LOGINSeminggu berlalu begitu cepat. Saifanny tidak pernah absen untuk merawat Marcus di rumah sakit, membiarkan rasa bersalah menuntun setiap baktinya.
Keadaan pria itu kini semakin membaik, dan ia sudah mulai bisa melontarkan candaan-candaan hangat demi mencairkan kecanggungan di antara mereka.Saifanny yang saat itu sedang fokus mengupas buah apel, tiba-tiba memecah keheningan."Maaf kalau ini terlambat, tapi apa ada makanan yang kamu suka? Aku akan membelikannya untukmu," mulai SaifGenggaman tangan Marcus yang brutal dan bertekanan tinggi menarik paksa Saifanny melintasi koridor panti jompo, hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu ruang kerja wanita itu.Tanpa membuang waktu, Marcus membanting pintu kayu tersebut hingga membentur dinding, menyeret Saifanny masuk ke dalam, lalu mengunci engsel pintu itu dengan gerakan yang kilat.Klik!Bunyi desel engsel pintu yang terkunci rapat bergema bagai vonis eksekusi di dalam ruangan. Gelombang kepanikan murni meledak di dalam dada Saifanny; cengkeraman pergelangan tangan Marcus yang mengekang kulitnya terasa sekeras besi dingin yang tak tergoyahkan."Marcus, aku bisa melaporkanmu ke polisi! Lepaskan aku sekarang!" Teriak Saifanny histeris, menyuarakan ancaman di tengah kepungan rasa takut.Namun, Marcus sama sekali tidak mengindahkan gertakan tersebut. Tak ada riak ketakutan atau keraguan di paras sosiopatnya.Sebaliknya, jemari tangannya justru makin erat meremas pergelangan tangan Saifanny, menekan pembuluh dara
Sore hari yang tenang di halaman panti jompo. Udara sejuk berhembus lembut, membelai paras Saifanny yang sedang terduduk melamun di atas kursi kayu teras depan.Wanita itu duduk dengan posisi anggun, melemparkan pandangan kosong ke arah deretan tanaman hias yang berjejer rapi di pelataran.Kabar mengenai Ririn yang menderita amnesia sempat menyuntikkan rasa kaget di benaknya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Saifanny memandang amnesia sebagai sebuah celah puitis—sebuah peluang murni untuk memulai lembaran hidup baru.Jika saja takdir memberinya kesempatan serupa, alangkah indahnya jika ia bisa mengikis tuntas seluruh lilitan trauma dan masalah yang menghimpit jiwanya.Tap! Tap!Langkah kaki bersepatu kulit yang berat dan mantap terdengar mengikis hening, melintasi jalan setapak berkerikil. Saifanny mendongakkan kepala, dan seketika itu pula seluruh otot-otot tubuhnya menegang kaku.Marcus berjalan santai menghampirinya. Di tangan kanannya, pria itu menjinjing s
Siang menjelang sore yang cerah menyelimuti pelataran panti jompo milik Saifanny. Cahaya matahari menerobos celah-celah rindang pepohonan, membiaskan pendar keemasan di atas kap mobil Bima tatkala pria itu perlahan memarkirkan kendaraannya.Bima melangkah keluar dari kabin, berdiri sejenak menghirup udara luar seraya menghembuskan napas panjang yang sarat akan beban mental.Setelah menata kembali benteng pertahanan emosinya yang melelahkan, ia mengayunkan langkah mantap menuju pintu depan bangunan tersebut.Kini, Bima duduk berhadapan dengan Saifanny di ruang kerja wanita itu. Di antara mereka, kepulan asap tipis membumbung dari dua cangkir teh hangat, mengudara lambat di tengah keheningan yang serasa menghimpit."Aku ke sini hanya ingin menanyakan beberapa hal soal Ririn," Mulai Bima, memaksakan nada suaranya terdengar setenang mungkin meski gejolak penasaran membakar dadanya.Saifanny menegakkan posisi duduknya di balik kursi kebesarannya. Sorot matanya berubah serius, menyiratk
Siang yang menyengat menyelimuti lanskap pencakar langit J-City. Namun, di dalam ruang rapat utama gedung Utama Group, atmosfer terasa begitu dingin dan membeku.Bima dan Adrian duduk berseberangan di meja kayu jati yang luas, dikurung hening yang menekan jiwa."Jadi... Ririn benar-benar amnesia?" Tanya Adrian begitu Bima selesai menceritakan secara terperinci seluruh kejadian medis yang disaksikannya pagi tadi.Bima mengangguk pelan. Dengan perasaan tegang dan berat yang menggelayuti dadanya, jemarinya meraih cangkir kopi hitam yang mengepul tipis di hadapannya, lalu menyesap cairan pahit itu perlahan demi menutupi kecemasan yang bergejolak."Awalnya aku memang tidak percaya, tapi dokter itu menjelaskan semuanya dengan sangat rinci. Dan... Ririn memang terlihat teramat berbeda dari dirinya yang biasanya," Kata Bima parau.Hati kecilnya menolak mentah-mentah mengakui realita bahwasanya buronan yang ia buru dengan pertaruhan nyawa itu kini melupakan seluruh rekam jejak kejahatan ya
Satu jam berlalu sejak Dokter meminta untuk berbicara berdua dengan Ririn. Di luar kamar perawatan VIP, koridor rumah sakit terasa kian temaram dan dingin. Lampu-lampu neon memantulkan pendar pucat di atas lantai granit.Bima berdiri bersedekap di dekat jendela kaca besar, menghela nafasnya, lalu melirik sekilas ke arah dua petugas polisi yang bersiap mendengarkan penjelasan resmi dari tim medis.Di samping Bima, Bara bersandar kaku, masih belum sepenuhnya mencerna kejanggalan reaksi Ririn di dalam ruangan tadi.Ckrek!Pintu kamar terbuka kembali. Dokter spesialis bedah saraf yang menangani Ririn melangkah keluar.Pria paruh baya berjas putih itu menghela napas berat, membenarkan letak kacamata minusnya sebelum menyapu pandangan ke arah Bima, Bara, dan kedua petugas kepolisian."Bagaimana, Dokter? Apa kami sudah bisa meminta keterangan awal dari tersangka?" tanya salah seorang penyidik kepolisian, memecah keheningan dengan intonasi lugas.Dokter menggelengkan kepala secara perlaha
Sebelum benar-benar mengayunkan langkah masuk ke dalam ruangan itu, Bima menarik napasnya dalam-dalam.Paru-parunya dipenuhi udara dingin disinfektan rumah sakit yang menusuk. Jauh di dalam lubuk hatinya, Bima sebenarnya enggan berada dalam radius berdekatan dengan wanita itu lagi.Pengalaman kelam di masa lalu mengajarkannya satu hal pahit: setiap kali ada orang yang berada dekat dengan Ririn, wanita itu tidak akan ragu melukai siapa pun di sekitarnya tanpa rasa bersalah.Begitu pintu berderit terbuka dan mereka melangkah masuk, Bima secara refleks mendorong pelan bahu Bara agar berjalan lebih dulu mendekati ranjang perawatan.Sementara itu, Bima memilih bersandar di dekat daun pintu—mengambil jarak aman yang cukup jauh dari ranjang pasien, seolah-olah ruangan itu dipenuhi racun tak kasat mata."Bu Ririn..." panggil dokter spesialis bedah saraf itu dengan intonasi pelan dan lembut.Di atas ranjang, Ririn terlihat duduk meringkuk rapat di atas kasur berseprai putih. Kedua lengannya
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te







