Share

Dikhianati Satu Keluarga

Penulis: Miss Nonce
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 19:46:13

Raana duduk terpaku di ruang sidang yang masih riuh oleh bisik-bisik pengunjung. Surat cerai di tangan Ghani terasa dingin, seolah menyayat hatinya perlahan. Semua terjadi begitu cepat—Ghanii, dengan dompet tebal dan wajah tanpa kerutan sedikit pun, mengurus semua prosesnya tanpa kesulitan.

Ah hanya dalam hitungan minggu, dia sudah resmi bercerai dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Dengan alasan perselingkuhan, Raana kini menjandang status sebagai janda.

Raana yang selama ini berharap ada secercah harapan, kini hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. Saat pertemuan terakhir di luar ruang sidang, Ghani menatap Raana dengan mata yang mencoba menyiratkan kebaikan, "Sementara kamu bisa tinggal di rumah itu sampai kamu dapat pekerjaan. Aku akan tetap mengirim uang bulanan buat kamu." Suaranya tegas tidak ada lagi kelembutan saat berbicara dengannya.

Entah Ghani memang baik atau sedang merasa bahagia karena bisa secepat ini lepas darinya. Namun Raana menangkap ada nada kasihan yang terselip di balik kata-katanya. Raana mengangkat dagu, menahan getir yang menyembul dari lubuk hatinya. "Nggak usah, Ghani. Aku bisa urus hidupku sendiri," jawabnya tegas, meski suaranya sedikit bergetar.

Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin jadi beban, apalagi dipandang sebelah mata. Dalam diam, ia bertarung melawan perasaan rapuh yang ingin menyeretnya ke jurang putus asa. “Oh Tuhan..” Langkah Raana menjauh dengan tatapan penuh tekad, meninggalkan Ghani yang berdiri terdiam, mencoba menyembunyikan kelegaan sekaligus kekhawatiran di balik topeng dinginnya.

Hidupnya memang berubah, tapi Raana tahu, ia harus bangkit—sendiri.

*

*

Raana mengelus-elus tangannya, merasa kelelahan setelah seharian mencari pekerjaan. Matanya menyapu sekeliling kafe yang ramai oleh tawa dan obrolan para pengunjung. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan rasa kecewa yang menggerogoti hatinya setiap kali pertanyaan itu terulang, "Nggak ada lowongan ya, Mbak?"

Seorang pelayan muda menggeleng pelan sambil tersenyum sopan, "Belum ada, Mbak. Kalau ada, pasti kami kabari."

Senyum Raana yang terukir tipis berubah menjadi getir, bibirnya mengecil tanpa suara. Ia menundukkan kepala sejenak, membiarkan harapan yang mulai pudar berbaur dengan kelelahan yang menyesak di dadanya. Hidup tanpa suami bukan hanya tentang kesendirian, tapi juga beban yang harus ia pikul sendiri — mencari nafkah dengan ijazah SMA yang terasa tak cukup untuk bersaing di dunia kerja yang kejam.

Raana berdiri, menata kembali tas lusuh di pundaknya. Di balik tatapan yang tampak tegar, ada gelombang kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan. Namun, tekadnya tetap menyala samar, menantang kerasnya kenyataan agar ia bisa berdiri tegak dan membangun masa depan untuk dirinya sendiri.

“Loh Mbak Raana..”

Suara panggilan seorang perempuan membuat Raana menoleh. Ada Windi tetangga rumahnya, hanya berbeda blok saja.

“Eh Mbak Windi.. Ketemu kita,” balas Raana ramah.

“Iya enggak sengaja yah,” kata Windi mengibaskan rambutnya.

Raana hanya bisa tersenyum getir. Windi, banyak dibicarakan tetangga sekitar. Bukan karena statusnya yang belum menikah, tapi pekerjaannya di klub malam, membuatnya sering pulang pagi bahkan tidak pulang.

“Sedang apa mbak? Ngopi-ngopi cantik ya,” kekeh Windi yang memang ramah, tapi genit.

Raana kikuk menjawab, “Nggak mbak.. Iseng saja cari kerjaan.” Terpaksa Raana jujur, karena memang itu dia di sana.

Windi mengerutkan kening, mengingat sesuatu lalu rautnya berubah nelangsa. “Oh iya, saya baru ingat cerita tetangga sebelah, hihihi..” Windi terkikik geli sendiri, lalu menyentuh bahu Raana lembut. “Mbak Raana habis diceraikan yah. karena suaminya selingkuh.”

Hah!

Sontak Raana kaget, secepat itukah ceritanya menyebar ke tetangganya. “Humm..”

“Sudah mbak, enggak usah malu. Laki memang begitu, nggak tahu diri. Jangan dipikirin, oh ya.. Makanya mbak cari kerja ya.”

Tidak mau diperpanjang, Raana hanya mengangguk.

“Sudah dapat>”

“Belum mbak.. Hufth, belum ada rezeki di kerjaan.”

Windi manggut-manggut, mengerti. “Cari kerja zaman sekarang memang susah. Apalagi tidak ada keahlian, iya kan..”

“Iya mbak Windi.”

“Ya sudah, mau kerja di tempat saya saja.”

Raana terpaku, dia tahu di mana kerjanya Windi. Tapi apa iya dia harus bekerja di dunia malam.

“Enggak dulu deh mbak. Tapi makasih ya tawarannya.”

“Nggak apa-apa kok. Kalau tertarik, telepon saya saja ya. Ini kita tukeran nomor ponsel saja,” tawar Windi berbaik hati.

Tidak ingin mengecewakan Windi yang sudah mau berbaik hati, Raana menyimpan nomor wanita cantik yang kini mengenakan rok jeans pendek, memperlihatkan paha mulusnya dipadu kaos ketat berwarna putih.

“Makasih mbak, aku duluan ya.”

*

*

Raana berdiri terpaku di depan pintu, jantungnya berdegup keras saat melihat sosok Evi sang mantan mertua, melangkah masuk ke ruang tamu bersama Batari, wanita yang selama ini menjadi bayang-bayang pengkhianatan dalam hidupnya. Wajah Evi datar, tanpa sedikit pun raut iba, bahkan suaranya dingin ketika berkata, "Niatnya mama mau kontrakan rumah ini, Raana. Batari nggak mau mama suruh tinggal di sini." Kata-kata itu seperti pisau yang mengiris hati Raana, membuatnya terdiam seolah kehilangan tempat berpijak.

“Kok dikontrakan Ma. Kata Mas Ghani, aku bisa tinggal di sini.”

“Iya, tapi kan kamu nolak. Atau..” Mama Evi berpikir sejenak. “Mama koskan saja ya, nanti kamu masih bisa tingga di sini.”

“Aku nggak nyaman Ma, tinggal sama orang asing.”

“Terus kamu maunya gimana, Raana?” pekik Mama Evi, gemas pada menantunya yang semakin kacau saja kondisinya.

Mata Raana yang mulai berkaca-kaca menatap Evi dengan penuh penyesalan dan kebingungan, suaranya tercekat saat bertanya, "Terus Raana tinggal di mana, Ma?" Ada kesedihan mendalam dalam nada bicaranya, seakan berharap ada jalan lain yang lebih manusiawi.

Namun Evi hanya mengangkat bahu santai, seolah masalah itu bukan urusannya lagi, lalu menyarankan dengan dingin, "Coba kos atau kontrak."

Di samping Evi, Batari berdiri dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan. Matanya menatap Raana penuh kemenangan, seolah menikmati setiap detik penderitaan yang dirasakan wanita itu. Diamnya Batari justru lebih menyakitkan daripada kata-kata tajam Evi, membuat suasana menjadi begitu mencekam dan menusuk jiwa.

“Ini semua gara-gara kamu Batari. Puas kamu lihat teman kamu sendiri, menderita!” teriak Raana frustasi.

Dia berdiri hendak mendorong Batari, namun Mama Evi mencegahnya. “Eh kamu jangan kasar sama Batari. Dia sedang mengandung cucu Mama.”

Deg!

“A-apa Ma.. apa maksud Mama?” getir suara Raana bertanya.

Batari hamil?

Hamil anak siapa?

Anak Ghani?

Oh astaga, sudah berapa lama mereka berhubungan sampai Batari harus mengandung anak dari suaminya.

Raana menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang menggenang, sementara tubuhnya terasa lemas dan rapuh.

“Perempuan nggak punya harga diri. Jahat kamu! Teganya kamu hamil dari suami teman sendiri,” teriak Raana.

“Setidaknya dia bisa memberi Mama cucu, Raana!” bentak Mama Evi membela Batari yang entah sudah dinikahi atau belum oleh anaknya.

“Tapi anak Mama salah. Dia selingkuh saat masih menikah sama aku,” balas Raana membela diri.

“Tapi kamu nggak becus ngurus suami. Sampai suami kamu pergi kerumah perempuan lain,” sahut Mama Evi,

Raana menunjuk ke arah Batari yang bersembunyi di balik sang Mama, “Kalau bukan karena dia yang menggoda Mas Ghani. Enggak mungkin mah, Mas Ghani tergoda.”

Batari tidak terima, “Enak saja. Mas Ghani duluan kok yang nyamperin aku. Katanya muak melihat kamu, nggak bisa jaga badan. Lihat nih aku, lagi hamil tapi masih singset!” balas Batari memamerkan tubuhnya yang lebih body goal dibanding Raana.

Muak dengan semua ocehan itu, Raana mengusir mereka. “Pergi kalian, pergi!” teriak Raana menunjuk ke arah pintu.

“Jangan sembarangan kamu. Ini rumah anak Mama, kenapa kamu ngusir,” ujar Mama Evi tidak terima.

“Sudah Ma, kita pergi saja. Nggak guna bicara sama dia, Mas Ghani saja sudah malas.” Batari mengajak Mama Evi untuk pergi dari sana.

Raana merasa dikhianati bukan hanya oleh suaminya, tapi juga oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung. Dalam sunyi yang memekakkan itu, Raana tahu hidupnya kini harus mulai dari nol, tanpa tempat tinggal, tanpa kehangatan, dan penuh luka yang sulit disembuhkan.

Dalam pikirannya, dia harus secepatnya mencari pekerjaan. Raana mengambil ponselnya, dan mengetikkan pesan pada Windi.  **

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    Dikhianati Satu Keluarga

    Raana duduk terpaku di ruang sidang yang masih riuh oleh bisik-bisik pengunjung. Surat cerai di tangan Ghani terasa dingin, seolah menyayat hatinya perlahan. Semua terjadi begitu cepat—Ghanii, dengan dompet tebal dan wajah tanpa kerutan sedikit pun, mengurus semua prosesnya tanpa kesulitan.Ah hanya dalam hitungan minggu, dia sudah resmi bercerai dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Dengan alasan perselingkuhan, Raana kini menjandang status sebagai janda.Raana yang selama ini berharap ada secercah harapan, kini hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. Saat pertemuan terakhir di luar ruang sidang, Ghani menatap Raana dengan mata yang mencoba menyiratkan kebaikan, "Sementara kamu bisa tinggal di rumah itu sampai kamu dapat pekerjaan. Aku akan tetap mengirim uang bulanan buat kamu." Suaranya tegas tidak ada lagi kelembutan saat berbicara dengannya.Entah Ghani memang baik atau sedang merasa bahagia karena bisa secepat ini lepas darinya. Namun Raana menangkap ada nada kasihan yan

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    5. Aku Benci Kamu Mas!!

    Sebelum benar-benar bercerai dengan Ghani, tugas Raana saat ini hanya harus mencari tempat tinggal baru dan pekerjaan. Raana tidak mau memakai uang Ghani, harga dirinya sudah diinjak-injak karena pengkhianatan, jadi kalau bisa ia ingin segera melarikan diri dan menjauh saja."Kita mulai semuanya dari awal ya, Raana. Semangat!" ucap Raana pada diri sendiri.Berkas perceraian mereka sudah diterima oleh pengadilan agama. Hanya saja ada tahap mediasi yang harus mereka ikuti, kebetulan Raana maupun Ghani sama-sama sepakat untuk ikut dalam mediasi tersebut.Raana mengenakan dress putih dengan high heels merah menyala. Untuk pertama kalinya ia merias wajahnya dan mengenakan lipstik merah. Raana berdandan lebih feminim, bahkan ia mengenakan parfum mahal yang pernah dibelikan Ghani.Ghani datang ke pengadilan bersama dengan Batari, ia membawa selingkuhannya saat akan melakukan mediasi. Benar-benar sudah tidak ada rasa malu lagi.Ekspresi Batari berubah saat melihat penampilan Raana yang berbed

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    4. Tidak Didukung Mama Mertua

    Bab 4Banyak makanan yang tergeletak di meja, ada yang sudah dibuka tapi belum disentuh dan ada pula yang masih rapi dalam kemasan. Biasanya semua permasalahan hidupnya Raana akan hilang saat ia makan, tetapi kali ini lidahnya terasa mati rasa, ia tak berselera untuk mencicipi apa pun.Seharian itu, Raana hanya meringkuk di sofa, menatap jarum jam yang terus bergerak. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Raana hanya sedang menikmati waktu.Hingga suara deru mesin kendaraan memecahkan lamunan, membuat Raana bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.Tok tok tokSeorang pria dengan pakaian biru hitam mendatangi rumahnya, mengaku suruhan suaminya untuk mengambil beberapa barang."Di mana Mas Ghani?" tanya Raana."Saya hanya diminta Bapak untuk membawa pakaian saja, Bu."Pakaian?Raana mendesah, Ghani memang hanya membawa pakaian seadanya saja. Tidak menyangka, menyuruh orang untuk kerumah. Kenapa tidak ambil sendiri, apa Ghani sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.“Sebentar saya

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    3. Pelakor dan Obesitas

    Raana syok, tubuhnya membeku akan hinaan dari pria yang masih bertengger tegap di hatinya.“Obesitas kamu!”“Mas!” pekik Raana akan mulut kurang ajar suaminya.Tidak percaya dengan ucapan pria yang dulu berjanji akan menjaga dan mencintainya, seumur hidupnya itu.Bagaimana Raana bisa pergi ke salon, sementara Ghani selalu melarangnya keluar rumah seolah ia adalah tawanan. Itulah kenapa untuk menghibur diri, Raana lebih memilih memesan makanan. Namun, rupanya Ghani lupa dengan semua aturan gilanya itu.“Aku begini juga karena kamu, Mas. Memang boleh aku keluar rumah, selama ini kamu ngurung aku, Mas!" tegas Raana berusaha membela diri.“Halah itu alasan kamu saja. Pokoknya aku nggak mau ribut, aku sudah harus ke kantor dan harus bekerja, aku juga sudah menjelaskan semua ke pengacara dan kamu tinggal tanda tangan saja!” jelas Ghani yang tampaknya keputusannya tidak lagi bisa dinegosiasikan.Mendengar itu, lagi-lagi Raana kembali menolak. Ia dengan tegas menjelaskan kalau dirinya tidak m

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    2. Obesitas

    Raana terbangun perlahan, tubuhnya terasa berat dan kepala seperti berputar-putar. Matanya terbuka dan seketika itu juga ia sadar—dia tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Panik mulai merayapi dada saat ia mencoba mengingat, tapi yang tersisa hanyalah sisa-sisa kabur dari malam yang berlalu."Pusing banget," lirihnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tatapannya menyapu ruangan asing yang dingin dan asing, dinding putih polos tanpa hiasan, membuatnya semakin gelisah.Dengan segera, Raana menggenggam erat selimut yang tersampir di tubuhnya, mencoba menutupi diri yang terpapar. "Astaga, ini di mana?" suaranya meninggi, penuh ketakutan dan kebingungan.Tiba-tiba, terdengar suara pria dari sudut ruangan, dingin dan tanpa emosi, "Mau sarapan?" tanyanya santai, seolah pagi itu adalah rutinitas biasa.Raana menoleh ke arah suara itu, dan kenangan samar-samar tentang malam panas yang baru saja berlalu menyeruak ke benaknya—bersama pria yang sama sekali tak dikenalnya.“Ka-kamu siapa?”

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    1. Perselingkuhan Terkejam

    Deg!Jantung Raana berdegup kencang saat matanya tertuju pada sebuah foto box yang terselip di antara tumpukan pakaian dalam koper suaminya. Dalam foto itu, suaminya, Ghani berdampingan dengan Batari —teman lama Raana—terlihat berdiri akrab bersama suaminya, senyum mereka terlihat terlalu lepas untuk sekadar kenalan biasa. Lebih menyayat hati adalah kedua wajah mereka saling menempel.“Kok ada foto Mas Ghani sama Batari sih. Ini mereka di mana?” tanya Raana lebih ke dirinya sendiri.Mereka memang saling mengenal, namun Raana tidak tahu mereka seakrab itu.“Ih kok bisa sih..”Raana menggenggam foto itu dengan tangan gemetar, napasnya tercekat oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus ketakutan yang merayap di dada. "Ini gimana bisa ada foto Mas Ghani..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Dia menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengemasi barang, tapi keberanian untuk bertanya belum juga datang. Raana takut, takut jika pertanyaan itu membuka tabir sebuah kebenaran ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status