LOGINDi ruang tengah rumah keluarga Dania, perempuan itu tidak hentinya meluapkan amarah sejak tadi. Menceramahi Fakhri yang sudah membuat Ayyana sampai pergi dari rumah.
Saat sampai di sana, kondisi rumah sudah gelap, Mami, Papi bahkan Kayla yang hobi begadang pun sudah terlelap. Tapi ia tidak tenang dan membangunkan Maminya, sampai Kayla yang sama sekali tak ia ganggu ikut terusik mendengar riuh dari ruang tengah. Suasana larut malam yang tadinya hening dan sejuk kiDi ruang tengah rumah keluarga Dania, perempuan itu tidak hentinya meluapkan amarah sejak tadi. Menceramahi Fakhri yang sudah membuat Ayyana sampai pergi dari rumah. Saat sampai di sana, kondisi rumah sudah gelap, Mami, Papi bahkan Kayla yang hobi begadang pun sudah terlelap. Tapi ia tidak tenang dan membangunkan Maminya, sampai Kayla yang sama sekali tak ia ganggu ikut terusik mendengar riuh dari ruang tengah. Suasana larut malam yang tadinya hening dan sejuk kini berubah panas, berbaur emosi yang tidak bisa Dania tahan. "Mami sudah peringatkan dari dulu untuk jaga jarak dari Jihan, kamu tuh sudah menikah. Persoalan tanggung jawab, Jihan itu sudah dewasa. Apa selama bertahun-tahun ini semua yang kamu dan Daffa lakukan masih belum cukup?" "Mami pikir kepergian anak kalian bisa merubah banyak hal tapi kamu masih saja begini." Murka Dania. Ia tidak pernah sekalipun menyalakan Fakhri atas insiden itu sebelumnya, tetapi hari in
Mobil yang dikendarai Fakhri memasuki gerbang dan hanya di parkirnya di halaman rumah. Ia pergi hampir setengah jam lamanya, khawatir Ayyana akan semakin marah jika tahu ia keluar. Tanpa menunggu lama, ia segera turun dan memasuki rumah. Tak ada yang berbeda, semua masih sama seperti saat ia tinggal tadi. Fakhri menenangkan diri sejenak sebelum beranjak naik ke lantai atas, menuju kamar. Sama seperti tadi, ia mulai mengetuk pintu lagi dan menyerukan nama Ayyana pelan, takut mengganggu jika kemungkinan istrinya sudah terlelap. "Sayang?" Seru Fakhri berulang kali tapi tak kunjung ada jawaban. "Kamu udah tidur? Sayang?" Suara Fakhri seolah hanya di sambut oleh angin, pria itu menghela napas pendek, mencoba membujuk Ayyana yang ia pikir masih ada di balik pintu. Merasa Ayyana tak berniat membuka pintu tersebut, ia memilih mundur, mungkin istrinya masih butuh waktu sendiri. Tapi tepat saat ia berbalik hendak
Ayyana menarik napas panjang, menyeka air matanya dan membalas tatapan Fakhri, "Aku kasih kamu kesempatan untuk jujur sekarang Mas, nggak usah tutupin apapun lagi sama aku. Jujur dan buka semuanya tentang hubungan kamu dan Jihan selama ini." Jika pun kebenaran yang diucapkan Fakhri adalah sebuah fakta menyakitkan, itu jelas lebih baik jika ia mendengarnya secara langsung dari Fakhri bukan dari orang lain. "Sayang, aku memang pernah membohongi kamu soal Jihan, tapi untuk hal ini, aku berani bersumpah, aku nggak pernah sekali pun menyentuh Jihan melewati batas, apalagi sampai berzinah dengan dia sayang." Fakhri putus asa, entah harus menjelaskan dengan cara bagaimana lagi untuk membuat Ayyana kembali percaya padanya. Di saat mereka kembali bersitegang, ponsel Fakhri tiba-tiba berdering, menandakan satu notifikasi pesan baru. Tak ia hiraukan, tak ada yang lebih penting saat ini selain mendapatkan kembali kepercayan sang istri. "Buka pesan kamu Mas," pinta Ayyana. "Itu nggak penting
Ayyana berusaha mengabaikan panggilan Fakhri, namun suaminya itu tak berhenti memanggil dan mengetuk. Ia yang sedang berbaring di kasur membalikkan tubuh, hingga tanpa sengaja menatap obat yang di dapatnya dari rumah sakit tadi. Perasaan bersalah menyeruak dalam hati Ayyana, ada getaran dalam dirinya yang mengingatkannya untuk menjadi ibu yang baik. Karena itulah ia bangkit dan keluar dari kamar. Hal pertama yang dilihatnya begitu membuka pintu, tentu saja Fakhri. Pria itu masih berdiri di sana, namun kali ini ada sebuah piring berisi makanan lengkap dengan segelas air ditangannya. Tanpa mengatakan apapun, Ayyana segera merebut kedua benda itu dan kembali menutup pintu. Tapi Fakhri berhasil menerobos masuk karena Ayyana kesulitan menguncinya. Fakhri berusaha mengulas senyum meski Ayyana menatapnya horor, lalu merebut piring dan gelas di tangan Ayyana, menyimpannya di atas meja depan sofa. "Makan dulu sayang," ajak Fakhri.
Untungnya Fakhri dengan sigap bisa mengentikan Jihan dan menahan tangannya untuk tidak bertindak lebih brutal.Ia lalu menyeret Jihan keluar dari sana, tidak ingin Ayyana kembali mendengar pertengkaran mereka."Lepas! Aku akan tinggal di sini sama perempuan itu, aku nggak mau pergi." Jerit Jihan seraya meronta, namun tenaga Fakhri masih lebih kuat.Fakhri mendorong tubuh Jihan memasuki mobil dengan sedikit kasar karena Jihan terus berontak, "Kalau kamu masih tidak bisa diam, saya nggak akan segan mengirim kamu pulang ke luar negeri sekarang juga."Ancaman itu berhasil, Jihan menyentak tangan Fakhri dan duduk dengan tenang di kursi belakang. Fakhri kembali mengambil koper Jihan dan memasukkannya ke bagasi sebelum membawa mobilnya menjauh dari sana.Kedatangan Jihan hari ini pun sama sekali diluar kendalinya, bahkan semalam pun Daffa tidak mengatakan apapun. Tiba-tiba saja beberapa saat setelah ia sampai di kantor, Daffa baru menghubunginya bahwa Jihan menghilang.
Bagai disambar petir di siang bolong, Ayyana tidak pernah menyangka pertemuan pertamanya dengan Jihan akan membawa fakta mengerikan seperti ini."Sayang jangan dengerin dia, itu semua fitnah, aku sama sekali nggak pernah melakukan hal seperti itu." Jelas Fakhri yang sama sekali tak bisa mengobati sesak di hati Ayyana.Dengan tangan bergetar, ia membolak balik kertas hasil pemeriksaan kesehatan Jihan dan juga beberapa hasil medis lain yang menyatakan bahwa perempuan itu pernah mengandung dan berakhir keguguran karena sebuah kecelakaan hingga akhirnya rahim Jihan harus di angkat karena cedera yang serius."Kalau kalian masih belum percaya, aku punya bukti lain." Jihan menarik senyum sinis dan mengeluarkan beberapa lembar foto dari tasnya.Hari ini adalah moment yang paling ia nantikan, ia akan merebut Fakhi kembali dengan cara apapun. Melihat Ayyana yang tidak berkutik di hadapannya membuat Jihan merasa di selimuti kemenangan, perempuan itu tampak lemah dan Jihan meras
"Sebelumnya Mami minta maaf kalau Mami terkesan ingin ikut campur dengan persoalan rumah tangga kalian." Kata Dania tak ingin membuat kesalahpahaman diantara mereka semakin melebar."Kamu tau kan, pernikahan kalian adalah hasil perjodohan dari keluarga, meskipun kami sama sekali tidak memaksa
Diruang makan sedang berkumpul semua para perempuan untuk menikmati sarapan, para laki-laki pula sudah sarapan lebih dulu dan tengah bersiap ke kantor.Termasuk Fakhri, setelah beberapa hari tidak masuk ia memutuskan untuk berangkat kerja hari ini.Begitu selesai mengenakan pakaiannya Fak
Hari ini, Ayyana sudah diizinkan untuk pulang dan ia begitu bahagia saat sampai di rumah karena semua keluarganya berkumpul disana.Yang paling antusias menyambutnya adalah Gio, ia hanya pernah menjenguk Ayyana sekali jadi rasanya begitu bahagia saat tantenya itu bisa pulang.Gi
Mata Ayyana mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang menusuk indra penglihatannya.Hal pertama yang bisa ia tangkap adalah ruangan serba putih dengan pencahayaan terang, pandangannya bergeser pelan mengitari ruangan tersebut hingga dilihatnya sosok Fakhri yang duduk di kursi sampingnya sam







