LOGIN"Tidur sama Ayah aja, sempit di situ."
"Nggak, aku akan tetap jagain kamu disini." Kata Fakhri mantap. "Aku izinin kamu tidur sama Ibu sama Gio, tapi syaratnya aku tetap di kamar yang sama.""Tapi__""Kalau kamu keberatan ya udah, Ibu nggak usah tidur disini."Ayyana memberengut kesal dan menarik tangannya, "Terserah kamu lah."Senyum kemenangan terbit dibibir Fakhri, "Sekarang tidur gih, liat itu Gio udah pulas banget."Diliriknya Gio disBerat bagi Daffa untuk menolak karena perempuan yang ditawarkan Maminya ternyata adalah Dita-orang yang selama ini memang ia sukai.Dimalam sebelumnya, Daffa sudah putus asa mendekam cukup lama di rumah jadi saat Maminya mengajak untuk makan malam bersama perempuan yang hendak dijodohkan dengannya, Daffa memilih menurut saja.Saat itu, ia berpikir bahwa pertemuan keluarga itu tak akan berimbas banyak, ia bisa mencari alasan lain nantinya.Tapi semua rancangan dalam kepalanya lenyap begitu saja ketika melihat Dita-perempuan yang sudah menolak lamarannya itu, berada diantara salah satu orang yang hendak mereka temui.Ketegangan sempat terjadi diantara mereka, Dita yang keras kepala itu mengajaknya bicara berdua dan meminta Daffa untuk menolak.Dita bilang, "Gue udah terlanjur setuju sama pilihan Papah jadi nggak akan lucu kalau sekarang gue yang mengajukan penolakan, mereka pasti nggak akan setuju.""Jadi lo minta supaya gue yang nolak?""Iyalah.""Nggak usah mimpi, terima aja takdir ka
Untuk pertama kalinya, setelah di kurung di dalam rumah oleh Maminya karena dipaksa untuk menerima perjodohan yang sudah mereka atur, kini Daffa baru sempat keluar untuk mengecek keadaan Jihan. Namun sudah beberapa kali ia memencet bel apartemen yang ditinggali perempuan itu tapi belum ada jawaban sampai saat ini. Saat Daffa mencoba menghubungi ponselnya pun tak ada jawaban, Daffa tak bisa tenang sebelum memastikan kodisi Jihan. Dia orang yang nekat dan takutnya jika sampai Jihan tahu bahwa Fakhri kini sudah menemukan Ayyana, Jihan akan mengambil tindakan yang membahayakan dirinya ataupun orang lain, jadi tentu Daffa harus turun tangan. Lelah dengan penantian yang seolah tak akan membuahkan hasil, ia menghubungi pihak pengurus apartemen untuk membuka apartemen Jihan. Untungnya pihak disana bisa bekerja dengan cepat dan pintu apartemen Jihan bisa dibobol. Begitu masuk, hal yang sudah diprediksi Daffa memang nyata adanya. Rua
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas menjelang siang, tapi Ayyana masih terperangkap di kamar. Perempuan itu duduk bersandar pada dipan kasur dengan Fakhri yang masih setia berbaring di pahanya, seraya memeluk perutnya yang masih rata dalam keadaan tertidur lelap. Untuk masalah kehamilan, Ayyana belum memberitahu Fakhri soal itu. Rasanya belum tepat, mungkin menunggu sampai urusan dengan Jihan benar-benar menemukan titik terang. Tatapan Ayyana jatuh pada ombakan pantai di layar besar kaca jendela, terpancar sempurna lengkap dengan sinar biru terang dari hamparan langit diluar sana. Tangannya sendiri tak tinggal diam, ia sibuk mengusap lembut surai sang suami. Dibandingkan dengan saat Fakhri datang tadi, penampilan pria itu kini tampak jauh lebih baik. Ayyana sudah menyuruhnya mandi, bercukur dan bahkan meminta staf hotel untuk mengantarkan sarapan ke kamar tadi. Setelah semua hal
Waktu subuh yang tenang Ayyana di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang selama ini ia hindari, bahkan menjadi alasan utamanya berada di tempat ini-Fakhri.Begitu ia selesai mengucap salam, pria yang berstatus sebagai suaminya itu masuk membuka pintu kamar dengan tergesa."Sayang?" Lirihnya berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh rasa lega melihat Ayyana yang terduduk diatas sajadah.Untuk sesaat Ayyana membeku, ia tidak bisa mencerna apapun. Pikirannya masih kalut oleh fakta yang disampaikan Haikal semalam dan subuh ini suaminya justru muncul secara tiba-tiba di hadapannya.Bahkan sampai Fakhri maju mendekatinya dengan langkah pelan, Ayyana masih tak bergeming, menatap pria yang sudah cukup lama tak dilihatnya itu dengan mata berkaca.Fakhri menurunkan tubuhnya, duduk bersimpuh di hadapan sang istri dengan air mata yang entah kapan sudah membasahi wajahnya."Sayang, maaf," lirihnya lagi meraih kedua tangan Ayyana-menggeng
Kening pria berkacamata itu bertaut, "Pak Fakhri?""Bisa bicara sebentar?" Tanya Fakhri begitu berhenti di hadapan Ilham."Soal apa ya, Pak? Sepertinya cukup serius sampai harus menghalangi jalan masuk saya," sindir Ilham dengan nada sedikit sinis.Ia tahu maksud kedatangan Fakhri tapi apa harus dengan cara seperti ini?"Kalau tidak seperti ini, takutnya malah saya ditinggal kabur lagi, Dok." Balas Fakhri dengan nada yang sama, mengingatkan saat ia kecolongan ditinggal Ilham subuh-subuh.Ilham tertawa sumbang dan meniti perawakan Fakhri yang terasa tampak jauh berbeda, ia mengangguk sedikit dan memberi isyarat agar Fakhri memindahkan mobil dulu."Bapak ingin bicara kan? Mari kita bicara baik-baik di dalam," ucapnya. "Kebetulan juga ada banyak hal yang ingin saya bahas.""Pindahin mobilnya Vano," ucap Fakhri menginstruksikan pada Vano dan adik sepupunya itu langsung bergerak tanpa di perintah dua kali.Ilham tidak ambil pusing dengan sikap Fakhri dan m
Sedari jam dua siang sampai adzan ashar berkumandang Jihan masih saja berdiri didepan pintu rumah Fakhri, memencet bel berulang kali tetapi tak ada jawaban sama sekali padahal mobil pria itu terparkir rapih di halaman.Jihan sudah hampir menyerah, beranggapan jika mungkin saja Fakhri memang tidak ada disana.Ia rasanya sudah diambang frustasi, Daffa yang selama ini selalu jadi tempat peraduannya juga sudah tidak pernah datang menemuinya.Semua orang terasa menghilang dan menjauh dari jangkauannya, Jihan benar-benar sendirian.Ia memencet bel sekali lagi dengan perasaan kesal sebelum berbalik untuk pergi, tapi disaat bersamaan pintu rumah itu terbuka pelan, menampilkan Fakhri di baliknya.Langkah Jihan tertahan, ia tidak serta merta menghampiri pria itu padahal niatnya ia datang mencari Fakhri untuk menuntut pernikahan secepat mungkin.Ia ingin menghasutnya agar segera menceraikan Ayyana yang kini sudah pergi entah kemana sesuai keinginannya.Tapi melihat keadaan pria itu sekarang, hat
“Makasih.” Ucap Dita begitu mobil Daffa berhenti di depan rumahnya.“Sama-sama Kak,” jawab Kayla dan Vano di bangku belakang, sementara Daffa hanya berdehem singkat.Begitu Dita keluar dari mobil, Kayla dan Vano kompak mengulurkan buket yang tadi ditangkap Daffa dan mendorong pria itu ikut keluar.
"SAH!"Ucapan para saksi yang duduk di sisi Fakhri membuat pria itu menghembuskan nafas lega."Alhamdulillah," lirihnya bersama beberapa orang yang lain termasuk Adrie, Raka dan orang tua mereka yang turut menyaksikan akad nikah tersebut.Hilman bahkan meneteskan air mata haru setelah berhasil menj
"Jadi gimana? Udah ada jawaban dari Aya?" Tanya Daffa. Fakhri yang duduk dibalik meja kerjanya mengalihkan pandangan dari berkas mendengar pertanyaan itu, hanya sekilas setelah itu ia kembali fokus pada pekerjaannya."Belum lah, ini kan baru dua hari Daf," jawabnya."J
Dita sejak tadi hanya mengaduk makanannya tanpa minat, perasaannya masih belum membaik sejak hubungannya dan Alvin kandas terhalang keyakinan Hal itu sebenarnya sudah jadi pertimbangan sejak awal, namun pengakuan Alvin yang bersedia untuk pindah meluluhkan hatinya. Tapi semua tak semulus yang mere







