เข้าสู่ระบบAdrian melangkah perlahan melintasi karpet tebal kamar rawat VIP Saifanny, lalu melesakkan tubuhnya ke atas kursi tepat di samping peraduan.Raut paras tampannya mengeras kaku, diselimuti benteng amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.Pikirannya berputar hebat dalam jurang kecemasan dan kalkulasi rasional. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Marcus Manggala akan membalas gertakannya secara mematikan menggunakan bukti ancaman catatan log history milik Bima.Logika hukum Adrian terdesak di persimpangan jalan: apakah bukti ancaman tersebut bisa digunakan sebagai amunisi untuk menyeret Marcus atas keterlibatannya dalam aksi nekat Ririn?Namun di saat yang sama, mengekspos eksistensi log history peretasan itu sama saja menyerahkan lehernya sendiri ke dalam jerat tuntutan pidana cyber crime yang nyata.Saifanny yang sejak tadi mengamati keheningan yang tak biasa dari pria di sampingnya pun membuka suara."Adrian..." Panggil Saifanny dengan dahi berkerut heran, menangkap aura ketegangan
Siang hari mengendapkan keheningan yang pekat di dalam ruang tengah apartemen Indra. Andien merebahkan tubuhnya yang lemas di atas sofa, menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang melayang tanpa arah.Selama empat hari terakhir, fokus kerjanya hancur berantakan. Ia bertindak seolah jiwanya telah keluar dari raga; bahkan ponselnya sama sekali tak tersentuh di atas meja, terabaikan tanpa peduli apakah ada tumpukan pesan atau panggilan darurat yang masuk.Ting! Nong!"Permisi... Paket..."Denting bel pintu yang disusul teriakan nyaring seorang pria kurir memaksa Andien menyentak kesadarannya.Dengan gerakan malas, Andien menegakkan tubuhnya. Langkah kakinya terseret pelan menuju pintu utama, lalu menyatukan pandangannya pada lubang pengintai (peep hole).Seorang pria berseragam kurir warna hijau dengan topi hitam berdiri tegap di luar, menunggu sang penghuni membuka pintu.Setelah memastikan identitas orang tersebut, Andien memutar kunci dan membuka daun pintu secara perlahan.Beg
Empat hari berlalu sejak sore kelam di kamar rawat VIP itu. Sejak peristiwa penyerahan hadiah ulang tahun Andien—sebuah gelang charm yang mengukir penyesalan mendalam—wanita itu sama sekali tidak pernah lagi menampakkan diri di rumah sakit.Keabsenan Andien meninggalkan ruang hampa yang begitu dingin dan menghimpit di benak Bima, kendati ia sadar betul bahwa inilah jarak yang memang seharusnya membentang di antara mereka.Jarak adalah satu-satunya obat penawar agar tidak ada lagi hati yang terluka dan jiwa yang terancam bahaya.Pagi itu, aroma antiseptik di ruang perawatan terasa sedikit menenangkan. Seorang perawat berdiri tegap di sisi ranjang, jemarinya bergerak cekatan melepas gulungan perban yang membebat tangan kanan Bima.Sret... Sret...Kain kassa terakhir terlepas perlahan. Bima mengamati punggung tangannya yang kini tak lagi tertutup kain putih.Luka tusukan garpu yang beberapa hari lalu menganga kini telah menutup sempurna, meninggalkan jejak kemerahan yang perlahan memudar
Lantai dua gedung Holy Entertainment selalu beraroma khas: perpaduan dingin uap pendingin udara, jejak antiseptik steril, dan peluh kental yang menguap dari tubuh para trainee serta artis papan atas.Di dalam ruang latihan vokal berperedam suara yang luas, melodi piano mengalun berulang kali dengan tempo yang konstan dan monoton.Indra berdiri tegap di tengah ruangan. Jemari tangannya mengepal kencang pada gagang mik latihan hingga buku-buku jarinya memutih.Paras tampannya yang biasa memancarkan ketenangan dingin kini diliputi keletihan yang amat sangat.Kurang tidur—akibat atmosfer Apartemen yang pekat oleh depresi sang kakak—serta gempuran jadwal latihan intensif merogoh habis stamina dan konsentrasi fisiknya."Oke, Indra. Kita coba bagian bridge sekali lagi. Ingat, head voice kamu harus mulus masuk ke nada F#5. Jangan ditahan di tenggorokan, lempar ke atas," tutur Coach Jerry dari balik organ keyboard.Pelatih vokal berusia 33 tahun itu—sosok yang telah membimbing instrumen vokal
Jovian melangkah masuk ke dalam kediaman mewahnya dengan perasaan hampa yang menghimpit dada. Langkah kakinya terasa begitu berat, menyeret luka kekecewaan yang teramat dalam.Niat tulusnya untuk memberikan kejutan manis di hari ulang tahun Andien justru berbalas tamparan realita yang menyakitkan: bahwasanya di dalam hati wanita itu, posisi sang mantan kekasih jauh lebih berharga dibandingkan dirinya.Jovian memanggil pengurus rumah mewahnya dengan suara parau. Tanpa minat sedikit pun, ia menyerahkan kotak kue ulang tahun cantik yang telah disiapkannya jauh-jauh hari, memintanya untuk mengemas kotak tersebut ke dalam sebuah kantung kresek.Beberapa saat kemudian, wanita pengurus rumah itu kembali dengan kotak kue yang sudah terbungkus rapi di dalam kantung kresek bening.Jovian lantas menyerahkan sebuah paperbag berwarna biru elegan yang berisi hadiah khusus untuk Andien kepada pengurus rumah tersebut."Tolong serahkan pada sopir. Minta dia untuk mengantarkan kue dan paperbag ini ke a
Waktu menunjukkan tepat pukul enam sore saat guratan jingga senja mulai memudar di balik jendela rumah sakit.Indah dan Januar pamit sejenak meninggalkan kamar perawatan VIP untuk menunaikan ibadah salat Magrib di mushola rumah sakit.Kini, hanya tersisa Bima dan Andien yang mendiami ruangan berpendingin tersebut. Keheningan dan kecanggungan perlahan merayap, menyelimuti atmosfer di antara mereka.Sebagian dari jiwa Bima masih diliputi rasa malu yang teramat sangat; ia merasa telah bertindak kekanak-kanakan karena histeris dan ketakutan di hadapan Adrian maupun Andien.Andien memecah hening dengan mengangkat tas kain berisi barang-barang milik Bima yang dibawanya dari apartemen."Aku dan ibumu yang mengemasinya. Paperbag yang kau inginkan juga ada di dalam," ucap Andien lembut sembari menyerahkan tas tersebut ke atas peraduan."Terima kasih," sahut Bima singkat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Bima merogoh isi tas di hadapannya. Ia mengeluarkan sebuah paperbag hitam berukuran keci
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin







