تسجيل الدخول“Aku melahirkan di rumah Karin,” gumam Djiwa lirih di tengah kamar yang sunyi. “Dengan pendarahan hebat, sampai koma berhari-hari.”
Matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi sekarang …,” napasnya bergetar kecil, “Karin mungkin harus melahirkan di penjara, dan aku gak bisa ngelakuin apa-apa.” Ia menunduk, kedua tangannya mencengkeram rambut kepalanya frustasi. Pikirannya benar-benar kacau. “Karin sama Bundanya yang ngerawat aku selama koma,”“Kok Mommy sendirian yang jemput kita?” Ratu langsung bertanya begitu membuka pintu mobil dan mendapati hanya Djiwa yang berada di kursi depan. Djiwa tersenyum kecil. “Karena mulai hari ini Daddy masuk kantor lagi, sayang.” Ia membantu memakaikan sabuk pengaman putrinya. “Tadi Mommy udah hubungi Daddy buat jemput kalian, tapi Daddy lagi banyak kerjaan.” “Oh …,” Ratu mengangguk pelan. “Oke, deh.” Ia akhirnya duduk di samping ibunya. Tak lama kemudian Regan dan Naren ikut masuk ke kursi belakang. Mobil pun perlahan meninggalkan halaman sekolah Lumina. Suasana di dalam mobil cukup tenang sampai Djiwa membuka suara. “Gimana ulangan kenaikan kelasnya tadi?” “Gampang, Mom!” jawab Regan paling semangat. “Padahal tadi Matematika.” Djiwa tersenyum geli. “Hebat banget anak Mommy.” Regan langsung menyeringai bangga. Sementara Naren
“Baik, Pak. Terima kasih.” Arga mengakhiri panggilan itu dengan raut tegang. Ia menarik napas sebentar sebelum melangkah masuk ke ruangan utama sang atasan. Di balik meja kerjanya, Radja masih fokus menelusuri beberapa dokumen tanpa mengangkat kepala sedikit pun. “Pak,” panggil Arga hati-hati. Radja akhirnya mendongak. Tatapannya datar. “Ibu Karin tidak ada di lokasi.” Kening Radja langsung berkerut tipis. “Maksudnya?” Arga menelan ludah sebelum melanjutkan. “Polisi tidak berhasil membawa Ibu Karin, Pak.” Suaranya terdengar semakin pelan. “Saat mereka tiba di apartemen, hanya ada Pak Kaisar di sana.” Satu detik. Dua detik. Lalu perlahan rahang Radja mengeras. Tangannya yang berada di atas meja mengepal kuat sampai urat di punggung tangannya terlihat jelas. “Kaisar bilang apa?” “Beliau mengak
“Aku melahirkan di rumah Karin,” gumam Djiwa lirih di tengah kamar yang sunyi. “Dengan pendarahan hebat, sampai koma berhari-hari.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi sekarang …,” napasnya bergetar kecil, “Karin mungkin harus melahirkan di penjara, dan aku gak bisa ngelakuin apa-apa.” Ia menunduk, kedua tangannya mencengkeram rambut kepalanya frustasi. Pikirannya benar-benar kacau. “Karin sama Bundanya yang ngerawat aku selama koma,” lanjutnya pelan. “Mereka yang jagain Ratu waktu aku gak sadar.” Air mata mulai jatuh satu per satu. “Masa sekarang aku cuma diam lihat dia dihancurin kayak gini?” Djiwa memejamkan mata rapat. Dadanya terasa sesak. Di satu sisi, Radja adalah suaminya. Pria yang hampir kehilangan nyawa akibat kecelakaan itu. Pria yang selama ini tetap bersikap lembut meski terus ia curigai. Namun di sisi lain, Karin juga pernah menyelamatkannya di masa pa
“Kamu mau mulai masuk kantor hari ini, Mas?” Djiwa bertanya sambil memperhatikan Radja yang baru masuk ke wardrobe dan mulai mencari setelan jasnya sendiri. Radja menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil. “Iya.” Djiwa langsung bangkit dari duduknya di tepi ranjang. “Kenapa gak bilang dari semalem?” protesnya pelan sambil berjalan mendekati lemari pakaian. “Kan aku bisa siapin semuanya dari tadi malem.” “Semua pakaian saya sudah rapi dan tinggal dipakai,” jawab Radja tenang. “Kamu gak perlu repot.” “Tetep aja.” Djiwa mengambil salah satu setelan jas berwarna gelap lalu menyerahkannya pada sang suami. “Aku pengen jadi istri kayak biasanya, yang siapin semua kebutuhan kamu.” Tatapan Radja melembut tipis. Ia menerima jas itu tanpa banyak bicara, lalu mulai berganti pakaian tepat di hadapan istrinya seperti biasa. Sementara Djiwa berjalan menuju laci kecil tempat jam tangan dan koleksi dasi Radja tersimpan rapi. “Aku ambilin dasi sama jam tangan kamu, ya.” Radja hanya mengangguk pe
Pagi itu Kaisar sibuk menata sarapan di meja makan apartemen tempat Karin bersembunyi. Beberapa kotak makanan yang ia pesan dari luar tersusun rapi di sana. bubur hangat, roti panggang, susu, buah potong, juga makanan yang menurutnya aman untuk ibu hamil. Karena satu hal yang sangat ia sadari, ia sama sekali tidak punya kemampuan memasak. Karin yang baru keluar dari kamar langsung berhenti langkah begitu melihat meja makan sudah penuh. “Mas …,” gumamnya pelan. Ia berjalan mendekat perlahan. “Gimana keadaan Mami?” Kaisar menoleh sekilas, lalu menarikkan kursi untuknya duduk. “Mami membaik,” jawabnya tenang sambil membalik piring di depan Karin. “Apalagi setelah saya bilang kalau menantu kesayangannya baik-baik saja.” Karin terdiam sesaat mendengar kalimat itu. Menantu kesayangan. Entah kenapa dadanya langsung terasa sesak. “Beliau benar-benar khawatir sama kamu,” lanjut Kaisar sambil ikut duduk di samping istrinya. “Sama kamu dan anak yang kamu kandung.” Tatapan Karin perlah
Karin tertawa sumbang, pahit. “Lindungi aku?” ulangnya lirih sambil menggeleng tak percaya. “Kamu pikir aku masih bisa percaya sama kamu, Mas?” Tatapan Kaisar menajam, lurus menembus mata istrinya. “Kamu pikir saya sebodoh itu sampai membiarkan istri saya yang sedang hamil masuk penjara?” Kalimat itu membuat napas Karin tercekat sesaat. Namun amarah dan ketakutan di dalam dirinya jauh lebih besar. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. “Saya benar-benar datang untuk melindungi kamu, Rin.” Kaisar melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk meraih jemari istrinya dengan hati-hati. “Kamu … dan anak kita.” Namun Karin langsung menarik tangannya menjauh. “Kamu bisa apa, Mas?” suaranya pecah penuh emosi. “Ini Mas Radja. Bukan Mas Sultan.” Tatapan Kaisar berubah gelap. Dan Karin tetap melanjutkan. “Dari dulu kamu selalu kalah dari dia.” Tawanya kembali terdengar hambar. “Makanya dulu kamu gak pernah benar-benar suka sama Mas Radja, kan?” Rahang Kaisar langsung menger
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya







