Share

4. Tidak Didukung Mama Mertua

Author: Miss Nonce
last update Last Updated: 2026-01-07 12:11:47

Bab 4

Banyak makanan yang tergeletak di meja, ada yang sudah dibuka tapi belum disentuh dan ada pula yang masih rapi dalam kemasan. Biasanya semua permasalahan hidupnya Raana akan hilang saat ia makan, tetapi kali ini lidahnya terasa mati rasa, ia tak berselera untuk mencicipi apa pun.

Seharian itu, Raana hanya meringkuk di sofa, menatap jarum jam yang terus bergerak. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Raana hanya sedang menikmati waktu.

Hingga suara deru mesin kendaraan memecahkan lamunan, membuat Raana bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.

Tok tok tok

Seorang pria dengan pakaian biru hitam mendatangi rumahnya, mengaku suruhan suaminya untuk mengambil beberapa barang.

"Di mana Mas Ghani?" tanya Raana.

"Saya hanya diminta Bapak untuk membawa pakaian saja, Bu."

Pakaian?

Raana mendesah, Ghani memang hanya membawa pakaian seadanya saja. Tidak menyangka, menyuruh orang untuk kerumah. Kenapa tidak ambil sendiri, apa Ghani sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.

“Sebentar saya siapkan,” kata Raana, meminta pria itu tunggu di teras rumah.

Tidak mau drama Raana, karena mungkin orang suruhan itu tidak tahu jika mereka sedang ada masalah rumah tangga.

Raana bergerak cepat, sengaja tidak membawakan seluruh pakaian suaminya.

"Jam berapa Mas Ghani akan pulang?" tanya Raana lagi.

Orang suruhan itu menerima tas koper dengan raut tertekan, tidak menyangka ditanya demikian. Namun, ada pesan yang memang dikatakan Ghani padanya.

"Bapak hanya titip pesan, kalau surat gugatan itu sudah Anda terima mohon untuk segera ditandatangani." Jawaban pria itu membuat Raana menghentikan langkahnya, ia baru sadar kalau Ghani memang benar-benar akan menceraikannya.

Tidak ada kesempatan untuk mereka memperbaiki hubungan ini. Semuanya benar-benar selesai. Bahkan Ghani keluar dari rumah ini yang artinya ia memang tidak ingin menemuinya lagi.

Tatapan Raana kosong, semuanya terasa hampa. Kalau ia bercerai, kemungkinan besar ia juga harus keluar dari rumah ini dan memulai perjalanannya di luar sana. Namun, akan ke mana kakinya ini melangkah, Raana tak memiliki tujuan.

Pria itu membawa sebuah koper yang berisikan barang pribadi Ghani. Ia berdiri di depan Raana dan kembali berkata, "Bu, Bapak bilang nggak akan ada harta gono-gini, tetapi setahun setelah perceraian Bapak masih akan tetap membiayai Anda!"

"Saya permisi," lanjutnya yang kemudian pergi.

Sementara Raana kembali meringkuk di sofa, telinganya mendengar semua kalimat itu dengan baik, hanya saja ia tidak memiliki energi untuk membuka mulutnya.

Di pikirannya saat ini hanya tentang bagaimana ia akan hidup di luaran sana.

*

*

Berhari-hari Raana hanya tinggal sendirian tanpa gairah hidup. Ghani benar-benar keluar dari rumah, mungkin menunggu Raana pergi dari sana, atau juga Ghani hanya akan datang untuk mengusirnya dari sana.

Deru mesin kendaraan kembali terdengar memasuki halaman rumah, Raana langsung menarik kedua sudut bibirnya, ia masih mengharapkan sesuatu yangsebenarnya tidak akan pernah ada.

"Mas Ghani!" ucap Raana sambil berlari untuk menyambut.

Namun, saat pintu terbuka yang ia lihat hanyalah seorang wanita paruh baya yang mirip suaminya, berdiri anggun di sana.

"Mama!" panggil Raana.

Sosok itu tersenyum hampa, ia melenggang masuk tanpa permisi dan matanya mengamati sekitar yang tampak kacau.

"Kamu nggak membersihkan rumah?" tanyanya dan Raana hanya menunduk.

"Kenapa bisa sekacau ini, pantas saja Ghani memilih keluar dari sini." Terdengar ia membuang napas dengan kasar.

Sambil duduk, matanya menatap sosok Raana yang terlihat tak kalah kacaunya. Evi tahu kalau perpisahan ini pasti akan membuat perang batin yang hebat bagi Raana.

Menyedihkan!

Itulah keadaan Raana saat ini. Evi juga tersentuh, merasa kasihan, hanya saja ia tidak bisa berbuat banyak. Raana tidak bisa mengurus diri, tidak mampu memberinya cucu, lantas apa lagi yang menjadi pertimbangannya.

"Ma, a-aku ... aku tahu Mama nggak suka sama aku, tapi aku mohon, tolong bujuk Mas Ghani supaya dia membatalkan perceraian ini!" mohon Raana pada mertuanya yang sudah jelas tak menyukainya itu.

"Ini keputusan Ghani, saya nggak bisa berbuat apa-apa. Kamu juga tahu sendiri Raana, saya sangat ingin menimang cucu tapi lihatlah kamu bahkan nggak bisa merawat diri kamu sendiri. Mandi, bersihkan diri kamu, dan bersihkan rumah ini juga. Ini terlihat sangat mengerikan!" ucap Evi.

Memang hari ini Raana berleha-leha, pikirannya kusut sekali. Rumah pun terbengkalai, tidak menyangka Mama mertua malah datang.

Walaupun ia tidak menyukai Raana, tetapi Evi masih cukup memiliki rasa peduli. Bagaimanapun juga selama 5 tahun ini Raana sudah menjadi menantu yang baik. "Apa yang kamu khawatirkan? Kamu menjadi janda tanpa anak, harusnya itu bukan beban buat kamu. Lagian, saya dengar selama setahun setelah kalian bercerai pun Ghani masih akan tetap menghidupi kamu. Kurang baik apa dia?" jelas Evi lagi.

Raana mengangkat kepalanya, melihat Evi yang pada saat itu melihatnya dengan sendu. Namun, secepat mungkin Evi memalingkan wajahnya dan mengubah ekspresinya.

"Apa Mama juga menyalahkan aku atas kejadian ini? Ma, Mas Ghani selingkuh, dia mengkhianati aku. Dia berselingkuh dengan sahabat aku sendiri, Ma!" jelas Raana yang seketika tangisnya kembali pecah.

Raana hanya berharap kalau Evi bisa menyentuh perasaannya, bisaa memahami rasa sakitnya. Mereka sama-sama perempuan, harusnya Evi mengerti dengan itu.

"Iya, itu sebuah pengkhianatan, tapi semua hal ada sebab dan akibatnya. Perselingkuhan itu nggak akan pernah ada kalau kamu bisa memberikan Ghani anak, atau setidaknya kamu bisa ngurus badan, deh!" ucap Evi sambil melirik dengan sinis.

Raana hanya tersenyum hambar mendengar itu. Ternyata semua orang memang mengaggap kalau ini adalah kesalahannya. "Ma, kalau ada yang kurang baik itu diperbaiki bukannya malah mencari," ungkap Raana.

"Ck, susah jelasinnya. Gini deh, gimana Ghani bisa bertahan sama kamu sementara penampilan kamu aja kayak gitu. Terkesan kalau anak saya nggak ngasih jatah bulanan. Kamu sama saja kayak ngerendahin martabat Ghani!" ujar Evi yang terlihat frustasi.

Evi berusaha membuat Raana sadar kalau semua memang tidak lagi bisa diperbaiki.

"Semuanya udah selesai. Kamu tinggal menunggu surat dari pengadilan 'kan? Saya harap kamu bisa lebih perhatian sama dari kamu sendiri, Raana."  Evi menunjuk tubuh Raana, berusaha menjelaskan kalau Raana memang harus lebih pintar mengurus badannya sendiri.

Raana cukup cantik, kulitnya juga putih, dulu pun tubuhnya tidak berisi seperti sekarang ini. Mungkin kalau ia bisa mempertahankan itu, Ghani pun tidak akan berpaling. Namun, nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi dan Raana hanya harus menikmati takdirnya.

"Penampilan perempuan itu sangat penting, Raana. Bahkan harga diri seorang suami ada pada penampilan istrinya," ucap Evi lagi, yang memang selalu tampil menor meski berada dirumah.

Itu bukan tamparan, melainkan sebuah kenyataannya. Raana terlalu percaya diri, menganggap kalau Ghani memang akan mencintainya dengan tulus. Rupanya menikah tak menjadi jaminan kalau pasangan kita tidak akan berpaling.

"Ma, aku nggak mau bercerai," gumam Raana.

"Jangan egois, biarkan Ghani bahagia dengan pilihannya. Toh, kamu nggak rugi di sini!" Evi tersenyum kecil dan pergi meninggalkan menantunya itu. **

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    Dikhianati Satu Keluarga

    Raana duduk terpaku di ruang sidang yang masih riuh oleh bisik-bisik pengunjung. Surat cerai di tangan Ghani terasa dingin, seolah menyayat hatinya perlahan. Semua terjadi begitu cepat—Ghanii, dengan dompet tebal dan wajah tanpa kerutan sedikit pun, mengurus semua prosesnya tanpa kesulitan.Ah hanya dalam hitungan minggu, dia sudah resmi bercerai dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Dengan alasan perselingkuhan, Raana kini menjandang status sebagai janda.Raana yang selama ini berharap ada secercah harapan, kini hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. Saat pertemuan terakhir di luar ruang sidang, Ghani menatap Raana dengan mata yang mencoba menyiratkan kebaikan, "Sementara kamu bisa tinggal di rumah itu sampai kamu dapat pekerjaan. Aku akan tetap mengirim uang bulanan buat kamu." Suaranya tegas tidak ada lagi kelembutan saat berbicara dengannya.Entah Ghani memang baik atau sedang merasa bahagia karena bisa secepat ini lepas darinya. Namun Raana menangkap ada nada kasihan yan

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    5. Aku Benci Kamu Mas!!

    Sebelum benar-benar bercerai dengan Ghani, tugas Raana saat ini hanya harus mencari tempat tinggal baru dan pekerjaan. Raana tidak mau memakai uang Ghani, harga dirinya sudah diinjak-injak karena pengkhianatan, jadi kalau bisa ia ingin segera melarikan diri dan menjauh saja."Kita mulai semuanya dari awal ya, Raana. Semangat!" ucap Raana pada diri sendiri.Berkas perceraian mereka sudah diterima oleh pengadilan agama. Hanya saja ada tahap mediasi yang harus mereka ikuti, kebetulan Raana maupun Ghani sama-sama sepakat untuk ikut dalam mediasi tersebut.Raana mengenakan dress putih dengan high heels merah menyala. Untuk pertama kalinya ia merias wajahnya dan mengenakan lipstik merah. Raana berdandan lebih feminim, bahkan ia mengenakan parfum mahal yang pernah dibelikan Ghani.Ghani datang ke pengadilan bersama dengan Batari, ia membawa selingkuhannya saat akan melakukan mediasi. Benar-benar sudah tidak ada rasa malu lagi.Ekspresi Batari berubah saat melihat penampilan Raana yang berbed

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    4. Tidak Didukung Mama Mertua

    Bab 4Banyak makanan yang tergeletak di meja, ada yang sudah dibuka tapi belum disentuh dan ada pula yang masih rapi dalam kemasan. Biasanya semua permasalahan hidupnya Raana akan hilang saat ia makan, tetapi kali ini lidahnya terasa mati rasa, ia tak berselera untuk mencicipi apa pun.Seharian itu, Raana hanya meringkuk di sofa, menatap jarum jam yang terus bergerak. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Raana hanya sedang menikmati waktu.Hingga suara deru mesin kendaraan memecahkan lamunan, membuat Raana bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.Tok tok tokSeorang pria dengan pakaian biru hitam mendatangi rumahnya, mengaku suruhan suaminya untuk mengambil beberapa barang."Di mana Mas Ghani?" tanya Raana."Saya hanya diminta Bapak untuk membawa pakaian saja, Bu."Pakaian?Raana mendesah, Ghani memang hanya membawa pakaian seadanya saja. Tidak menyangka, menyuruh orang untuk kerumah. Kenapa tidak ambil sendiri, apa Ghani sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.“Sebentar saya

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    3. Pelakor dan Obesitas

    Raana syok, tubuhnya membeku akan hinaan dari pria yang masih bertengger tegap di hatinya.“Obesitas kamu!”“Mas!” pekik Raana akan mulut kurang ajar suaminya.Tidak percaya dengan ucapan pria yang dulu berjanji akan menjaga dan mencintainya, seumur hidupnya itu.Bagaimana Raana bisa pergi ke salon, sementara Ghani selalu melarangnya keluar rumah seolah ia adalah tawanan. Itulah kenapa untuk menghibur diri, Raana lebih memilih memesan makanan. Namun, rupanya Ghani lupa dengan semua aturan gilanya itu.“Aku begini juga karena kamu, Mas. Memang boleh aku keluar rumah, selama ini kamu ngurung aku, Mas!" tegas Raana berusaha membela diri.“Halah itu alasan kamu saja. Pokoknya aku nggak mau ribut, aku sudah harus ke kantor dan harus bekerja, aku juga sudah menjelaskan semua ke pengacara dan kamu tinggal tanda tangan saja!” jelas Ghani yang tampaknya keputusannya tidak lagi bisa dinegosiasikan.Mendengar itu, lagi-lagi Raana kembali menolak. Ia dengan tegas menjelaskan kalau dirinya tidak m

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    2. Obesitas

    Raana terbangun perlahan, tubuhnya terasa berat dan kepala seperti berputar-putar. Matanya terbuka dan seketika itu juga ia sadar—dia tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Panik mulai merayapi dada saat ia mencoba mengingat, tapi yang tersisa hanyalah sisa-sisa kabur dari malam yang berlalu."Pusing banget," lirihnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tatapannya menyapu ruangan asing yang dingin dan asing, dinding putih polos tanpa hiasan, membuatnya semakin gelisah.Dengan segera, Raana menggenggam erat selimut yang tersampir di tubuhnya, mencoba menutupi diri yang terpapar. "Astaga, ini di mana?" suaranya meninggi, penuh ketakutan dan kebingungan.Tiba-tiba, terdengar suara pria dari sudut ruangan, dingin dan tanpa emosi, "Mau sarapan?" tanyanya santai, seolah pagi itu adalah rutinitas biasa.Raana menoleh ke arah suara itu, dan kenangan samar-samar tentang malam panas yang baru saja berlalu menyeruak ke benaknya—bersama pria yang sama sekali tak dikenalnya.“Ka-kamu siapa?”

  • Cantik After Divorce (Janda Naik Kelas)    1. Perselingkuhan Terkejam

    Deg!Jantung Raana berdegup kencang saat matanya tertuju pada sebuah foto box yang terselip di antara tumpukan pakaian dalam koper suaminya. Dalam foto itu, suaminya, Ghani berdampingan dengan Batari —teman lama Raana—terlihat berdiri akrab bersama suaminya, senyum mereka terlihat terlalu lepas untuk sekadar kenalan biasa. Lebih menyayat hati adalah kedua wajah mereka saling menempel.“Kok ada foto Mas Ghani sama Batari sih. Ini mereka di mana?” tanya Raana lebih ke dirinya sendiri.Mereka memang saling mengenal, namun Raana tidak tahu mereka seakrab itu.“Ih kok bisa sih..”Raana menggenggam foto itu dengan tangan gemetar, napasnya tercekat oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus ketakutan yang merayap di dada. "Ini gimana bisa ada foto Mas Ghani..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Dia menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengemasi barang, tapi keberanian untuk bertanya belum juga datang. Raana takut, takut jika pertanyaan itu membuka tabir sebuah kebenaran ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status