MasukEmpat hari berlalu sejak sore kelam di kamar rawat VIP itu. Sejak peristiwa penyerahan hadiah ulang tahun Andien—sebuah gelang charm yang mengukir penyesalan mendalam—wanita itu sama sekali tidak pernah lagi menampakkan diri di rumah sakit.Keabsenan Andien meninggalkan ruang hampa yang begitu dingin dan menghimpit di benak Bima, kendati ia sadar betul bahwa inilah jarak yang memang seharusnya membentang di antara mereka.Jarak adalah satu-satunya obat penawar agar tidak ada lagi hati yang terluka dan jiwa yang terancam bahaya.Pagi itu, aroma antiseptik di ruang perawatan terasa sedikit menenangkan. Seorang perawat berdiri tegap di sisi ranjang, jemarinya bergerak cekatan melepas gulungan perban yang membebat tangan kanan Bima.Sret... Sret...Kain kassa terakhir terlepas perlahan. Bima mengamati punggung tangannya yang kini tak lagi tertutup kain putih.Luka tusukan garpu yang beberapa hari lalu menganga kini telah menutup sempurna, meninggalkan jejak kemerahan yang perlahan memudar
Lantai dua gedung Holy Entertainment selalu beraroma khas: perpaduan dingin uap pendingin udara, jejak antiseptik steril, dan peluh kental yang menguap dari tubuh para trainee serta artis papan atas.Di dalam ruang latihan vokal berperedam suara yang luas, melodi piano mengalun berulang kali dengan tempo yang konstan dan monoton.Indra berdiri tegap di tengah ruangan. Jemari tangannya mengepal kencang pada gagang mik latihan hingga buku-buku jarinya memutih.Paras tampannya yang biasa memancarkan ketenangan dingin kini diliputi keletihan yang amat sangat.Kurang tidur—akibat atmosfer Apartemen yang pekat oleh depresi sang kakak—serta gempuran jadwal latihan intensif merogoh habis stamina dan konsentrasi fisiknya."Oke, Indra. Kita coba bagian bridge sekali lagi. Ingat, head voice kamu harus mulus masuk ke nada F#5. Jangan ditahan di tenggorokan, lempar ke atas," tutur Coach Jerry dari balik organ keyboard.Pelatih vokal berusia 33 tahun itu—sosok yang telah membimbing instrumen vokal
Jovian melangkah masuk ke dalam kediaman mewahnya dengan perasaan hampa yang menghimpit dada. Langkah kakinya terasa begitu berat, menyeret luka kekecewaan yang teramat dalam.Niat tulusnya untuk memberikan kejutan manis di hari ulang tahun Andien justru berbalas tamparan realita yang menyakitkan: bahwasanya di dalam hati wanita itu, posisi sang mantan kekasih jauh lebih berharga dibandingkan dirinya.Jovian memanggil pengurus rumah mewahnya dengan suara parau. Tanpa minat sedikit pun, ia menyerahkan kotak kue ulang tahun cantik yang telah disiapkannya jauh-jauh hari, memintanya untuk mengemas kotak tersebut ke dalam sebuah kantung kresek.Beberapa saat kemudian, wanita pengurus rumah itu kembali dengan kotak kue yang sudah terbungkus rapi di dalam kantung kresek bening.Jovian lantas menyerahkan sebuah paperbag berwarna biru elegan yang berisi hadiah khusus untuk Andien kepada pengurus rumah tersebut."Tolong serahkan pada sopir. Minta dia untuk mengantarkan kue dan paperbag ini ke a
Waktu menunjukkan tepat pukul enam sore saat guratan jingga senja mulai memudar di balik jendela rumah sakit.Indah dan Januar pamit sejenak meninggalkan kamar perawatan VIP untuk menunaikan ibadah salat Magrib di mushola rumah sakit.Kini, hanya tersisa Bima dan Andien yang mendiami ruangan berpendingin tersebut. Keheningan dan kecanggungan perlahan merayap, menyelimuti atmosfer di antara mereka.Sebagian dari jiwa Bima masih diliputi rasa malu yang teramat sangat; ia merasa telah bertindak kekanak-kanakan karena histeris dan ketakutan di hadapan Adrian maupun Andien.Andien memecah hening dengan mengangkat tas kain berisi barang-barang milik Bima yang dibawanya dari apartemen."Aku dan ibumu yang mengemasinya. Paperbag yang kau inginkan juga ada di dalam," ucap Andien lembut sembari menyerahkan tas tersebut ke atas peraduan."Terima kasih," sahut Bima singkat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Bima merogoh isi tas di hadapannya. Ia mengeluarkan sebuah paperbag hitam berukuran keci
Atmosfer sore di dalam ruang perawatan VIP Rumah Sakit Pusat J-City terasa begitu tenang, dihangatkan oleh perbincangan antara ibu dan anak.Sania tak henti-hentinya mengobrol bersama Saifanny. Waktu seolah bergulir tanpa terasa, memotong jam demi jam yang semula membelenggu Saifanny dalam kejenuhan.Tiba-tiba, keheningan di sela obrolan mereka terpecah.Ting!Suara dering notifikasi dari ponsel milik Sania bergema tipis. Layar ponselnya menampilkan sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh pihak pengurus Panti Asuhan Sania.Sania meraih ponselnya, menariknya dari dalam tas, lalu menunduk membaca pesan tersebut. Seketika, dahinya berkerut dalam, melukiskan keheranan yang tak mampu disembunyikannya.Mendapati perubahan drastis pada raut wajah sang ibu, Saifanny memberanikan diri untuk bersuara."Kenapa, Ma? Ada masalah di panti?" Tanya Saifanny dengan nada suara sarat kecemasan, mengira terjadi sesuatu yang buruk pada fasilitas panti milik ibunya.Sania menggelengkan kepalanya perlahan
Pagi itu, atmosfer di koridor Rumah Sakit Pusat J-City terasa begitu mencekam bagi Sania. Wanita paruh baya itu melangkah terburu-buru dengan derap sepatu yang bergetar hebat, diselimuti gelombang kecemasan yang teramat sangat. Informasi mengenai putrinya, Saifanny, yang terbaring kritis akibat luka tembak baru saja memukul batinnya. Tujuan utamanya pagi ini hanya satu: memastikan secara langsung bahwa Saifanny baik-baik saja.Dengan napas yang patah-patah dan dada yang naik-turun tak beraturan, Sania melangkah lebar menuju ruang perawatan VIP.Begitu berdiri tepat di depan daun pintu kayu tebal tersebut, tanpa mengetuk, jemarinya langsung mendorong gagang pintu secara tergesa-gesa.Ckrek!Pintu berderit terbuka lebar. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih itu, Saifanny yang sedang duduk diatas ranjang serta Adrian yang terduduk kaku di sisi tempat tidur seketika mengalihkan pandangan mereka serempak ke arah ambang pintu."Mama..." Ucap Saifanny lirih. Suaranya terdengar begit
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te







