MasukHari libur telah tiba. Di bawah naungan langit pagi yang cerah, Saifanny dan Syahdan kini menginjakkan kaki mereka di pekarangan Lembaga Pemasyarakatan tempat Zain ditahan.Kendati pendar matahari terasa hangat menyengat kulit, sebuah sensasi dingin yang tak kasatmata mendadak menerpa seluruh permukaan tubuh Saifanny.Ada kecemasan teramat pekat yang merayapi batinnya—entah sebuah firasat buruk yang tengah memberi peringatan, atau sekadar respons penolakan biologis saat raga wanita itu dipaksa bernapas di tempat yang teramat asing dan menyesakkan ini.Saifanny menyapu pandangan matanya ke sekeliling sebelum menapakkan kaki melewati gerbang utama.Keraguan luar biasa masih bergolak hebat di dasar jiwanya, namun nasi sudah menjadi bubur; ia dan putranya telah terlanjur melangkah terlalu jauh di area penahanan ini.Dengan pergerakan naluriah, Saifanny meraih bahu mungil Syahdan, merangkul sang putra dengan proteksi penuh.Di sisinya, Syahdan melangkah dengan ekspresi polos khas anak-anak
Malam makin merayap pekat di atas langit J-City. Di dalam penthouse miliknya yang hening, Adrian terduduk membisu di atas kursi santai, membawa sebuah gelas kristal berisi wine merah di jemarinya.Pandangan matanya menerawang menembus dinding kaca besar yang memantulkan kerlip lampu kota. Perasaannya berkecamuk dalam himpitan emosi yang kontradiktif.Sesekali, sebuah ukiran senyum tipis yang hangat terbit di bibirnya saat potongan memori indah bersama Syahdan berputar di benaknya—hari-hari sederhana di mana ia bisa memeluk dan mendengar gelak tawa sang putra secara bebas.Namun kini, Saifanny telah resmi keluar dari rumah sakit dan kembali ke kediamannya. Sebuah kekhawatiran yang menggebu menyusup ke batin Adrian: apa setelah ini ia masih diberi ruang untuk menghabiskan waktu bersama darah dagingnya sendiri?Tringgg! Tringgg! Getaran nyaring ponsel di atas meja memutus lamunannya, menampilkan deretan angka asing tanpa nama yang mengedip di layar.Adrian mengerutkan alisnya, bertanya-
Mobil hitam itu berhenti sempurna di pelataran parkir toko elektronik. Bima melangkah keluar, menyusuri trotoar menuju pintu masuk, sementara sang pengawal tetap bertahan di balik kemudi.Sejak beberapa menit lalu, pandangan mata sang pengawal terpaku pada cermin spion tengah. Sebuah perasaan janggal dan mengusik merayapi firasatnya.Ia ingat betul telah memindai keberadaan mobil sedan kusam itu tepat saat mereka bertolak keluar dari gerbang desa, dan kini kendaraan yang sama terparkir tenang di barisan belakang.'Apa mungkin mobil itu mengikuti kita sejak tadi' Batin sang pengawal penuh kewaspadaan, merekam jenis dan ciri fisik kendaraan tersebut.Beberapa saat kemudian, engsel pintu mobil berbunyi. Bima kembali melangkah masuk dan merapatkan diri di kursi penumpang depan, memboyong sebuah kantong plastik berisi ponsel pintar dan kartu SIM baru.Mobil hitam yang dikendarai tim keamanan Utama Group itu meluncur keluar dari pelataran toko elektronik.Di kursi pengemudi, Yudi, pengawal
Mobil hitam milik Adrian berhenti sempurna tepat di depan gerbang rumah Saifanny. Begitu roda kendaraan terkunci, Adrian segera memalingkan pandangannya ke samping, menatap paras polos Syahdan dengan binar mata yang teramat lembut."Syahie yakin mau langsung pulang? Gak mau makan siang dulu?" Tanya Adrian penuh perhatian.Syahdan menganggukkan kepalanya pelan. "Nesan bilang Mama sudah pulang. Jadi aku pengen langsung pulang aja," sahut Syahdan polos.Adrian menyunggingkan senyum tipis yang menghangatkan paras tampannya. Ia mengulurkan tangan, mengelus lembut puncak kepala putra kandungnya tersebut."Ya sudah, nanti Papa jemput lagi pas Syahdan mau berangkat les, ya?" Ucap Adrian melembut, yang dibalas anggukan kepala mantap dan ceria dari Syahdan.Syahdan lantas bergegas turun dari mobil, melambaikan tangannya singkat ke arah Adrian, lalu berlari kecil melintasi pekarangan menuju pintu utama.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma masakan yang menggugah selera seketika menyambut
Mobil silver itu meluncur mulus membelah jalanan J-City pagi itu. Sinar matahari merekah cerah, menjanjikan cuaca yang bersahabat.Namun, paparan cahaya terang di luar sana berbanding terbalik secara dramatis dengan gulita yang menyelimuti benak Saifanny.Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil yang dingin, membiarkan tatapan matanya kosong tanpa riak.Sel-sel otaknya berputar hebat, diliputi kecurigaan yang menusuk tajam: mengapa Zain, pria yang sudah hampir satu tahun mendekam di balik jeruji besi penjara, mendadak mengirimkan surat untuknya hari ini?Di mata analitis Saifanny, tindakan mantan suaminya itu terasa sangat janggal, tidak wajar, dan sarat motif tersembunyi.Sania melirik sekilas putri tunggalnya di balik lingkar kemudi. Kebungkaman Saifanny pasca-mendengar kabar keberadaan surat dari Zain memercikkan rasa cemas di dadanya.Namun, Sania menahan diri untuk tidak mencecar lebih jauh. Ia memilih fokus mengendalikan laju kendaraan hingga akhirnya mobil berhenti sem
Pagi hari menyiramkan cahaya keemasan di atas lanskap pedesaan yang asri, menyirami hamparan pepohonan hijau dan pekarangan rumah kayu yang sejuk.Di dalam ruang makan keluarga Bima, keheningan justru menggantung pekat. Bima dan ketiga anggota tim keamanan elit Utama Group duduk melingkari meja kayu sederhana, menciptakan atmosfer serius dan kaku yang menyerupai sebuah ruang rapat darurat.Tap! Tap! Tap!Langkah kaki yang tenang memutus ketegangan itu. Indah, ibu kandung Bima, muncul dari arah lorong dapur sembari membawa nampan kayu.Di atasnya terhidang sepiring gorengan hangat yang masih mengepulkan uap serta empat cangkir teh melati. Ia meletakkannya secara perlahan di tengah meja."Makasih, Bu," ucap Bima singkat, suaranya datar namun sarat penghormatan."Maaf, Bu, jadi merepotkan," timpal salah satu anggota tim keamanan berpakaian serba hitam dengan nada sungkan.Indah menyunggingkan senyum hangat sembari mengibaskan tangannya santai."Sama sekali tidak merepotkan. Dimakan, ya,"
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







