LOGINPagi hari di kediaman Saifanny disambut oleh rasa tidak nyaman yang pekat. Kepalanya berdenyut menyakitkan, sisa dari hantaman hujan deras yang mengguyur tubuhnya kemarin malam.Dengan duka yang mengganjal, mata Saifanny menatap lurus ke layar ponsel. Tidak ada kabar yang dinantinya, hanya ada sebaris pesan dari Bima yang baru masuk."Maaf Saifanny, aku juga tidak menemukan jejak Mabelle. Mungkinkah dia tak ada di J-city lagi?"Saifanny mengerutkan alisnya dalam-dalam. Benaknya mulai menimbang kemungkinan pahit itu; apa mungkin Mabelle memang sudah dibawa keluar dari kota ini? Kemungkinan itu jelas ada, dan hal tersebut kian mengimpit dadasnya dengan rasa bersalah yang teramat besar.Seketika, pikiran Saifanny kembali melayang pada malam ketika Adrian menjabarkan semua teori logisnya di ruang tamu ini.Memang benar Marcus telah melakukan banyak hal licik di masa lalu, dan Saifanny tidak sepenuhnya menyalahkan analisis dingin Adrian.Namun, logika Saifanny menolak keras untuk percaya.
Malam itu, mobil Adrian membelah jalanan kota dengan keheningan yang pekat di dalam kabin. Andien sesekali melirik ke arah Adrian yang fokus mengemudi dengan wajah murung dan rahang kaku.Andien tahu, tindakan Saifanny yang mengusir kakaknya tadi bagaikan penolakan wanita itu untuk menghadapi kenyataan pahit.Namun, di lubuk hatinya, Andien yakin Saifanny tidak sebodoh itu untuk terus percaya pada Marcus yang sedang mencoba memanipulasinya.Andien berdeham pelan, mencoba memecah ketegangan."Kak... Kayaknya Kak Fanny cuma emosi aja. Aku yakin setelah dia menenangkan diri, dia akan kembali berpikir logis. Percayalah padanya," hibur Andien dengan nada lembut."Kak Fanny bukan orang bodoh, cepat atau lambat dia akan tahu kalau semua ini hanya sandiwara Marcus," lanjut Andien berhati-hati.Namun, Adrian tetap bungkam dan fokus menyetir, seolah ucapan penghiburan dari adiknya itu hanya angin lalu yang melewatinya tanpa arti.Ego dan perasaan tulusnya yang terinjak-injak malam ini membuat b
Setelah dipaksa menepi akibat jarak pandang yang memburuk di tengah badai, Saifanny akhirnya memilih kembali ke rumah untuk mengoordinasi pencarian dari sana.Selesai membersihkan diri, ia kini sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja rias.Layar benda digital itu masih mati, belum menampilkan notifikasi apa pun dari Bima maupun Marcus. Perlahan, rasa khawatir yang pekat mulai menguasai benaknya.Sampai akhirnya beberapa saat kemudian, keheningan rumah itu pecah oleh suara deru mobil yang berhenti di depan pelataran.Adrian tiba di depan kediaman Saifanny dengan langkah terburu-buru, sedangkan Andien mengekor cemas di belakangnya.Ting nong! Ting nong!Suara bel rumah ditekan berulang kali dengan ritme yang tidak sabar. Saifanny segera menuruni anak tangga dengan langkah pelan, dilingkupi penuh tanda tanya tentang siapa yang bertamu di tengah cuaca seburuk ini.Begitu Saifanny membuka pintu perlahan, sosok Adrian su
Sore itu, di bawah guyuran hujan deras yang kian menghunjam bumi, Saifanny menarik lengan Marcus dengan sisa tenaga yang dimilikinya agar pria itu mendekat.Ia menatap mantan pacarnya itu dengan sorot mata penuh ketegasan, mencoba menembus dinding kepanikan yang mengurung sang pria."Aku tahu kamu khawatir soal Mabelle, tapi kamu harus yakin dia baik-baik saja!" seru Saifanny. Namun, Marcus hanya bergeming dengan tatapan mata yang kosong."Marcus, dengarkan aku! Marcus!" Panggil Saifanny dengan volume suara yang sengaja ditinggikan.Marcus tersentak, seolah baru saja ditarik paksa kembali ke realitas oleh teriakan Saifanny."Iya, aku tahu. Mabelle pasti baik-baik saja," sahut Marcus dengan suara parau. "Kau pulanglah saja. Aku akan tetap mencari lagi di sebelah sana." Jari Marcus menunjuk gemetar ke arah ujung gapura sebuah permukiman padat.Ketika orang-orang mulai menyerah dan menghentikan pencarian akibat cuaca yang memburuk, Marcus justru bersikeras menerjang badai demi menemukan
Saifanny, Syahdan, dan Marcus bergerak cepat menemui kepala sekolah untuk meminta izin memeriksa rekaman CCTV.Di dalam ruang kerja yang mendadak terasa sempit itu, Marcus menjelaskan kronologi kejadian dengan suara bergetar dan gestur yang tidak keruan.Kepanikan yang luar biasa tampak jelas menyergap pria itu saat menceritakan bagaimana MaBelle tiba-tiba menghilang dari pandangannya tepat setelah ia keluar dari toilet.Di tengah situasi yang memanas, Saifanny beberapa kali mencoba menenangkan Marcus dengan kalimat-kalimat optimis bahwa MaBelle pasti akan baik-baik saja. Mereka kemudian bergegas berjalan bersama menuju ruang kontrol CCTV sekolah.Setibanya di sana, petugas langsung memutar dan memeriksa rekaman dari seluruh sudut kamera, tepat pada menit-menit awal ketika Marcus melangkah masuk ke dalam toilet.Sementara mata mereka terpaku pada monitor, Saifanny sempat melirik ke arah Marcus dari samping.Di bawah pendar cahaya lampu ruang kontrol, kepanikan di wajah mantan pacarnya
Langkah kaki Saifanny berirama, mengetuk lantai keramik koridor sekolah yang riuh oleh atmosfer perayaan kenaikan kelas siang itu.Di kanan kirinya, beberapa pasang mata orang tua murid dan para guru tak bisa menahan diri untuk tidak menoleh. Sosoknya benar-benar menyita perhatian.Saifanny datang dengan aura yang memikat, berbalut Gevana Maxy berwarna merah marun pekat yang mewah.Gaun maxi bergaya Korea itu terbuat dari bahan kain semi-wool premium yang tebal namun lembut.Karakteristik kainnya jatuh dengan begitu anggun, menciptakan lambaian yang tenang dan berbobot setiap kali ia mengayunkan langkah.Bagian atas gaun mengadopsi potongan kerah jas double-breasted yang kaku dan presisi, memberikan kesan formal yang tegas sekaligus sangat berkelas.Di bagian pinggang, seutas sabuk kain senada diikat rapi membentuk simpul pita hidup, menegaskan siluet tubuhnya yang ramping dengan elegan.Desain roknya yang melebar membentuk pola A-line panjang menjuntai hingga ke mata kaki, memancarka
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te







