Home / Rumah Tangga / Cara Menangani Perselingkuhan / BAB 106 : Runtuhnya Sang Pengkhianat

Share

BAB 106 : Runtuhnya Sang Pengkhianat

Author: Zakia
last update publish date: 2026-05-10 12:27:41

Udara di dalam ruang sidang Pengadilan Agama hari itu terasa sangat menyesakkan, seolah-olah oksigen enggan berbagi ruang dengan ketegangan yang kian memuncak.

Di kursi penggugat, Saifanny duduk dengan posisi punggung yang sedikit melengkung, dengan apik memberikan kesan bahu yang rapuh, ringkih, dan terbebani oleh nestapa bertahun-tahun.

Ia sengaja memilih riasan yang tipis, membiarkan wajahnya tampak pucat pasi.

Matanya yang sengaja ia buat sembap seolah-olah baru saja melewati malam panjang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 112 : Beban Sebuah Pengakuan

    Di dalam kamar tidurnya yang bernuansa maskulin dan dingin, Adnan Utama terus memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.Baginya, kehadiran Saifanny bukan sekadar gangguan kecil, melainkan ancaman eksistensial yang nyata.Di mata Adnan, Saifanny tidak hanya menginginkan cinta Adrian, melainkan memiliki ambisi besar untuk menguasai dinasti Utama Group.Adnan memiliki pandangan yang sangat sinis terhadap wanita; ia percaya bahwa begitu seorang wanita diberi perhatian dan kebaikan, mereka akan segera memberontak, berkhianat, dan menjadi serakah."Wanita seperti dia tidak mungkin mencintai Adrian dengan tulus," gumam Adnan sembari memijat pelipisnya.Ia yakin Saifanny hanya mengincar harta dan kekuasaan, dan anak yang ia pertahankan hanyalah alat posisi tawar.Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Seorang pria berjas hitam masuk, membawa map cokelat tebal yang berisi informasi hasil investigasi terbaru."Pak, ini informasi mengenai pria bernama Indra Mahendra itu," ucap pria tersebut se

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 111 : Pertemuan di Sarang Singa

    Siang itu, matahari seolah tertahan di balik awan tipis saat mobil mewah Adrian meluncur perlahan memasuki gerbang kediaman besar keluarga Utama.Gerbang besi yang menjulang tinggi itu terbuka, menyambut kepulangan sang pewaris bersama dua orang yang paling berharga dalam hidupnya.Bagi Saifanny, setiap meter perjalanan menyusuri pekarangan luas ini terasa seperti berjalan menuju pusat badai.Adrian, Saifanny, dan Syahdan turun dari mobil, melangkah beriringan layaknya sebuah keluarga yang utuh.Adrian dengan protektif merangkul bahu Syahdan yang kini tingginya hampir mencapai dadanya.Namun, saat mereka baru saja hendak menginjakkan kaki di teras depan rumah besar itu, langkah mereka terhenti secara tiba-tiba.Syahdan menyentuh lengan ibunya dengan wajah yang sedikit panik. "Ma, tunggu. Tas aku ketinggalan di mobil," ucapnya.Adrian dan Syahdan pun kembali ke mobil untuk mengambil tas yang berisi perlengkapan renang dan permainan video, meninggalkan Saifanny berdiri sendirian di depa

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 110 : Pemberontakan Gadis Emo

    Siang itu, di dalam rumah yang dalam hitungan hari akan sepenuhnya menjadi hak milik sah Saifanny Nugraha, suasana terasa jauh lebih tenang. Saifanny melangkah perlahan menuju ruang tengah, membawa segelas minuman dingin yang segera ia letakkan di hadapan Adrian. Pria itu telah menjadi tamengnya kemarin, dan ada rasa terima kasih yang tak terucapkan yang mengalir di antara mereka. "Tidak usah repot-repot," ucap Adrian sembari meraih gelas tersebut. Saifanny duduk di sofa, tak jauh dari Adrian. Pikirannya masih terpaku pada pembicaraan mereka di mobil sepanjang perjalanan pulang tadi. Adrian menyampaikan permintaan kakeknya, Arkana, sang singa tua Utama Group yang ingin bertemu dengan cicitnya. Saifanny belum pernah sekalipun bertatap muka dengan Arkana; saat ia masih menjadi bagian dari perusahaan dulu, Arkana sudah menarik diri dari operasional harian. Ia hanya bisa membatin, berharap pria tua itu tidak memiliki hati sedingin dan sekejam Adnan. Setelah menimbang berbag

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 109 : Puncak Keputusasaan

    Adrian dan Andien baru saja hendak berdiri untuk mengakhiri pertemuan yang menyesakkan itu, namun suara berat Arkana Jaya Utama kembali menghentikan langkah mereka."Kalian mau ke mana? Aku belum selesai bicara," ucap Arkana dengan nada datar namun sarat akan otoritas yang tak terbantahkan.Adrian dan Andien terpaksa kembali mendaratkan tubuh mereka di sofa mewah tersebut.Andien mendengus, raut wajahnya menunjukkan rasa bosan dan muak yang kentara. "Apa lagi, Kek?"Arkana mengabaikan nada tidak sopan cucu perempuannya. Ia menatap Andien tajam, lalu jemarinya menunjuk ke arah foto Andien dan Indra yang masih tergeletak di atas meja kopi."Adrian sudah memberikan penjelasan soal cicitku. Lalu, apa penjelasanmu? Kau terlihat sangat akrab dengan pria di foto itu. Siapa dia? Dari keluarga mana asal-usulnya?"Andien terdiam. Ia melirik Adrian, teringat peringatan kakaknya untuk tidak membongkar identitas Indra lebih dalam saat ini.Adrian segera mengambil alih pembicaraan."Aku sedang beri

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 108 : Rahasia yang Menghantam

    Siang itu, atmosfer di dalam kediaman megah keluarga Utama terasa lebih berat dari biasanya.Adnan Utama merasa posisinya mulai terancam oleh pemberontakan kedua anaknya yang kian berani.Kali ini, ia memutuskan untuk melibatkan "senjata pamungkas"—sang penguasa tua, Arkana Jaya Utama.Singa tua yang telah membangun dinasti ini masih memiliki taring yang mematikan, meski fisiknya mulai dimakan usia.Adnan melangkah perlahan mendekati Arkana yang sedang duduk di sofa kulit empuk.Tatapan Adnan sempat tertuju pada tongkat penopang kayu cendana milik ayahnya—benda yang tak pernah lepas dari genggaman Arkana, melambangkan kekuasaan yang masih ia genggam erat meski fisiknya mulai melemah."Ayah, aku ingin memberitahumu sesuatu mengenai Adrian dan Andien," buka Adnan sembari mengambil posisi duduk di samping pria tua itu.Arkana menoleh, menatap Adnan dengan pandangan tajam yang mengintimidasi."Apa yang mereka lakukan? Jangan katakan mereka melakukan hal memalukan yang bisa mencoreng nama

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 107 : Dinginnya Es Krim Sebelum Badai

    Siang itu, di kediaman mewah keluarga Utama yang berdiri angkuh di atas bukit, suasana terasa sunyi dan dingin.Adnan Utama duduk di kursi kebesarannya di dalam kamar luas yang didominasi aksen kayu mahoni.Ia menyesap teh earl grey-nya dengan gerakan elegan yang tenang, hingga suara ketukan di pintu memecah keheningan."Masuk," ucap Adnan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela besar.Seorang pria dengan setelan jas hitam pekat dan kacamata hitam masuk dengan langkah gagah.Ia menunduk dalam, memberikan hormat yang paling takzim kepada sang penguasa dinasti Utama."Lapor, Pak. Tuan Muda Adrian baru saja melaporkan seorang pegawai bernama Zain Rahady atas dugaan penggelapan dana perusahaan," lapor pria itu dengan suara bariton yang datar.Adnan segera meletakkan cangkir tehnya ke atas piring porselen. Suara dentingan keramik itu terdengar tajam.Ia mengerutkan kening, mencoba menggali ingatan tentang nama yang terdengar asing namun seolah memiliki benang merah dengan masa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status