Share

Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)
Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)
Penulis: Miss Nonce

1. Perselingkuhan Terkejam

Penulis: Miss Nonce
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 17:36:01

Deg!

Jantung Raana berdegup kencang saat matanya tertuju pada sebuah foto box yang terselip di antara tumpukan pakaian dalam koper suaminya. Dalam foto itu, suaminya, Ghani berdampingan dengan Batari —teman lama Raana—terlihat berdiri akrab bersama suaminya, senyum mereka terlihat terlalu lepas untuk sekadar kenalan biasa. Lebih menyayat hati adalah kedua wajah mereka saling menempel.

“Kok ada foto Mas Ghani sama Batari sih. Ini mereka di mana?” tanya Raana lebih ke dirinya sendiri.

Mereka memang saling mengenal, namun Raana tidak tahu mereka seakrab itu.

“Ih kok bisa sih..”

Raana menggenggam foto itu dengan tangan gemetar, napasnya tercekat oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus ketakutan yang merayap di dada. "Ini gimana bisa ada foto Mas Ghani..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

Dia menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengemasi barang, tapi keberanian untuk bertanya belum juga datang. Raana takut, takut jika pertanyaan itu membuka tabir sebuah kebenaran yang selama ini dia coba abaikan.

Matanya kembali menatap foto itu, bayangan-bayangan keraguan mulai menggerogoti hatinya. Dalam diam, dia merasakan kegelisahan yang menusuk, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum ramah dalam foto itu—sesuatu yang bisa mengubah segalanya.

“Kamu lama banget sih ambil koper aku!” seru Ghani melihat istrinya hanya diam saja dengan tangan yang sudah memegang koper miliknya.

Raana terperangah, lalu dengan gugup dia memberikan koper itu. “Lelet kamu lama-lama,” cemooh Ghani akan cara bekerja istrinya.

Seolah sudah biasa dengan hal itu, Raana diam saja. Malah bertanya hal lain, “Kamu berapa lama Mas, dinasnya?” tanya Raana pelan.

“Dua minggu.”

“Hah, kok lama Mas. Biasanya paling lama kamu cuma satu minggu saja Mas.”

“Aku lagi dalam masa percobaan naik pangkat. Jadi lebih lama memang, dari biasanya. Lagi kamu ngapain sih nanya-nanya!”

“Aku kan istri kamu Mas. Ya wajar dong aku tanya,” cebik Raana kesal, suaminya malah mempermasalahkan pertanyaannya.

Malas membahas lebih lagi, Raana membantu suaminya.

“Sama siapa saja Mas ke Surabaya?”

Tuh Raana malah bertanya lagi, masih penasaran dia dengan suaminya.

“Ya sama rekan kerja aku yang lain. Masa aku sendirian.” Ghani masih nyolot dalam menjawab istrinya.

Tidak mau memikirkan hal lain, Raana kembali mendiamkan. Lebih baik, nanti dia ceri tahu saja sendiri. Ada hubungan apa suaminya dengan Batari, teman kuliahnya dulu.

*

*

Suaminya dinas keluar kota, sudah biasa memang Ghani pergi bekerja. Selama ini paling lama hanya satu minggu, mungkin benar kata suaminya jika dia sedang dalam masa percobaan naik pangkat.

Ghani bekerja di sebuah perusahaan besar, meski masih di cabang perusahaan. Tapi kantor suaminya besar dan megah. Ghani menjabat sebagai supervisor area, karir Ghani merangkak dari bawah. Dimulai dari magang dan ditarik bekerja di sana, setelah lulus kuliah. Sejak itu, kehidupan mereka membaik.

Merasa masih penasaran dengan suaminya dan temannya. Raana berencana kerumah Batari. Raana sering kerumah itu, tapi sudah lama tidak berkunjung karena Batari sudah bekerja, sedangkan Raana malah menjadi ibu rumah tangga tanpa anak, dan belum lulus kuliah.

Raana berdiri di ambang pintu rumah Batari, jantungnya berdegup kencang campur aduk antara penasaran dan cemas. “Ada dirumah nggak ya, Batari.” Tidak pakai telepon, langsung saja dia datang.

Suara tawa yang familiar menggema dari dalam, membuat langkahnya semakin mantap meski hati bergetar. Pintu rumah yang tidak terkunci membuka jalan bagi Raana masuk tanpa ragu. Di sudut ruang tamu, sebuah koper besar tersandar—seolah memberi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.

‘Ini kan koper Mas Ghani..’

Hati Raana, semakin membuncah melihat koper itu. Tiga hari lalu, suaminya pergi dinas dengan koper itu. Raana sangat mengenal koper itu, karena dia sendiri yang membeli secara online. Mana boleh dia keluar oleh suaminya. Raana dijaga layaknya berlian, hanya berdiam diri dirumah sampai tubuhnya membesar seperti ini.

Dengan napas tertahan, Raana menyelinap ke ruang belakang. Matanya langsung tertuju pada pemandangan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan: Ghani, suaminya, sedang menindih Batari di atas sofa, tatapan mereka penuh rahasia yang selama ini disembunyikan.

Dadanya sesak, suara teriakan, “Mas!” terlepas dari bibirnya tanpa sadar, menggema menghentikan tawa dan gerak-gerik mereka seketika.

“Raana!” pekik keduanya terkejut.

Wajah Ghani membeku, sorot matanya berubah dari keheranan menjadi panik. Batari yang terkejut mencoba bangkit, namun tubuhnya tampak lemas.

Raana berdiri terpaku, air mata mulai menggenang di sudut matanya, hati yang terluka tak mampu berkata apa-apa selain rasa dikhianati yang membakar setiap serat jiwanya. Ia merasa dunia runtuh dalam sekejap, sementara keheningan yang menyakitkan mengisi ruangan itu, memerangkap ketiga hati yang kini terpecah.

*

*

Raana berdiri dengan dada berdebar hebat sementara matanya membara penuh luka. Di hadapannya, Ghani dan Batari berdiri canggung, tanpa sepatah kata permintaan maaf pun terlontar.

“Mas.. kamu.. gila kamu sama dia,” tunjuk Raana pada Batari.

“Kamu ngapain kesini?” Ghani malah bertanya, aneh.

Saat Raana menatap Batari, teman yang dulu ia percayai, rasa sakit itu seperti belati tajam yang menusuk hingga ke dasar hati. "Kalian gila melakukan ini di belakangku!" suaranya pecah, menggema memenuhi ruangan. Tangannya gemetar, tanpa pikir panjang ia meraih gelas di meja dan melemparkannya ke dinding, pecahan kaca berhamburan bersahutan.

Prang

Prang

Prang

“Raana hentikan,” teriak Ghani mencoba menghentikan istrinya.

Namun dia tidak bisa mendekat ke Raana, karena sedang sibuk sendiri mencari pakaian yang tadi dia lempar dengan sembarangan itu.

Batari terdiam, wajahnya membeku, namun melihat Raana yang semakin kehilangan kendali, ia melangkah maju dengan suara bergetar, "Jangan gila, ini rumahku!"

Tapi Raana, dengan mata berkilat marah, menatap tajam, "Dan dia suamiku!" Raana menunjuk ke arah Ghani.

Ia merasakan dunia runtuh di sekelilingnya, pengkhianatan yang begitu nyata menelanjangi segala harapan yang pernah ia punya.

Ghani, dengan ekspresi dingin dan wajah tertunduk, buru-buru mengenakan pakaiannya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tidak ada penjelasan, hanya ketakutan yang terpancar jelas dari gerak-geriknya.

“Jelaskan Mas!” jerit Raana.

Baginya ini adalah perselingkuhan terkejam. Suaminya main gila dengan temannya sendiri, teman yang sering ia bantu. Teman yang Raana selalu merasa, jika ia ada dalam hidup Batari dalam suka dan duka. Namun ini balasan yang harus Raana terima.

“Apa yang mau aku jelaskan. Kamu sudah melihat sendiri.” Ghani tidak mengelak, cenderung mengakui perbuatan bejat mereka.

“Dia teman aku, Mas.” Raana menangis.

Batari berdecak, malu juga jika ada tetangga yang mendengar teriakan Raana.

“Raana, biar Mas Ghani yang jelaskan ke kamu.” Batari buka suara.

Raana menatap sinis ke arah temannya itu, “Gila.. Tega kalian sama aku, tega kalian!”

Raana menatap suaminya yang kini tampak asing, napasnya tersengal antara marah dan kecewa, seolah semua yang ia kenal selama ini hancur dalam sekejap. Suasana menjadi sunyi, penuh luka yang belum siap disembuhkan.

“Aku sudah lama berhubungan dengan Batari. Maaf Raana, kami bermain dibelakangmu.” Ghani menyesali mereka tertangkap dengan cara seperti ini.

Niat hati memang ingin melepas Raana, namun tidak dengan mengakui perselingkuhan mereka.

“Kamu selingkuh Mas. Apa kurangnya aku, sampai kamu jahat begini sama aku?” Raana berlari ke arah Ghani, dia memukuli dada pria yang iakira menjadi malaikat pelindungnya. Siapa sangka, pria yang merupakan cinta pertamanya itu, malah menyakiti hatinya.

Ghani menahan tangan Raana, tidak mau kalah, sang istri makin beringas memukuli Ghani. Tidak tahan akan emosi, dengan kasar Ghani malah mendorong Raana hingga sang istri jatuh ke lantai.

“Suami tidak tahu diri,” jerit Raana. **

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    Dikhianati Satu Keluarga

    Raana duduk terpaku di ruang sidang yang masih riuh oleh bisik-bisik pengunjung. Surat cerai di tangan Ghani terasa dingin, seolah menyayat hatinya perlahan. Semua terjadi begitu cepat—Ghanii, dengan dompet tebal dan wajah tanpa kerutan sedikit pun, mengurus semua prosesnya tanpa kesulitan.Ah hanya dalam hitungan minggu, dia sudah resmi bercerai dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Dengan alasan perselingkuhan, Raana kini menjandang status sebagai janda.Raana yang selama ini berharap ada secercah harapan, kini hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. Saat pertemuan terakhir di luar ruang sidang, Ghani menatap Raana dengan mata yang mencoba menyiratkan kebaikan, "Sementara kamu bisa tinggal di rumah itu sampai kamu dapat pekerjaan. Aku akan tetap mengirim uang bulanan buat kamu." Suaranya tegas tidak ada lagi kelembutan saat berbicara dengannya.Entah Ghani memang baik atau sedang merasa bahagia karena bisa secepat ini lepas darinya. Namun Raana menangkap ada nada kasihan yan

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    5. Aku Benci Kamu Mas!!

    Sebelum benar-benar bercerai dengan Ghani, tugas Raana saat ini hanya harus mencari tempat tinggal baru dan pekerjaan. Raana tidak mau memakai uang Ghani, harga dirinya sudah diinjak-injak karena pengkhianatan, jadi kalau bisa ia ingin segera melarikan diri dan menjauh saja."Kita mulai semuanya dari awal ya, Raana. Semangat!" ucap Raana pada diri sendiri.Berkas perceraian mereka sudah diterima oleh pengadilan agama. Hanya saja ada tahap mediasi yang harus mereka ikuti, kebetulan Raana maupun Ghani sama-sama sepakat untuk ikut dalam mediasi tersebut.Raana mengenakan dress putih dengan high heels merah menyala. Untuk pertama kalinya ia merias wajahnya dan mengenakan lipstik merah. Raana berdandan lebih feminim, bahkan ia mengenakan parfum mahal yang pernah dibelikan Ghani.Ghani datang ke pengadilan bersama dengan Batari, ia membawa selingkuhannya saat akan melakukan mediasi. Benar-benar sudah tidak ada rasa malu lagi.Ekspresi Batari berubah saat melihat penampilan Raana yang berbed

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    4. Tidak Didukung Mama Mertua

    Bab 4Banyak makanan yang tergeletak di meja, ada yang sudah dibuka tapi belum disentuh dan ada pula yang masih rapi dalam kemasan. Biasanya semua permasalahan hidupnya Raana akan hilang saat ia makan, tetapi kali ini lidahnya terasa mati rasa, ia tak berselera untuk mencicipi apa pun.Seharian itu, Raana hanya meringkuk di sofa, menatap jarum jam yang terus bergerak. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Raana hanya sedang menikmati waktu.Hingga suara deru mesin kendaraan memecahkan lamunan, membuat Raana bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.Tok tok tokSeorang pria dengan pakaian biru hitam mendatangi rumahnya, mengaku suruhan suaminya untuk mengambil beberapa barang."Di mana Mas Ghani?" tanya Raana."Saya hanya diminta Bapak untuk membawa pakaian saja, Bu."Pakaian?Raana mendesah, Ghani memang hanya membawa pakaian seadanya saja. Tidak menyangka, menyuruh orang untuk kerumah. Kenapa tidak ambil sendiri, apa Ghani sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.“Sebentar saya

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    3. Pelakor dan Obesitas

    Raana syok, tubuhnya membeku akan hinaan dari pria yang masih bertengger tegap di hatinya.“Obesitas kamu!”“Mas!” pekik Raana akan mulut kurang ajar suaminya.Tidak percaya dengan ucapan pria yang dulu berjanji akan menjaga dan mencintainya, seumur hidupnya itu.Bagaimana Raana bisa pergi ke salon, sementara Ghani selalu melarangnya keluar rumah seolah ia adalah tawanan. Itulah kenapa untuk menghibur diri, Raana lebih memilih memesan makanan. Namun, rupanya Ghani lupa dengan semua aturan gilanya itu.“Aku begini juga karena kamu, Mas. Memang boleh aku keluar rumah, selama ini kamu ngurung aku, Mas!" tegas Raana berusaha membela diri.“Halah itu alasan kamu saja. Pokoknya aku nggak mau ribut, aku sudah harus ke kantor dan harus bekerja, aku juga sudah menjelaskan semua ke pengacara dan kamu tinggal tanda tangan saja!” jelas Ghani yang tampaknya keputusannya tidak lagi bisa dinegosiasikan.Mendengar itu, lagi-lagi Raana kembali menolak. Ia dengan tegas menjelaskan kalau dirinya tidak m

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    2. Obesitas

    Raana terbangun perlahan, tubuhnya terasa berat dan kepala seperti berputar-putar. Matanya terbuka dan seketika itu juga ia sadar—dia tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Panik mulai merayapi dada saat ia mencoba mengingat, tapi yang tersisa hanyalah sisa-sisa kabur dari malam yang berlalu."Pusing banget," lirihnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tatapannya menyapu ruangan asing yang dingin dan asing, dinding putih polos tanpa hiasan, membuatnya semakin gelisah.Dengan segera, Raana menggenggam erat selimut yang tersampir di tubuhnya, mencoba menutupi diri yang terpapar. "Astaga, ini di mana?" suaranya meninggi, penuh ketakutan dan kebingungan.Tiba-tiba, terdengar suara pria dari sudut ruangan, dingin dan tanpa emosi, "Mau sarapan?" tanyanya santai, seolah pagi itu adalah rutinitas biasa.Raana menoleh ke arah suara itu, dan kenangan samar-samar tentang malam panas yang baru saja berlalu menyeruak ke benaknya—bersama pria yang sama sekali tak dikenalnya.“Ka-kamu siapa?”

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    1. Perselingkuhan Terkejam

    Deg!Jantung Raana berdegup kencang saat matanya tertuju pada sebuah foto box yang terselip di antara tumpukan pakaian dalam koper suaminya. Dalam foto itu, suaminya, Ghani berdampingan dengan Batari —teman lama Raana—terlihat berdiri akrab bersama suaminya, senyum mereka terlihat terlalu lepas untuk sekadar kenalan biasa. Lebih menyayat hati adalah kedua wajah mereka saling menempel.“Kok ada foto Mas Ghani sama Batari sih. Ini mereka di mana?” tanya Raana lebih ke dirinya sendiri.Mereka memang saling mengenal, namun Raana tidak tahu mereka seakrab itu.“Ih kok bisa sih..”Raana menggenggam foto itu dengan tangan gemetar, napasnya tercekat oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus ketakutan yang merayap di dada. "Ini gimana bisa ada foto Mas Ghani..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Dia menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengemasi barang, tapi keberanian untuk bertanya belum juga datang. Raana takut, takut jika pertanyaan itu membuka tabir sebuah kebenaran ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status