MasukRaana terbangun perlahan, tubuhnya terasa berat dan kepala seperti berputar-putar. Matanya terbuka dan seketika itu juga ia sadar—dia tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Panik mulai merayapi dada saat ia mencoba mengingat, tapi yang tersisa hanyalah sisa-sisa kabur dari malam yang berlalu.
"Pusing banget," lirihnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tatapannya menyapu ruangan asing yang dingin dan asing, dinding putih polos tanpa hiasan, membuatnya semakin gelisah.
Dengan segera, Raana menggenggam erat selimut yang tersampir di tubuhnya, mencoba menutupi diri yang terpapar. "Astaga, ini di mana?" suaranya meninggi, penuh ketakutan dan kebingungan.
Tiba-tiba, terdengar suara pria dari sudut ruangan, dingin dan tanpa emosi, "Mau sarapan?" tanyanya santai, seolah pagi itu adalah rutinitas biasa.
Raana menoleh ke arah suara itu, dan kenangan samar-samar tentang malam panas yang baru saja berlalu menyeruak ke benaknya—bersama pria yang sama sekali tak dikenalnya.
“Ka-kamu siapa?” tanya Raana terbata.
Emir berdecak, klise sekali. Habis puas tadi malam, langsung lupa.
“Drama! Pakai bajumu dan pergilah,” ucapnya cepat. Sempat melirik sejenak, jika wanita yang menghabiskan malam bersamanya, makin cantik saat bangun tidur.
What!
Raana diusir, dia mencoba mengingat tadi malam.Setelahnya..
“Haaah.. Kamu sama aku?” Raana menunjuk dirinya dan pria itu.
“Ya, dan kamu yang memulainya.”
Raana mengingat, dia duluan yang mengecup pria itu karena terlalu tampan. “Kenapa mau?” lirih Raana.Emir tersentak, iya juga. Kenapa dia mau?
“Aku mabuk,” kata Emir, tidak mau dicap pria murahan juga.
Raana mendesah, mereka sama-sama mabuk. “Oh astaga kenapa dengan aku sih,” pekiknya kesal.
Pria itu melangkah mendekat, tangannya menyodorkan sejumlah uang tebal. "Itu bayaranmu, beli obat. Saya tidak mau kamu hamil!" ucapnya dengan nada yang tajam, tanpa sedikitpun menyembunyikan kekesalan dan ketidakpeduliannya.
Raana membeku sejenak, matanya membelalak, dada berdebar kencang, campuran antara marah, malu, dan kecewa. Tanpa pikir panjang, ia meraih uang itu dan melemparkannya ke arah pria itu dengan kekuatan yang tak terduga.
"Jangan anggap aku barang murah!" teriak Raana, suaranya penuh amarah yang membara. Wajahnya memerah, tangan gemetar menahan gejolak emosi. Ia menundukkan kepala, berusaha menghalau rasa sakit dan kehinaan yang menggerogoti hatinya. Namun di balik amarah itu, ada ketakutan yang dalam—takut akan konsekuensi dari malam yang ia sesali, takut akan masa depan yang tak pasti.
“Itu pakaian baru. Pergilah, dan anggap ini tidak terjadi.”
“Oh tentu saja, aku akan dengan senang hati melupakannya,” teriak Raana.“Jelas, karena itu tidak baik bagi suamimu.”
Deg!Ghani..Seketika Raana baru ingat, jika dia sudah punya suami.
Pria itu hanya menatap dingin, tak bergeming, meninggalkan Raana yang terdiam, terbungkus selimut tebal, di tengah ruangan asing yang sunyi.
Menyisakan Raana yang kembali mengingat, apa yang terjadi padanya. Hingga ingatan itu berputar pada, klub malam.
"Ah sial," ringis Raana.
Raana merasa kecewa akan perlakuan Ghani, dan tanpa sadar langkahnya menginjak sebuah klub malam. Ingin menghilangkan penat ceritanya, tapi karena tidak biasa minum. Raana malah mabuk, dan entah bagaimana ceritanya dia malah berakhir di ranjang.. Dengan pria lain..
Sialan ..*
*Tubuh Raana terasa remuk karena pertempuran semalam. Bahkan ia sampai tak pulang, memilih menikmati malam panjang bersama pria asing. Saat sampai di rumah, ia justru menemukan Ghani sedang duduk di sofa dengan ekspresi dingin.
Deg!
Ah sial, Raana kira suaminya tidak akan ada dirumah mereka. Karena sudah beberapa hari ini, Ghani yang mengaku sedang perjalanan dinas. Nyatanya malah menginap di rumah selingkuhannya. Raana kira Ghani tidak akan pulang."Mas.. Pulang?" Raana tersenyum simpul. Mengira Ghani pulang untuk memperbaiki kondisi rumah tangga mereka, dan mengatakan dengan Batari dia hanya khilaf sesaat.
Maka, Raana akan memaafkan Ghani.
Ghani mengangkat kepalanya, matanya menyorot tajam seolah Raana adalah mangsanya. Raana langsung duduk di samping Ghani, ia bergelayut manja di lengan sang suami, tetapi sialnya Ghani dengan kasar menarik tangannya dan menepis tangan Raana dengan kasar. "Mas, kamu pulang!” seru Raana dengan wajah sumringahnya.
“Darimana kamu?” tanya Ghani ketus.
“A-aku, itu.. aku habis nginep dirumah teman. Cari teman curhat,” balas Raana asal."Aku nggak peduli, aku cuma mau bilang kalau kita akan benar-benar selesai!" tegas Ghani yang membuat Raana membulatkan matanya dan menggeleng, berusaha menolak ucapan Ghani.
"Karena perselingkuhan itu, Mas? Aku sakit, kecewa, tapi aku bisa terima dan kalau kamu mau memperbaikinya kita juga bisa memulai semuanya lagi." Lagi dan lagi Raana berusaha menyentuh Ghani, yang mana suaminya masih sama, tetap menolaknya.
Di sini Raana adalah korban, ia adalah orang yang paling terluka. Ia dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Akan tetapi, Ghani bersikap seperti Raana yang bersalah.
Raana membuang napasnya dengan kasar, mimik wajahnya berubah sedih, tak mengerti lagi dengan sikap Ghani yang membuatnya merasa dibuang. “Mas, salahnya aku sama kamu apa, sih? Sampai kamu tega mengkhianati aku?” desak Raana bertanya pada Ghani.
Ghani hanya menutup mata dan memijat keningnya. Selalu seperti itu mengelak dan tidak mau membahasnya.
"Aku sudah mendaftarkan perceraian kita ke pengadilan agama!" gumam Ghani seraya bangun dari tempat duduknya.
Secepat itu??
Raana memegang tangan Ghani dan kembali memohon, "Mas, jangan kayak gini. Aku mohon, kita bicarakan semuanya baik-baik, ya!"
Raana adalah korban, tetapi ialah yang mengemis seperti ia yang melakukan kesalahan.
“Aku sudah terlambat ke kantor.” Ghani menjawab dengan dingin dan kembali menepis tangan Raana.
“Kamu kenapa selalu kayak gini sih, Mas!"
“Raana!” bentak Ghani, kesal.
“Sudah aku bilang, kita tidak cocok. Kenapa kamu terus memaksakan kehendak kamu!!” Kali ini Ghani benar-benar marah, merasa muak dengan sikap Raana yang tidak mau menyerah.
“Nggak cocok gimana, Mas. Kita sudah menikah hampir lima tahun dan baru sekarang kamu bilang kita enggak cocok?” sinis Raana.
Ghani malah tersenyum sinis, memandang Raana dari atas sampai bawah. Seperti tengah menilai istrinya dan jelas itu tatapan mencibir. “Lihat diri kamu, Ran. Tubuh kamu membesar, di rumah saja tapi nggak becus rawat tubuh. Uang yang aku kasih kemana saja, pernah kamu ke salon? Yang ada malah beli makanan terus,” sindir Ghani menyakiti hati Raana.
“Obesitas kamu,” sambung Ghani, makin menyakiti hati istrinya.
Hati wanita mana yang tidak sakit, jika suaminya malah mengatakan dia gendut. Bukan kali pertama, awalnya Ghani yang mengatakan tubuh Raana membesar. Lama kelamaan, dia bahkan sering bilang jika Raana sangat gendut. Sampai Raana pernah bertanya pada tetangga, dan mereka mengatakan besar saja bukan yang obesitas. **
Raana duduk terpaku di ruang sidang yang masih riuh oleh bisik-bisik pengunjung. Surat cerai di tangan Ghani terasa dingin, seolah menyayat hatinya perlahan. Semua terjadi begitu cepat—Ghanii, dengan dompet tebal dan wajah tanpa kerutan sedikit pun, mengurus semua prosesnya tanpa kesulitan.Ah hanya dalam hitungan minggu, dia sudah resmi bercerai dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Dengan alasan perselingkuhan, Raana kini menjandang status sebagai janda.Raana yang selama ini berharap ada secercah harapan, kini hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. Saat pertemuan terakhir di luar ruang sidang, Ghani menatap Raana dengan mata yang mencoba menyiratkan kebaikan, "Sementara kamu bisa tinggal di rumah itu sampai kamu dapat pekerjaan. Aku akan tetap mengirim uang bulanan buat kamu." Suaranya tegas tidak ada lagi kelembutan saat berbicara dengannya.Entah Ghani memang baik atau sedang merasa bahagia karena bisa secepat ini lepas darinya. Namun Raana menangkap ada nada kasihan yan
Sebelum benar-benar bercerai dengan Ghani, tugas Raana saat ini hanya harus mencari tempat tinggal baru dan pekerjaan. Raana tidak mau memakai uang Ghani, harga dirinya sudah diinjak-injak karena pengkhianatan, jadi kalau bisa ia ingin segera melarikan diri dan menjauh saja."Kita mulai semuanya dari awal ya, Raana. Semangat!" ucap Raana pada diri sendiri.Berkas perceraian mereka sudah diterima oleh pengadilan agama. Hanya saja ada tahap mediasi yang harus mereka ikuti, kebetulan Raana maupun Ghani sama-sama sepakat untuk ikut dalam mediasi tersebut.Raana mengenakan dress putih dengan high heels merah menyala. Untuk pertama kalinya ia merias wajahnya dan mengenakan lipstik merah. Raana berdandan lebih feminim, bahkan ia mengenakan parfum mahal yang pernah dibelikan Ghani.Ghani datang ke pengadilan bersama dengan Batari, ia membawa selingkuhannya saat akan melakukan mediasi. Benar-benar sudah tidak ada rasa malu lagi.Ekspresi Batari berubah saat melihat penampilan Raana yang berbed
Bab 4Banyak makanan yang tergeletak di meja, ada yang sudah dibuka tapi belum disentuh dan ada pula yang masih rapi dalam kemasan. Biasanya semua permasalahan hidupnya Raana akan hilang saat ia makan, tetapi kali ini lidahnya terasa mati rasa, ia tak berselera untuk mencicipi apa pun.Seharian itu, Raana hanya meringkuk di sofa, menatap jarum jam yang terus bergerak. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Raana hanya sedang menikmati waktu.Hingga suara deru mesin kendaraan memecahkan lamunan, membuat Raana bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.Tok tok tokSeorang pria dengan pakaian biru hitam mendatangi rumahnya, mengaku suruhan suaminya untuk mengambil beberapa barang."Di mana Mas Ghani?" tanya Raana."Saya hanya diminta Bapak untuk membawa pakaian saja, Bu."Pakaian?Raana mendesah, Ghani memang hanya membawa pakaian seadanya saja. Tidak menyangka, menyuruh orang untuk kerumah. Kenapa tidak ambil sendiri, apa Ghani sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.“Sebentar saya
Raana syok, tubuhnya membeku akan hinaan dari pria yang masih bertengger tegap di hatinya.“Obesitas kamu!”“Mas!” pekik Raana akan mulut kurang ajar suaminya.Tidak percaya dengan ucapan pria yang dulu berjanji akan menjaga dan mencintainya, seumur hidupnya itu.Bagaimana Raana bisa pergi ke salon, sementara Ghani selalu melarangnya keluar rumah seolah ia adalah tawanan. Itulah kenapa untuk menghibur diri, Raana lebih memilih memesan makanan. Namun, rupanya Ghani lupa dengan semua aturan gilanya itu.“Aku begini juga karena kamu, Mas. Memang boleh aku keluar rumah, selama ini kamu ngurung aku, Mas!" tegas Raana berusaha membela diri.“Halah itu alasan kamu saja. Pokoknya aku nggak mau ribut, aku sudah harus ke kantor dan harus bekerja, aku juga sudah menjelaskan semua ke pengacara dan kamu tinggal tanda tangan saja!” jelas Ghani yang tampaknya keputusannya tidak lagi bisa dinegosiasikan.Mendengar itu, lagi-lagi Raana kembali menolak. Ia dengan tegas menjelaskan kalau dirinya tidak m
Raana terbangun perlahan, tubuhnya terasa berat dan kepala seperti berputar-putar. Matanya terbuka dan seketika itu juga ia sadar—dia tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Panik mulai merayapi dada saat ia mencoba mengingat, tapi yang tersisa hanyalah sisa-sisa kabur dari malam yang berlalu."Pusing banget," lirihnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tatapannya menyapu ruangan asing yang dingin dan asing, dinding putih polos tanpa hiasan, membuatnya semakin gelisah.Dengan segera, Raana menggenggam erat selimut yang tersampir di tubuhnya, mencoba menutupi diri yang terpapar. "Astaga, ini di mana?" suaranya meninggi, penuh ketakutan dan kebingungan.Tiba-tiba, terdengar suara pria dari sudut ruangan, dingin dan tanpa emosi, "Mau sarapan?" tanyanya santai, seolah pagi itu adalah rutinitas biasa.Raana menoleh ke arah suara itu, dan kenangan samar-samar tentang malam panas yang baru saja berlalu menyeruak ke benaknya—bersama pria yang sama sekali tak dikenalnya.“Ka-kamu siapa?”
Deg!Jantung Raana berdegup kencang saat matanya tertuju pada sebuah foto box yang terselip di antara tumpukan pakaian dalam koper suaminya. Dalam foto itu, suaminya, Ghani berdampingan dengan Batari —teman lama Raana—terlihat berdiri akrab bersama suaminya, senyum mereka terlihat terlalu lepas untuk sekadar kenalan biasa. Lebih menyayat hati adalah kedua wajah mereka saling menempel.“Kok ada foto Mas Ghani sama Batari sih. Ini mereka di mana?” tanya Raana lebih ke dirinya sendiri.Mereka memang saling mengenal, namun Raana tidak tahu mereka seakrab itu.“Ih kok bisa sih..”Raana menggenggam foto itu dengan tangan gemetar, napasnya tercekat oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus ketakutan yang merayap di dada. "Ini gimana bisa ada foto Mas Ghani..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Dia menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengemasi barang, tapi keberanian untuk bertanya belum juga datang. Raana takut, takut jika pertanyaan itu membuka tabir sebuah kebenaran ya







