Share

Calon Janda
Calon Janda
Author: Yaswa Wilih Sari

Bab 1

last update Last Updated: 2025-11-12 19:04:21

"Kamu ingat Anggita? Perempuan yang pernah kuceritakanpadamu waktu itu.” Laki-laki bergelar suamiku itu berkata dengan halus dan hati-hati. Kopi yang masih mengepulkan asap diseruputnya sedikit demi sedikit.

“Ya?” Aku menjawab singkat. Aku pasti sangat ingat.Anggita—mantan kekasih Mas Husain yang membuatnya hampir gila karenameninggalkannya karena menikah dengan laki-laki lain pilihan orang tuanya. Dan sebab itu juga, Mas Husain menerima perjodohan denganku begitu saja.

“Dia mengalami KDRT,” ucap Mas Husain prihatin.

“Kasihan sekali.” Aku bergumam lirih. Turut merasakankeprihatinan pada sesama mahkluk bergelar istri itu.

“Maka dari itu, aku sedang berupaya membantu prosesperceraiannya dan setelah itu, aku akan menikahinya.” Ucapan Mas Husain lolostanpa beban. Bersamaan dengan itu, sendok yang sedang kupegang turut lolos,benturan lapisan mellanium dan lantai keramik, menimbulkan suara gaduh.

Aku segera berjongkok untuk mengambil kembali sendok itu.Sebelum berdiri, kuhapus dahulu air mata yang tanpa tahu diri melewati pipi.

“Aww ....” Sial sekali, saat hendak berdiri, kepalakumembentur atap meja. Membuatku meringis dan reflek mengusap kepala.

“Kamu nggak apa-apa, Nash?” Mas Husain menatapku perhatian. Dia lalu mengusap kepalaku dan meniupnya pelan. Tanpa terasa airmataku kembali meleleh. Selama ini aku begitu terlena dengan perlakuan baiknya. Kupikir, dia sudah bisa melupakan Anggita dan menerimaku, tapi kenyataannya ....

“Enggak apa-apa kok, Mas. Cuma kaget aja, terus gimana Anggita?” Meski sakit, aku berusaha tetap terlihat tegar dan baik-baik saja.

Selama menikah, aku berusaha untuk menjadi teman baiknya.Menjadi teman curhat saat dia banyak masalah. Selalu mendukungnya. Dan kamimenjalaninya dengan nyaman selama satu tahun ini.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Mas Cuma kejedot meja.”

“Bukan, maksudku ....” Dia menjeda ucapannya. Terlihat beratuntuk mengungkapkan.

“Mungkin setelah ini ... Kita akan ... Cerai.”

“Ce-cerai?” Tubuhku mendadak lemas setelah mendengarucapannya. Gerombolan air mata berebut keluar tanpa bisa kutahan. Tetesannyabahkan sampai jatuh ke atas meja makan.

“Nash, kamu tahu kan seperti apa perasaanku sama Anggita, dia cinta pertamaku.” Mas Husain memegang tanganku dan reflek kutepis.

“Selamat ya, Mas. Akhirnya Mas Husain bisa menggapai cintasejati Mas. Aku ikut seneng.” Kuakui, aku pandai bersandiwara. Jika ada istilah manusia bertopeng, akulah orangnya. Aku yang menutup kesedihanku dengan topeng kebahagiaan.

“Kamu nggak apa-apa,kan, Nash—“

“Jadi kapan kita akan cerai?” Aku memotong ucapannya.Rasanya ingin segera mengakhiri pembicaraan ini dan berlari sambil menjerit.

“Nggak secepat itu, Nash, butuh waktu. Kita juga perlumembicarakan dengan orang tua kita, supaya mereka bisa menerimanya.”

Oh, rupanya dia masih memikirkan perasaan orang tuanya juga.Meskipun tidak memikirkan perasaanku sedikitpun.

“Oke!” Aku memaksakan bibir untuk tersenyum.

“Oiya, Mas, bekalnya—“

“Kamu nggak usah siapin bekal, nanti aku ada janji makansiang sama ... Anggita.” Dia canggung mengucapkannya.

“Oh ....” Aku membulatkan mulut. Dan untuk kesekian kali,hati terasa remuk.

“Dia sekarang kerja di kantor.” Mas Husain memberi informasitanpa kutanya.

“Oh ya udah, Mas hati-hati ya kalo berangkat.” Aku lagi-lagimemaksakan senyum. Sambil mengambilkan tas miliknya dan memberikan padanya agarsegera pergi ke kantor karena sarapan sudah selesai.

“Nggak salim sama aku?” Dia menyodorkan tangannya, dengansenyum tanpa rasa bersalah. Buat apa cium tangan segala, kalau pada akhirnyaakan menjadi mantan.

Aku lalu meraih tangannya dan menempelkan ke hidung. Nggakapa-apa, anggap saja pengabdian terakhirku sebelum kami benar-benar berpisah.

Setelah mengantar Mas Husain sampai depan pintu, aku berlarikecil ke dalam kamar. Kutumpahkan tangisku di atas bantal. Kupikir, setelahsatu tahun kebersamaan kita, dia akan membuka hati padaku dan bisa menerimapernikahan ini. Tapi, ternyata masa lalu tetap menjadi pilihannya.

Terlalu larut dalam kesedihan, aku sampai lupa kalau tadibaru saja tes urin. Alat tes kehamilan itu masih kuletakkan di kamar mandi. Tadibelum sempat melihat hasilnya karena mas Husain memanggil.

Sudah satu Minggu aku tidak kedatangan tamu bulanan. Kepalajuga sering pusing akhir-akhir ini. Tapi semoga saja hasilnya negatif.

Aku cepat-cepat masuk ke kamar mandi untuk mengambil tespektadi. Setelah menemukan benda itu. Tubuhku merosot melihat alat tes kehamilanbergaris dua itu.

“Ya Allah, cobaan apa lagi ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Calon Janda   45

    Nahswa menundukkan wajah. Malu dengan perawat yang sedang mengatar makan dan obat. Dia merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya sampai tidak mendengar orang mengetuk pintu dan membukanya.Sang perawat juga malu. Dia sudah mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk dengan permisi. Tapi yang di dalam tidak mendengarnya. “Maaf, Pak, Bu, saya mau mengantar makanan dan obat.” Dia meletakkan mangkuk berisi makan dan juga obat-obatan ke atas nakas. Setelah itu segera keluar keburu malu. “Mas mikirin apa, si?” tanya Nahswa sambil menyuapi Husain. Laki-laki itu terlihat celingukan sambil mencari sesuatu. “Kamu lihat tas Mas nggak, Nash, apa ilang ya?” “Tas yang mana, Mas?” “Tas slempang yang aku bawa waktu itu.” Husain berhenti mengunyah, mengingat-ingat kejadian saat dia dikeroyok, apa mungkin tasnya terlepas atau dijarah orang-orang itu. “Kalo sampe ilang ....” Husain mengesah. “Ada barang penting disana.”“Barang penting apa, Mas, file atau ....”“Bukan urusan kerjaan.”“Ini bukan?” Nahswa meng

  • Calon Janda   44

    "Kenapa, Mas?” Nahswa merasa tidak nyaman saat suaminya memerhatikan dengan seksama. Mama dan papanya sedang pergi. Sementara Bapak dan Aishwa belum sampai sini. Jadi tinggallah mereka berdua di dalam ruangan. “Apa kamu beneran istriku?” tanya Husain sambil menatapnya lekat. “Mas sama sekali belum inget aku?” Nashwa bertanya. Husain menjawab dengan anggukan kepala. “Aku perlu bukti, biar aku percaya kalo kamu benar-benar istriku.” “Dokumen pernikahan kita disimpan di rumah, nanti aku ambilin ya, oh iya aku juga masih nyimpen foto nikahan kita di—““Bukan itu!” Husain memotong ucapan Nashwa. Wanita yang sedang merogoh ponsel di saku itu mengurungkan niatnya. Dia ingin memperlihatkan foto pernikahan mereka dari galeri ponselnya, tapi tidak jadi. “Foto bisa dimanipulasi, dokumen juga bisa dipalsukan, aku ragu, jangan-jangan kamu mau nipu aku ya, mau memanfaatkan kondisiku buat merebut hatiku!” “Terus apa yang bisa bikin Mas Husain percaya kalo aku ini istri Mas?” Nashwa sepertin

  • Calon Janda   43

    "Move on! atau mau saya carikan uhkty-ukhty dari pesantren atau dari kampus? atau saya mintain rekomendasi istri saya buat nyariin single yang mau diajak taaruf?" Ustadz sekaligus dosen itu kembali mencandai Ilham.Ilham hanya tertawa tanpa menjawab. Mungkin suatu saat nanti kalau memang sudah siap, dia bisa meminta Ustadz Ahmad untuk mencarikan jodoh. "Lagi pula, kayaknya si nggak ada yang bakal nolak pesona Ustadz Ilham," lanjutnya lagi. "Bisa aja, Tadz." "Oh iya, saya turun di depan saja pas toko buku, udah janjian sama istri disana." "Ehm!" Ilham sengaja berdehem dengan keras mendengar Ustadz Ahmad sengaja berbicara istri."Nikah makanya." Untuk kesekian kalinya, Ustadz Ahmad menepuk pundak Ilham. Dia lalu turun dari mobil dan berterima kasih. Ilham melajukan mobil menuju makam. Dia ingin berziarah ke makam ibunya Nahswa. Biasanya seminggu sekali laki-laki itu datang kesana. Menunggu Nashwa yang rutin berziarah, sekedar melihatnya dari jauh. Sekarang dia mendatangi makan dan

  • Calon Janda   42

    “Emang Mbak Nashwa nggak tahu kalau suaminya sedang belajar disana?" tanya Ustadz Ahmad. Nashwa pun menggeleng. Dia bahkan tidak menyangka kalau suaminya mau belajar membaca Al-Qur'an. Apalagi Nashwa pernah mengajar disana juga sebelum menikah. Nashwa memang menyukai pendidikan. Di usianya yang masih dua puluh tahun. Dia sudah mengabdikan separuh hidupnya untuk mengajar di rumah baca Al-Qur'an pada sore hari setelah dia selesai kuliah. "Saya baru tahu hari ini dari ustadz.""Saya pikir itu atas rekomendasi Mbak Nashwa ngaji di tempat kita," ucap Ustadz Ahmad. Kita? Nahswa hanya membatin. Sepertinya orang-orang disana masih menganggapnya bagian dari yayasan. Dulu saat dia pamit keluar, mereka berusaha menahan.Tapi karena di semester akhir dia sudah banyak kegiatan, dia memutuskan untuk berhenti dari yayasan cinta Al-Qur'an. Karena ingin fokus dengan skripsi. Rekan-rekan guru pun mendukung dan mengharapkan dia kembali ke sana lagi. Tapi setelah lulus dia mengajar di PAUD dan tidak

  • Calon Janda   41

    Dia masih ingat, saat baru pulang dari rumah sakit, Husain yang merawatnya. Ketika Gagah sudah pulang, laki-laki itu juga siaga menjaga anaknya. Sekarang Nashwa merasa jadi istri durhaka karena mengabaikan suaminya yang sedang berusaha memperbaiki rumah tangganya.“Hey, kenapa kamu ngomong gitu?” “Mas Husain pasti takut aku marah, makanya dia tetap berusaha pulang sampe rumah meskipun kondisinya menyedihkan, padahal di jalan di melewati rumah sakit, tapi dia nggak kesana dulu malah milih pulang.” Bahu Nashwa berguncang. “Aku juga sempet mikir negatif sama dia gara-gara nggak datang-datang sampe acara aqiqah selesai, mama masih inget kan waktu aku ngadu sama Mama?” “Iya, Nak, mama juga ikut kesal sama dia, mau marahin dia kalo udah ketemu, tapi ternyata ....”“Ternyata pas kita marah-marah dia lagi nahan sakit dikeroyok orang?” Hati Nashwa perih membayangkan suaminya dipukuli orang. Sakit sekali rasanya. “Nak, kita semua nggak ada yang salah, semua yang terjadi atas skenario Allah,

  • Calon Janda   40

    Suara dering ponsel membuatnya merenggangkan pelukan. Dia menjawab telepon dari Mama. “Kamu makan dulu, Husain biar gantian mama yang jagain!” ucap Mama di seberang telepon. “Tapi aku belum lapar,Ma.” “Nggak usah ngeyel! Ingat ada Gagah yang harus dapat nutrisi lewat kamu, awas ya kalo sampe cucu mama kekurangan ASI gara-gara ibunya susah makan!” Perintah mama kali ini tidak bisa dibantah. Kalau sudah menyinggung Gagah, Nashwa tidak akan bisa berkutik. Nashwa pun keluar dari ruang ICU. Mama dan Papa sudah menunggu di depan pintu. Papa yang masuk mengganti Nahswa. “Katanya Mama yang mau gantiin?” tanya Nashwa. “Mama nemenin kamu makan, biar bener makannya gak dikit doang, nanti kalo gak dipantau bisa-bisa kamu Cuma makan seuprit.” Mama lalu menggandeng lengan Nashwa. Mengajak makan malam di rumah makan dekat rumah sakit. Disana terdapat mushola dan kamar mandi. Nashwa pamit salat isya di mushola. Wanita itu ingin menenangkan diri. Rangkaian kejadian hari ini benar-b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status