Share

5. Aku Benci Kamu Mas!!

Author: Miss Nonce
last update Last Updated: 2026-01-07 12:19:24

Sebelum benar-benar bercerai dengan Ghani, tugas Raana saat ini hanya harus mencari tempat tinggal baru dan pekerjaan. Raana tidak mau memakai uang Ghani, harga dirinya sudah diinjak-injak karena pengkhianatan, jadi kalau bisa ia ingin segera melarikan diri dan menjauh saja.

"Kita mulai semuanya dari awal ya, Raana. Semangat!" ucap Raana pada diri sendiri.

Berkas perceraian mereka sudah diterima oleh pengadilan agama. Hanya saja ada tahap mediasi yang harus mereka ikuti, kebetulan Raana maupun Ghani sama-sama sepakat untuk ikut dalam mediasi tersebut.

Raana mengenakan dress putih dengan high heels merah menyala. Untuk pertama kalinya ia merias wajahnya dan mengenakan lipstik merah. Raana berdandan lebih feminim, bahkan ia mengenakan parfum mahal yang pernah dibelikan Ghani.

Ghani datang ke pengadilan bersama dengan Batari, ia membawa selingkuhannya saat akan melakukan mediasi. Benar-benar sudah tidak ada rasa malu lagi.

Ekspresi Batari berubah saat melihat penampilan Raana yang berbeda dari biasanya. Raana mencoba tersenyum, walau dalam hatinya ia merasa sangat sesak. "Hai, wah kalian kompak banget!" ucap Raana.

"Kamu berdandan gini buat menarik perhatian Ghani, ya? Sayang sekali, dia gak akan tertarik sama kamu lagi!" ujar Batari sambil merangkul tangan Ghani.

Raana melihat itu dengan jelas, di mana tangan yang biasa merangkulnya kini dirangkul oleh wanita lain. Sesak dan menyakitkan, tetapi saat ini Raana jadi tahu kalau mediasi tidak dibutuhkan lagi karena mereka akan benar-benar bercerai.

"Mas, sepertinya tidak perlu ada mediasi." Raana mengangkat kepalanya, berusaha tegar menatap Ghani.

 "Harusnya kita memang nggak datang. Gak perlu lagi ada mediasi. Siapkan saja pengacara terbaik kamu!"

"Kenapa? Kamu masih berharap kita kembali? Raana, jangan membuang energi kamu. Sekarang kamu cukup cari pengacara untuk persidangan nanti. Pulanglah!" ucap Ghani mengingatkan lagi.

Pengacara?

Raana memang butuh pengacara, tetapi ia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mendapatkan pengacara. Bahkan, ia tidak tahu harus membayar pengacara dengan apa.

"Mas, emangnya dia punya uang buat sewa pengacara?" cibir Batari.

"Aku yang akan bayar!" timpal Ghani.

"Raana, cari pengacara, nanti aku yang akan bayar." Ghani menatap Raana yang tampak kebingungan.

Ghani sangat tahu kalau Raana pastinya tidak mengerti harus melakukan apa, itulah kenapa Ghani sedikit memberi petunjuk dengan meminta Raana mencari pengacara perceraian. Dengan pengacara, nantinya Raana tidak akan kebingungan lagi harus melakukan apa.

Raana menatap Ghani sebentar, mereka saling bertukar pandangan, kemudian Raana tersenyum. Raana pergi tanpa mengikuti mediasi karena memang mediasi hanya dilakukan untuk mereka yang ingin mencari jalan keluar tanpa perceraian.  Namun, di sini Ghani sudah bersikeras kalau ia akan menceraikan Raana.

Raana berjalan sambil menangis, ia mengisi hidupnya yang malang ini.

"Apa 5 tahun kita sama sekali nggak berarti buat kamu, Mas?"

"Aku benci kamu, Mas!" teriak Raana.

Tiba-tiba high heels merah itu menginjak batu kecil yang membuat Raana tergelincir dan jatuh. Tangisan Raana semakin pecah, membuat beberapa orang meliriknya dengan heran.

"Sakit! Ini sakit banget," gumam Raana sambil memukul-mukul dadanya.

Kaki Raana terkilir, tetapi justru hatinya 'lah yang terasa sakit.

Semesta seperti mengerti dengan rasa sakitnya, membuat langit mengirim hujan untuk menyamarkan tangisan Raana. Bukannya berlindung, Raana malah semakin betah terduduk di pinggir jalan dan menangis sejadinya.

Akan tetapi, tangisan itu langsung berhenti saat Raana mengingat bahwa dunia tidak akan pernah iba pada seseorang yang lemah. Dunia tidak akan peduli seberapa keras tangisan kita, tetapi dunia akan tertarik pada seseorang yang mau bangkit.

"Aku nggak boleh kayak gini terus, aku harus cari pekerjaan secepatnya dan gak boleh bergantung sama Mas Ghani terus," ucap Raana sambil berusaha bangun.

Ia beberapa kali terjatuh lagi, tetapi berulangkali Raana bangkit lagi. Ia tidak boleh lemah, tidak boleh plin-plan dengan tekadnya sendiri.

*

*

Raana kembali ke rumah dan mulai membuka laptop yang ada di kamar, laptop yang biasa ia gunakan untuk menonton drama dan film itu kali ini akan ia gunakan untuk memulai kehidupannya.

Namun, Raana malah terdiam saat ia sendiri bingung bagaimana caranya membuat CV dan cara membuat lamaran pekerjaan. "Mas, cerainya bisa nanti dulu nggak sih, aku beneran nggak tahu harus ngelakuin apa dulu!" geruti Raana di dalam kamar.

Raana menutup wajahnya dengan bantal, berteriak sekuat yang ia bisa.

"Aku juga harus cari pengacara di mana? Aku nggak punya kenalan!"

"Di sosial media? Atau aku harus pergi ke kantor pengacara langsung? Aku harus cari yang kayak gimana. Masa, tiba-tiba datang terus bilang ... permisi aku mau sewa pengacara. Aneh banget," keluh Raana yang terlihat bingung dengan ketidaktahuannya.

"Mas Ghani, kalau mau bayarin pengacara sekalian cariin atau minimal kasih tutorialnya gitu. Masa aku harus search di media sosial gimana cara mendapat pengacara untuk perceraian. Aku keliatan banget bodohnya!" rengek Raana sambil menekuk wajahnya.

Raana dibuat kesal oleh dirinya sendiri. Menyesal karena selama ini ia benar-benar belajar apa pun. Ia hanya menjadi seorang istri yang baik, yang ternyata itu tidaklah cukup untuk suaminya. Raana benar-benar menggantungkan dirinya pada Ghani dan sekarang tanpa Ghani ia seperti seorang tunanetra yang kehilangan tongkatnya.

Raana menutup mata sejenak, membuang napasnya perlahan, dan kemudian tersenyum begitu manis. Ia membawa laptop ke meja rias, sambil menghapus riasan di wajah Raana mulai mencari informasi seputar pengacara perceraian. "Aku nggak boleh bergantung terus sama Mas Ghani, aku pasti bisa ngelakuin semuanya sendiri. Semangat Raana!" teriak Raana.

Sekarang ini era digital, informasi apa pun bisa dengan mudah diakses.

"Cara membuat CV yang menarik," gumam Raana sambil mengetik di kolom pencarian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    Dikhianati Satu Keluarga

    Raana duduk terpaku di ruang sidang yang masih riuh oleh bisik-bisik pengunjung. Surat cerai di tangan Ghani terasa dingin, seolah menyayat hatinya perlahan. Semua terjadi begitu cepat—Ghanii, dengan dompet tebal dan wajah tanpa kerutan sedikit pun, mengurus semua prosesnya tanpa kesulitan.Ah hanya dalam hitungan minggu, dia sudah resmi bercerai dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Dengan alasan perselingkuhan, Raana kini menjandang status sebagai janda.Raana yang selama ini berharap ada secercah harapan, kini hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. Saat pertemuan terakhir di luar ruang sidang, Ghani menatap Raana dengan mata yang mencoba menyiratkan kebaikan, "Sementara kamu bisa tinggal di rumah itu sampai kamu dapat pekerjaan. Aku akan tetap mengirim uang bulanan buat kamu." Suaranya tegas tidak ada lagi kelembutan saat berbicara dengannya.Entah Ghani memang baik atau sedang merasa bahagia karena bisa secepat ini lepas darinya. Namun Raana menangkap ada nada kasihan yan

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    5. Aku Benci Kamu Mas!!

    Sebelum benar-benar bercerai dengan Ghani, tugas Raana saat ini hanya harus mencari tempat tinggal baru dan pekerjaan. Raana tidak mau memakai uang Ghani, harga dirinya sudah diinjak-injak karena pengkhianatan, jadi kalau bisa ia ingin segera melarikan diri dan menjauh saja."Kita mulai semuanya dari awal ya, Raana. Semangat!" ucap Raana pada diri sendiri.Berkas perceraian mereka sudah diterima oleh pengadilan agama. Hanya saja ada tahap mediasi yang harus mereka ikuti, kebetulan Raana maupun Ghani sama-sama sepakat untuk ikut dalam mediasi tersebut.Raana mengenakan dress putih dengan high heels merah menyala. Untuk pertama kalinya ia merias wajahnya dan mengenakan lipstik merah. Raana berdandan lebih feminim, bahkan ia mengenakan parfum mahal yang pernah dibelikan Ghani.Ghani datang ke pengadilan bersama dengan Batari, ia membawa selingkuhannya saat akan melakukan mediasi. Benar-benar sudah tidak ada rasa malu lagi.Ekspresi Batari berubah saat melihat penampilan Raana yang berbed

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    4. Tidak Didukung Mama Mertua

    Bab 4Banyak makanan yang tergeletak di meja, ada yang sudah dibuka tapi belum disentuh dan ada pula yang masih rapi dalam kemasan. Biasanya semua permasalahan hidupnya Raana akan hilang saat ia makan, tetapi kali ini lidahnya terasa mati rasa, ia tak berselera untuk mencicipi apa pun.Seharian itu, Raana hanya meringkuk di sofa, menatap jarum jam yang terus bergerak. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Raana hanya sedang menikmati waktu.Hingga suara deru mesin kendaraan memecahkan lamunan, membuat Raana bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.Tok tok tokSeorang pria dengan pakaian biru hitam mendatangi rumahnya, mengaku suruhan suaminya untuk mengambil beberapa barang."Di mana Mas Ghani?" tanya Raana."Saya hanya diminta Bapak untuk membawa pakaian saja, Bu."Pakaian?Raana mendesah, Ghani memang hanya membawa pakaian seadanya saja. Tidak menyangka, menyuruh orang untuk kerumah. Kenapa tidak ambil sendiri, apa Ghani sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.“Sebentar saya

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    3. Pelakor dan Obesitas

    Raana syok, tubuhnya membeku akan hinaan dari pria yang masih bertengger tegap di hatinya.“Obesitas kamu!”“Mas!” pekik Raana akan mulut kurang ajar suaminya.Tidak percaya dengan ucapan pria yang dulu berjanji akan menjaga dan mencintainya, seumur hidupnya itu.Bagaimana Raana bisa pergi ke salon, sementara Ghani selalu melarangnya keluar rumah seolah ia adalah tawanan. Itulah kenapa untuk menghibur diri, Raana lebih memilih memesan makanan. Namun, rupanya Ghani lupa dengan semua aturan gilanya itu.“Aku begini juga karena kamu, Mas. Memang boleh aku keluar rumah, selama ini kamu ngurung aku, Mas!" tegas Raana berusaha membela diri.“Halah itu alasan kamu saja. Pokoknya aku nggak mau ribut, aku sudah harus ke kantor dan harus bekerja, aku juga sudah menjelaskan semua ke pengacara dan kamu tinggal tanda tangan saja!” jelas Ghani yang tampaknya keputusannya tidak lagi bisa dinegosiasikan.Mendengar itu, lagi-lagi Raana kembali menolak. Ia dengan tegas menjelaskan kalau dirinya tidak m

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    2. Obesitas

    Raana terbangun perlahan, tubuhnya terasa berat dan kepala seperti berputar-putar. Matanya terbuka dan seketika itu juga ia sadar—dia tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Panik mulai merayapi dada saat ia mencoba mengingat, tapi yang tersisa hanyalah sisa-sisa kabur dari malam yang berlalu."Pusing banget," lirihnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tatapannya menyapu ruangan asing yang dingin dan asing, dinding putih polos tanpa hiasan, membuatnya semakin gelisah.Dengan segera, Raana menggenggam erat selimut yang tersampir di tubuhnya, mencoba menutupi diri yang terpapar. "Astaga, ini di mana?" suaranya meninggi, penuh ketakutan dan kebingungan.Tiba-tiba, terdengar suara pria dari sudut ruangan, dingin dan tanpa emosi, "Mau sarapan?" tanyanya santai, seolah pagi itu adalah rutinitas biasa.Raana menoleh ke arah suara itu, dan kenangan samar-samar tentang malam panas yang baru saja berlalu menyeruak ke benaknya—bersama pria yang sama sekali tak dikenalnya.“Ka-kamu siapa?”

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    1. Perselingkuhan Terkejam

    Deg!Jantung Raana berdegup kencang saat matanya tertuju pada sebuah foto box yang terselip di antara tumpukan pakaian dalam koper suaminya. Dalam foto itu, suaminya, Ghani berdampingan dengan Batari —teman lama Raana—terlihat berdiri akrab bersama suaminya, senyum mereka terlihat terlalu lepas untuk sekadar kenalan biasa. Lebih menyayat hati adalah kedua wajah mereka saling menempel.“Kok ada foto Mas Ghani sama Batari sih. Ini mereka di mana?” tanya Raana lebih ke dirinya sendiri.Mereka memang saling mengenal, namun Raana tidak tahu mereka seakrab itu.“Ih kok bisa sih..”Raana menggenggam foto itu dengan tangan gemetar, napasnya tercekat oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus ketakutan yang merayap di dada. "Ini gimana bisa ada foto Mas Ghani..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Dia menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengemasi barang, tapi keberanian untuk bertanya belum juga datang. Raana takut, takut jika pertanyaan itu membuka tabir sebuah kebenaran ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status