Casanova Billionaire - One Flimsy Love Trip!

Casanova Billionaire - One Flimsy Love Trip!

last update최신 업데이트 : 2023-08-08
에:  R.A Higheels연재 중
언어: English
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
18챕터
1.9K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

시놉시스

“We’ve run out of cream sir, what will you like to order?” “You.” *** Welcome to Las Vegas, home of nightlife and entertainment circling, luxurious lifestyles at every nook and cranny. And just in a teensy-weensy part lies Emma Starr, a 25-year-old single mom who refused to contact her baby’s daddy for personal reasons. In the spotlight, lies a Billionaire Nicholas Russell, newly divorced at 32. He is shooting a movie in Pyramid Lake when he meets Emma who is a work staff. They accidentally have a one-night stand in a mix-up and accidentally a baby is made! Nicholas turns up 3 years later, in the same town for a continuation of a movie series shoot for his debut movie, ‘Romancing a Spinster.’ He is entangled with Emma whose priorities have changed. She hides their son from him, only for him to find out in a spiral. Moreover, everyone is alarmed on finding out Jonathan is the billionaire’s long lost son. Nicholas comes up with a fake engagement so they are seen as the star couple, not otherwise. As if that isn’t enough, baby Jonathan brings them closer each day making them question their real bonding. With powerful secrets getting exposed everyday, will these couples go through the heated obstacles or will it go downhill?

더 보기

1화

1

Hujan turun ringan di luar jendela apartemen Varen. Langit kota Amsterdam yang kelabu tampak menggantung rendah, seolah tahu bahwa pagi ini bukan pagi yang biasa.

Ponselnya dari tadi bergetar beberapa kali namun ia tidak melihatnya segera. Tangannya masih sibuk merapikan dokumen dari kantornya yang sebentar lagi akan membuka pintu ke sebuah kontrak kerja permanen. Impian hidupnya perlahan hampir tergenggam.

Ponselnya bergetar lagi. Ia mengangkat kepala.

"Mama"

Ia mengernyit. Ibunya tidak pernah menelepon sepagi ini. Beliau tidak terlalu akrab dengan perbedaan waktu.

Lima jam lebih cepat dari Indonesia ke Belanda, biasanya ibunya baru menelepon saat petang di sana.

Ia menjawab. “Halo Ma...?”

Tidak ada suara. Hanya nafas tersendat. Seperti seseorang mencoba bicara, tapi ada sesuatu yang lebih berat dari kata-kata menahan di tenggorokan.

“Ma?” Varen Kembali memanggil.

“Ren, Thania...” suara itu akhirnya muncul. Parau. Rapuh.

“Thania dan suaminya sudah nggak ada, Ren...”

Deg. Dunia di sekitar Varen seperti berputar saat mendengar itu. Dia masih tak percaya apa yang didengar dari ibunya itu.

“Thania kecelakaan waktu perjalanan pulang dengan suaminya.”

Ibunya menangis. Tidak teratur, seperti napasnya diikat dan ditarik paksa keluar dari tubuh.

“A..apa? bagaimana dengan Theo?” Tanya Varen panik.

“Dia ditinggal dirumah, sekarang dia sendirian.” Jawab ibunya dengan isaknya yang tersendat.

Pagi itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih dari sekadar duka. Ia kehilangan kakaknya, satu-satunya orang yang selalu berkata bahwa Varen boleh memilih jalannya sendiri.

Dia langsung bergegas, Kini, Theo tak punya siapa pun kecuali mereka.

Varen memandang ke luar jendela. Amsterdam terasa semakin dingin. Dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik,

“Apa yang kau kejar, Ren. Mereka membutuhkanmu sekarang.”

Varen langsung mengajukan cuti panjang. Ia tahu hidupnya sedang bergeser, namun ia belum tahu bahwa semua ini bukan sekadar musibah.

***

Disisi lain. Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di perbukitan desa kecil di Jawa Barat. Viona berdiri di teras rumah dinas sederhana yang sudah tiga tahun ia tempati.

Di sanalah ia belajar banyak hal, melayani pasien dengan peralatan seadanya, menenangkan ibu-ibu muda yang panik, sampai menertawakan tingkah anak-anak yang sering bermain di halaman klinik kecil itu.

Di mejanya berkas-berkas perpindahan sudah tersusun rapi. Tangannya menutup map cokelat terakhir.

“Sudah selesai,” gumamnya, meski hatinya terasa berat.

“Bu Suster, beneran mau pergi?” suara seorang anak laki-laki memecah lamunannya.

Rian, bocah kelas tiga SD yang sering membantunya mengantar obat, berdiri sambil menggaruk kepala.

Viona tersenyum lembut. “Iya. Kakak harus pindah dekat sama orang tua. Di sini sudah ada bidan baru yang akan gantikan tugas Kakak.”

Rian manyun. “Tapi Kakak beda. Kakak suka cerita sama kami, suka bawain permen dan roti juga.”

Tiba-tiba beberapa anak lain ikut mendekat. Lala, gadis kecil berambut kepang, memeluk kaki Viona. “Kakak jangan pergi. Kalau sakit, siapa yang kasih obat?”

Viona berjongkok, merangkul mereka. Matanya berkaca-kaca. “Tenang, ada Bu Rini nanti. Beliau baik, kan? Dan Kakak janji, kalau libur, Kakak akan mampir. Kalian harus tetap semangat sekolah, jangan malas belajar, ya?”

“Janji ya Kak? Jangan lupa!” seru anak-anak hampir bersamaan.

Viona mengangguk sambil tertawa kecil. “Janji.”

Tak lama, beberapa ibu datang.Mereka ingin makan siang bersama sebelum Viona benar-benar berangkat.

“Suster, maaf kalau selama ini suka cerewet ya,” kata Bu Wati sambil menyodorkan piring.

“Tapi kami semua berterima kasih. Suster sabar banget menghadapi kami, walau kadang suka panik berlebihan.”

“Betul, Sus,” sambung yang lain. “Saya tidak akan lupa waktu anak saya demam tinggi tengah malam, Suster langsung datang tanpa mengeluh. Padahal hujan deras.”

Viona tersenyum, menahan haru. “Itu memang sudah tugas saya, Bu. Saya justru belajar banyak dari ibu-ibu semua. Kalian kuat, saling bantu, saling dukung. Saya kagum.”

Suasana makin hangat ketika kepala desa ikut hadir. Lelaki tua berpeci hitam itu berkata. “Kamu sudah jadi bagian dari desa ini, Nak. Jangan pernah merasa sendiri. Kalau kapan-kapan butuh tempat pulang, desa ini rumahmu juga.”

Viona menunduk hormat. “Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan bapak dan warga desa.”

Azan dzuhur berkumandang dari mushola kecil di ujung jalan. Semua orang terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Seolah suara itu menjadi tanda perpisahan.

Setelah shalat, saat mobil jemputan dari puskesmas kecamatan tiba, Viona berdiri di depan rumah dinas untuk terakhir kalinya. Anak-anak melambai, beberapa ibu menyeka air mata.

“Selamat jalan, Suster Viona! Jangan lupakan kami!” teriak mereka bersamaan.Viona membalas dengan senyum lebar dan mata yang berkaca-kaca.

“Jaga diri kalian baik-baik, ya. Kakak sayang kalian semua.”

Mobil perlahan melaju meninggalkan desa menuju stasiun. Dari kaca belakang, Viona melihat wajah-wajah yang sudah menjadi keluarganya selama bertahun-tahun.

Hatinya berdesir berat, tapi juga penuh syukur. Di kepalanya, satu kalimat berulang-ulang, ini bukan akhir, hanya babak baru.

Dan babak itu akan dimulai. Berkumpul dengan orang tuanya, tempat ia menata ulang hidupnya dari awal.

Kereta melaju dengan kecepatan sedang, sesekali berguncang ringan di atas rel. Viona duduk dekat jendela, dagunya bertumpu pada telapak tangan.

Matanya menatap keluar, mengikuti pemandangan yang terus berganti. Ponsel Viona berdering pelan dan bergetar di genggamannya.

Ia segera menggeser layar, terdengar suara ibunya dari seberang.

“Nak, sudah di kereta? Kami di rumah sudah menunggu. Ayahmu sebentar lagi berangkat ke stasiun.”

“Iya, Ma. Baru saja kereta berangkat. Mungkin satu jam lagi sampai. Rasanya aneh ya, akhirnya benar-benar pulang.”

“Pulanglah. Rumah ini terasa sepi tanpamu.”

Viona tersenyum, “Aku juga rindu sekali. Nanti kita makan malam bersama ya. Aku rindu masakan rumah.”

“Tentu. Semua sudah Mam siapkan. Hati-hati di perjalanan, ya. Jangan tertidur sampai kelewatan stasiun.” sahut ibunya.

“Hehe, siap. Sampai ketemu sebentar lagi, Ma.”

Sambungan telepon terputus, menyisakan rasa hangat di dada Viona.

Kereta melewati jembatan, sungai di bawahnya berkilau terkena cahaya matahari. Perjalanan ini seperti garis penutup sebuah tugas, sekaligus pembuka kisah baru dalam hidupnya.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

댓글 없음
18 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status