MasukRaana syok, tubuhnya membeku akan hinaan dari pria yang masih bertengger tegap di hatinya.
“Obesitas kamu!”
“Mas!” pekik Raana akan mulut kurang ajar suaminya.Tidak percaya dengan ucapan pria yang dulu berjanji akan menjaga dan mencintainya, seumur hidupnya itu.
Bagaimana Raana bisa pergi ke salon, sementara Ghani selalu melarangnya keluar rumah seolah ia adalah tawanan. Itulah kenapa untuk menghibur diri, Raana lebih memilih memesan makanan. Namun, rupanya Ghani lupa dengan semua aturan gilanya itu.
“Aku begini juga karena kamu, Mas. Memang boleh aku keluar rumah, selama ini kamu ngurung aku, Mas!" tegas Raana berusaha membela diri.
“Halah itu alasan kamu saja. Pokoknya aku nggak mau ribut, aku sudah harus ke kantor dan harus bekerja, aku juga sudah menjelaskan semua ke pengacara dan kamu tinggal tanda tangan saja!” jelas Ghani yang tampaknya keputusannya tidak lagi bisa dinegosiasikan.
Mendengar itu, lagi-lagi Raana kembali menolak. Ia dengan tegas menjelaskan kalau dirinya tidak mau berpisah dari Ghani. "Mas, soal badan aku? Kamu permasalahkan itu? Aku bisa mulai perawatan dan diet, aku bisa—"
"Stop Raana, stop!" bentak Ghani lagi.
"Gak ada yang harus diperbaiki. Aku capek kayak gini terus, kita udah 5 tahun menikah dan kamu masih belum bisa ngasih aku keturunan. Kamu pikir aku ngga iri lihat teman-teman seusiaku?" ujar Ghani lagi seakan menampar Raana.
Loh loh loh, kok jadi kemana-mana.
Benar!
Raana sudah gagal dalam banyak hal. Ia tidak bisa merawat tubuh, tak bisa memberikan keturunan, tetapi Raana merasa kalau soal keturunan Ghani sendiri tidak berkontribusi banyak. Mereka seolah tidak benar-benar berjuang menginginkan anak, yang pada akhirnya Raana sendiri yang disalahkan.
Raana yang tidak terima dengan tuduhan itu langsung membalikkan keadaan dengan bertanya, "Kamu hitung saja dalam setahun, berapa kali kamu sentuh aku, Mas? Berapaa kali?"
Ghani yang sudah berjalan beberapa langkah pun dibuat berhenti dan berbalik sambil tersenyum sinis.
“Itu karena aku nggak bernafsu sama kamu," cibirnya.
Mendengar cibiran itu Raana malah terkekeh pelan. “Iya, karena kamu sudah punya selingkuhan 'kan?"
“Kamu harusnya sadar diri, kenapa aku bisa selingkuh,” balas Ghani, seolah ia tidak mau disalahkan akan kegagalan rumah tangga mereka.
“Jahat kamu, Mas. Kamu selalu bersikap seolah aku yang salah, kamu nggak berkaca dengan kesalahan kamu sendiri. Ini bukan cuma karena aku, tapi karena kamu juga!" teriak Raana frustasi.
“Makanya, ayo kita bercerai!” tegas Ghani.
Seolah tak puas dengan jawaban itu, Raana kembali bejalan cepat dan menghadang suaminya. Ia berdiri di depan Ghani sambil merentangkan tangan, berusaha menahan sang suami sambil menatapnya dengan tajam. Namun, Ghani melenggang begitu saja tanpa peduli dengan Raana.
“Ghani sialan!” umpat Raana sendiri.
*
*
Raana kembali masuk ke sebuah rumah yang tentunya sudah tak asing baginya. Ia langsung nyelonong masuk dan menemui si penghuninya. "Batari!" panggil Raana.
Wanita di depan sana mengenali siapa pemilik suara yang memanggilnya, ia tersenyum kecil, kemudian berbalik dengan ekspresi dingin, tanpa rasa bersalah. Batari bahkan melipat kedua tangannya di dada dengan satu alis yang terangkat.
"Raana, ada apa lagi?” tanyanya seolah tanpa salah.
Raana maju satu langkah, membuat Batari mundur perlahan. “Kamu tahu kan Mas Ghani itu suami aku. Kenapa tega kamu dekati dia, ada aku Batari. Aku istrinya!”
Batari yang paham maksud dan tujuan Raana, merasa tersudut. Apalagi ada tetangga yang menyembulkan kepalanya, kepo dengan urusan orang.
“Itu urusan kamu sama Ghani. Aku nggak mau ikut campur,” balasnya.
“Nggak mau ikut campur?“ sinis Raana. “Justru kamu sudah terlalu jauh ikut campurnya dalam rumah tangga aku. Kamu suka kan sama suami aku, sampai kamu rebut dia dari aku.”
“Heh Raana, jaga bicara kamu. Ghani yang dekati aku,” ucap Batari. “Kamu dekati dia, kamu goda, kamu rayu dengan tubuh murahan kamu.” “Jaga bicara kamu ya! Aku akan bilang sama Ghani kamu ngamuk enggak jelas di rumah aku!” ancam Batari.“Bisa-bisaan ya kamu yang mengadu, Ghani itu suami aku. Bukan suami kamu, Batari!” teriak Raana, sudah jengah.
Dia yang salah, karena mengajak orang lain ke dalam rumahnya. Meski sebelum menikah, Batari dan Ghani saling mengenal. Tapi Raana yang merasa Batari sahabatnya, kerap mangajak kerumah, bahkan menginap segala.
Dan kini, Raana menyesal telah melakukan itu.
“Dia yang mau sama aku. Ghani yang bilang sendiri, dia sudah muak sama kamu, Raana!”
Raana yang mendengar itu hanya menggeleng pelan, ia merasa kasihan dengan dirinya sendiri yang ternyata dikhianati secara terang-terangan seperti ini. Mereka teman satu sekolah hingga kuliah dulu, namun Batari selesai, Raana mandek ditengah jalan. Sering datang kerumah, siapa sangka malah suaminya kepincut.
"Kamu sahabat aku, Tari. Kenapa kamu ngelakuin ini semua, kenapa kamu menghancurkan rumah tangga sahabat kamu sendiri?" ujar Raana dengan mata yang sudah berlinang.
Ia sudah kecewa, tetapi masih saja mencari jawaban yang mungkin akan membuatnya semakin hancur.
"Yang jadi penghancur hubungan itu kamu loh, bukan aku!" jawab Batari.
Raana membeku sambil menatap Batari yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Benar, aku sama Ghani sudah saling menyukai sejak lama. Kalau kamu gak ada, yang harusnya menikah sama Ghani itu aku, bukan kamu!" cecar Batari.
Raana melongo dijawab demikian. “Nggak pernah ada kisah kamu sama dia. Kalau memang dari dulu kamu sama dia, harusnya Mas Ghani gak menikah dengan aku,” kata Raana.
"Kamu masih belum sadar Na, selama ini Ghani cuma kasian sama kamu. Dia gak pernah cinta sama kamu, dia cuma cinta sama aku." Batari berdiri angkuh, melipat kedua tangan sambil tersenyum sinis sambil melihat penampilan Raana.
Batari mengibaskan rambutnya, seperti sedang menunjukkan ia dan Raana memang tidak satu level.
"Tari, tapi aku sama Mas Ghani sudah menikah 5 tahun. Kamu tega ngelakuin ini sama aku?"
Batari yang mendengar kalimat polos Raana hanya tersenyum.
"Kamu sebatang kara, kuliah juga gak selesai. Penampilan? Lihatlah, itu benar-benar nggak setara dengan Ghani. Bahkan kamu nggak bisa ngasih dia keturunan. Ya, itung-itung selama 5 tahun ini kamu numpang hidup aja sama dia dan sekarang waktunya kamu pergi!" ucap Batari yang terasa begitu menusuk hati Raana.
Raana hanya bergeming mematung dengan perasaan yang sudah hancur berkeping. Tangannya bergerak perlahan, mengusap air mata. Raana berusaha tegar walau semua tahu kalau dia sudah hancur lebur.
*
*
Satu hal yang ditakuti Raana, dia akan jadi apa kalau sampai berpisah dengan ghano. Keluarga tidak ada, Pendidikan hanya sampai SMA. Kuliah tidak tamat, tidak ada pengalaman bekerja.
“Tega banget kamu, Mas.”
Raana mendesah, duduk sendiri di ruang tamu. Matanya bergerak mengeliling rumah minimalisnya, yang begitu indah. Dia yang mendekor sendiri, belanja di toko online, mencari harga semurah mungkin, namun bagus.
Nyatanya, keinginannya mempercantik rumah. Tidak sebanding dengan hubungannya dengan Ghani. Awal pernikahan mereka begitu bahagia, jauh dari omongan dan rayuan orang lain.
“Aku gimana nanti, Mas..” lirih Raana sendirian.
Hingga Raana merasa Ghani berubah, satu tahun terakhir. Tidak lagi mengecup, bahkan bermesraan dengannya. Kewajiban sebagai suami, sudah sering Raana ingatkan. Namun Ghani selalu beralasan lelah, bekerja sendiri untuk keluarga.
Hari berlalu, Raana bukan lagi merasa kesepian. Dia merasa jiwanya sudah terganggu, tidak ada lagi Ghani yang berangkat dan pulang kerja. Suaminya sudah pindah, bahkan memberi kabar saja tidak. Hanya tetangga dekat saja yang merasa iba, kadang berkunjung ke rumah Raana, menemaninya.
Sama sepertinya sebelumnya, Raana membereskan rumah. Masih berharap Ghani pulang dalam keadaan rumah yang bersih dan rapi. Ia masih di rumah Ghani, masih menunggu surat panggilan dari pengadilan agama.
Sepertinya suaminya serius ingin berpisah dengannya. Raana memanjatkan doa, semoga pernikahannya hanya diberi cobaan perselingkuhan, bukan perpisahan.
Raana merapihkan pakaian ke lemari, di sana ia melihat pakaian yang dikenakannya di malam ia mabuk berat. Ingatannya pun kembali ke malam itu, saat tubuhnya dijamah oleh laki-laki lain, bahkan sialnya laki-laki asing yang tidak ia kenali sama sekali. Raana langsung menutup mulutnya, ia celingukan seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Malam itu ... apa kejadian itu nggak apa-apa, ya? Aku nggak mungkin hamil karena itu 'kan?" tanya Raana pada diri sendiri.
“Nggaklah, sama Mas Ghani saja lama. Apalagi ini, cuma semalam.” Raana lebih menghibur dirinya sendiri saja.
Raana memijat keningnya, berusaha untuk menenangkan pikirannya sendiri.
"Enggak mungkin dong. Ngaco banget pikiran kamu Raana, aku cuma tidur sama dia sekali, jadi aku nggak mungkin hamil. Sama Mas Ghani aja aku nggak bisa hamil, masa sama dia sekali tidur langsung hamil. Nggak! Nggak mungkin, Raana!" oceh Raana sambil tersenyum kecil.
Raana menghardik pikirannya sendiri. Ia merasa tidak mungkin kalau ia akan hamil hanya sekali berhubungan badan. Raana langsung menepis pikiran bodoh itu dan menyimpan pakaiannya kembali.
Siapa yang ingin bercerai?
Tidak ada satu manusia pun yang ingin kegagalan dalam hidupnya. Namun, ini bukan sebuah kegagalan biasa, Raana benar-benar akan kehilangan separuh hidupnya.
Apa yang Batari katakan memanglah benar. Ia manusia sebatang kara, tanpa siapa pun di hidupnya selain Ghani. Apa yang bisa ia lakukan, pendidikan saja tak mampu ia raih, bagaimana dengan yang lainnya. Bekerja? Dunia itu bahkan tak pernah terjamah olehnya sama sekali. Lantas sekarang, Raana harus bagaimana? Langit terasa runtuh, membentur tubuhnya yang sudah hancur ini. Tak ada yang memeluknya, tak ada yang menggenggam, ia benar-benar sendirian, memeluk lukanya. **
Raana duduk terpaku di ruang sidang yang masih riuh oleh bisik-bisik pengunjung. Surat cerai di tangan Ghani terasa dingin, seolah menyayat hatinya perlahan. Semua terjadi begitu cepat—Ghanii, dengan dompet tebal dan wajah tanpa kerutan sedikit pun, mengurus semua prosesnya tanpa kesulitan.Ah hanya dalam hitungan minggu, dia sudah resmi bercerai dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Dengan alasan perselingkuhan, Raana kini menjandang status sebagai janda.Raana yang selama ini berharap ada secercah harapan, kini hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. Saat pertemuan terakhir di luar ruang sidang, Ghani menatap Raana dengan mata yang mencoba menyiratkan kebaikan, "Sementara kamu bisa tinggal di rumah itu sampai kamu dapat pekerjaan. Aku akan tetap mengirim uang bulanan buat kamu." Suaranya tegas tidak ada lagi kelembutan saat berbicara dengannya.Entah Ghani memang baik atau sedang merasa bahagia karena bisa secepat ini lepas darinya. Namun Raana menangkap ada nada kasihan yan
Sebelum benar-benar bercerai dengan Ghani, tugas Raana saat ini hanya harus mencari tempat tinggal baru dan pekerjaan. Raana tidak mau memakai uang Ghani, harga dirinya sudah diinjak-injak karena pengkhianatan, jadi kalau bisa ia ingin segera melarikan diri dan menjauh saja."Kita mulai semuanya dari awal ya, Raana. Semangat!" ucap Raana pada diri sendiri.Berkas perceraian mereka sudah diterima oleh pengadilan agama. Hanya saja ada tahap mediasi yang harus mereka ikuti, kebetulan Raana maupun Ghani sama-sama sepakat untuk ikut dalam mediasi tersebut.Raana mengenakan dress putih dengan high heels merah menyala. Untuk pertama kalinya ia merias wajahnya dan mengenakan lipstik merah. Raana berdandan lebih feminim, bahkan ia mengenakan parfum mahal yang pernah dibelikan Ghani.Ghani datang ke pengadilan bersama dengan Batari, ia membawa selingkuhannya saat akan melakukan mediasi. Benar-benar sudah tidak ada rasa malu lagi.Ekspresi Batari berubah saat melihat penampilan Raana yang berbed
Bab 4Banyak makanan yang tergeletak di meja, ada yang sudah dibuka tapi belum disentuh dan ada pula yang masih rapi dalam kemasan. Biasanya semua permasalahan hidupnya Raana akan hilang saat ia makan, tetapi kali ini lidahnya terasa mati rasa, ia tak berselera untuk mencicipi apa pun.Seharian itu, Raana hanya meringkuk di sofa, menatap jarum jam yang terus bergerak. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Raana hanya sedang menikmati waktu.Hingga suara deru mesin kendaraan memecahkan lamunan, membuat Raana bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.Tok tok tokSeorang pria dengan pakaian biru hitam mendatangi rumahnya, mengaku suruhan suaminya untuk mengambil beberapa barang."Di mana Mas Ghani?" tanya Raana."Saya hanya diminta Bapak untuk membawa pakaian saja, Bu."Pakaian?Raana mendesah, Ghani memang hanya membawa pakaian seadanya saja. Tidak menyangka, menyuruh orang untuk kerumah. Kenapa tidak ambil sendiri, apa Ghani sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.“Sebentar saya
Raana syok, tubuhnya membeku akan hinaan dari pria yang masih bertengger tegap di hatinya.“Obesitas kamu!”“Mas!” pekik Raana akan mulut kurang ajar suaminya.Tidak percaya dengan ucapan pria yang dulu berjanji akan menjaga dan mencintainya, seumur hidupnya itu.Bagaimana Raana bisa pergi ke salon, sementara Ghani selalu melarangnya keluar rumah seolah ia adalah tawanan. Itulah kenapa untuk menghibur diri, Raana lebih memilih memesan makanan. Namun, rupanya Ghani lupa dengan semua aturan gilanya itu.“Aku begini juga karena kamu, Mas. Memang boleh aku keluar rumah, selama ini kamu ngurung aku, Mas!" tegas Raana berusaha membela diri.“Halah itu alasan kamu saja. Pokoknya aku nggak mau ribut, aku sudah harus ke kantor dan harus bekerja, aku juga sudah menjelaskan semua ke pengacara dan kamu tinggal tanda tangan saja!” jelas Ghani yang tampaknya keputusannya tidak lagi bisa dinegosiasikan.Mendengar itu, lagi-lagi Raana kembali menolak. Ia dengan tegas menjelaskan kalau dirinya tidak m
Raana terbangun perlahan, tubuhnya terasa berat dan kepala seperti berputar-putar. Matanya terbuka dan seketika itu juga ia sadar—dia tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Panik mulai merayapi dada saat ia mencoba mengingat, tapi yang tersisa hanyalah sisa-sisa kabur dari malam yang berlalu."Pusing banget," lirihnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tatapannya menyapu ruangan asing yang dingin dan asing, dinding putih polos tanpa hiasan, membuatnya semakin gelisah.Dengan segera, Raana menggenggam erat selimut yang tersampir di tubuhnya, mencoba menutupi diri yang terpapar. "Astaga, ini di mana?" suaranya meninggi, penuh ketakutan dan kebingungan.Tiba-tiba, terdengar suara pria dari sudut ruangan, dingin dan tanpa emosi, "Mau sarapan?" tanyanya santai, seolah pagi itu adalah rutinitas biasa.Raana menoleh ke arah suara itu, dan kenangan samar-samar tentang malam panas yang baru saja berlalu menyeruak ke benaknya—bersama pria yang sama sekali tak dikenalnya.“Ka-kamu siapa?”
Deg!Jantung Raana berdegup kencang saat matanya tertuju pada sebuah foto box yang terselip di antara tumpukan pakaian dalam koper suaminya. Dalam foto itu, suaminya, Ghani berdampingan dengan Batari —teman lama Raana—terlihat berdiri akrab bersama suaminya, senyum mereka terlihat terlalu lepas untuk sekadar kenalan biasa. Lebih menyayat hati adalah kedua wajah mereka saling menempel.“Kok ada foto Mas Ghani sama Batari sih. Ini mereka di mana?” tanya Raana lebih ke dirinya sendiri.Mereka memang saling mengenal, namun Raana tidak tahu mereka seakrab itu.“Ih kok bisa sih..”Raana menggenggam foto itu dengan tangan gemetar, napasnya tercekat oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus ketakutan yang merayap di dada. "Ini gimana bisa ada foto Mas Ghani..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Dia menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengemasi barang, tapi keberanian untuk bertanya belum juga datang. Raana takut, takut jika pertanyaan itu membuka tabir sebuah kebenaran ya







