutupi masalah yang ada -sesuai permintaan Ayyana. Tetapi semuanya mulai menimbulkan kecurigaan saat Dania datang dan menangis histeris ketika mendengar penjelasan Kayla.Suasa
_harus kembali kehilangan janinnya.""Tapi keadaan istri saya baik-baik saja kan, Dok?"Kembali harus kehilangan calon anaknya tentulah hal yang sangat menyakitkan bagi Fakhri, tapi lebih dari itu keselamatan sang istri jauh diatas segalanya."Alhamdulillah, kondisi Ayyana sudah stabil saat ini, Pak. Pendarahannya berhasil kami kendalikan dan syukur benturan yang dialami tidak sampai menimbulkan cedera serius."Sejenak, helaan napas lega dari semua orang terdengar bersamaan dengan ucapan hamdalah atas keadaan Ayyana.Anggi menambahkan "Hanya saja, karena ini merupakan keguguran yang kedua kalinya jadi kemungkinan besar Ayyana akan sangat terpukul setelah tahu nanti."Tatapan Anggi jatuh pada Fakhri secara khusus, sebagai orang yang cukup tahu problem keluarga pasangan itu sebelumnya, Anggi secara sekilas bisa menangkap bagaimana hancurnya perasaan pria itu."Ini memang bukan hal mudah, tapi saya harap dalam keadaan seperti ini kita semua bisa tetap sabar,
"Ayy?""Hm?"Dita tampak menimbang sejenak seakan ragu dengan apa yang akan ia sampaikan."Kenapa sih? Ada masalah?" Tanya Ayyana melihat keraguan di mata perempuan itu."Gimana ya ngomongnya." Dita menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Tapi lo jangan ketawain gue ya?"Ker
Fakhri menyusul di sofa seberangnya, "Jujur aku kaget waktu Aya cerita, Papi tau sendiri kan gimana sikap Mami."Setelah kejadian Ayyana kecelakaan saat itu, Fakhri memang sempat meminta Papinya untuk tidak memberi tahu Maminya terkait foto yang membuat Ayyana marah.Yang Fakhri
Di ruang tengah, Dania hanyut dalam pikirannya sendiri. Ada beberapa hal yang terasa menggajal dalam hatinya, tapi juga tidak bisa memecahkan kejanggalan itu.Dari arah tangga, Rama yang melihatnya mendekat dan memecah keheningan yang menyelimuti sang istri."Mami lagi mikirin a
"Tidur sama Ayah aja, sempit di situ.""Nggak, aku akan tetap jagain kamu disini." Kata Fakhri mantap. "Aku izinin kamu tidur sama Ibu sama Gio, tapi syaratnya aku tetap di kamar yang sama.""Tapi__""Kalau kamu keberatan ya udah, Ibu nggak usah tidur disini."







