LOGIN'Assalamu'alaikum, Mas.'
"Wa'alaikumussalam. Sayang tolong lihat di kamar, kayaknya ada berkas aku yang ketinggalan."'Map biru bukan?'"Iya bener. Aku minta karyawan aku kesana buat ambil, kamu tolong kasih ya."'Nggak usah Mas, ini aku udah di jalan buat nganter berkasnya.'"Kamu kesini? Ya Allah, kan tadi aku bilang jangan kemana-mana."'Aku bosen, lagian cuman nganter ini kan. Boleh ya?'"Kamu udah di jalan, baru nanya boleh."Ayyana cengengesan diAyyana tertegun mendengar ucapan suaminya, melihat tatapan tulus pria itu membuat hati Ayyana menjerit dengan rasa bersalah yang membuncah.Bagaimana bisa ia meragukan kepercayaannya pada pria itu? Fakhri mungkin memang sempat membuatnya kecewa karena menutupi pertemuannya dengan Jihan.Tetapi sampai detik ini pun, pria di hadapannya itu sama sekali tak pernah melayangkan kalimat cacian atau pun bentakan padanya.Fakhri tak pernah sekalipun bersikap kasar, tak pernah menuntutnya melakukan atau berbuat apapun.Sudah banyak hal yang selama ini mereka lewati bersama, tapi pria itu tak pernah menyerah untuk mempertahankan hubungan mereka.Bahkan ketika Ayyana dengan tindakan kekanakannya saat kabur tanpa kabar, Fakhri tetap tak menyalahkannya.Pria itu tetap memperlakukannya dengan baik dan masih saja melimpahkan semua kesalahan pada dirinya."Tolong jangan tinggalin aku, ya?" Fakhri mengecup dalam punggung tangan Ayyana, sebelum kembali menatap istrinya dengan tatapan memohon."Aku akan
"Kalau gitu gue duluan," pamit Dita mengacuhkan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Daffa. Lagian kenapa pula dia malah menatapnya seperti hendak menelan orang mentah-mentah? "Pulang sama aku," ajak Daffa dengan nada tak ingin dibantah. Entah kenapa hatinya panas melihat Dita mengukir senyum manis pada pria lain, padahal kan posisinya perempuan itu sudah menyandang status calon istrinya. "Apaan sih lo, gue bisa pulang sendiri." Dita segera beranjak menjauh, tak ingin berurusan dengan Daffa dan juga muak melihat Fakhri. "Gue tuh calon suami lo, jangan pura-pura amnesia," seru Daffa mengekorinya. Ilham yang mendengar hal itu hanya menatap mereka cengo, sementara Fakhri tak menunjukkan kepedulian sama sekali. Baginya, tak ada yang lebih penting dari apapun selain bisa bertemu istrinya saat ini. Mengingat keberadaan Fakhri, Ilham kemudian beralih padanya dan sebelum Fa
"Adik kamu masih berduka karena kehilangan calon anaknya, jangan memperkeruh suasana dulu," Ayu kembali menengahi.Syukurnya kali ini Adrie tak menanggapi lagi, ia memilih untuk mengambil tempat di sofa bersama Dita dan Kayla yang juga masih ada disana.Saat Ilham mengabari tentang Ayyana pada ibunya, Adrie kebetulan sekali sudah sampai bersama istri dan anaknya.Dan Ayu yang panik mendengar Ayyana pendarahan langsung mengajak Adrie untuk mengantarnya ke rumah sakit, sembari turut mengabari Ayah yang sedang berada di perusahaan untuk menyusul mereka.Adrie yang tak tahu apapun mulai mengulik semua hal pada ibunya, tetapi Ayu hanya sekedar menjelaskan bahwa Ayyana hamil dan memang usia kandungannya baru jadi masih belum banyak yang diberitahu.Ayu mencoba menutupi masalah yang ada -sesuai permintaan Ayyana. Tetapi semuanya mulai menimbulkan kecurigaan saat Dania datang dan menangis histeris ketika mendengar penjelasan Kayla.Suasa
_harus kembali kehilangan janinnya.""Tapi keadaan istri saya baik-baik saja kan, Dok?"Kembali harus kehilangan calon anaknya tentulah hal yang sangat menyakitkan bagi Fakhri, tapi lebih dari itu keselamatan sang istri jauh diatas segalanya."Alhamdulillah, kondisi Ayyana sudah stabil saat ini, Pak. Pendarahannya berhasil kami kendalikan dan syukur benturan yang dialami tidak sampai menimbulkan cedera serius."Sejenak, helaan napas lega dari semua orang terdengar bersamaan dengan ucapan hamdalah atas keadaan Ayyana.Anggi menambahkan "Hanya saja, karena ini merupakan keguguran yang kedua kalinya jadi kemungkinan besar Ayyana akan sangat terpukul setelah tahu nanti."Tatapan Anggi jatuh pada Fakhri secara khusus, sebagai orang yang cukup tahu problem keluarga pasangan itu sebelumnya, Anggi secara sekilas bisa menangkap bagaimana hancurnya perasaan pria itu."Ini memang bukan hal mudah, tapi saya harap dalam keadaan seperti ini kita semua bisa tetap sabar,
"BRENGSEK!" Rahang Adrie mengeras, ia terus membubuhi tonjokan di wajah Fakhri yang hanya diam tanpa ada keinginan untuk melawan. "Adrie, tenangin diri lo!" Daffa bersama yang lain segera melerai mereka. Ayah dan Ilham menarik tubuh Adrie menjauh, sementara Daffa membantu Fakhri untuk bangun. Raka, Vano dan Papih yang baru datang hanya bisa menatap mereka kaget –tanpa bertanya apapun. "Kalau sampai ada apa-apa sama Aya dan kandunganya, gue nggak akan pernah maafin lo!" desis Adrie berusaha melepaskan diri, tangannya masih gatal ingin menghajar pria itu. Dengan ringisan pelan, Fakhri mengusap sudut bibirnya yang berdarah lalu menatap Adrie tak kalah tajam. "Apa maksud lo?" Tanyanya tak paham. Adrie berdecih dengan senyum miring, "Nggak usah pura-pura bego, Fakhri." Ia menunjuk Fakhri dengan emosi, "Apa yang dilakuin sama selingkuhan lo itu, jelas disengaja untuk mencelakai Aya dan janinnya." Fakhri yang sulit untuk mencerna maksud Adrie, menghentak tangan Daffa y
_saat tas milik Ayyana terjatuh dan beberapa isinya terhambur keluar, termasuk kertas hasil USG kehamilannya.Jihan yang tidak asing dengan hal itu dengan sigap meraihnya, tubuhnya bergetar membaca keterangan yang ada disana."Kamu hamil?" Todongnya pada Ayyana seraya meremas kuat kertas tersebut.Melihat perubahan sikap Jihan, Ayyana memutuskan untuk tidak menjawab. Begitu juga dengan Kayla yang masih cukup kaget akan serangan tiba-tiba Jihan."Brengsek, aku minta kamu lepasin Kak Fakhri, tapi kamu malah mengandung anak dia," murka Jihan.Ia kembali mendekat dan kali ini targetnya adalah Ayyana secara langsung. "Kalian harus pisah, Kak Fakhri itu cuma milik aku!""Kak Jihan, sadar!" Kayla mencoba menengahi.Ayyana yang menjadi sasaran mencoba mengamankan diri, "Jihan, tenangin diri kamu.""ENGGAK!! Kalian nggak boleh bahagia diatas penderitaan aku!"Amukan Jihan semakin menjadi, ia menarik kuat lengan Kayla yang mencoba menghalanginya dari Ayyana hingga gadis itu terhempas ke samping
"Bagaimana keadaan Jihan?" Tanya Papi Fakhri sembari menikmati secangkir kopi di ruang tengah."Dia baik." Singkat Fakhri."Papi dengar dia sakit?"Fakhri menautkan alis, "Papi tahu dari mana?"Seingatnya, ia tidak pernah membicarakan soal itu dengan sang Papi. Atau mungkin Daffa yang memberi tahu.
Ayyana menggeleng, "Nggak apa-apa, itu kan tanggung jawab kamu." Fakhri menurunkan badan, berlutut di depan Ayyana yang duduk di kasur. Ia menatap Ayyana dengan perasaan bersalah yang amat dalam. "Maaf Aya," ucapnya meraih tangan Ayyana. Kalimat itu bu
"Nah, kamu nginap disini aja sampai suamimu pulang, jangan tinggal di rumah sendiri." Ucap Winda begitu mereka sampai di rumahnya. Mertuanya itu mengajak Ayyana ke rumahnya tanpa menerima penolakan, kesal dengan tindakan Fakhri yang menurutnya sangat tidak bertanggung jawab.
Ayyana yang sedang sibuk merapikan peralatan sholat teralihkan oleh dering panggilan masuk di ponselnya.Senyum perempuan itu merekah melihat nama Fakhri muncul sebagai penelfon, tapi bukannya ini masih tengah malam di sana?"Assalamu'alaikum Mas.""Wa'alaikumussalam. S







