LOGINSeminggu berlalu begitu cepat. Saifanny tidak pernah absen untuk merawat Marcus di rumah sakit, membiarkan rasa bersalah menuntun setiap baktinya.
Keadaan pria itu kini semakin membaik, dan ia sudah mulai bisa melontarkan candaan-candaan hangat demi mencairkan kecanggungan di antara mereka.Saifanny yang saat itu sedang fokus mengupas buah apel, tiba-tiba memecah keheningan."Maaf kalau ini terlambat, tapi apa ada makanan yang kamu suka? Aku akan membelikannya untukmu," mulai SaifPagi itu, Saifanny terbangun dari tidurnya dengan kesadaran yang perlahan terkumpul.Sepasang matanya refleks melirik ke samping ranjang, namun area di sebelahnya sudah kosong melompong. Adrian sudah tidak ada di sana.Saifanny mengedipkan matanya cepat, lalu mengalihkan pandangan ke arah jam dinding di hadapannya.Detik itu juga, napasnya seolah tertahan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi."Sekolah Syahdan!" teriak Saifanny panik.Ia segera melompat dari tempat tidur dan berlari kencang menuju kamar putranya. Namun, dugaannya salah; Syahdan sudah tidak ada di sana.Seragam sekolah dan tas punggungnya pun sudah lenyap dari gantungan. Dengan tangan gemetar, Saifanny segera menyambar ponselnya di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Adrian langsung terpampang di layar:"Aku mengantar Syahdan ke sekolah. Kau istirahatlah."Saifanny mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia terbangun selewat pukul 05.00 pagi.Kelelahan batin dan fis
Malam itu, Saifanny dan Syahdan akhirnya pulang diantar oleh Adrian. Saifanny memutuskan untuk membiarkan Marcus dan Mabelle berdua saja di ruang VIP rumah sakit, memberikan mereka ruang untuk melepaskan rasa rindu setelah sepekan tak bertemu akibat tragedi proyek.Satu jam perjalanan pulang terasa sunyi. Di kursi belakang, Syahdan sudah menguap berkali-kali karena kelelahan yang teramat sangat.Begitu mobil berhenti di depan rumah, Saifanny menoleh ke arah Adrian."Mampirlah untuk minum teh," ucap Saifanny pelan.Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Syahdan langsung berlari menuju kamarnya dengan terburu-buru; didera rasa kantuk yang berat, bocah itu hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.Sementara itu, Saifanny dan Adrian duduk di sofa ruang tengah. Saifanny meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja konsol, lalu segera meraih ponselnya.Ia mulai memeriksa laporan pekerjaan di lahan proyek panti jompo. Selama seminggu ini, ia hanya memantau laporan sec
Seminggu berlalu begitu cepat. Saifanny tidak pernah absen untuk merawat Marcus di rumah sakit, membiarkan rasa bersalah menuntun setiap baktinya.Keadaan pria itu kini semakin membaik, dan ia sudah mulai bisa melontarkan candaan-candaan hangat demi mencairkan kecanggungan di antara mereka.Saifanny yang saat itu sedang fokus mengupas buah apel, tiba-tiba memecah keheningan."Maaf kalau ini terlambat, tapi apa ada makanan yang kamu suka? Aku akan membelikannya untukmu," mulai Saifanny lembut.Marcus tersenyum ramah, bersandar nyaman di balik kasur putih rumah sakit. Matanya tampak menerawang ingatannya."Hmm... Aku suka nasi goreng. Kalau makanan manis, aku suka mangga. Mungkin karena aku berasal dari keluarga Manggala, haha."Tawa singkat Marcus seketika membuat Saifanny ikut melepaskan tawa kecil."Baiklah, aku akan membelikanmu mangga nanti," ucap Saifanny sembari melanjutkan kupasan apelnya.Saifanny menyerahkan apel yang sudah dipotong rapi di at
Dua hari kemudian, Marcus akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap VIP setelah kondisinya dinyatakan stabil.Sinar matahari siang menembus tirai jendela yang terbuka sedikit, menerangi sosok tegap Marcus yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.Punggung dan bahu Marcus didera balutan perban putih tebal yang membatasi geraknya, sementara lengan kanannya dibungkus gips dan ditopang oleh penyangga khusus.Sebuah selang kecil masih terpasang di hidungnya, menyalurkan oksigen secara berkala.Saifanny duduk di kursi tepat di samping ranjang. Matanya tidak sedetik pun beralih dari wajah pucat Marcus.Rasa bersalah yang teramat pekat telah mengunci mati logikanya. Ketika kelopak mata Marcus perlahan bergerak dan terbuka, Saifanny langsung menegakkan tubuhnya dengan panik."Marcus? Kamu sudah sadar? Syukurlah, aku akan panggilkan dokter—""Saifanny..." Suara Marcus terdengar begitu parau, lirih, dan didera kelelahan yang amat sangat.Alih-alih mengeluh tentang rasa sakit yang men
Saifanny duduk membeku di kursi tunggu tepat di depan ruang operasi Marcus. Sepasang matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, didera guncangan trauma yang teramat pekat.Sisa-sisa noda darah segar di telapak tangan dan pakaian kerjanya masih dibiarkan begitu saja, mengering dan perlahan berubah warna menjadi kecokelatan yang mengerikan.Beberapa menit kemudian, Adrian dan Bima tiba di lorong rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa.Begitu menangkap sosok Saifanny yang tampak rapuh, mereka langsung menghampirinya.Adrian segera mendudukkan diri di samping Saifanny, sembari meletakkan sebuah paper bag besar yang dibawanya dari luar."Fanny..." panggil Adrian luar biasa lembut sembari menyentuh pelan bahu wanita itu.Saifanny sama sekali tidak bergeming. Jiwanya seolah tersedot ke dalam ruang operasi di hadapan mereka.Adrian mengembuskan napas panjang, didera rasa iba yang mendalam. Ia mengeluarkan sebungkus tisu basah dari dalam paper bag.Tanpa aba-aba, Adrian meraih je
Siang itu, hamparan taman yang terletak dekat dengan lahan proyek panti jompo dilingkupi atmosfer yang begitu suram.Adrian, Saifanny, dan Bima duduk bersama di atas sebuah kursi panjang dengan pandangan mata yang tertuju datar ke depan.Pikiran mereka masih tersita oleh kekalahan siber yang baru saja terjadi."Jadi... menurutmu apa yang akan kakekmu lakukan setelah kamu mengatakan semua kebenaran tentang kematian Adipramanna?" tanya Saifanny parau, tanpa menoleh sedikit pun pada Adrian yang berada di sampingnya.Adrian mengembuskan napas pendek, menatap hamparan rumput di bawah kaki mereka."Dia akan menghadapi kurungan yang lebih buruk dari penjara kota," ucap Adrian datar, terselip nada dingin yang menusuk.Saifanny mengangguk pelan, mencerna kalimat tersebut."Kau tidak perlu khawatir, Fanny. Dia tidak akan mengganggumu atau siapa pun lagi. Kakek sangat menyayangi mendiang Om Adi, dia tidak akan pernah memaafkan ayahku," lanjut Adrian mencoba meyakinkan.Saifanny melirik Adrian se
Malam itu, J-city Convention Center menjadi pusat gravitasi dari seluruh atensi pencinta musik tanah air.Grand Music Awards, ajang penghargaan musik terbesar berskala nasional, tengah berlangsung dengan kemegahan yang luar biasa.Di luar gedung, ratusan kilatan kamera wartawan tak henti-hentinya m
Pagi hari yang cerah menyambut kota, namun di dalam kamar Saifanny, sunyi masih merayap dengan pekat.Di tengah ketenangan suasana pagi itu, pikirannya mendadak melayang kembali ke kedai es krim beberapa hari lalu.Kata-kata Cynthia yang bernada candaan sarkas kembali terngiang dengan sangat jelas
Setelah memastikan langkah Adnan Utama benar-benar lenyap dan tidak terlihat lagi di sepanjang koridor, Nabilla dengan perlahan mendorong pintu ruangan Dokter Pradipta.Di sudut ruangan, ia menemukan Indra yang masih terduduk meringkuk, memeluk erat kedua kakinya seolah sedang mengumpulkan kembali
Setelah berjam-jam menguras energi dalam latihan vokal dan sesi rekaman yang intens, Indra akhirnya mengizinkan tubuhnya beristirahat.Ia terduduk di kursi ruang latihan, meneguk air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah dipaksa mencapai nada-nada tinggi.Namun, ketenang







