LOGINKecelakaan yang dialami Jihan terbilang cukup parah, bahkan ia harus menjalani operasi karena menurut informasi dari dokter yang menanganinya, Jihan mengalami benturan keras di bagian perut sehingga mengakibatkan rahim perempuan itu rusak harus diangkat.
Daffa sebagai orang yang melihat dan mendengar langsung hal itu hanya bisa mencaci Jihan dalam hati. Ia begitu marah dengan tindakan yang diambil Jihan sampai merugikan diri perempuan itu sendiri.Di lain sisi, ia pun merasa bersalah"Dokter kami mohon," ikut Kayla."Ayyana benar-benar tidak ada disini, tapi kalau kalian masih tidak percaya silahkan periksa sendiri saja."Anggi bergeser dari pintu masuk dan memberi jalan untuk mereka. Tanpa membuang kesempatan lagi, Fakhri disusul Vano dan Kayla segera masuk sungkan.Mereka berpencar dan mencari keseluruh penjuru rumah tetapi tidak menemukan siapapun bahkan pun Dita.Vano dan Kayla sampai heran dan saling pandang tak percaya, jelas-jelas mereka melihat Dita masuk ke sana tadi."Apa kalian sudah percaya?""Tapi tadi kita lihat secara langsung kalau Kak Dita masuk kesini." Pasti Kayla.Jika pun Dita sudah pergi lagi, dia pergi menggunakan apa? Mobil yang dinaikinya tadi langsung meninggalkan rumah ini setelah Dita turun."Mungkin kamu salah lihat, siapa tahu Dita justru malah ke rumah sebelah?""Masa sih?" Kayla melirik Vano meminta bantuan.Tapi Anggi kembali melanjutkan, "Di sini itu perumahan, semua bentuk dan catnya sama, bisa saja kalian keliru."Kayla ingin pr
"Hah? Mana?" Vano yang baru saja hampir terpejam langsung tersentak dan bangun dengan linglung.Kayla sudah geram sendiri, "Jalan aja, dia udah keluar itu. Tarik gas cepat!""Apa sih?" Vano ikut kesal, efek ngantuk membuat emosinya tidak stabil apa lagi ia berurusan dengan Kayla.Vano balik nyolot, "Ini itu mobil oon, mana ada gasnya di tarik.""Terserah lo mau di apain, itu Kak Dita udah makin jauh."Vano tersadar dan tanpa mengindahkan cerocosan Kayla ia mulai melajukan mobil untuk mengejar Dita, tepatnya membuntuti perempuan itu."Apa kata gue, Kak Dita pasti tahu sesuatu soal Ka Aya. Nggak mungkin mereka nggak saling komunikasi di saat begini." Tambah Dita dengan bangganya, seolah sudah menemukan titik terang persembunyian kakak iparnya.Vano seketika mendelik tajam, "Pede banget lo, lo lupa siapa yang punya ide buat nungguin di depan rumahnya semalaman? Itu ide gue!""Tapi kan gue yang dari awal udah curiga sama dia, kalau bukan karena firasat gu
Ayyana yang sudah diizinkan pulang, sampai di rumah Anggi bersama Dita dan juga tentu saja Anggi sebagai pemilik rumah. Ilham tidak mengantar karena sedang kebagian jadwal shift malam. Setelah membantu membawa barang ke kamar tamu, tempat di mana Ayyana menghabiskan waktu beberapa hari ini, Anggi pamit ke kamarnya juga untuk membersihkan diri. "Jadi disini lo mendekam selama ini," ucap Dita ikut mendudukkan diri di kasur samping Ayyana. Ayyana mengatur posisi duduk bersandar di dipan kasur, sebelum menjawab, "Ini tempat persembunyian yang sempurna kan?" "Sempurna banget," timpal Dita dengan nada setengah menyindir. "Gue aja sampai bingung harus nyari lo kemana lagi, taunya malah sama Dokter Anggi." Bukan hanya Dita, bahkan pun Ayyana sendiri sebenarnya tidak pernah punya pemikiran bahwa ia akan berakhir di rumah dokter itu. Akan tetapi malam saat ia kabur dari rumah, perutnya juga mengalami kram yang sama seperti tadi meski tidak terlalu parah. Saat itu, ia masih bisa me
Jihan menyeka wajahnya, "Saya datang ke sini menemui kamu, hanya untuk meminta belas kasih.""Tolong, lepaskan Kak Fakhri, biarkan dia kembali pada saya. Kamu bisa menemukan pria lain yang lebih dari dia, tapi saya tidak. Saya butuh dia Ayyana."Ayyana memalingkan wajah, ia tidak sanggup menatap wajah Jihan. Ingin rasanya kembali egois, karena pun Ayyana juga membutuhkan pria itu.Bahkan bukan hanya dia, tapi juga janin dalam perutnya. Namun setelah semua ini, jika ia memberi Fakhri kesempatan untuk kembali padanya, apakah mereka bisa menjalani rumah tangga seperti dulu?Ini terlalu rumit untuk bisa Ayyana terima, tapi hatinya menjerit sakit setiap kali seseorang memintanya melupakan pria itu.Sampai Jihan pamit pergi setelah memintanya memikirkan baik-baik untuk mengambil keputusan, Ayyana masih bertahan di sana bersama Dita.Ia menangis pilu di pelukan Dita, menyalurkan kecewa, amarah dan rasa sakit tak berbekas di hatinya akan semua hal yang rasanya tak sanggup ia tampung.Sampai p
"Lo coba pikir sendiri, suami lo itu cakepnya bukan main, mapan, dari keluarga terhormat. Mana mungkin Tante Dania sampai berusaha sebegitunya cariin dia jodoh kalau memang nggak ada masalah." "Jadi lebih baik lo berhenti sekarang, pulang ke rumah dan minta cerai sama tuh orang." Tutup Dita dengan napas ngos-ngosan, tapi akal Ayyana seakan membenarkan semua ucapannya. Tapi apakah cerai adalah jalan keluar terbaik? Dita lalu melanjutkan, "Dia itu sepupuan sama Daffa, tabiatnya pasti juga nggak jauh beda. Mereka tinggal bersama bertahun-tahun di luar negeri, sama Jihan." "Buka mata lo Aya, jangan terus menerus jadi perempuan polos." Dita menghela napas panjang dan kembali duduk, "Pokoknya apapun yang terjadi lo jangan kasih dia kesempatan untuk menghasut lo lagi, kita perempuan juga punya harga diri." "Kalau si Jihan-Jihan itu mau ambil, kasih aja." "Tapi lo tau kan gue lagi hamil," keluh Ayyana. "Tenang, ntar gue cariin bapak baru, awsss." Dita seketika menjerit saat Ayyana men
"Gue belum mau pulang."Ilham menyimpan sendoknya dan menatap Ayyana serius, "Semua orang udah kayak orang gila nyariin lo. Apalagi Pak Fakhri, dia kelihatan khawatir banget sampai penampilannya ajah udah nggak ke urus.""Lo ketemu Mas Fakhri dimana?" Meskipun sedang kesal pada suaminya, tetapi mendengar ucapan Ilham, hati Ayyana merasa gundah."Dia tadi siang ke rumah Ibu, dia datang buat kasih tau Ibu sama Ayah kalau lo pergi dari rumah."Ilham turut menjelaskan juga semua hal yang Fakhri sampaikan termasuk bagaimana pria itu menangis meminta maaf karena merasa gagal menjaga Ayyana."Gue tau lo marah dan kecewa sama dia, tapi Pak Fakhri pergi malam itu juga karena keadaan. Bayangin kalau karena dia nurutin keinginan lo dan Jihan benar-benar nekat.""Yang ada, masalah akan semakin lebih lebar." Ilham mencoba membuka pikiran Ayyana.Saat bertemu Fakhri tadi, ia sebenarnya sangat tidak tahan menyembunyikan keberadaan Ayyana. Tapi mengingat bagaimana kondisi Ayyana kini, ia menahan diri
"Sebelumnya Mami minta maaf kalau Mami terkesan ingin ikut campur dengan persoalan rumah tangga kalian." Kata Dania tak ingin membuat kesalahpahaman diantara mereka semakin melebar."Kamu tau kan, pernikahan kalian adalah hasil perjodohan dari keluarga, meskipun kami sama sekali tidak memaksa
Diruang makan sedang berkumpul semua para perempuan untuk menikmati sarapan, para laki-laki pula sudah sarapan lebih dulu dan tengah bersiap ke kantor.Termasuk Fakhri, setelah beberapa hari tidak masuk ia memutuskan untuk berangkat kerja hari ini.Begitu selesai mengenakan pakaiannya Fak
Hari ini, Ayyana sudah diizinkan untuk pulang dan ia begitu bahagia saat sampai di rumah karena semua keluarganya berkumpul disana.Yang paling antusias menyambutnya adalah Gio, ia hanya pernah menjenguk Ayyana sekali jadi rasanya begitu bahagia saat tantenya itu bisa pulang.Gi
Mata Ayyana mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang menusuk indra penglihatannya.Hal pertama yang bisa ia tangkap adalah ruangan serba putih dengan pencahayaan terang, pandangannya bergeser pelan mengitari ruangan tersebut hingga dilihatnya sosok Fakhri yang duduk di kursi sampingnya sam







