ANMELDENBab 3
Adeline sedang menikmati coffee di balkon, dengan tangan sibuk men scroll media sosial yang sedang trending. Tangannya diam, ketika nama Kenzo baru saja meresmikan sebuah restoran diluar kota dan itu viral. Banyak pengunjung membuat mereka penasaran bagaimana cita rasa masakan restoran tersebut, ditambah bangunan yang estetik menarik perhatian banyak orang. Ting! [Adeline, sibuk tidak? Aku boleh minta tolong? Tapi kita ketemu ya, anggap sebagai gantinya kemarin kita gak jadi ketemu] Pesan dari Galuh, membuat Adeline diam sebentar. [Ketemu dimana?] balas Adeline dengan cepat. [Datang ke tempat yang aku kirim ya, aku tunggu kamu baby…,] Galuh mengirim Lokasi, tepatnya club malam. Dia berpikir, tempat yang dilarang oleh orang tuanya. Ada rasa penasaran untuk datang, namun ia tak memiliki keberanian lebih. “Club? Papi tahu gue bisa habis,” ucapnya segera menghubungi kedua sahabatnya Bella dan Sisil. “Gue ajak Bella dan Sisil aja, biar mereka bisa jadi alasan. Lagian, gue juga takut kalau sendirian di sana.” Adeline segera mengirim pesan ke sahabatnya, beruntung mereka mau dan siap untuk ke sana. Dia langsung menyiapkan diri, mencari pakaian paling cocok apalagi untuk bertemu dengan sang kekasih. Tangannya diam, melihat gaun yang cukup ketat namun ia suka. “Gaun ini hasil gue maksa Kenzo buat beliin, gue masih inget dia larang gue pakai. Karena gue terlalu sempurna pakai gaun kayak gini. Apa gue pake aja ya?” monolog Adeline segera memakai gaun itu. Hasilnya begitu sempurna, seperti dugaannya. Cantik. Seksi. Dan mempesona. Tidak heran jika kedua orang tuanya khawatir saat Adeline menjalani hubungan dengan pria lain. Mereka tidak ingin putrinya kenapa – kenapa. Belum lagi Kenzo, sahabat kecil yang sangat posesif dengan dia. “Selera Kenzo sangat oke sih, tapi bodo amat lah. Harusnya gue pakai di depan dia. Tapi, Galuh juga pacar gue, hmmm sayang banget gue sama Galuh gak begitu nyaman. Kalau bukan gue gak mau kalah sama Kenzo, gue juga males pacar – pacaran kayak gini, ribet!” Ia mengoceh sendiri, mengambil lipstick untuk menyempurnakan tampilannya menjadi lebih sempurna. Heels yang senada dengan gaun warna baby pink, membuat penampilan Adeline semakin menantang. Ia turun ke bawah, melihat Mami Angelin yang sedang bicara dengan kepala pelayan rumah tentang kebutuhan rumah, namun saat ia melanjutkan Langkah pembicaraan mereka selesai. “Mau kemana? Cantik sekali kamu saying,” pujinya menatap Adeline sudah dewasa namun tidak dengan pikiran dan tingkahnya yang masih seperti anak kecil di mata mereka. “Aku ingin jalan dengan Bella dan Sisil mam, kenapa?” tanya Adeline begitu tenang tidak gugup atau menyembunyikan sesuatu karena dia pintar berakting di depan banyak orang apalagi memasang wajah seperti ini sangat mudah. “Jalan kemana? Mami berhak tahu, sebentar lagi papi pulang. Kalau dia tanyain kamu, mami bisa lebih mudah jelasin ya.” “Ya belum tahu, intinya kita ketemuan dulu. Aku mau ngajak ke restoran atau mall sih tapi lihat nanti,” jawab Adeline mencoba menyakinkan Mami Angelin agar tidka banyak tanya. “Ajak Kenzo, biar mami tenang. Papi biar mami urus kalau Kenzo ikut.” Mami Angelin duduk, seketika mata Adeline langsung tak terima nama Kenzo di sebutkan. Ia sangat muak sekali berurusan dengan Kenzo. Apa tidak bisa, sehari tanpa Kenzo? Bisa – bisanya Mami menyuruh Kenzo ikut. “Mami apaan sih, mami gak tahu sekarang Kenzo sibuk? Please deh mam, dia punya kerjaan lagian aku kumpul sama Bella dan Sisil kayak sama siapa aja sih, pakai acara Kenzo ikut terus!” dengan kesal dan merajuk Adeline menolak keras keinginan Mami Angelin apalagi Kenzo ikut bisa berantakan ia tidak jadi bertemu dengan Galuh. “Mami, Adel mohon deh jangan paksain Kenzo terus. Adel bosen lihat dia. Galak, suka maksa, apaan sih gak mau Adel!” ucap kembali Adeline menolak keinginan Mami Angelin. “Mami bisa tenang kalau kamu sama Kenzo, kalian sudah kenal lama. Wajar dong kalau Kenzo dia kayak gitu ke kamu. Kalau mami pikir dia gak galak kok, malahan kalau gak sam kamu baru galak dia,” dengan senyuman menyebalkan mami Angelin sedikit menggoda putrinya namun tidak dihiraukan. “Gak mau, udah Adeline duluan…, dah mami!” ia langsung pamit, mau setuju atau tidak ia tetap pergi menemui Galuh. “Hm, oke tinggal hubungin Kenzo!” akal licik Mami Angelin menelpon Kenzo langsung. [“Kenzo, Adeline lagi keluar…, katanya mau ketemu dengan Bella dan Sisil. Mami gak tahu dia kemana, kamu temani dia ya? Kamu gak sibuk kan?”]Bab 14Adeline diam, ia akui jika terlalu banyak hal yang terjadi antara dirinya dan Kenzo. Semuanya hanya mereka yang tahu. Seperti sekarang ia memeluk erat Kenzo bagaimana jika kedua orang tua mereka tahu? Bahkan Adeline begitu nyaman ada dipelukannya. Adeline berpacaran dengan Galuh tanpa ada kontak fisik, hanya sebatas hal wajar. Pelukan saja jarang, apa lagi ciuman bibir panas dan liar seperti tadi. Lama terdiam dengan pikirannya sendiri, ia tertidur dalam dekapan Kenzo. “Kenapa lo gak pernah ngerti kalau gue suka sama lo, Adeline. Gue bahkan benci saat lo deket dengan laki-laki manapun selain gue. Karna lo hanya milik gue.”Kenzo ikut terpejam, ia tidur dengan Adeline bersama di satu bed rumah sakit ini. *Adeline membuka, tak ada siapapun. Hening, merasa haus ia mencoba bangun secara perlahan. Terlihat masih lemas, tapi ia mencoba meraih gelas di dekatnya. Sialnya ia kesulitan hingga suara pintu kamar mandi terbuka ada Kenzo segera berjalan ke arahnya. “Minum, aku haus.” “
Bab 13 “Kemana?” bisik pelan Adeline tidak mau ditinggalkan oleh Kenzo. Ia merasa takut jika sendirian.“Aku di sofa,” ucapnya namun Adeline menggelengkan kepala.“Gue gak mau ditinggal.”“Aku kamu, Adeline. Kenapa ngomongnya masih gitu hmm? Kita bukan orang kemarin, kita sudah lama kenal lho.” Ucap Kenzo namun gadis itu hanya tersenyum kecil dan tetap geleng kepala.“Jangan pergi, di sini saja.” Adeline menahan tangan Kenzo untuk tetap disini, ia bahkan menggenggam tangan Kenzo dengan erat tidak mau ditinggal sama sekali.“Aku disini, tidurlah.”Adeline memejamkan mata, ia bangun dan duduk kembali. Meminta Kenzo mendekat dan tak terduga memeluknya. Kenzo hanya tersenyum kecil membalas pelukan Adeline. “Kenapa? Ada sesuatu hem? Katakan saja!” ucap Kenzo.“Engga ada, aku cuma pengen peluk.”Adeline yang biasanya keras kepala, angkuh sekarang menjadi sosok diam. Tak ada senyuman dan cerewet dari mulutnya. Kenzo hanya bisa pasrah menunggu Wanita itu hingga benar – benar sembuh dari keja
Bab 12Tubuh Adeline menegang kaku, melihat Kenzo menggendongnya ke dalam kamar mandi. Ada rasa malu, bahkan ia butuh karena idak tahan lagi. “Bisa? Mau dibanu lepas celananya?” tanya Kenzo menggoda Adeline membua wanita itu melotot langsung.“Gila lo, udah deh sana keluar!” dalam sekejab sikapnya langsung berubah menjadi galak dan judes. Bukan apa, jusru Kenzo merasa gemas dengannya, ia mengacak – ngacak pelan rambut Adeline.“Aku hanya bercanda, panggil kalau selesai.”Kenzo meninggalkan Adeline sendiri di kamar mandi, perasaannya berdebar begitu kencang. Tak lama Mami Angelin datang bersama suaminya mereka melihat taka da Adeline disana.“Kemana Adeline Ken?” tanya Papi Aditya.“Kamar mandi,” ujarnya pelan. “Sudah selesai kerjaan mami?” tanya Kenzo kembali apalagi Anjelin baru saja keluar sudah datang kembali.“Belum, kebetulan papi datang. Besok saja, kita sudah kabari kok.”Tak lama suara Adeline memanggil Kenzo, “Ken… gue udah selesai.” Kenzo langsung masuk ke kamar mandi, meli
Bab 11 Adeline menatap datar Kenzo, perasaannya masih bingung dan bimbang dengan semua yang terjadi kali ini. Nyatanya, dengan Galuh ia tidak benar – benar ada rasa. Bahkan pria itu tega menjebak dirinya untuk tidur dengan pria lain, gila bukan? Kenzo, sahabatnya yang selalu ada untuknya. Bahkan Adeline yakin jika hari ini pria itu memiliki jadwal yang padat. Sayangnya dia selalu meluangkan waktu untuk dirinya. Belum lagi Kenzo bicara pintu kamar diketuk, masuklah Zack membawa bunga dan beberapa coklat kesukaan Adeline. Pria itu langsung menerimanya, “Lo bisa keluar!” ucap Kenzo tidak mengizinkan Zack masuk sama sekali. “Gue ke kantor, urus kerjaan lagi. Lo pulang sendiri bisa? Atau nanti gue pelru ke sini lagi?” tanya Zack dengan Kenzo. “Gue bisa sendiri, lo urus kantor.” “Oke, gue duluan. Semoga Adeline cepat sembuh,” gumam pelan Zack yang bisa dikatakan menggoda Kenzo seperti biasa. “Gak usah banyak omong lo.” Kenzo memberikan ke Adeline, ia tahu wanita di depannya mas
Bab 10 Sejak ucapan Kenzo kemarin, Adeline semakin diam dan tidak banyak bicara. Bahkan Mami Angelin sudah membujuk Adeline untuk melanjutkan pemeriksaan dengan dokter psikolog sayangnya Adeline hanya diam tidak melawan seperti biasanya. “Sayang, ada masalah? Bagaimana konsultasi dengan dokter Silvi? Semua baik – baik saja kan?” tanyanya memeluk Adeline yang baru saja keluar dari ruangan dengan mata sembab bahkan tatapannya kosong. “Aku baik mam, aku ingin pulang. Aku gak mau dirawat di sini, aku baik – baik saja!” pinta Adeline membuat Mami Angelin mengerutkan kening. Dari raut wajahnya tidak setuju, kondisi Adeline belum membaik masih butuh pantauan dari dokter untuk pemeriksaan lanjut. “Sayang, tunggu 2 hari lagi ya?” ujarnya. “Iya, terserah mami saja.” Adeline duduk di kursi roda, di dorong oleh perawat untuk masuk ke dalam kamar inapnya kembali. Tatapannya kosong, ia memilih memejamkan mata. Ucapan Kenzo semakin terlintas. Bagaimana jika orangtua mereka tidak setuju? H
Bab 9 “Kamu disentuh dimana?” tanya Kenzo dengan tegas dengan aura yang dingin membuat Adeline menatapnya langsung. “Dia cengkram wajahku, ini…, dia tarik tangan bahkan dia hampir lepasin baju aku.” Bukan Adeline yang keras kepala, kali ini hanya sisi manja dan manis di depan Kenzo, menggunakan kata aku – kamu. Bukan lo – gue seperti biasa yang tidak akur saling adu mulut. Tanpa menunggu lama, Kenzo menyentuh tangan bahkan mencium tangan Adeline. Tidak hanya itu saja, ia mencium wajah Adeline dengan ciuman lembut dan usapan lembut seolah menghilangkan bekas menjijikan yang baru saja di dapatkan oleh Adeline. CUP. CUP. CUP. Entah berapa kali kecupan, Adeline hanya memejamkan mata. Membiarkan Kenzo menghapus jejak menjijikan yang membuat dirinya kotor dan tidak suci kembali. Adeline yang bisa keras kepala, bahkan kini hanya menangis dengan ketakutan. Takut, bayangan Kenzo datang terlambat pasti dia sudah hancur. “Aku sudah hilangkan semuanya, tidak ada bekas sia*alan itu lagi!
Bab 7Brak!Rahang Kenzo mengeras melihat Adeline, gadis yang tumbuh dan hidup bersamanya begitu hancur. Gadis yang tidak biasa menangis, kini histeris ketakutan dengan penampilan yang kacau.Kenzo tidak menunggu lama, ia menghajar Rio bertubi-tubi. Tangan di darahnya mengalir, karna tidak sadar wa
Bab 6“100 juta? Lo bilang di awal Cuma 60 juta Gal, gak 100!” pekik Rio kesal bahkan ia bisa saja membayar lebih dengan hasil yang didapat nanti.“Gue bahkan udah nyuruh dia dandan cantik kayak gini, lo gak mungkin tertarik dong? Bahkan kalau lo mau, lo bisa ambil. Lihat, gue putusin dia langsung.
Bab 5Adeline mendengar ucapan mereka menegang, apa maksudnya? Tidak sabar apa, ia ingin membuka suara namun tubuhnya mendadak pusing dan berat.“Kenapa baby?” tanya Galuh mengusap lembut pipiku, aku langsung menepisnya.“Jangan sentuh, gue gak suka disentuh. Apalagi lo berani pegang pegang gue!” t
Bab 4Kenzo yang sedang meeting di ruang rapat dengan Zack dan lainnya langsung berhenti menerima telfon dari Mami Angelin. Kenzo selalu mengutamakan panggilan dari Adeline, kedua orangtuanya, dan juga orang tua Adeline langsung.[“Kenzo, Adeline lagi keluar…, katanya mau ketemu dengan Bella dan Si







