LOGINRaana berdiri di depan pintu masuk klub malam itu, menatap wajah Windi yang tersenyum santai sambil mengulurkan selembar kertas pekerjaan yang harus dilakukan Raana. Windi memang sudah lama bekerja di sana, jadi Raana tak terkejut ketika tahu jenis pekerjaan yang ditawarkan.
"Nggak ada tempat lain, Mbak?" tanya Raana dengan nada ragu, matanya menyapu sekeliling klub yang gemerlap cahaya dan musik yang berdentum dari dalam.
Windi mengangkat bahu, suaranya ringan tapi tegas, "Nggak ada, di sini enak tahu, dapat uang cepat. Kamu tugasnya cuma melayani kok, nggak susah." Namun nada enteng itu tak mampu menenangkan kegelisahan Raana. Hatinya berontak menolak pekerjaan yang terasa menjebak itu.
Dengan suara pelan tapi tegas, Raana bertanya lagi, "Kalau ada kerjaan lain, boleh nggak? Aku nggak mau yang begitu." Raana tidak bisa kalau melayani sambil menemani pelanggan minum alkohol. Kalau hanya melayani memberikan makanan dan minuman sebagai waitress, Raana bisa.
Windi menghela napas, lalu mengalihkan pandangannya ke sudut lain klub, sebelum akhirnya mengangguk pelan, "Kalau gitu, kamu jadi office girl saja. Tugasnya bersih-bersih arena klub, siang dan malam, terutama toilet."
“Iya mbak itu saja deh.” Raana menerima posisi itu dengan rasa campur aduk. Hari-harinya kini dipenuhi aroma alkohol yang pekat dan pemandangan wanita yang terpuruk, sebagian muntah di sudut-sudut toilet.
Hoek..
Baru tiba, Raana dihadapkan pada dua wanita berpakaian seksi yang sudah kepayahan karena banyak minum.
“Kamu,” tunjuk si wanita dengan rok mini dan mungkin hanya pakai tank top saja, pikir Raana.
“Ya mbak.”
“Bersihkan dan ambilkan air hangat.” Perintah keduanya.Raana pergi ambil air hangat, kemudian tangannya yang sudah kelelahan karena siang baru bersih-bersih, kini harus membersihkan kotoran dan sisa minuman yang tumpah tanpa mengeluh. Wajahnya terkadang memerah menahan jijik, tapi ia menelan semuanya demi sesuap nasi.
“Jorok banget sih. Kalau nggak kuat minum, jangan sok minum,” dumel Raana sendirian.
Di balik kesunyian saat membersihkan toilet yang remang, Raana merasakan beban hidup yang semakin nyata. Ia tahu, pekerjaan ini jauh dari impian, tapi setidaknya ia tak harus melayani tamu yang tak diinginkan. Matanya yang selalu waspada mencerminkan keteguhan hati, menolak menyerah pada godaan dan tekanan yang ada di dalam gemerlap dunia malam itu.
*
*Raana berdiri terpaku di depan pintu rumahnya yang terbuka lebar. Pandangannya langsung tertuju pada koper-koper yang tersusun rapi di halaman, seolah-olah sudah menunggu untuk diangkut.
“Eh eh apa-apaan ini,” pekiknya langsung berlari. Padahal baru pulang kerja shift siang, malah dibuat kaget.
Jantungnya berdegup kencang, wajahnya memerah karena campuran antara kaget dan marah. "Loh pak, ini barang saya! Kenapa kalian keluarkan? Kalian siapa? Ini rumah saya!" suaranya meninggi, penuh kebingungan dan ketegangan.
Lima pria yang tengah membereskan koper-koper itu berhenti sejenak, menatap Raana dengan wajah datar. Salah satu dari mereka, lelaki bertubuh tegap dengan jaket lusuh, melangkah maju dan berkata singkat, "Saya disuruh Ibu Evi."
Mendengar nama itu, hati Raana seperti disayat tajam. Mantan mertuanya, Evi, yang dulu begitu dingin dan penuh permusuhan, kini mengambil langkah yang tidak pernah ia bayangkan.
“Kenapa bisa barang saya dibawa keluar. Ini rumah saya,” bentak Raana tidak terima.
“Kata Bu Evi, rumah ini sudah ada yang ngontrak. Besok mau masuk, makanya barang-barang yang ada dirumah ini dikeluarkan.”
Penjelasan yang membuat Raana paham, jadi mantan Mama benar-benar akan mengontrakkan rumah ini. Tapi menurut Ghani, ia bisa menempati rumah ini, sampai Raana dapat tempat tinggal baru. “Ini pasti kerjaannya Batari,” desis Raana makin kesal dengan selingkuhan sang suami.“Sudah bu nurut saja. Saya hanya disuruh kerja. Jangan sampai kita malah main kasar,” ujar salah satu pria itu.
Perlahan, emosi campur aduk—kecewa, marah, dan terluka—menghantam pikirannya. Ia menggenggam erat gagang pintu, mencoba menahan air mata yang hampir tumpah.
Dalam sekejap, benak Raana terngiang kata-kata Ghani saat perpisahan mereka—bahwa pernikahan itu telah usai, dan tak ada lagi tempat baginya di rumah itu. Kini, kenyataan pahit itu terbukti nyata. Rumah yang dulu penuh kenangan bahagia berubah menjadi panggung pengusiran yang dingin dan kejam.
Raana menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah barang-barangnya yang tersusun di luar. Suasana hening sesaat, hanya terdengar suara langkah dan bisik-bisik para pria yang mulai mengangkut koper-koper itu ke luar rumah.
Rasa kehilangan menyelimuti dirinya, bukan hanya terhadap barang-barang yang dibawa pergi, tapi juga terhadap masa lalu yang kini benar-benar tertutup rapat. Namun, di balik kesedihan itu, ada bara tekad yang mulai menyala perlahan di dadanya—tekad untuk bangkit dan membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar seorang istri yang ditinggalkan dan diusir.
*
*
Raana menyeret koper yang berat dengan langkah gontai menyusuri gang sempit di sebuah kawasan padat penduduk. Bingung mau kemana, uang tabungannya masih ada, tapi dia juga harus berhemat. Hanya dalam hitungan satu bulan, hidupnya berubah bak roller coster. Wajahnya yang dulu penuh harap kini tertutup duka, bekas perceraian dengan Ghani masih membekas dalam hatinya.
Dia menolak keras untuk menerima uang nafkah dari mantan suaminya, ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri sendiri, meski keadaan memaksanya mencari tempat tinggal seadanya.
“Aku kemana ya,” pikir Raana, hari sudah sore. Ponsel masih ditangan, sambil ia mencari tempat baru.
Tidak mungkin ke Windi, mereka baru kenal. Dan Raana baru ditolong bekerja, masa iya numpang hidup.
Tidak mungkin menyerah, Raana menyeret langkahnya semakin jauh.
Ghani, Mama Evi dan Batari adalah nama-nama yang akan terus dia ingat seumur hidupnya. Orang-orang yang dulu sangat ia percaya, kini dengan mudah menyengsarakannya.
Saat tiba di depan sebuah rumah tua dengan cat yang mengelupas dan pintu kayu berderit, seorang pria tua muncul dari balik jendela yang berdebu. “Yang tadi telepon?” tanyanya tidak ramah.
“I-iya pak.. Masih ada kamar kosongnya?”
“Banyak, ayo ikut.” Raana mengangguk, ada bangunan sedang didalamnya berjejer sebuah pintu kamar kos. Kumuh sekali, dengan halaman luas namun kotor seperti tidak terawatt. Raana maklum, karena harganya memang sangat murah di ibukota ini.“Ini pak?” tunjuk Raana pada sebuah kamar kosong yang disediakan untuknya.
"Mau tidak?" tanya pemilik kos, dengan suara serak sambil menunjuk ke kamar kecil di lantai atas. Raana melongok ke dalam, melihat dinding retak, lantai berdebu, dan jendela yang nyaris tak menutup rapat. Jauh dari kata bersih, apalagi nyaman.
Hatinyapun menolak, tapi keputusasaan mengalahkan segalanya. "Ya sudah deh pak. Ini saya bayar satu bulan dulu," katanya pelan sambil menyerahkan uang seadanya. Pria tua itu tersenyum tipis, matanya penuh arti. "Jaga kebersihan ya," pesannya sambil mengangguk.
Raana menghela napas panjang, hidungnya mengernyit menahan jijik. "Kebersihan darimana?" gumamnya dalam hati.
Namun, tanpa pilihan lain, dia mengangkat koper ke dalam kamar kumuh itu, berusaha menata hidup baru yang penuh luka dan tantangan.
*
*
Raana dengan langkah berat mengangkat ember berisi cairan pembersih menuju toilet klub malam yang remang. Tubuhnya masih mengenakan seragam Office girl yang sederhana, wajahnya penuh kelelahan setelah berjam-jam membersihkan sudut-sudut kotor yang tak terlihat oleh pengunjung.
Tiba-tiba, suara lantang sang manajer memotong kesunyian, “Raana, kamu harus gantikan waitres yang tidak masuk malam ini.”
Raana menatap wanita itu dengan ragu. “Tapi, Madam, saya Office girl, bukan waitres...” Suaranya bergetar, berharap bisa menghindar.
Namun manajer yang dipanggil ‘Madam’ itu, memasang wajah angkuh lalu melangkah mendekat, matanya tajam penuh tekanan. “Di sini harus serba bisa. Kamu cuma perlu melayani tamu saja. Itu tugasmu malam ini.”
Terpaksa, Raana menerima seragam pelayan yang lebih ketat dan glamor, jauh berbeda dengan bajunya yang biasa. Dia menghela napas panjang, menata rambutnya yang mulai berkeringat. Saat ia membawa nampan berisi minuman, lampu klub berkilauan menyinari wajahnya yang mulai memerah. Seorang pria tua di meja dekat bar menatap Raana dengan tatapan tak sopan. Tangannya lantas mencolek pinggulnya yang terbalut rok pendek.
“Montok banget sih. Pelayan baru ya?” ejek pria itu dengan nada sinis.
Raana menahan amarah yang membuncah, bibirnya mengepal, tapi dia memilih untuk membalikkan badan dan pergi meninggalkan meja itu. Hatinya berdebar tak nyaman, namun dia tahu melawan pria itu tidak akan membuat situasi lebih baik. Di balik senyum yang dipaksakan, ada luka yang dalam karena diperlakukan seperti barang, bukan manusia.
“Kenapa?” tanya Mbak Windi saat melihat Raana hanya berdiri melamun.
Raana menggeleng, menunduk sendu. “Digodain tamu yah?” tanyanya mengejek.
“Iya mbak, aku takut.”
“Sudah biasa di sini, jangan lugu-lugu banget Raana. Kamu kan sudah pernah menikah, pahamlah sama yang begituan.” Windi pergi meninggalkan Raana.Raana menghela napas panjang, “Begini amat ya cari uang.”
Hingga tanpa sadar, matanya melihat sosok pria yang sangat ia kenal wajahnya. “Itu kan..” ucapan Raana menggantung.
Memorinya mengingat sosok pria tinggi berparas tampan dan gagah yang mengenakan kemeja dan jas lengkap. Pria tampan yang bermalam dengannya, yang sialnya Raana tidak bisa melupakan sentuhannya.
“Ngapain dia di sini?” tanyanya sendiri, lalu mengangguk mengerti. “Wajarlah,” desah Raana. Pria itu pernah satu ranjang dengan Raana, karena keduanya mabuk. Jadi sudah tidak asing jika Raana melihatnya di tempat seperti ini.
Sementara di sudut lain, Emir.. Pria tampan pemilik perusahaan tekhnologi industry dan property, sedang menikmati malamnya setelah meeting marathon. Namun, Emir nampak tidak suka suasana klub malam yang baru kali pertama ini ia datangi.
“Minum lagi, di sini wanitanya cantik-cantik. Pilih saja Emir, aku akan memesannya khusus untukmu,” kata teman Emir, membuatnya menjadi muak.
Sejak kejadian malam panasnya dengan seorang wanita bertubuh montok. Harinya menjadi galau, di mana dia bisa bertemu lagi dengannya.
Seketika Emir kembali mengingat malam panas mereka. Wanita itu cantik, meski memiliki tubuh yang besar. Kulitnya halus selembut sutra. Hidungnya mancung dan pipinya begitu lembut, dan satu hal yang Emir suka adalah.. Bagaimana miliknya dijepit dengan begitu kuat oleh sang wanita.
"Ah sial!" gerutu Emir.
Ah..
Oh iya.. di sana..
Hmmm, menyenangkan sekali..
Ah.. oh.. yess yess yess..
"Oh baby, faster baby.. yeah"
Ahhhhh, ohhhh, ouchhh.. Yes yes ohh, faster please ooh yeaaaaahh.. **
Windi berdiri di sudut gelap klub malam, senyum licik tersungging di bibirnya saat dia menyerahkan gelas berisi minuman berwarna merah muda kepada pelayan yang juga sahabatnya. "Berikan minuman ini ke pria itu ya," bisiknya penuh rencana, menunjuk ke arah meja yang dipenuhi beberapa pria tampan. “Aman nggak?” tanya pelayan pria.“Aman, tenang saja.”“Kalau goal, bagi dua yah.”“Tenang saja,” sahut Windi menepuk bahu pelayan pria itu.Dalam gelas itu sudah tercampur obat perangsang yang membuat siapa saja kehilangan kendali.Windi bersedekap dada memandang ke arah Emir dan teman-temannya, “Windi dilawan,” kekehnya lalu berlalu.Dengan santai, Windi melangkah menuju pintu toilet, tempat dia berniat menunggu dan melihat reaksi Emir. Karena ia yakin, Emir akan ke toilet karena merasakan perubahan suhu tubuhnya.Namun, takdir malah mempermainkannya. Robert, teman Emir yang ceria dan mudah terpengaruh suasana, tiba-tiba mengambil gelas itu tanpa curiga.“Tidak, perutku mual.” Emir mengeluh
====Bab 13Raana ketiduran dari siang, hingga membuat dia terburu-buru berangkat bekerja. Klub malam mulai ramai pada pukul sepuluh malam, sedangkan ini sudah jam tujuh yang seharusnya Raana sudah ada di sana.“Duh, pakai penuh lagi busnya,” keluh Raana, mau tak mau dia naik karena sudah sangat telat.Di bus yang ramai dan sempit, kepala Raana sampai berputar saking pusingnya. Bangun buru-buru dan kaget, waktu sudah mepet. Tidak bisa bolos, kalau tidak mau mendengar ocehan Madame.Raana melangkah cepat turun dari bus, dia harus berjalan lagi untuk mencapai tempat kerjanya. Sampai tidak melihat ke kanan kiri, ada pria yang sedang memerhatikannya dari kejauhan.Ghani berdiri di luar sebuah kafe yang remang, sehabis menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Matanya tak lepas mengamati sosok yang nampak dia kenal.“Raana,” gumamnya.Ghani sempat tertegun sejenak melihat mantan istrinya. Wajahnya tampak segar, kulit putihnya bersinar lembut di bawah cahaya lampu gantung yang temaram. Ram
Emir duduk di kursi roda, wajahnya tampak lelah meski dokter sudah memastikan kondisinya sehat. Namun, keluhan muntah-muntah yang terus menghantuinya tak kunjung reda.“Dok, saya sering muntah di pagi hari, apalagi kalau mencium aroma yang menyengat,” ucapnya pelan, nada suaranya penuh kelelahan dan sedikit putus asa. Mata dokter yang menatap serius tak mampu memberikan jawaban pasti.“Berdasarkan pemeriksaan, tidak ada tanda penyakit serius. Mungkin ini gangguan pencernaan, tapi kita akan pantau terus,” jawab dokter dengan nada hati-hati.Setelah dua hari dirawat, Emir kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk—lega sekaligus bingung. Tubuhnya masih sering melemah, dan muntah tetap datang tanpa ampun.Saat makan, nafsunya hampir hilang, setiap suapan terasa berat di tenggorokan. Di dapur, Bik Laila, pelayan setia yang sudah mengenal Emir sejak lama, tak bisa menahan godaannya. “Loh pak, biasanya suka ayam serundeng.”“Baunya saya nggak tahan. Ganti makanan lain,” sahut Emir menutup
Malam itu, udara di ruang tamu terasa dingin meski lampu-lampu temaram menyala redup. Emir Zayn Kharis, CEO Kharis Company, terkulai lemah di sofa kulit hitam, wajahnya yang biasanya tegas kini pucat pasi.Tiba-tiba, tubuhnya berguncang hebat, lalu muntah tanpa henti di lantai kayu mengkilap. Pembantu yang setia, Bik Laila, tergagap panik, wajahnya pucat melihat majikannya dalam kondisi seperti itu. Ia segera mengambil kain basah untuk mengusap mulut Emir, namun pria itu menepisnya lemah.“Pak Emir, tolong makan sesuatu... atau kita pergi ke dokter,” suara Bik Laila bergetar, mencoba meyakinkan.Emir menggeleng pelan, mata sayunya menatap kosong ke arah langit-langit, seolah menahan sesuatu yang jauh lebih sakit daripada fisiknya. Dia tak mau menunjukkan kelemahan di hadapan orang lain, apalagi pergi ke dokter yang selama ini dihindarinya. Bisnis keluarga yang ia bangun sendiri, kini menjadi beban yang membuatnya terperangkap dalam kesendirian yang mencekik.Bik Laila menarik napas pa
Raana melangkah mendekati kelompok teman-teman kerjanya yang sedang asyik berbincang di sudut ruang istirahat. Wajah mereka tampak bersemangat, penuh bisik-bisik dan tawa kecil yang sulit disembunyikan.Bekerja di sini ada plus minusnya. Jika bertemu dengan rekan yang baik, maka suasana kerja jadi lebih seru. Ada juga yang suka julid, rapi Raana lebih baik menghindar. Dia cari uang, bukan cari musuh. "Pada ngomongin apa? Kok seru banget?" tanya Raana dengan nada penasaran, matanya menatap satu per satu.Ning, dengan senyum tipis yang menyembunyikan kegelisahan, menjawab, "Itu, si Sari udah gak mau jadi OB lagi. Dia mau pindah jadi pelayan tamu VIP."Raana mengernyit, ingatan tentang perkataan Sari beberapa waktu lalu tiba-tiba menyeruak. "Katanya sih dia nggak mau, sudah punya suami," gumam Raana lirih dalam hati.Namun Ning melanjutkan, "Ternyata suaminya ketahuan selingkuh. Butuh uang banyak, makanya dia akhirnya putusin pindah kerja."Raana terdiam sejenak, matanya menatap ke bawa
Emir menundukkan kepala, napasnya memburu saat bayangan malam itu kembali mengusik pikirannya. Ber cinta dengan seorang wanita tidak dikenal, yang tidak akan pernah mungkin ia lakukan.Emir gila, dia memang sudah gila.Di sudut kamar yang remang, wajah Raana muncul jelas—senyum tipisnya yang penuh rahasia, sentuhan lembut yang membuat detak jantungnya berlari liar. Namun di balik kenikmatan sesaat itu, ada dinding tebal rasa bersalah yang mengurung hati Emir. Raana bukanlah wanita bebas; dia sudah terikat janji suci dengan pria lain. Dengan getir, Emir menggelengkan kepala, menepis bayangan itu seperti mencoba mengusir bayang-bayang hitam yang tak diundang.Bagi Emir, menjalin hubungan dengan istri orang adalah garis merah yang tak boleh dilanggar. Ia tahu, melangkah lebih jauh hanya akan membawa luka, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Raana dan keluarganya. “Ah sial,” umpat Emir sendirian, karena masih saja dia mengingat kejadian malam panas yang membuat jantungnya berdebar







